Madurapura
Dari Tolololpedia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
| ||
| Semboyan: "Akeket A Cong?" Lagu kebangsaan: "Madurapura Berjiwa Besi" | ||
| | ||
| Ibukota | Sumenep | |
| Bahasa Resmi | Bahasa Madura Bahasa Indonesia, Jawa dan Inggris juga banyak dipakai | |
| Kepala Negara | Chieftain Sakera of Sumenep | |
| Ekspor | Garam, Bekas Menara Petronas yang dijual kiloan | |
| Pemerintahan | Tribal Monarchy, dengan kepala suku atau Chieftain sebagai pemegang kekuasaan absolut | |
| Luas Wilayah | 340.569,1 km² | |
| Jumlah Penduduk | 23.342.550 | |
| Mata Uang | Godhong (1 Godhong=$8,5x1098) | |
| Zona Waktu | MTZ (Madurapore Time Zone) Tidak mengenal satuan 24 jam seperti negara lain, Madurapura menganut sistem 1 waktu sholat=1 jam, jadi di Madurapura hanya ada 5 jam | |
Madurapura adalah sebuah negara kerajaan tradisional yang berada di kawasan Asia Tenggara, wilayahnya mencakup daerah Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Terdiri dari beberapa negara bagian yang tunduk pada satu pemusatan kekuasaan. Madurapura beribukota di Sumenep, Pulau Madura.
Daftar isi |
[sunting] Sejarah
[sunting] Eksodusnya Kaum Madura
Pada 20xx, orang-orang Madura dipimpin oleh raja baru mereka Chieftain Sakera of Sumenep merencanakan invasi ke beberapa negara tetangga. Invasi ini dikarenakan lahan untuk tambak garam mereka terancam habis akibat terlalu banyak pencakar langit yang dibangun di sana, dan mereka harus mengadakan perluasan wilayah untuk mendapatkannya. Terlebih mereka menilai bahwa klaim negara tetangga terhadap kebudayaan Indonesia sudah kelewatan serta harus dilakukan tindakan tegas.
[sunting] Penaklukan Tumasik
Akhirnya, pada 15 Desember 20xx Chieftain Sakera mengirimkan 300 pasukan celurit berkendaraan rakit ke Tumasik. Anehnya kedatangan mereka tak terdeteksi oleh kapal penjaga perbatasan sehingga mereka pun leluasa masuk ke dalam wilayah Tumasik dan menghabisi sebagian penduduk.
Tak kuasa melawan kesaktian pasukan Chieftain Sakera, pasukan bersenjata Singapura pun takluk. Kemudian Chieftain Sakera mengambil alih Singapura, menjadikannya koloni Madura dan mengubah namanya menjadi Madurapura. Kini 80% dari pulau yang dahulunya adalah pusat belanja, digusur dan dijadikan tambak garam.
[sunting] Penaklukan Malaysia
Belum puas dengan mengambil alih Singapura, Chieftain Sakera pun melakukan ekspansi ke Malaysia. Mereka mengambil strategi lain dalam melakukan penguasaan, yaitu menyamar sebagai imigran yang ingin mempopulerkan seni khas Madura. Seperti biasanya, kaum Malaysia pun mulai melakukan klaim terhadap kebudayaan Madura dan akhirnya pun berhasil mematenkan senjata tradisional celurit sebagai hak milik mereka. Hingga suatu hari pada saat perayaan pengakuan dunia atas celurit Malaysia yang dihadiri oleh seluruh petinggi negara di Istana Kenegaraan, Chieftain Sakera beserta pasukannya yang bertindak sebagai penampil dalam acara kemudian melancarkan aksinya. Mereka menyerbu seisi Istana dengan celurit di tangan, para petinggi Malaysia yang tentu saja tidak bersenjata langsung habis di tempat. Chieftain Sakera pun mengambil alih istana negara dan menjadikan Malaysia sebagai negara bagian dengan ibu kota New Bangkalan (ex.Kuala Lumpur)
[sunting] Pengambil alihan Brunei
Akhirnya, Brunei Darussalam pun merasakan dampak invasi. Beberapa bulan setelah pendudukan Malaysia, Brunei pun jatuh ke tangan Madurapura dan diberi status setingkat Kecamatan.
[sunting] Politik
Sistem konstitusi Madurapura menganut ideologi Tribal Monarchy, yaitu kerajaan yang dipimpin oleh seorang kepala suku atau Chieftain. Saat ini adalah Chieftain Sakera. Sistem ini sangat membenci demokrasi sehingga kepala suku memiliki kekuasaan absolut tanpa ada kontrol politik dari rakyat. Partai yang berkuasa adalah Illuminati Party yang dibentuk langsung oleh Chieftain Sakera. Bergerak dari bawah tanah untuk menjalankan pemerintahan sesuai kehendak Chieftain. Partai ini dipimpin oleh 12 orang Sanktaj Patroj (sejenis Imam Besar).
[sunting] Pembagian Administratif
Secara administratif, Madurapura terdiri dari 3 negara bagian dengan satu daerah pemerintahan eksklusif. Terdiri dari
- Negara Bagian New Madura Island (ex.Singapura) dengan Ibukota Madurapura City
- Negara Bagian West Madurapore (ex.Malaysia Barat) dengan Ibukota New Bangkalan
- Negara Bagian East Madurapore (ex.Malaysia Timur+Brunei) dengan Ibukota Sampangchester
- Daerah Pemerintahan Eksklusif Pulau Madura dengan Ibukota Sumenep
[sunting] Ekonomi
Sumber ekonomi utama tetaplah berasal dari produksi dan ekspor garam ke luar negeri, Madurapura pun menjadi salah satu negara penghasil garam terbesar di dunia. Selain itu, limpahan harta rampasan dari negara bekas jajahan membuat keuangan Madurapura tetap stabil dan aman sampai tujuh turunan. Menyadari prospek ekonomi di Malaysia cukup bagus, rakyat Madurapura pun mencari keuntungan dengan menjual Menara Petronas per kilogram kepada negara asing. Tak hanya itu, Pulau Penang yang tersohor itu pun dijadikan pusat bisnis musik yang cukup menjanjikan dengan nama baru, New Kangean Island, merujuk kepada nama kepulauan Kangean di sekitar pulau Madura. Dari sana lahirlah band nomor wahid Madurapura, Kangean Band
[sunting] Demografi
Penduduk mayoritas Madurapura adalah etnis Madura (70%), sedangkan sisanya adalah Jawa (10%), Inggris (9%) dan Malaysia (1%). Etnis minoritas Malaysia kebanyakan bekerja sebagai pembantu rumah tangga di keluarga-keluarga Madura maupun Jawa. Mereka sebagian besar adalah orang-orang yang lolos dari peristiwa pendudukan Malaysia dan diberikan amnesti oleh pemerintah Madurapura. Tapi dikarenakan populasi orang Malaysia yang makin menipis, karena seringnya pembantaian terhadap tenaga kerja yang tidak becus oleh Chieftain, baru-baru ini menteri tenaga kerja Madurapura menggalakkan peternakan orang Malaysia di kawasan New Bangkalan supaya jumlah mereka tetap dapat dikontrol. Bahasa resmi yang digunakan adalah bahasa Madura, Inggris, Jawa, dan Melayu. Dengan bahasa nasional Madura.
[sunting] Agama
Madurapura adalah negara multi-religius, masyarakatnya pun terkenal sangat taat beragama. Agama Islam mendominasi Madurapura sebanyak 70%, sisanya adalah Kristen dan Buddha masing-masing sekitar 10%. Sedangkan Hindu menempati posisi keempat dengan populasi 4%. Sisanya adalah agama lain seperti Sikh, Konghucu, Yahudi maupun aliran kepercayaan lain seperti Kejawen, Animisme, bahkan Ateisme, Kamasutraisme. Madurapura sangat menjamin kebebasan beragama, beberapa rumah ibadah yang berbeda dapat ditemukan saling berdampingan di banyak sudut kota. Namun hal ini tidak berlaku bagi kaum Yahudi, di Madurapura mereka tidak dibebaskan menjalankan ibadah. Bahkan untuk masalah rumah ibadah mereka tidak memiliki sinagog mereka sendiri, tapi pemerintah telah berbaik hati dengan meminjamkan sekapling rumah bordil setiap minggunya di kawasan Geylang, New Madura Island dengan biaya 2,5 Godhong (Mau tau US$nya? itung sendiri!) untuk dijadikan sinagog. Biasanya setelah beribadah mereka tak langsung pulang, melainkan melanjutkan kegiatan mereka sambil melepas penat sehabis beribadah di kawasan Geylang. Bangunan tempat ibadah yang paling terkenal di Madurapura adalah Masjidil Garam
[sunting] Budaya
Madurapura sangat menghargai perbedaan yang ada di dalam masyarakatnya, bahkan salah satu budaya Malaysia yang masih dipegang teguh hingga kini adalah budaya mengklaim. Selain itu, baik pemerintah maupun masyarakat Madurapura juga memiliki budaya diplomasi konflik yang sangat ampuh, yaitu carok. Pemerintah Madurapura bahkan kini sedang mengajukan proposal untuk mematenkan budaya carok ke UNESCO. Menteri Olahraga Madurapura bahkan memperlombakan cabang olahraga carok di dalam even olahraga tahunan mereka.
[sunting] Kuliner
Kuliner Madurapura sangatlah beragam, terlebih kekayaan kuliner dari hasil klaim Malaysia di masa lalu makin memperkaya ragam kuliner Madurapura. Namun salah satu yang terkenal adalah Soto Mata dari kota Bangkalan, Pulau Madura. Masakan berbahan dasar mata sapi ini konon memiliki banyak penggemar dari luar negeri, terutama setelah jembatan Suramadu yang menghubungkan Pulau Jawa dan Madurapura dibangun.
[sunting] Perfilman
Salah satu film yang (minimal) pernah dibuat (di YouTube) oleh Madurapura adalah Chicken a la Carte yang dimana Chicken dalam bahasa Inggris artinya ayam, a artinya sebuah/seekor, la itu nada ke-6 dalam tangga nada, sementara Carte dalam bahasa Madura artinya Kardus jadi kalo disatuin jadi Ayam Seekor 6 Kardus. Diceritakan bahwa Bapakmu dengan beraninya pergi ke Solaria dan minta segentong makanan dibawa pulang ama tukang jaga restoran padahal kaga punya duit dan hanya punya 6 kardus hasil membeli rokok 6 kardus. Karena melihat Bapakmu berpenampilan kaya pemulung jadinya dikasih sekantong makanan sisa berupa seekor ayam tiren dan dibayar pake 6 kardus tersebut (sayangnya tidak ditampilin kardusnya difilm karena butuh screenshot terlalu kejauhan akibat Bapakmu meletakan kartusnya berantakan kemana-mana) Bapakmu lalu membawa pulang dan habis pulang dikrubutin ama anak kecil kaya artis dateng ke desa buat ngambil-ngambilin bekalnya si Bapakmu. Bapakmu lalu membawa sisa bawaannya yang belum dikerubutin kekeluargamu dan dituang kemeja dengan keadaan masih dikantung kresek yang kemudian dimakan sekeluargamu. Film ini dibuat oleh Ferdinand Dimadura dimana nama belakangnya (Dimadura) menyatakan bahwa ia berasal dari Madurapura. Untuk lebih jelasnya liat sendiri videonya:
[sunting] Lihat pula
| AsiaBarat | Bahrain|Iran|Irak|Israel|Kuwait|Lebanon|Oman|Palestina|Qatar|Arab Saudi|Syria|Yemen|Yordania |
| AsiaTimur | China|Hong Kong|Jepang|Makau|Kawaii|Korea Utara|Korea Selatan|Taiwan |
| AsiaTenggara | Kamboja|TimorTimur|Indonesia|Tukulnesia|Madurapura|Idiotnesia|Laos|Malaysia|Filipina|Thailand|Vietnam |
| AsiaSelatan | Bangladesh|Bhutan|India|Pakistan|Maladewa|Nepal|Sri Lanka|Tibet |
| AsiaTengah | Afganistan|Kazakhstan|Uzbekistan|negara Setan lainnya |
| EuroAsia | Armenia|Azerbaijan|Georgia|Jepang-Perancis|Rusia|Turki |
