Tong Sam Cong
Dari Tolololpedia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Tong Sam Cong adalah seorang pendeta Buddha yang terkenal karena ia memiliki kebiasaan membawa sebuah bakul kemana-mana saat ia pergi yang digunakan untuk menampung sampah-sampah misalnya bekasnya makan permen karet atau kertas-kertas brosur dan kampanye caleg yang ia temukan di jalan, hal ini didasarkan pada filsafat Buddha yakni kesabaran dan bahwa segala hal adalah berharga, terbukti bahwa setelah ia mengumpulkan sampah itu selama 50 tahun, ia meloakkan sampah-sampah yang ia kumpulkan dan hasil loakkannya cukup untuk dia belikan Ferrarri dan sebuah villa di Paris untuk dia menghabiskan masa tuanya.
Tong Sam Cong memiliki sepupu jauh di daratan China yang bernama Tong Sam Pek.
Pendeta ini juga terkenal oleh perjalanannya ke barat yaitu ke Banten demi mengambil kitab suci Kama Sutra untuk membantu rakyat di daerahnya yang mengalami masalah dengan kesuburan. Dalam perjalanannya ia dibantu oleh seekor monyet bernama Sun Bo Kong, babi bernama Chu Pat Kai dan kebho bernama Si GeJe, makluk-makluk itu jadi bisa berbicara setelah di dahinya ditempeli uang seratus ribuan.
Pada akhirnya setelah pertarungan sengit dengan Nyi Roro Mandul, ia berhasil mendapatkan Kitab Suci tersebut dan kembali ke daerahnya di mana ia membuka praktek konsultasi seks dan panti pijat. Kitab itu kemudian diwariskan ke keturunannya antara lain Mak Erot, Paris Hilton dan Dr. Boyke. Sementara Sun Bo Kong sukses sebagai artis topeng monyet yang dipanggil sampai ke luar negri seperti Zimbabwe, Si GeJe mengubah namanya menjadi Pepi dan ikut dengan acara saudaranya Tukul dalam acara Bukan Empat Mata, sementara malang bagi Chu Pat Kai, ia ditangkap karena mencuri baju dalam wanita dan dijadikan hidangan pada hari Imlek dan Cap Go Me.
Dalam perjalanannya ke Barat Tong Sam Cong tetap menjalankan kebiasaannya membawa bakul untuk tempat sampah, sehingga kelihatan seperti mbok jamu yang botak. Namun melihat sepanjang jalanan yang dilewatinya menjadi bersih, bebas banjir dan bebas diare, masyarakat mulai mengadaptasi cara tersebut dan dan sebagai penghormatan namanya diabadikan sebagai nama alat tersebut, yaitu Tong Sam Pah.


