FANDOM


Charlie Brown — A little love Stophand Artikel Ini Butuh Kasih Sayang Stophand
Artikel ini kondisinya sedang buruk, tetapi bisa menjadi artikel yang layak dibaca, jika diberi kasih sayang.
Bantulah Tolololpedia dengan memberinya kasih sayang.


Nusvantara
Khkaésaran Nusvanthara
Kekaisaran Nusantara

(310-1945)
BenderaNuswantara LambangNuswantara
(Bendera) (Lambang)
Motto: "Kaisarku, Kaisarmu!"
Lagu kebangsaan: "Duniaku, Nusantaraku!"
NusantaraEmpire
Ibu kota Jayakarta
Kota terbesar Berlin
Bahasa resmi Bahasa Nuswantara
Bahasa daerah Bahasa Betawi
Bahasa Jawa
Bahasa Sunda
Bahasa Batak
Bahasa Karo
Bahasa Minangkabau
Bahasa Lampung
Bahasa Madura
Bahasa Melayu
Bahasa Mangkasara
Bahasa Kelantan
Bahasa Terengganu
Bahasa Papua
Bahasa Sarawak
Bahasa Sulu
Bahasa Perak
Bahasa Kedah
Bahasa Tagalog
Bahasa Pilipinas
Bahasa Tamil
Bahasa Thai
Bahasa Viet
Bahasa Khmer
Bahasa Champa
Bahasa Myan
Bahasa Hakka
Bahasa Mandarin
Bahasa Korea
Bahasa Jepang
Bahasa Sansekerta
Bahasa Pali
Bahasa Hindi
Bahasa Gujarati
Bahasa Parsi
Bahasa Urdu
Bahasa Kurdi
Bahasa Kanaan
Bahasa Aram
Bahasa Arab
Bahasa Ibrani
Bahasa Misram
Bahasa Babel
Bahasa Anuki
Bahasa Uruk
Bahasa Turki
Bahasa Latin
Bahasa Yunani
Bahasa Makedonia
Bahasa Serb
Bahasa Bulgar
Bahasa Armen
Bahasa Italia
Bahasa Ostrogothia (Austria)
Bahasa Visigothia (Jerman)
Bahasa Hungaria
Bahasa Vandal
Bahasa Jerman
Bahasa Perancis
Bahasa Belanda
Bahasa Frisia
Bahasa Flemia
Bahasa Belgia
Bahasa Angles (Inggris)
Bahasa Irles
Bahasa Wales
Bahasa Skot (Celtic)
Bahasa Skot (Gaelic)
Bahasa Skandinavia
Bahasa Nordik
Bahasa Suedik
Bahasa Denik
Bahasa Viking
Bahasa Thrthr
Bahasa Spanyol
Bahasa Portugis
Ekspor mata uang
batu akik
menyan (dupping)
Impor Tidak ada
Pemerintahan Monarki Komplementer
Kaisar Pertama Suryawijaya (310-422)
Kaisar Terakhir Lunggana III (1944-1945)
Didirikan pada 16 Agustus 310
Pemberontakan yang dipimpin Ki Surya Tapa melawan Kerajaan Pajajaran
Dibubarkan pada 17 Agustus 1945
Proklamasi berdirinya negara Republik Indonesia yang dipimpin gembong nasionalis Sukarno melawan Kaisar Lunggana III
Titel Sri Baginda Maharaja Kaisar Yang Mulia
Konstitusi Otonomi Daerah
Wilayah
 - Total
 - Air (%)
 
331.689 km² (meliputi sebagian besar Asia dan Eropa
Penduduk
 - Perk. 1234-an
 - Sensus 1930
 - Kepadatan
 
900 juta
3 milyar
Tentu saja padat
PDB (PPP)
 - Total
 - Per kapita
perk. 1929
Emas 24 karat 1000 ton
Emas 24 karat 1500 ton
Mata uang Emas, Perak, dan sejumlah mata uang lokal
Zona waktu
 - Musim panas (DST)
+7 (UTC-14)
-14 (UTC+7)
TLD .nusa
Kode telepon 62-62+62
Cukup

Kekaisaran Nusantara adalah sebuah negara adidaya dan adikuasa dalam Dunia Gendeng di masa lampau. Negara yang menganut sistem monarki komplementer ini menaklukkan lebih dari 80 negara dunia dan menguasai 1/3 dunia berdasarkan catatan sejarah gendeng.

Kekaisaran Nusantara berkuasa sejak tahun 310 sampai 1945. Pertama kali, Nusantara menaklukkan Singhasari, Majapahit, Pajajaran, Mataram, Sriwijaya, Aceh, Malaka, Sulu, Singhapura, Tagalog, Bamasang, Champa, Muangthai, Khmer, Chenla, dan Tamil. Setelah menguasai Asia Tenggara, Nusantara berfokus menaklukkan Asia dan Eropa.

Pasukan yang dikirim ke Asia berhasil menaklukkan Wu, Ming, Yuan (Mongol), Joseon (Korea), Nippon (Jepang), Misri (Mesir), Farsi (Persia), Arabi (Arab), dan Turki. Sementara pasukan yang dikirim ke Eropa berhasil menaklukkan Normandia, Skotlandia (Celtic & Gaelic), Francia, Iberia, Hollandia, Frisia, Belgia, Bavaria, Prussia, Austria, Hungaria, Romania, Skandinavia (Nördmen, Sueds, & Vikings), dan tentu saja Imperium Romawi Kudus.

Nusantara jatuh akibat kudeta pemberontakan nasionalis yang dipimpin Sukarno (yang diduga didalangi Tan Malaka) untuk mendirikan negara Republik Indonesia. Sejak abad ke 19, Pemerintah Nusantara sendiri sudah bobrok akibat korupsi dan pembiaran sehingga banyak rakyat di wilayah-wilayah jajahan memberontak.

Etimologi Sunting

Kata "Nusantara" berasal dari Bahasa Nusantara: Nusvanthara yang artinya "Nusantara". Banyak julukan bagi Nusantara, di antaranya Dwipantara (Devhipanthara) atau Hindiantara (Hindhanthara). Kata ini berasal dari sebutan untuk massa pendukung Ki Surya Tapa aka Kaisar Suryawijaya, yaitu Kesatuan Nusantara (Ksathvan Nusvanthara) yang memberontak melawan Kerajaan Pajajaran. Kini nama "Nusantara" dikenang rakyat Indonesia sebagai Wawasan Kenusantaraan.

Kebangkitan Nusantara Sunting

Nusantara1

Teritorial Kekaisaran Nusantara mula-mula (311-312)

Semuanya bermula di Sunda Kelapa dimana saat itu merupakan teritorial kekuasaan Kerajaan Pajajaran. Pada tahun 310 M, Ki Surya Tapa putra guru silat Ki Jaka Bodoh melakukan pengrusakan terhadap lapak-lapak milik Ki Lulung Gana di Tenabang. Peristiwa itu diakibatkan Ki Lulung menghina padepokan silat milik Ki Joko yang dianggap menyuarakan propaganda anti Pakuan Pajajaran, pemerintah pusat di Bandungraya.

Dalam aksi pengrusakan itu, Ki Surya melakukan advokasi yang intinya adalah warga Sunda Kelapa selalu diserap oleh Pemerintah Pajajaran dengan membayar upeti sewa lahan dagang. Dari advokasi itu, banyak warga terpengaruh dan ikut membantu melakukan pengrusakan. Pasukan Pajajaran banyak yang membelot dan menjadi massa militan Ki Surya. Suasana mencekam ketika Pasukan Pajajaran yang dikirim dari Bandungraya tiba di Sunda Kelapa dan pertempuran tidak terhindarkan.

Esok harinya, Ki Surya membentuk kesatuan yang dia namakan: "Khsatvan Nusvanthara" (Kesatuan Nusantara). Pasukan Kesatuan Nusantara berhasil menangkap Bupati Sunda Kelapa, Ki Bolang. Ki Bolang digantung di Majupura (sekarang Menteng). Mayat Ki Bolang dikirim ke Bandungraya dengan sebuah pesan yang intinya mengancam Pemerintah Pajajaran untuk menyerah. Tapi Raja Prabu Siliwangi menanggapi dingin ancaman Kesatuan Nusantara. Akhirnya, pada awal tahun baru 311 M, Ki Surya berhasil menduduki Bandungraya dan membuang Raja Prabu Siliwangi ke Laut Kidul. Peristiwa ini menandai kelahiran Kekaisaran Nusantara.

Pengesahan Ki Surya Sunting

Kemenangan Kesatuan Nusantara dirayakan di Sunda Kelapa. Ki Surya dianggap pahlawan pembebas rakyat. Sepulangnya ke Sunda Kelapa, Ki Surya dimandikan dan dikafani dengan taburan kembang kamboja. Pendeta Ki Arsalemba mentahbiskan dirinya menjadi kaisar dengan gelar "Suryawijaya". Proyek pertama yang dicanangkan Pemerintahan Suryawijaya adalah:

  • Memberi nama negaranya menjadi Kekaésaran Nusvanthara (Kekaisaran Nusantara).
  • Mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta.
  • Menjadikan Jayakarta sebagai ibukota resmi negara dan Bandungraya sebagai kota bisnis.

Misi-misi Kaisar Suryawijaya adalah:

Penaklukan Kerajaan Singhasari Sunting

SuryawijayaMuda

Ki Surya Tapa yang sedang memberi arahan untuk menyerang Kerajaan Singhasari.

Pada tahun 312, Kaisar Suryawijaya mengirim seorang duta besar yang bernama Ki Asudhana ke Singhasari dan diterima oleh Raja Kertanegara di ibukota Singharangi (sekarang Semarang). Pada awalnya Raja Kertanegara menyambut Ki Asudhana dengan jamuan makan royal family. Namun ketika Raja Kertanegara sedang melahap buah pare, Ki Asudhana mengatakan bahwa dia diutus untuk membawa surat ancaman kepada Kerajaan Singhasari, bahwa Kekaisaran Nusantara akan melakukan agresi militer besok siang.

Raja Kertanegara geram dan meringkus Ki Asudhana. Ki Asudhana dipaksa memuntahkan semua makanan yang sudah dilahapnya. Lalu dia dipasung di tiang alun-alun Singharangi dalam keadaan telanjang. Ki Asudhana dilempari kotoran kuda semalaman hingga tubuhnya legam dan bau.

Keesokan harinya, Jenderal Ki Tahi Gesit dikirim oleh Kaisar Suryawijaya dengan 20.000 pasukan anti huru-hara ke Singharangi. Raja Kertanegara kaget dan tidak sempat membentuk pasukan. Pasukan Nusantara langsung menggrebek Raja Kertanegara di istananya. Raja Kertanegara ditelanjangi dan diarak keliling kota Singharangi dan dipasung bersama Ki Asudhana. Keduanya dirajam sampai mati. Jenderal Ki Tahi langsung melakukan penggeledahan ke istana Raja Kertanegara dan menyita seluruh aset propertinya. Kaisar Suryawijaya menyusul dengan kereta uap ke Singharangi dan menitahkan rakyat Singhasari kini tunduk di bawah kedaulatan Kekaisaran Nusantara.

Penaklukan Kerajaan Majapahit Sunting

Nusantara2

Teritorial Kekaisaran Nusantara tahun 415

SuryawijayaCool

Kaisar Suryawijaya di kota Singharangi pasca Penaklukan Kerajaan Singhasari. Dilukis tahun 1887.

Berita aneksasi Singhasari ke Nusantara tersiar hingga ke Majapahit di timur Jawadwipa. Raja Hayam Wuruk memerintahkan perdana menterinya, Patih Gajah Mada untuk segera membentuk pasukan elit darurat yang sebenarnya tidak terlalu elit, hanya terdiri atas pemanah. Namun Raja Hayam Wuruk merupakan raja yang cukup cerdik dalam hal berperang, dia membangun benteng dan parit untuk memberi batas negara antara Nusantara dengan Majapahit. Akan tetapi, belum rampung pembangunan benteng dan parit, pasukan Nusantara sudah keburu menginvasi Majapahit.

Mendengar kabar bahwa 75.000 pasukan Nusantara sudah tiba di Sragén sontak membuat Raja Hayam Wuruk ketakutan. Sragén merupakan kota perbatasan dengan Madhyiaun (sekarang Madiun) di Majapahit. Pasukan Nusantara dipimpin oleh Jenderal Kusumaharjaya segera melibas para pasukan elit Majapahit. Patih Gajah Mada meminta bala bantuan berupa tentara berkuda dan sedikit sembako kepada Raja Manggala dari Kerajaan Mataram. Pasukan Nusantara dapat melibas habis pasukan Mataram dan Majapahit. Patih Gajah Mada ditemukan tewas di tepi sungai Bengawan Solo. Raja Hayam Wuruk kabur ke Siddhuharjaya (sekarang Sidoarjo) lalu ke Bali. Peristiwa kaburnya Raja Hayam Wuruk menandai berakhirnya negara-negara di Jawadwipa (Pulau Jawa) sekaligus menandakan Pulau Jawa secara utuh de jure di bawah kedaulatan Kekaisaran Nusantara.

Penaklukan Kerajaan Mataram Sunting

Sudah diceritakan di atas.

Ekspedisi Kalimantan dan Sulawesi Sunting

Nusantara3

Teritorial Kekaisaran Nusantara tahun 488

Pada tahun 442, Kaisar Suryawijaya wafat dan digantikan oleh putranya, Suryawarman. Di masa baktinya, Kaisar Suryawarman mengirim tiga pasukan ekspedisi; ke Swarnadwipa (Pulau Sumatra), ke Nusadwipada (mencakup Bali, Lombok, Nusa Tenggara, dan Timor), dan ke Kertadwipantara (Pulau Kalimantan dan Sulawesi). Kali ini akan dibahas di Pulau Kalimantan dan Sulawesi.

Penaklukan Kerajaan Kutai Sunting

Suryawarman

Kaisar Suryawarman, Kaisar yang pertama kali memakai metode menyan (dupping). Lukisan di atas dilukis tahun 1788 menggambarkan kesaktian menyan Kaisar Suryawarman.

Pada mulanya, Kaisar Suryawarman mengirim 1.000 orang agen intelijen ke Kertadwipa (Pulau Kalimantan). 500 di antaranya menyamar sebagai saudagar, 300 menyamar sebagai pengemis, dan sisanya 900 menyamar sebagai guru, dokter, petani, dan teknisi. Semuanya dikirim ke seluruh penjuru Kalimantan dan memetakan situasi geopolitik di sana. Yang ke Kutai ada 120 agen.

Sesampainya di wilayah Kerajaan Kutai, 120 agen ini disergap oleh pasukan Kutai karena mencurigakan. Para agen dibawa ke ibukota Tarakanjaya (sekarang Tarakan) dan dihadapkan ke Raja Mulawarman. Raja Mulawarman menginterogasi mereka dengan segudang pertanyaan tentang kesenian. Namun para agen intelijen Nusantara tidak dapat menjawab pertanyaan Sang Raja dan akhirnya mereka dihukum pancung. Kaisar Suryawarman marah mendengar berita ini dan mulai melakukan pengembangan teknologi mutakhir yang disebut "menyan" (dupping). Sang Kaisar membawa menyan ke suatu ruangan khusus dan melakukan komunikasi wireless terhadap para agen lainnya di Kertadwipa. Sang Kaisar memerintahkan untuk mobilisasi umum membentuk pasukan untuk menghabisi Kutai. Para pasukan inilah yang menjadi nenek-moyang Dayak di kemudian hari.

Setelah mendapat informasi lewat sinyal dupping, para agen yang dipimpin Sunddhasanjaya segera memakai menyan untuk membangkitkan kekuatan eter astral dari Bumi dan sontak kota Tarakan mengalami gempa tektonik sebesar 9,5 skala richter. Seluruh penduduk Tarakan panik, sebagian tewas akibat terjangan badai taiphoon. Istana Raja Mulawarman pun rubuh akibat terjangan gempa yang mahadahsyat itu sehingga Raja Mulawarman tewas seketika. Setelah hancur, Sunddhasanjaya segera mengumumkan pemindahan kekuasaan ke Nusantara dan mengangkat dirinya sendiri sebagai Bupati Tarakan. Dengan ini, Kutai resmi di bawah kedaulatan Kekaisaran Nusantara.

Penaklukan Kerajaan Pontianak Sunting

Teknologi dupping juga dilakukan di Pontianak. Raja Sultoni tewas seketika akibat tertimpa beton istananya sendiri. Kaisar Suryawarman mengangkat Dunsanak menjadi Bupati Pontianak.

Penaklukan Kerajaan Sarawak Sunting

Nusantara4

Teritorial Kekaisaran Nusantara tahun 445

Dengan teknologi dupping, para agen juga membuat gempa bumi di Kerajaan Sarawak. Namun ternyata, Kerajaan Sarawak juga memakai teknologi dupping untuk menghentikan gempa bumi, sehingga serangan Nusantara ke Sarawak dengan menyan gagal. Alhasil, Raja Karanyan mengetahui rencana penaklukan Nusantara ke negaranya. Sang Raja membentuk pasukan khusus menyan dan mulai melakukan operasi militer lewat menyan untuk menyantet Kaisar Suryawarman. Pada mulanya semuanya berjalan lancar, namun ternyata Kaisar Suryawarman lebih sakti sebab Kaisar Suryawarman memiliki pendeta-pendeta menyan tingkat tinggi dari Jawa yang justru bersatu menyantet balik Raja Karanyan sehingga Sang Raja tewas mengenaskan terkena santet. Tidak hanya menyantet Sang Raja, bahkan para pendeta menyan juga menyantet seluruh rakyat Sarawak, beberapa di antaranya disantet jadi kucing sehingga ibukota Sarawak dinamai Kuching oleh Kaisar Suryawarman. Para agen berhasil menduduki Sarawak, membenahi infrastruktur jalan ke wilayah Sabah di Timur Laut serta mengangkat Prabu Durjana sebagai Bupati Kuching. Kini seluruh wilayah Kalimantan (kecuali Kerajaan Brunaipura (sekarang Brunei) yang mana entitasnya masih dibiarkan oleh Kaisar Suryawijaya. Peristiwa ini menandai berakhirnya negara-negara mayoritas di Kalimantan. Para agen dibebas-tugaskan untuk sementara waktu untuk menghimpun kekuatan menyerang Sulawesi.

Penaklukan Kerajaan Bugisa (Mangkasarak) Sunting

Nusantara5

Teritorial Kekaisaran Nusantara tahun 452

Misi berikutnya Kaisar Suryawijaya adalah menaklukkan Kerajaan Bugisa (Ugisa). Menaklukkan wilayah Bugis berarti menaklukkan 2/3 Pulau Sulawesi. Oleh sebab itu, Sang Kaisar menitahkan para agen di Kalimantan via menyan untuk menyerbu Bugisa langsung ke ibukotanya, Mangkasarak. Para agen yang tersisa di Kalimantan berjumlah 500 orang, ditambah pasukan pribumi Kalimantan yang baru direkrut menjadi pasukan Nusantara sebanyak 70.000 pasukan. Sang Kaisar juga mengirim pasukan dari Jawa sebanyak 55.000. Total jumlah pasukan yang menyerbu Sulawesi adalah 500 + 70.000 + 55.000 = 800.000 pasukan menurut matematika mistik. Ekspedisi ke Sulawesi dipimpin oleh Jenderal Kian Santang.

Raja Daeng Lara yang memerintah Kerajaan Bugisa dikejutkan oleh berita invasi Nusantara ke Sulawesi. Sang Raja meminta bala bantuan dari Ratu Metekohey dari Manadonia (sekarang Manado). Pada mulanya Ratu Metekohey menolak permintaan Raja Daeng Lara. Namun atas desakan dari rakyat Manado, maka Sang Ratu menyanggupi permintaan Sang Raja Bugis. Sang Ratu mengirim 100 kapal tanker untuk membentengi perairan barat Mangkasarak. Sang Raja menambah armada menjadi 300 kapal mercon. 400 kapal tsb dilengkapi barikade meriam dari 4 penjuru langit dan bumi. Selain itu, para bangsawan dari Palu membentuk Pemerintahan Darurat Bugisa di Maluku dan Papua. Di bulan puasa tahun 480, pasukan Nusantara tiba di Mangkasarak dan dihadang barikade Bugis.

Akan tetapi, jumlah kapal yang berseteru tidak sepadan. 400 berbanding 300.000 sehingga dalam sekejap kapal-kapal Aliansi Manado-Bugis hancur lebur. Seluruh pasukan Nusantara mengepung Mangkasarak 40 hari 40 malam memaksa Raja Daeng Lara menyerah. Gempuran demi gempuran meluluh-lantakkan benteng-benteng Bugis dan di hari ke 41, Raja Daeng Lara menyerahkan kedaulatan Bugisa ke Nusantara. Daeng Lara diangkat menjadi Bupati Mangkasarak. Bupati Daeng Lara juga merekrut pasukan baru Bugis untuk menyerbu Palu dan Manadonia. Dalam penyerbuan ke Manadonia, Ratu Metekohey menyerah tanpa syarat karena jumlah pasukan Nusantara semakin bertambah besar ditambah pasukan pribumi Bugis. Kekalahan Manadonia ke tangan Nusantara mengakhiri ekspedisi Nusantara ke Sulawesi.

Penaklukan Bangsa Minahasa Sunting

Sejumlah militan Manadonia, yaitu Bangsa Minahasa bermigrasi ke Sangir-Talaud menolak kedaulatan Nusantara di atas bumi Manado. Para Minahasan melakukan aksi pembajakan kapal Nusantara di wilayah perairan Sulawesi utara. Sejumlah harta dirampok untuk membangun sebuah kastil megah di Sangir. Mengetahui aksi Minahasan yang meresahkan Nusantara, Kaisar Suryawijaya memerintahkan untuk menambah pasukan di perairan selatan Filipina. Sejumlah simpatisan nasionalis Minahasa ditangkap dan diadili di Manado. Hakim Laetisioar memvonis mereka hukuman mati dengan cara dibuang ke Papua. Yang jadi masalah adalah waktu itu Papua bukan wilayah Nusantara sehingga ketika Kaisar Suryawijaya mendengar berita vonis itu, Sang Kaisar terinspirasi untuk mencaplok Papua sebagai sasaran berikutnya.

Penaklukan Kerajaan Brunei dan Kerajaan Sulu Sunting

Nusantara6

Teritorial Kekaisaran Nusantara tahun 456

Sebelum ke Papua, sementara di Kalimantan, Raja Dato Bolkiah dari Kerajaan Bruneipura mengecam aksi-aksi akuisisi Kaisar Suryawijaya. Bersama dengan Raja Halim dari Kerajaan Sulu, Brunei menyatakan Nusantara sebagai haram jadah perdamaian yang telah dipupuk Bangsa Melayu. Mendengar statement Raja Dato Bolkiah yang tidak masuk akal, Bangsa Melayu di Nusantara melakukan long march dari Pontianak ke Kuching menyuarakan anti Bruneipura. Bagi pribumi Melayu, justru lebih bersahaja hidup di bawah rezim Nusantara, Sang Kaisar, daripada di bawah raja-raja lalim. Long March Melayu membuat Raja Dato Bolkiah marah dan berjanji akan merebut kembali Pulau Kalimantan seluruhnya dari kekuasaan Nusantara pada akhir tahun nanti.

Mendengar ancaman Raja Dato Bolkiah, Kaisar Suryawarman hanya tergelitik tertawa. Negara yang seuprit itu mana bisa mengambil alih Kalimantan yang begitu luas, dimana rakyatnya sudah berhasil dicuci-otak menjadi pro-Nusantara. Untuk membuktikan ancaman Brunei, pada akhir tahun, Kaisar Suryawarman menyambangi Tarakan untuk meresmikan pabrik tambang batu akik dan kayu jati pertama kali di Nusantara. Dalam acara tsb, dihadiri pula Jenderal Asadiraja dan Bupati Aditya. Sang Kaisar berpidato yang bersifat sarkastik menagih janji Raja Dato Bolkiah untuk merebut kembali Pulau Kalimantan dari Nusantara. Mendengar berita itu, Sang Raja geram dan meminta bantuan dari Kerajaan Sulu untuk menyerbu Kuching, kota terdekat dari kota Shribagavan (sekarang Bandar Sri Begawan), ibukota Brunei. Sang Raja memerintahkan menghancurkan pelabuhan Kuching dan pendudukan di alun-alun Kuching.

Namun serangan Brunei gagal akibat wabah malaria yang diderita pasukannya, yang disebabkan kekuatan eter astral dari menyan Kaisar Suryawarman. Sontak Raja Dato Bolkiah terkejut dan merasa takut akan kekuatan Nusantara yang di luar batas fisika itu. Sang Raja menawarkan damai dengan mengirim sejumlah gadis Melayu ke Tarakan sebagai hadiah seksual bagi Kaisar. Sang Kaisar merasa direndahkan, baginya gadis itu mudah didapatkan dari mana-mana, dari Melayu, dari Bugis, dari Jawa, dari Sunda. Gadis-gadis yang dikirimkan Raja Dato Bolkiah tidak ada apa-apanya. Sang Kaisar segera memerintahkan pasukan Nusantara mengebom Brunei dengan bom batu akik. Dalam seketika, Brunei berhasil dikuasai Nusantara. Peristiwa ini menandai teritorial Nusantara membentang dari Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.

Ekspedisi Nusa Tenggara Sunting

Nusantara7

Teritorial Kekaisaran Nusantara tahun 467

Kaisar Suryawarman berniat menghabisi seluruh keluarga raja Majapahit di Bali dan Lombok. Raja Agung Gde Pasek yang menguasai Bali memberikan perlindungan bagi Bhre Kertawijaya, putra bekas Raja Hayam Wuruk. Kaisar Suryawarman mengirim sejumlah pasukan dari Jawadwipa yang merupakan bekas pasukan Majapahit untuk menginvasi Bali. Raja Agung Gde Pasek segera membentuk pakta pertahanan bersama Raja Sasak di Lombok. Pakta pertahanan bersama ini disebut Pasukan Anti Nusantara (PAN). PAN bergerak ke Pelabuhan Gilimanuk untuk menahan serangan dari Nusantara. Namun rupanya Kaisar Suryawarman memerintahkan untuk pasukan Jawa jangan menyerang pelabuhan melainkan hanya mengepung saja agar kegiatan transportasi di dermaga tidak aktif. Ternyata Sang Kaisar justru mengirim pasukan-pasukan Bugis untuk menyerbu Lombok. Raja Sasak tidak menyadari hal itu sehingga serangan kilat Bugis tidak dapat diantisipasi secara dadakan. Raja Sasak beserta punggawa kerajaan kabur ke Den Pasaraya (sekarang Denpasar), ibukota Bali. Kali ini agresi militer ke Bali dan Lombok akan lebih mudah, sebab kedua raja ada di Den Pasaraya, ditambah putra mahkota Majapahit di sana. Pasukan Bugis mengejar mereka ke Bali, sementara PAN kocar-kacir meninggalkan pelabuhan menuju Den Pasaraya. Pasukan Jawa mendarat di Bali dengan mudah tanpa penjagaan. Den Pasaraya dikepung dari segala penjuru dan dalam waktu 3 hari saja, Raja Agung Gde Pasek, Raja Sasak, dan Bhre Kertarajasa mati dibunuh, pasukan PAN dibasmi habis hingga ke akar-akarnya. Kemudian Kaisar Suryawarman mengangkat putra Raja Agung Gde Pasek, Anak Agung Gde Pasek sebagai Bupati Bali dan Lombok.

Penaklukan Kerajaan Bali dan Kerajaan Lombok (Sasak) Sunting

Sudah diceritakan di atas.

Penaklukan Bima dan Dompu Sunting

SuryawarmanMenyan

Kaisar Suryawarman sedang melakukan ritual santet dengan metode dupping (menyan).

Bima dan Dompu di Nusa Tenggara adalah bekas teritori Kerajaan Lombok. Kaisar Suryawarman mengirim utusan ke Bima dan Dompu untuk membawa pesan bahwa Bima dan Dompu sekarang di bawah kedaulatan Nusantara. Lurah Bima, Ade Katong menolak klaim Nusantara atas Bima dan Dompu. Bupati Anak Agung Gde Pasek mengeluarkan surat komando penangkapan terhadap Ade Katong. Ade Katong ditangkap di sebuah warung ketika dalam keadaan sedang mabuk miras. Peristiwa penangkapan ini mendapat kecaman dari negara tetangga, Kerajaan Timor Lorosae. Raja Kshanana Gusmo berpendapat bahwa Nusantara barbar dan tidak bermoral. Pernyataan Sang Raja membuat marah Kaisar Suryawarman. Sang Kaisar segera menyantet Raja Kshanana Gusmo via menyan dan Sang Raja ditemukan tewas dalam keadaan mengenaskan tanpa dibalut pakaian sehelaipun. Pasukan Timor segera bertindak di bawah Jenderal Mari Albatiri untuk mengirim pasukan langsung menyerbu Jayakarta dan bersumpah untuk membawa kepala Sang Kaisar ke Timor. Namun di tengah perjalanan, terjadi badai yang menenggelamkan kapal Timor, diduga badai itu disebabkan oleh menyan Sang Kaisar. Kerajaan Timor Lorosae mengalami kekosongan pemerintahan, sehingga memudahkan Nusantara untuk menduduki kota Dillianda (sekarang Dilli). Sang Kaisar mengangkat Ramus Harto sebagai Bupati Timor. Peristiwa kejatuhan Timor menandai berakhirnya Ekspedisi Nusa Tenggara oleh Nusantara sekaligus menandai teritori baru Nusantara.

Penaklukan Kerajaan Timor Lorosae Sunting

Sudah dijelaskan di atas.

Ekspedisi Melayu Sunting

Kehebatan Kaisar Suryawijaya membuat negara-negara Melayu kuatir. Apalagi Sang Kaisar sudah membentuk pasukan ekspedisi ke Swarnadwipa (Pulau Sumatra) dan Malayupura (Semenanjung Malaya). Raja Mahendra V dari Kerajaan Sriwijaya mengirim pasukan penjagaan ke Bakauheni dari kota Palembangan (sekarang Palembang), ibukota Sriwijaya.

Penaklukan Kerajaan Sriwijaya Sunting

Nusantara8

Teritorial Kekaisaran Nusantara tahun 501

WayangA

Pasukan Nusantara ribut dengan Sriwijaya detik2 sebelum aneksasi

Pada tahun 499 M, Kaisar Suryawarman mengeluarkan kebijakan diplomatiknya di Jayakarta untuk menjalin hubungan bilateral yang bersahabat dengan Kerajaan Sriwijaya sebagai strategi non-militer Nusantara untuk menaklukan Sriwijaya. Namun Raja Mahendra V sudah mewaspadai kebijakan Sang Kaisar yang dianggap sebagai klise saja yang tujuannya untuk menaklukan Sriwijaya. Untuk meyakinkan Raja Mahendra V, Kaisar Suryawarman mengirim sejumlah nasi berkat 500 ton yang merupakan 100% hasil produksi pertanian dari kota Klaten. Nasi berkat itu dikirim via kapal ferry ke Bakauheni di Lampung. Kebetulan persediaan beras di Palembangan dalam situasi paceklik. Sang Raja memerintahkan mengambil nasi berkat dari Sang Kaisar, tetapi dengan penjagaan ketat, jangan sampai barikade Bakauheni diterobos kapal ferry milik Nusantara.

Pada awalnya serah-terima nasi berkat berjalan damai tanpa ada persenggolan antar pasukan. Namun salah seorang warga Lampung yang tengah mengantri nasi berkat meneriaki salah seorang petugas Nusantara dengan kalimat "anjing kowe Nusantara!". Petugas itu marah dan sempat cekcok dengan petugas Sriwijaya di situ. Adu mulut itu berakhir dengan matinya seorang petugas Sriwijaya dengan sebusur panah tepat mengenai dahinya. Pasukan Sriwijaya segera melakukan penembakan meriam terhadap kapal-kapal Nusantara. Sontak saja pasukan Nusantara kocar-kacir balik ke Bantam (sekarang Banten). Dan rupanya pasukan Sriwijaya mengejar mereka hingga ke Merak. Pasukan Sriwijaya mendarat di Pulau Jawa dan segera menyerbu desa-desa di Bantam.

Tepat di sebuah lapangan bola, pasukan Sriwijaya dihadang oleh barikade pasukan elit Nusantara. Di sana, pasukan Sriwijaya diserang dengan bom-bom molotov dan kocar-kacir. Dalam serangan ini, hampir seluruh pasukan Sriwijaya mati. Sisanya ditawan dan dibawa ke Jayakarta untuk dieksekusi mati. Untuk mengenang peristiwa penyerangan Sriwijaya ke lapangan bola itu, Kaisar Suryawarman membangun kota di atasnya dan dinamakan kota Serang.

Di Jayakarta, Kaisar Suryawarman sudah menetapkan hukuman mati bagi tawanan-tawanan Sriwijaya. Raja Mahendra V memohon pada Sang Kaisar agar memberikan grasi bagi para tawanan. Dalam situasi politik semacam itu, bagi Sang Kaisar, inilah saat-saat yang tepat menaklukan Sriwijaya. Sang Kaisar menawarkan damai. Raja Mahendra V harus menandatangani surat penyerahan kedaulatan Sriwijaya kepada Nusantara, maka tawanan Sriwijaya akan dibebaskan. Raja Mahendra V adalah raja yang arif bijaksana, sangat menghormati nilai-nilai kemanusiaan. Sehingga atas nama kemanusiaan, Sang Raja menandatangani kontrak politik penyerahan kedaulatan Sriwijaya kepada Nusantara. Raja Mahendra V diangkat menjadi Bupati Palembangan. Peristiwa penaklukan Sriwijaya merupakan peristiwa penting dalam sejarah Nusantara yang menandakan cita-cita menguasai seluruh Bangsa Melayu.

Penaklukan Kerajaan Pagaruyung Sunting

Nusantara9

Teritorial Kekaisaran Nusantara tahun 511

Raja Emas atau disebut juga Rajo Ameh dari Kerajaan Pagaruyung di Sumatra Barat mengirimkan surat ke Jayakarta berupa ucapan selamat atas keberhasilan menaklukan Sriwijaya. Pada tahun 514, Kaisar Suryawarman mengirimkan surat balasan berupa ancaman untuk eksistensi Pagaruyung. Sang Kaisar berjanji akan menaklukan Pagaruyung. Rajo Ameh gusar dan meminta bala bantuan Bangsa Batak di Utara. Tetua Batak, Sirajagukguk menyanggupi permintaan Rajo Ameh. Sirajagukguk memiliki 4 putra yang amat kuat, yaitu Situmorang yang sulung, Sitorus, Silalahi, dan Simatupang yang bungsu serta Anak gelapnya, seperti Hutasoit, Hutagalung, Manurung, Sebayak. Keempatnya menghadap Rajo Alam di Batu Sangkar, ibukota Pagaruyung. Sang Rajo mempersenjatai mereka dengan persenjataan yang diimpor dari Kerajaan Champa seperti pedang bermata dua (Bahasa Minangkabau: padang bamato duo) dan tombak. Mereka berempat juga diperkuat oleh pasukan-pasukan Minangkabau berjumlah hampir 54.000 orang dan berangkat ke Sungai Dareh, sebuah sungai yang membatasi antara Pagaruyung dengan Jambi yang sudah menjadi teritori resmi Nusantara.

Di Sungai Dareh, Sitorus berkenalan dengan seorang ekspartriat Sriwijaya yang bernama Masagung. Masagung dulunya adalah menteri pangan Sriwijaya yang bekerja di bawah kendali Raja Mahendra V. Setelah Sang Raja menjadi Bupati, dia dipecat dari pekerjaannya dan merantau ke Pagaruyung. Namun dia tidak bisa pulang ke Sriwijaya jika masih menolak kedaulatan Nusantara. Untuk menghibur Masagung, Sitorus mengajaknya makan di sebuah gunung di Sungai Dareh. Rupanya, Kekaisaran Nusantara telah merekrut sejumlah mata-mata agen intelijen dari suku Anak Dalam yang tidak mengerti apa-apa selain mereka disogok oleh Pelicin. Para agen ini membunuh Sitorus Dan Masagung. Untuk mengenang wafatnya Sitorus, Situmorang menamai gunung itu menjadi Gunung Medan. Sejumlah agen Anak Dalam ditangkap dan dieksekusi di tempat. Trio Batak sisanya melakukan musyawarah untuk menyerang Nusantara.

Pagaruyung

Pasukan Nusantara berhasil mengepung Istana Pagaruyung.

Sementara itu di Medan, Sirajagukguk telah mendengar kabar kematian putranya Sitorus. Dia marah kepada Rajo Ameh yang dianggap tidak bertanggung-jawab atas keselamatan keempat putranya. Rajo Ameh dengan sarkastik justru menghina Bangsa Batak yang dianggapnya tidak becus dalam bertugas. Sirajagukguk semakin barbar dan mengancam akan menghancurkan Pagaruyung. Mendengar ancaman ini, para pasukan di Sungai Dareh mundur ke Batu Sangkar untuk dibawa ke Batang Toru , Daerah Perbatasan Pagaruyung-Batak Raya, sehingga pasukan Nusantara dapat dengan leluasa memasuki perbatasan Pagaruyung-Nusantara.

Dalam keadaan terdesak akan diserang dari 2 sisi (utara oleh Batak Barbar dan selatan oleh Nusantara), Rajo Ameh meminta bantuan Raja Tunku Rojak dari Kerajaan Bersatu Siak & Riau dan Raja Tun Badawi dari Kerajaan Malayupura (sekarang Malaysia). Raja Tun Badawi menolak membantu Rajo Ameh, tapi Raja Tunku Rajak bersedia membantu Rajo Ameh. Rajo Ameh mengancam akan menaklukan Malayupura jika Nusantara berhasil diusir dari bumi Sumatra. Kemudian Raja Tunku Rajak mengirimkan sejumlah pasukan berkuda ke Batu Sangkar. Sementara Tentara Pagaruyung mengirimkan tentaranya untuk menginvasi Batak lewat Natal. Akan tetapi, di tengah perjalan, pasukan Siak-Riau bertemu pasukan Nusantara. Kaisar Suryawarman memerintahkan pasukan Nusantara untuk dibagi menjadi 2 kelompok, yang satu ke Batu Sangkar, satu lagi ke Pakan Baru, ibukota Siak-Riau.

Pasukan yang ke Pagaruyung dihadang di sebuah lembah. Dengan pedang yang terhunus panjang, pasukan Nusantara menghabisi pasukan Pagaruyung. Dengan bantuan pribumi setempat (dengan Uang), dalam sekejap pasukan Pagaruyung mundur ke sebuah perbukitan yang amat tinggi. Pertempuran ini dikenang sebagai Parang Padang Panjang (Pertempuran Pedang Panjang). Untuk mengenang pertempuran itu, warga Minangkabau pribumi sepakat menamai lembah itu sebagai Padang Panjang, setahun kemudian Kaisar Suryawarman membangun kota di sana. Sementara itu, pasukan Rajo Ameh membangun kamp di perbukitan itu dengan nama Bukik Tinggi (Bukittinggi). Sekarang kamu sudah mengerti kan asal-usul nyeleneh nama-nama kota di tanah air. melihat ratunya yang cantik itu disenonohi oleh Datuk Meringgih dan berang. Dengan mengerahkan 70.000 pasukan secara total, Rajo Ameh memerintahkan penyerbuan ke Padang Panjang. Namun Rajo Ameh tidak menyadari bahwa 70.000 pasukan itu adalah satu-satunya pasukan Pagaruyung yang tersisa. Dengan semangat menyan, Kaisar Suryawarman menyantet 70.000 pasukan Pagaruyung, seluruh pasukan Pagaruyung dicuci otaknya dan balik menyerang Pagaruyung. Rajo Ameh ditangkap dan dieksekusi di tempat dengan cara dipancung. Datuk Meringgih diangkat menjadi Bupati Minangkabau dan menikahi Siti Nurbaya.

Pada tahun 515, Sirajagukguk atas nama Bangsa Batak dan Bangsa Karo mengakui kedaulatan Nusantara dan bergabung ke dalam teritori Nusantara dengan keadaan terpaksa Dan langsung meninggal beberapa hari pengakuan, Ketika Ia meninggal, seseorang Ahli Pemerintahan yang bernama Prasetya mengatakan bahwa Sirajagukguk meninggal bukan karena shock akibat pengakuan pada Nusantara, melainkan sebuah Konspirasi, Ia dibunuh oleh Agen Nusantara untuk mengentikan Ia hidup agar Ia tidak berubah pikiran untuk menyerang kembali Nusantara. Namun, Prasetya langsung saja menghilang beberapa hari kemudian. Semenjak Kehilangan Prasetya, Rakyat Nusantara berduka Dan mulai meruntuhkan kewibawaan Suryawarman. Akhirnya Suryawarman semenjak itu selalu diam Dan tertutup Dan hanya berdiam diri saja di Istananya. Walau beberapa bulan kemudian terjadi Pemberontakan yang dilakukan oleh Hutapea yang bermarkas di Batang Toru, Tempat Orang Minang-Batak-Melayu Taruhan atau Orang Batak karena ngomongnya agak kasar, disebutlah Suka Toruhan. Namun lama-kelamaan Hutapea dan Temannya, Harahap makin beringas dan mengajak Bangsa Nias, Minang, Aceh, Mentawai untuk bertempur. Namun Kaisar Suryawarman tidak mau kalah dan berpropaganda bahwa Hal itu Kejahatan melebihi Kejahatan Copet atau Cabul. Akhirnya Kaisar Suryawarman langsung mengirimkan Pasukan dibawah pimpinan dari Banten yang bernama Kang Aher. Kang Aher langsung memusnahkan Pemberontakan Bangsa-Bangsa Andalas. Akhirnya Bangsa-Bangsa Andalas sepenuhnya dikalahkan. Di tahun yang sama, Kerajaan Aceh Raya menyerah tanpa perang dengan Nusantara. Raja Teuku Rafli menandatangani nota kesepakatan sebagai wilayah Nusantara dan diangkat menjadi Bupati Aceh.

Penaklukan Kerajaan Bersatu Riau dan Siak Sunting

Nusantara10

Teritorial Kekaisaran Nusantara tahun 521

Sementara itu, pasukan Nusantara yang satu lagi dikirim ke timur untuk menyerang kota Pakan Baru, ibukota Kerajaan Bersatu Riau dan Siak. Raja Tunku Rajak tidak mengetahui berita jatuhnya Pagaruyung. Hal ini digunakan Sutan Perpatih, Bupati Minangkabau untuk menggunakan strategi penyamaran menjadi pasukan Pagaruyung. 50.000 pasukan Nusantara yang menyamar menjadi pasukan Pagaruyung pergi ke Pakan Baru. 2 hari kemudian mereka tiba di Pakan Baru dan disambut Raja Tunku Rajak. Sang Raja mengadakan perjamuan di istananya dan menanyakan perihal kedatangan pasukan Pagaruyung palsu tsb. Jenderal Sutan Bagindo yang memimpin pasukan itu berbohong bahwa pasukan Pagaruyung dalam keadaan terdesak dan memohon perlindungan di Riau dengan suaka politik sebagai pengungsi. Sang Raja memberikan lahan sebanyak 500 hektar di daerah Dumai untuk pasukan Pagaruyung palsu. Selama seminggu, pasukan Pagaruyung palsu menginap di Dumai.

Dalam waktu seminggu, Jenderal Sutan Bagindo berhasil menarik simpati rakyat pribumi Riau dan Siak. Sutan Bagindo mempropagandakan anti Raja Tunku Rajak. Dalam propaganda itu, Sutan Bagindo dan pasukannya menanamkan ide persaudaraan Nusantara ke dalam alam bawah sadar rakyat Riau. Dalam orasinya, Sutan Bagindo mengajak warga Dumai untuk mengabdi pada Kaisar Suryawarman dan menyatakan kesetiaan abadi terhadap Sang Kaisar. Propaganda itu berbuah hasil, kini 70.000 pasukan Nusantara dan 50.000 pasukan baru yang direkrut dari pribumi Riau menjadi militan Nusantara siap menginvasi Pakan Baru. Raja Tunku Rajak lagi-lagi blunder tidak mengetahui berita tsb. Akhirnya pada musim panas bulan Juli, Raja Tunku Rajak menyerah tanpa syarat setelah 120.000 pasukan Nusantara mengepung istananya. Peristiwa penyerahan kedaulatan Riau atas Nusantara ini mengakhiri sejarah panjang Nusantara dalam menduduki pulau-pulau dari Sumatra ke Papua. Raja Tunku Rajak diangkat menjadi Bupati Pakan Baru, sementara itu Sutan Bagindo diangkat menjadi menteri pertahanan Nusantara. Sang Kaisar meresmikan wilayah baru Nusantara di Jayakarta.

Penaklukan Kerajaan Malayupura Sunting

Nusantara11

Teritorial Kekaisaran Nusantara tahun 525

Untuk mengantisipasi pengaruh Nusantara bagi Bangsa Melayu, Kerajaan Malayupura di Semenanjung Malaya (sekarang Malaysia) menambahkan armada kapal di 3 dermaga; di Perlak, Perlis, dan Johor. Sementara itu, Raja Hang Tuah di Kuala Lumpur, ibukota Malayupura, memerintahkan Jenderal Hang Lekir untuk membentuk aliansi pasukan Melayu dengan pribumi Bangsa Temasek dan Bangsa Tamil dari Kerajaan Singhapura (sekarang Singapura). Raja Amrikin dari Singhapura segera membentuk satgas untuk membantu Raja Hang Tuah. Aliansi itu dinamakan Aliansi Melayu Anti Nusantara (AMAN). Pasukan AMAN di bawah pimpinan Jenderal Hang Lekir berencana menyerbu Nusantara langsung ke Jayakarta.

Tapi sekali lagi, berkat bantuan menyan, Kaisar Suryawarman sudah mencium gelagat Malayupura. Sang Kaisar mencegat 100.000 pasukan AMAN di Laut Karimata dengan 300.000 pasukan Nusantara. Pertempuran yang tidak imbang itu tentu saja dimenangkan Nusantara. Sejumlah pasukan AMAN justru direkrut menjadi pasukan Nusantara dan melakukan mobilisasi umum untuk menaklukan Malayupura dan Singhapura. Namun Sang Kaisar menargetkan untuk mengambil alih Singhapura terlebih dahulu, karena rupanya di Singhapura ada hasil bumi berupa batu bata yang dapat digunakan untuk membangun berbagai kota di Nusantara. Sebanyak kurang lebih 376.000 pasukan baru Nusantara menyerbu Singhapura dan mendarat di Pelabuhan Changi. Pendaratan di Changi tanpa perlawanan, sebab sejumlah awak media sudah dibungkam sehingga Raja Amrikin tidak mengetahui berita invasi Nusantara ke negaranya, Singhapura. Setelah pasukan Nusantara mengepung istana Raja Amrikin, Sang Raja baru mengetahui bahwa negaranya dalam keadaan darurat. Sang Raja ditawari damai dengan menandatangani penyerahan kedaulatan kepada Nusantara. Dalam keadaan terdesak tanpa pilihan dan demi terciptanya stabilitas nasional, Raja Amrikin menandatangani nota penyerahan kedaulatan itu sambil menyesal karena telah beraliansi dengan Malayupura.

Sebagai bentuk balas dendam kepada Malayupura, Raja Amrikin yang baru saja dilantik menjadi Bupati Singhapura segera membentuk pasukan untuk menyerbu Kuala Lumpur. Raja Hang Tuah mengetahui pembelotan Amrikin dan berbalik menantang Nusantara untuk mengganyang Malayupura. Pasukan Nusantara mulai menyerbu Malayupura. Di barat, sejumlah pasukan Nusantara menyerbu dari Singhapura mencaplok Johor. Sementara di timur, sejumlah pasukan Nusantara menyerbu dari Riau mencaplok Perlak dan Perlis. Di masa genting, Kuala Lumpur dikepung dari segala penjuru. Namun Raja Hang Tuah memang seorang raja yang lalim dan penuh nafsu duniawi, enggan menandatangani nota penyerahan kekuasaan. Tanpa tedeng aling-aling tetek-bengek, pasukan Nusantara segera meringkus Raja Hang Tuah. Sang Raja diasingkan ke Ambon. Dengan ini, berakhirlah Ekspedisi Melayu Kaisar Suryawarman karena Sang Kaisar tiba-tiba meninggal akibat tersedak buah durian ketika sedang melakukan kunjungan ke Bandung. Kaisar Suryawarman digantikan putranya, Suryajaya. Pangeran Suryajaya dilantik di Jayakarta sebagai suksesor Kekaisaran Nusantara. Agenda berikutnya Kaisar Suryajaya adalah menguasai seluruh wilayah Asia Tenggara.

Penaklukan Kerajaan Singhapura Sunting

Sudah diceritakan di atas.

Ekspedisi Asia Tenggara Sunting

Baru hari pertama dilantik sebagai kaisar, Kaisar Suryajaya segera membentuk Uni-Asia Nusantara (UAN) yang dikepalai Jenderal Benny Wenda asal Papua. UAN dibentuk di Jayakarta di bawah komando langsung Jenderal Benny Wenda dengan misi jangka panjang mengambil alih Asia ke dalam teritori Kekaisaran Nusantara. Sedangkan misi jangka pendeknya adalah menaklukan negara-negara di Asia Tenggara, di antaranya Kerajaan Muangthai (Bangsa Thai, Kerajaan Chenla (Bangsa Khmer), Kerajaan Champa (Bangsa Viet), Kerajaan Filipina (Bangsa Tagalog), dan Kekaisaran Wu (Bangsa Cina Selatan). Untuk memuluskan misi UAN, Jenderal Benny Wenda membentuk pos-pos yang nantinya menjadi checkpoint agresi militer di Asia Tenggara. Pos-pos itu dibangun di kota Patthaya, kota Kuching, kota Manado, dan Pulau Sulu. Pada pertengahan tahun 598, UAN berhasil merekrut pasukan-pasukan khusus, di antaranya dari Bangsa Jawa, Bangsa Sunda, Bangsa Batak, Bangsa Bugis, Bangsa Sasak, Bangsa Melayu, dan sebagian pribumi Bangsa Thai di Patthaya.

Penaklukan Kerajaan Muangthai (Thailand) Sunting

Nusantara12

Teritorial Kekaisaran Nusantara tahun 672

Bangsa Thai adalah sebuah bangsa yang mendiami wilayah utara Semenanjung Malaya. Di masa Kaisar Suryajaya berkuasa, Kerajaan Muangthai dipimpin oleh Ratu Threechada Pthcharrath Amingporn (Raja Aming) selama lebih dari 70 tahun lamanya. Sebagian penduduk pribumi Thai menghendaki revolusi menggulingkan rezim Ratu Aming. Gerakan Anti-Aming disuarakan oleh Thchrrepaht Pimhwatta (Pihm). Pada mulanya, Pihm dan massa Anti-Aming melakukan aksi damai di depan istana Raja Aming di Bangkok, ibukota Muangthai. Namun pasukan Muangthai membubarkan massa dengan gas air mata sehingga massa kocar-kacir. Dalam keadaan genting, massa Anti-Aming segera menduduki sarana-sarana vital seperti kuil, pelabuhan, rumah tabib, sekolah, dan taman kota. Pihm mengajak sejumlah warga yang menganggur untuk ikut berdemo menggulingkan rezim Raja Aming. Gerakan Anti-Aming semakin bertambah masif ketika Bangsa Melayu yang bermukim di Muangthai ikut bergabung. Raja Aming semakin bingung dalam menghadapi situasi darurat ini.

Mendengar kabar huru-hara itu, Kaisar Suryajaya mengutus Nazim dari Perlis untuk membawa 30.000 pasukan Nusantara ke Muangthai. Para pasukan Nusantara disambut secara damai oleh Massa Anti-Aming yang dipimpin oleh Pihm. Pihm memberi Nazim sebuah peta istana Raja Aming yang rupanya Sang Raja memiliki sebuah bunker yang pintu masuknya dari kuil. Pihm dan Nazim memakai strategi gerilya yang merupakan strategi yang pertama kali digunakan Kekaisaran Nusantara. Pada tahun 672, Aliansi Anti-Aming dan pasukan Nusantara mulai menyerang bunker istana Raja Aming. Sementara beberapa pasukan Nusantara yang tidak ikut bergerilya bertugas mengecoh pasukan Muangthai. Sebagian besar berkonsentrasi di kota Bangpla Soi.

Pasukan Nusantara menyusup bunker istana Raja Aming. Semua berjalan lancar hingga akhirnya mereka menemui jalan bercabang 8. Dalam keadaan bingung itu, Kaisar Suryajaya menunjukkan cabang yang menuju istana via menyan. Cabang yang bercahaya itulah jalan menuju istana. Hanya Pihm dan Nazim yang dapat melihat cahaya tsb. Mereka pun menuntun pasukannya pelan-pelan hingga sampai ke istana. Beruntungnya, sesampainya mereka di istana, rupanya bunker itu menembus ke kamar Sang Raja. Tetapi kamar tsb kosong, sebab Raja Aming sedang berada di kamar mandi. Pasukan Nusantara segera menyisir seisi istana dan menghabisi pasukan Muangthai yang berjaga-jaga tanpa sepengetahuan Raja Aming. Semuanya dihabisi tanpa ampun. Seusai Raja Aming buang hajat, tentu saja Raja Aming terkejut mendapati istananya sudah dipenuhi pasukan Nusantara. Pihm memaksa Sang Raja menandatangani nota penyerahan kedaulatan ke tangan Kekaisaran Nusantara namun ditolak oleh Sang Raja. Pihm pun langsung memenggal kepala Sang Raja dan menandatangani sendiri nota tsb. Kemudian Pihm mengeluarkan pengumuman lewat pengeras suara di Bangkok bahwa Muangthai telah resmi bergabung dengan Kekaisaran Nusantara. Jasa Pihm diganjar hadiah berupa berlian 1 sak dan tentu saja Pihm diangkat menjadi Bupati Bangkok. Target Kaisar Suryajaya berikutnya adalah Kerajaan Chenla.

Penaklukan Kerajaan Chenla (Kamboja) Sunting

Nusantara13

Teritorial Kekaisaran Nusantara tahun 678

Salah seorang mata-mata Bangsa Khmer bernama Long Soi yang sedang menginap di Bangkok pada saat penyerahan kedaulatan Muangthai ke dalam teritori Kekaisaran Nusantara menghadap Raja Pol Pot, raja yang berkuasa di Kerajaan Chenla (sekarang Kamboja). Long Soi menyarankan agar Sang Raja berhati-hati dengan eksistensi Kekaisaran Nusantara, sebuah kekuatan baru dari pulau-pulau selatan. Sang Raja hanya menanggapi dengan dingin. Raja Pol Pot memang congkak, baginya tidak ada satupun daya dan upaya yang dapat mengalahkannya kecuali atas izin Dewa Kal El, dewa sesembahan Bangsa Khmer.

Namun sikap Raja Pol Pot yang tadinya dingin berubah ketakutan lantaran dia mendapat sepucuk surat dari Kaisar Suryajaya di Jayakarta yang berisi ancaman invasi jika Sang Raja menolak 3 syarat damai di bawah ini:

  • Menandatangani nota penyerahan kedaulatan Chenla ke Nusantara.
  • Menandatangani nota penyerahan kedaulatan Chenla ke Nusantara.
  • Menandatangani nota penyerahan kedaulatan Chenla ke Nusantara.

Raja Pol Pot bukan raja yang bodoh seperti kamu, dia mengetahui bahwa ketiga syarat itu sama saja, yaitu pemaksaan untuk bergabung ke dalam teritori kekuasaan Nusantara. Raja Pol Pot memang raja yang lalim, dia bukannya membentuk pasukan elit sesegera mungkin malah mengeluarkan kebijakan nyeleneh, yaitu mewajibkan rakyat untuk membunuh bayi-bayi yang baru lahir. Kebijakan ini tentu saja membuat warga di Kampuchein melakukan demo besar-besaran menolak kebijakan gila tsb. Raja Pol Pot semakin beringas, dia menangkap seluruh rakyatnya dan menyanderanya di sebuah desa yang bernama Tuolseng. Selama menyandera rakyatnya sendiri, Sang Raja juga melakukan tindakan-tindakan di luar batas perikemanusiaan dan perikeadilan. Beberapa rakyat sipil disiksa dengan cara-cara yang biadab. Mendengar berita ini, tentu saja Kaisar Suryajaya marah. Sang Kaisar membentuk pasukan khusus dari Bali yang dipimpin oleh I Putu Datsaka. Pasukan I Putu Datsaka tiba di Chenla pada awal bulan Desember 599.

Pada saat pasukan Nusantara tiba di Kampuchein, ternyata istana Raja Pol Pot telah kosong. Sang Raja telah mengungsi ke Tuolseng. I Putu Datsaka memerintahkan untuk mengepung Tuolseng dan sekaligus meringkus Raja Pol Pot yang sedang asyik menyiksa seorang warga sipil. Raja Pol Pot diringkus dan dibawa ke Mahkamah Luar Biasa (Mahmilub) di Kampuchein. Hakim Bang Sat memvonis hukuman mati bagi Raja Pol Pot dengan cara disumpal mulutnya dengan buah mengkudu sampai mati. Setelah mati, jasad Raja Pol Pot dibawa ke Jayakarta dan dimakamkan di Taman Makam Narapidana Kalibata. Atas perintah Kaisar Suryajaya, I Putu Datsaka melantik Bang Sat menjadi Bupati Kampuchein. Peristiwa ini menandai teritori Kekaisaran Nusantara mencapai 80% di Asia Tenggara.

Pemberontakan Bangsa Khmer di Kamboja dan Laos Sunting

Di hari pertama menjabat sebagai Bupati Kampuchein, Bang Sat menerima kabar bahwa sejumlah warga pribumi Khmer membelot. Mereka membentuk kesatuan yang disebut Brachheang​ nung​ Khmerong kar Nusanchharang (ការ​ប្រឆាំង​នឹង​ការ​រួបរួម; Kesatuan Khmer Anti Nusantara) yang disingkat BKN. BKN dipimpin oleh Phreng Lot, mantan Bupati Vientiane di Tanah Laos. BKN bekerjasama dengan Kerajaan Champa (sekarang Vietnam). Raja Ho Chi Minh mengirim pasukan ke Laos untuk membantu BKN menyerbu Kamboja. Para pasukan Champa juga menyiapkan sejumlah batalion tempur yang amat besar. Namun sebagaimana kaisar-kaisar pendahulunya, Kaisar Suryajaya tidak gentar. Sang Kaisar bahkan mengirim pasukan tempur tandingan dari Bangsa Melayu dan Bangsa Thai ke Champa. Pasukan baru ini dirembuk Sang Kaisar ke dalam misi "Komando Kampuchea Operasional" (KKO). Pasukan KKO mengupayakan agar Bangsa Khmer dan Bangsa Viet (bangsa yang menguasai Kerajaan Champa) tunduk di bawah kedaulatan Nusantara.

Pertempuran demi pertempuran terjadi sepanjang bulan Agustus 599. Pertempuran itu diakhiri dengan damai karena Raja Ho Chi Minh menyerah tanpa syarat dan menyerahkan kedaulatan Champa ke dalam teritori Kekaisaran Nusantara. Dengan ini, maka satu-satunya negara yang tersisa di Asia Tenggara adalah Kerajaan Filipina.

Penaklukan Kerajaan Champa (Vietnam) Sunting

Sudah diceritakan di atas.

Penaklukan Kerajaan Filipina Sunting

Nusantara14

Teritorial Kekaisaran Nusantara tahun 600

Jatuhnya Kerajaan Champa ke dalam teritori Kekaisaran Nusantara membuat bulu kuduk Raja Magantang II, raja yang berkuasa di Kerajaaan Filipina saat itu. Raja Magantang II menyadari bahwa negaranya cepat atau lambat akan jatuh ke tangan Kaisar Suryajaya. Oleh sebab itu, Raja Magantang II memilih untuk mempertahankan negaranya dengan cara ofensif. Sejumlah kapal dagang Nusantara yang melintas, baik dari Papua, Maluku, Sulawesi, Sulu, Champa, dan Kamboja, dilucuti oleh kepolisian laut Filipina. Bahkan pasukan Filipina membuat pangkalan militer di Sulu pada pertengahan tahun 600.

Pada bulan November 600, Raja Magantang II mengadakan sidang paripurna di kota Bulaga, ibukota Filipina. Dalam rapat tsb, Sang Raja menunjuk sejumlah orang-orang penting istana, di antaranya Maguindanao sebagai menteri pertahanan, Kampampangsan sebagai pendeta utama, Magiliw sebagai jenderal, dan salah seorang warga keturunan Spanyol, Sergio Ramós sebagai penasihat angkatan laut. Dalam rapat itu juga diputuskan akan mengirim 100.000 kapal tempur ke Nusantara, 30.000 kapal bantuan dari Kerajaan Spanyol Raya, dan 5000 kapal dagang sitaan milik Nusantara ke Gorontalo. Invasi ini akan dilaksanakan selambat-lambatnya bulan Februari 601, Raja Magantang II menamai invasi ini sebagai "Banal na Pagsalakay Nusangtara" (పవిత్ర దండయాత్ర ఇండోనేషియా Invasi Suci Nusantara). Invasi ini merupakan invasi terbesar sepanjang sejarah penaklukan Asia Tenggara oleh Kekaisaran Nusantara. Dan bahkan berkat kesaktian Pendeta Magiliw, menyan Kaisar Suryajaya tidak dapat menembus teritori Kerajaan Filipina. Kerajaan Filipina merupakan satu-satunya negara di Asia Tenggara yang dapat menghalau kekuatan dupping (menyan) Sang Kaisar.

Sebagai akibatnya, sejumlah pasukan Filipina mendarat tanpa perlawanan apapun di Kuching, Brunei, dan Manado. Dalam kurun waktu kurang dari 120 jam, ketiga kota pelabuhan strategis Nusantara itu jatuh ke tangan Filipina. Berita kejatuhan Kuching, Brunei, dan Manado telah sampai ke Kaisar Suryajaya yang saat itu sedang berada di Ambon dalam rangka meresmikan Pekan Olahraga Nusantara yang diselenggarakan di Ambon tahun 601. Dalam situasi serba darurat dan demi keselamatan Kaisar Suryajaya, Sang Kaisar segera berangkat ke Pulau Buru menaiki kapal express langsung ke Pulau Jawa. Sementara itu, Jenderal Benny Wenda segera melakukan komando khusus untuk UAN berangkat ke Mangkasarak dan ke Pontianak, sisanya ke Selat Karimata dan Selat Sunda untuk mengamankan teritori dari perkiraan serangan Filipina ke tepi barat Nusantara.

Setibanya pasukan UAN di Mangkasarak dan Pontianak, bekerjasama dengan pos-pos UAN di sana, mereka segera menyisir pasukan Filipina di Pulau Kalimantan dan Sulawesi. Sejumlah pasukan berpangkat kopral berhasil ditangkap dan dilucuti. Di Tarakan, UAN berhasil menangkap Jenderal Magiliw yang sedang enak-enakan bersantap kopi renceh. Jenderal Magiliw dibawa ke Pelabuhan Ratu untuk diserahkan kepada Ratu Kidul.

Mendengar berita penangkapan Jenderal Magiliw, Sergio Ramós segera mengirim surat kepada Raja Philipp III, raja yang berkuasa di Kerajaan Spanyol Raya saat itu, untuk mengirim armada tambahan ke Nusantara. Sayangnya pasukan Nusantara berhasil menyita surat Ramós tsb di tengah perjalanan dan surat itu dibawa ke Jayakarta. Karena tidak ada satupun orang yang bisa berbahasa Spanyol di Jayakarta, maka Sang Kaisar memerintahkan agar surat itu dibawa ke salah seorang ahli penerjemah di Bandung yang merupakan seorang pelaut Italia yang bernama Gianluigi Ferrari. Sang Kaisar meminta Ferrari untuk menulis surat balasan dalam Bahasa Spanyol dengan stempel palsu Kerajaan Spanyol yang isinya memerintahkan Sergio Ramós dan punggawa istana Raja Magantang II untuk mengungsi ke Taiwan, sementara pasukan Spanyol akan mendarat di Filipina seminggu kemudian. Ketika surat tsb tiba di Bulaga, Raja Magantang II dan pasukannya segera berangkat ke Taiwan meninggalkan Pulau Luzon. Akibatnya, pasukan Nusantara mendarat dengan mudah di Pulau Luzon tanpa perlawanan apapun. Kaisar Suryajaya menunjuk Gianluigi Ferrari sebagai Bupati Filipina dan mengganti nama Ferrari menjadi Aguinaldo. Bupati Aguinaldo segera membentuk organisasi kepemerintahan Nusantara di Filipina. Peristiwa ini menandai berakhirnya ekspedisi Asia Tenggara oleh Kaisar Suryajaya dan Nusantara siap untuk go international menaklukan Asia.

Ekspedisi Asia Sunting

Pada tahun 612, Kaisar Suryajaya menerima sepucuk surat dari Kaisar Lau, kaisar yang memerintah Kekaisaran Wu di dataran Cina Selatan. Surat itu berisi undangan hajatan royal wedding antara putrinya, Putri Lung dengan Jenderal Lim Po Sin. Sang Kaisar berhalangan hadir karena harus meresmikan berdirinya pesantren silat pertama di Nusantara di Padang. Sang Kaisar mengutus antara 2 orang putranya, Pangeran Suryabhumi dan Pangeran Suryanegara untuk menghadiri pernikahan agung itu. Pangeran Suryabhumi menyanggupinya dan segera berangkat ke Wu pada akhir bulan Juli 612. Rombongan Suryabhumi tiba di Burma dengan iring-iringan 15.000 kapal. Di Burma, rombongan Nusantara dijemput oleh pasukan Wu dengan senjata laras panjang. Rombongan Nusantara hendak dibawa ke Hong Kong, ibukota Wu. Namun setibanya di kota Kan Ton, rombongan Nusantara dibantai habis di sana. Kepala Pangeran Suryabhumi dipenggal dan dikirim ke Jayakarta. Kaisar Suryajaya marah ketika mengetahui putranya wafat mengenaskan. Sang Kaisar memerintahkan untuk memobilisasi umum merebut Wu kepada Pangeran Suryanegara dan Jenderal Benny Wenda.

Penaklukan Kekaisaran Wu (Cina Selatan) Sunting

Nusantara15

Teritorial Kekaisaran Nusantara tahun 615

Pangeran Suryanegara berangkat ke Hanoi tepat akhir tahun 613 M dan merayakan tahun baru di sana. Pada Januari 613, Sang Pangeran berhasil merekrut pasukan dari Phnom Penh sebanyak 67.000 pasukan dari Bangsa Khmer dan 32.000 pasukan dari Bangsa Viet. Jenderal Benny Wenda pergi ke Bulaga dan juga berhasil merekrut 80.000 pasukan dari Bangsa Tagalog dari Pulau Luzon dan Pulau Mindanao. Total ada 645.500 pasukan Nusantara yang terdiri dari Bangsa Sunda, Bangsa Batak, Bangsa Sasak, Bangsa Melayu, Bangsa Bugis, Bangsa Papua, Bangsa Tagalog, Bangsa Viet, dan Bangsa Khmer. Pasukan ini dibagi dua dan akan menyerang dari penjuru Selatan (Pasukan Darat) dan penjuru Timur (Pasukan Laut). Pasukan Laut direncanakan akan mendarat langsung di kota Hong Kong, ibukota Kekaisaran Wu. Sedangkan Pasukan Darat menyerbu kota Kan Ton, kota Xian Jing, dan kota Shang Hai sebelum menuju Hong Kong.

Kaisar Lau mengetahui rencana invasi Nusantara itu dan segera meminta bantuan diplomatik dari negara tetangganya, Kekaisaran Ming (Manchuria). Kaisar Xu menyanggupinya dengan mengirim 10.000 meriam yang memiliki daya ledak hingga radius 987 km/s. Kaisar Lau menghubungi Jenderal Lim Po Sin untuk menjemput meriam Kekaisaran Ming di Sungai Guangzhou yang merupakan batas teritori antara Kekaisaran Ming dengan Kekaisaran Wu. Meriam tsb segera dibawa ke Hong Kong untuk menahan laju Pasukan Laut Nusantara. Sisanya pasukan diminta berfokus menahan serangan Pasukan Darat Nusantara.

Kaisar Suryajaya menambah armada darat dengan meriam juga. Pangeran Suryanegara menerima meriam tsb sesaat setelah kota Kan Ton berhasil diduduki. Pasukan Nusantara segera membagi dua pasukannya ke utara menuju kota Xian Jing dan ke selatan menuju kota Shang Hai. Strategi Pangeran Suryanegara ini dinilai apik karena memang kota Xian Jing adalah kota kunci yang memiliki persediaan sembako yang dipasok ke Hong Kong. Jalur distribusi sembako ke Hong Kong menjadi terhambat akibat jatuhnya kota Xian Jing ke tangan pasukan Nusantara. Sementara itu pertempuran demi pertempuran terjadi di kota Shang Hai dan dimenangkan pasukan Nusantara. Pangeran Suryanegara segera menyerbu Hong Kong dan bersumpah akan membalas dendam kematian saudaranya, Pangeran Suryabhumi. Kaisar Lau dan pasukannya segera melarikan diri ke Sungai Guangzhou dan diselamatkan oleh pasukan Ming, sesaat sebelum pasukan Nusantara tiba di Hong Kong. Pangeran Suryanegara memerintahkan pengejaran terhadap rombongan Kaisar Lau, tetapi mereka kehilangan jejak. Setibanya Pasukan Darat di Hong Kong, tidak ada satupun pasukan Wu yang tersisa. Pangeran Suryanegara memerintahkan pembersihan pelabuhan dari meriam-meriam bantuan dari Ming agar Pasukan Laut bisa mendarat di Hong Kong. Sesaat setelahnya, Pangeran Suryanegara menandatangani sendiri nota penyerahan kekuasaan dari Wu ke Nusantara. Peristiwa ini menandai berakhirnya kekuasaan Kekaisaran Wu selama lebih dari 500 tahun di dataran Cina Selatan. Pangeran Suryanegara mengangkat pendeta Tong Sam Chong menjadi Bupati Hong Kong. Kaisar Suryajaya berkunjung ke Hong Kong untuk meresmikan pasar impres internasional di Hong Kong dan menginap di sana selama 15 tahun. Pada tahun 671, Kaisar Suryajaya wafat dan jenazahnya dibawa pulang ke Jayakarta. Pangeran Suryanegara yang bertindak sebagai inspektur upacara pemakaman Kaisar diangkat menjadi Kaisar Nusantara selanjutnya. Misi Kaisar Suryanegara adalah membunuh Kaisar Lau yang sudah kabur ke Kekaisaran Ming sebagai bentuk balas dendam terhadap kematian Pangeran Suryabhumi.

Penaklukan Kekaisaran Ming (Cina Utara) Sunting

Nusantara16

Teritorial Kekaisaran Nusantara tahun 622

Kaisar Lau berhasil kabur dan diselamatkan Kekaisaran Ming di dataran Cina Utara. Kaisar Xu menyambut Kaisar Lau di kota Bei Jing, ibukota Ming. Kaisar Xu mengumumkan maklumat penyatuan dua kekaisaran Bangsa Cina ini menjadi satu negara yang disebut Kekaisaran Tiongkok Raya (Manchuria). Misi utama Kaisar Xu adalah merebut kembali bekas wilayah Kekaisaran Wu yang telah menjadi teritori Kekaisaran Nusantara. Kaisar Xu memerintahkan pasukannya bersiap melakukan penyerbuan ke Hong Kong. Pasukan Manchuria sudah membawa rombongan pasukan berkuda, pasukan kereta, pasukan pemanah, dan pasukan dayang-dayang sebanyak 600.000. Pawai besar deklarasi perang melawan Nusantara telah dihimpun dari segala penjuru Manchuria dan segera bergerak ke selatan. Kaisar Suryanegara segera memerintahkan Jenderal Aguinaldo yang berasal dari Filipina untuk menyusun strategi menghadang pasukan Manchuria. Sungai Guangzhou telah dijaga oleh 300.000 pasukan Nusantara, sisanya 500.000 pasukan sedang dalam perjalanan. Dalam hal ini, tugas 300.000 pasukan Nusantara adalah menahan laju pasukan Manchuria di Sungai Guangzhou. Kaisar Suryanegara memanggil sejumlah pejabat tinggi di Kabupaten Hong Kong dan Shang Hai untuk mengadakan Sidang Luar Biasa yang diselenggarakan di Hanoi. Kaisar Suryanegara memberi komando khusus kepada Gubernur Tao Ming Tse agar membekukan segala aset peninggalan Kekaisaran Wu di Cina Selatan. Sementara itu, Bupati Tong Sam Chong diberi mandat khusus untuk melakukan audit terhadap seluruh kekayaan Kaisar Lau yang ada di Hong Kong. Kemudian Pasukan Manchuria berhasil menggempur pertahanan Pasukan Nusantara di Sungai Guangzhou, namun naasnya, Jenderal Aguinaldo telah tiba dengan 800.000 pasukan Nusantaranya. Tentu saja pertempuran besar dimenangkan oleh Kekaisaran Nusantara.

Sementara itu di Bei Jing, Kaisar Xu mendapat kabar bahwa Kaisar Ji Sung-Park dari Kekaisaran Joseon di daratan Korea menyatakan perang terhadap Kekaisaran Yuan (sekarang Mongol). Perang antara Joseon dengan Yuan akan berdampak buruk bagi stabilitas kedaulatan Manchuria. Sebab, Kaisar Ji Sung-Park memang berniat menguasai Cina. Tentu saja akan berakibat fatal jika Manchuria diserang dari dua arah; Joseon di utara dan Nusantara di selatan. Untungnya, Kekaisaran Yuan di utara masih cukup kuat sehingga kemungkinan dicaploknya Yuan oleh Joseon hanya 40% saja. Tapi Kaisar Xu menyadari bahwa negaranya akan dicaplok Nusantara dengan kemungkinan 90% karena pasukan Nusantara ada 800.000 jauh lebih banyak daripada pasukannya yang ada 500.000. Selain itu, pasukan Nusantara sendiri sudah memasuki Provinsi Han dan menguasai kota Ma Ling. Keadaan yang genting ini memaksa Kaisar Xu untuk kabur ke Tibet yang merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Gupta (sekarang India). Raja Chola mengutus putranya, Pangeran Arjuna untuk menutup gerbang perbatasan Manchuria-Gupta di Tibet. Pada akhirnya, Kaisar Xu dan Kaisar Lau bersama-sama dengan 300.000 pasukannya yang tersisa terjebak di Bei Jing. Pasukan Nusantara sudah mengepung Bei Jing selama 2 minggu. Dalam pengepungan itu, Kaisar Xu dan Kaisar Lau ditangkap dan dibawa ke Jayakarta sesuai permintaan Kaisar Suryanegara agar mereka dibawa hidup-hidup. Namun sayangnya di tengah perjalanan ke Jayakarta, Kaisar Lau lompat ke Laut Andaman dan tewas akibat dimakan ikan hiu biru. Kematian Kaisar Lau yang mengenaskan disesalkan Kaisar Suryanegara yang berharap dia dibawa hidup-hidup dan dihukum mati oleh tangannya sendiri sebagai balas dendam kematian saudaranya dulu, Pangeran Suryabhumi.

Setelah berhasil merevitalisasi Pemerintahan di Bei Jing, Kaisar Suryanegara mengangkat Son Go Han sebagai Bupati Bei Jing dan sekaligus menandakan keberhasilan Kekaisaran Nusantara menaklukan seluruh daratan Cina. Kini ancaman bagi eksistensi kedaulatan Kekaisaran Nusantara di daratan Cina berikutnya adalah rencana penyerangan Kerajaan Gupta di India dan upaya penyerbuan Kekaisaran Yuan di Mongol yang sedang berperang dengan Kekaisaran Joseon (Korea).

Invasi Kerajaan Gupta (India) Sunting

Raja Chola, raja yang memimpin Kerajaan Gupta di India dan Tibet mengutus putranya, Pangeran Arjuna untuk menyerbu Nusantara di dataran Cina pada tahun 697. Situasi di Kekaisaran Nusantara sendiri sedang genting, sebab Kaisar Suryanegara jatuh sakit. Para tabib dari Cina memvonis Kaisar Suryanegara menderita wasir stadium 4 dan tidak bisa diselamatkan, usia Sang Kaisar hanya beberapa tahun saja. Sementara itu, Kaisar Suryanegara belum dikaruniai seorang putra satupun dari 30 selirnya. Oleh sebab itu, Kaisar Suryanegara menyerahkan mandat Kekaisaran sementara kepada Pejabat Kaisar. Sang Kaisar menunjuk sepupunya dari Palembang yang menjadi Bupati Palembang, yaitu Firman Utina sebagai Pejabat Kaisar. Sementara Pejabat Kaisar Firman Utina menjalankan roda pemerintahan, Kaisar Suryanegara dipaksa penasehatnya, Patih Teja Atmajaya untuk terus menyetubuhi para selir agar segera memiliki momongan, calon Kaisar selanjutnya.

Misi kenegaraan Pejabat Kaisar Firman Utina adalah mempertahankan wilayah Cina dari serbuan Kerajaan Gupta. Akan tetapi, Pangeran Arjuna mengetahui situasi darurat itu dan menyegerakan penyerbuan ke daratan Cina. Pangeran Arjuna membagi 2 kelompok pasukannya; kelompok pertama yang disebut Batalion Pandevha (Pandawa) dipimpin oleh Jenderal Yudhistira, sedangkan kelompok kedua yang disebut Batalion Kurevha (Kurawa) dipimpin oleh Jenderal Destarathra. Batalion Pandawa diperintahkan menyerang kota Bei Jing sementara Batalion Kurawa diperintahkan menyerang kota Naypyidaw di Burma. Pasukan Nusantara sudah berjaga-jaga di sekitar perbatasan. Sementara itu, Pejabat Kaisar Firman Utina memerintahkan untuk menyerbu Kerajaan Gupta lewat laut menuju kota Gujarat. Raja Chola tidak mengetahui rencana penyerangan itu. Sang Raja menambah pasukan tambahan di kota Delhi sebagai backup Pangeran Arjuna.

Serangan demi serangan dilancarkan. Pasukan Nusantara berhasil memukul mundur Pasukan Gupta ke Nepal; Batalion Kurawa dibantai habis di Tibet. Sementara itu, pasukan Nusantara sudah mendarat di Gujarat. Serangan Nusantara ke kota Punjab gagal akibat kehabisan peluru untuk meriam. Pertempuran di Tibet juga tidak begitu berhasil sehingga mencapai jalan buntu. Untuk mengakhiri perang, Kerajaan Gupta dan Kekaisaran Nusantara menandatangani nota perdamaian diplomatik yang intinya tidak saling menyerang dan membuka hubungan diplomatik antar kedua negara.

Pada tahun 701, Kaisar Suryanegara meninggal akibat kehabisan sperma karena dipaksa untuk membuahi selir-selirnya. Patih Teja Atmajaya diadili dengan dakwaan malpraktik yang menyebabkan hilangnya nyawa Sang Kaisar. Sementara itu, Pejabat Kaisar Firman Utina menemukan secarik kertas di laci meja pribadi Kaisar Suryanegara yang isinya menyerahkan mandat Kekaisaran Nusantara kepada Pejabat Kaisar. Otomatis Pejabat Kaisar Firman Utina dilantik menjadi Kaisar yang baru. Sang Kaisar yang baru juga mendirikan dinasti baru, yaitu Dinasti Utinaraja. Kaisar Firman Utina menetapkan gelar kekaisaran untuk dirinya dan putra-putra mahkota Dinasti Utinaraja dengan gelar Kaisar Utina. Kaisar Firman Utina diberi gelar Kaisar Utina I. Pawai ondel-ondel perayaan pengesahan Kaisar Utina I diadakan di berbagai kota selama 40 hari dan 40 malam. Agenda berikutnya Kaisar Utina I adalah menaklukan Kekaisaran Yuan di Mongol.

Penaklukan Kekaisaran Yuan (Mongol) Sunting

Perang antara Kekaisaran Joseon (sekarang Korea dengan Kekaisaran Yuan (sekarang Mongol berlangsung alot selama lebih dari 5 tahun. Perang yang dikenal sebagai Perang Sino-Mongolia ini dimanfaatkan Kaisar Utina I untuk menaklukan kedua negara. Kaisar Utina I membentuk pasukan khusus untuk menyerang kota Mangul, ibukota Yuan. Sementara itu, Kaisar Kubilai Khan yang berkuasa di Kekaisaran Yuan meminta bantuan kepada Kekaisaran Tsar (Rusia) berupa meriam helium sebanyak 40.000 buah. Kaisar Dmitri III mengirim meriam lewat Gunung Baekdu. Mendengar berita adanya intervensi Tsar, Kaisar Utina I juga meminta bantuan kepada Kerajaan Gupta (India) berupa meriam uranium sebanyak 70.000 buah. Kaisar Utina I juga mengangkat Bona Demika, Bupati Ambon, sebagai Jenderal Kekaisaran Nusantara. Serah-terima meriam uranium diselenggarakan di kota Uzbek. Di satu sisi, Kaisar Park Ji-Sung meminta bantuan kepada Kekaisaran Nippon berupa meriam atom sebanyak 45.000. Jadi, Perang Sino-Mongolia melibatkan 3 kubu:

  • Kubu Yuan-Tsar (Mongol-Rusia).
  • Kubu Joseon-Nippon (Korea-Jepang).
  • Kubu Nusantara-Gupta (Nusantara-India).

Perang ini lagi-lagi dimenangkan Nusantara, karena memang judulnya adalah Penaklukan Kekaisaran Yuan, jadi Nusantara benar-benar berhasil menaklukan Kekaisaran Yuan. Kaisar Utina I juga berniat menaklukan Kekaisaran Tsar dan Kekaisaran Joseon, namun Kaisar Utina I lebih mengutamakan perdamaian sehingga Sang Kaisar menawarkan kedua negara menjadi negara protektorat Nusantara dengan membayar 80 ton emas setiap tahunnya sebagai pajak upeti protektorat kepada Nusantara. Kaisar Dmitri III menyanggupinya, tapi Kaisar Park Ji-Sung menolaknya, sehingga Kaisar Utina I menargetkan penaklukan Kekaisaran Joseon di Semenanjung Korea.

Penaklukan Kekaisaran Joseon (Korea) Sunting

Nusantara17

Teritorial Kekaisaran Nusantara tahun 777

Pada tahun 777, Kekaisaran Joseon di Semenanjung Korea mengancam akan menembakkan meriam nuklir ke Kekaisaran Nusantara. Untuk membuktikan keseriusan Kaisar Park Ji-Sung, meriam di kota Pyongyang dan Seoul (ibukota Joseon) sudah diarahkan ke kota Jayakarta (ibukota Nusantara) dengan teknologi satelit yang disebut Satelit Goseong-Panmunjom-Seongnam (GPS). Namun teknologi GPS tidak sehebat teknologi dupping (menyan). Kaisar Utina II memerintahkan seorang kuncen super sakti dari Gunung Semeru, yaitu Sujiwo Tejo untuk menyantet Satelit GPS milik Kekaisaran Joseon. Satelit GPS Joseon terkena santet, yang tadinya mengarah ke Jayakarta malah berbalik arah ke Seoul, tapi peristiwa penyantetan itu tidak diketahui Pemerintah Joseon. Di satu sisi, Kaisar Utina I juga mengutus putra mahkotanya, Pangeran Gesang Rajawali (Utina II) untuk membentuk pasukan-pasukan elit di kota Bei Jing. Saat itu, Pangeran Utina II sedang berkunjung ke Hong Kong dalam rangka peresmian pabrik kertas.

Sebenarnya, Kaisar Park Ji-Sung tidak mau menembak Nusantara. Tapi, Jenderal Ahn Jung-Hwa tidak sengaja menembakkan meriam tsb. Karena Satelit GPS sudah disantet Kuncen Sujiwo Tejo, maka rudal meriam Joseon menjadi senjata makan tuan. Istana Kaisar Park Ji-Sung hancur lebur, bahkan Sang Kaisar sendiri tewas seketika setelah tubuhnya tertimpa asbes di Lantai 3 Istananya sendiri. Mendengar berita kerusakan itu, Pangeran Utina II segera mengirim pasukan Nusantara ke Seoul. Namun Pasukan Nusantara dihadang Pasukan Joseon di kota Pyongyang, sebab kota Seoul sedang dalam tahap renovasi pemulihan infrastruktur. Karena keadaan saat itu adalah kekosongan pemerintahan, maka pasukan Joseon bergerak tanpa komando sehingga dapat dengan mudah diobrak-abrik pertahanannya oleh pasukan Nusantara. Setibanya pasukan Nusantara di Seoul, Pangeran Utina II menghentikan proses renovasi istana dan menggantinya menjadi kantor Kabupaten. Jung Tae-Se diangkat menjadi Bupati Seoul. Peristiwa ini menandakan jatuhnya Kekaisaran Joseon dan daratan Korea menjadi teritori Kekaisaran Nusantara.

Penaklukan Kekaisaran Nippon (Shogun Tokugawa Jepang) Sunting

Pada tahun 788, Kaisar Utina I wafat akibat serangan jantung koroner saat sedang berkunjung ke kota Pyongyang untuk meresmikan reaktor nuklir pertama Nusantara di sana. Sang Kaisar dikebumikan di Seoul karena teknologi di masa lampau belum ada pesawat, sehingga akan memakan waktu banyak jika harus dibawa pulang ke kota Jayakarta. Pangeran Utina II dilantik menjadi Kaisar yang baru. Agenda Kaisar Utina II adalah menaklukan Timur Tengah. Namun Kaisar Hideyoshi, kaisar yang memimpin Kekaisaran Nippon (sekarang Jepang) dari Dinasti Tokugawa (Klan Edo) saat itu mengancam Kaisar Utina II. Jika Kekaisaran Nusantara melakukan invasi ke Timur Tengah untuk memperluas teritori negaranya, maka Kekaisaran Nippon tidak segan untuk menginvasi Nusantara, terutama merebut daratan Korea dan Cina. Kaisar Utina II tidak gentar, bahkan dia sudah mengutus Jenderal Mie Xu Shi, bekas Bupati Bei Jing untuk menyerbu Kesultanan Farsi atau Persia yang meliputi sebagian besar Timur Tengah, antara lain dataran Iran, dataran Iraq, dan semenanjung Afghan. Mendengar berita invasi Timur Tengah ini, Kaisar Hideyoshi membentuk "Kyōtei Nusantaro Tsubushimasu" (協定ヌサンタラをつぶします; Pakta Pengganyangan Nusantara) yang disingkat KNT. Misi KNT yang dikenal sebagai 4M ini terdiri atas:

Nusantara18

Teritorial Kekaisaran Nusantara tahun 788

  • Mencegah invasi Nusantara ke Timur Tengah.
  • Membebaskan Bangsa Korea dan Bangsa Cina, serta bangsa-bangsa lainnya dari Penjajahan Nusantara.
  • Mengganyang rezim Kaisar Utina II beserta keluarganya.
  • Menanamkan etika "kamikaze" terhadap rakyat jajahan Nusantara.

Pada bulan April 793, Kaisar Hideyoshi mengirim armada KNT dalam jumlah 70.000 kapal tanker. Mendengar berita itu, Kaisar Utina II hanya tertawa tergelitik. Baginya, jumlah kapal segitu hanya seuprit. Kekaisaran Nusantara adalah negara yang berpengalaman dalam hal penaklukan baik darat maupun laut dan sudah teruji selama lebih dari 600 tahun sejak berdirinya Kekaisaran Nusantara pada tahun 310 oleh Kaisar Suryawijaya. Kaisar Utina II hanya cukup berfokus menyerang kota Osaka, kota pelabuhan Kekaisaran Nippon di Pulau Honshu. Pada bulan Mei 793, 70.000 kapal tanker pasukan Nippon berhasil diduduki. Sejumlah samurai dicuci-otak untuk mematuhi Kaisar Utina II.

Setibanya di Osaka, pasukan Nusantara ditambah pasukan baru yang direkrut dari para samurai bergerak ke kota Tokyo, ibukota Nippon, untuk menangkap Kaisar Hideyoshi. Pertempuran demi pertempuran terjadi dan akhirnya Kaisar Hideyoshi beserta permaisurinya, Ratu Ozawa berhasil diringkus. Kaisar Hideyoshi divonis hukuman mati dengan cara dipancung di alun-alun Tokyo. Sementara Ratu Ozawa diperistri oleh Kaisar Utina II. Mereka dikaruniai seorang putri yang diberinama Shizukaputri. Putri Shizukaputri dibawa Kaisar Utina II ke Jayakarta untuk diajari Bahasa Nuswantara. Peristiwa jatuhnya Nippon ke dalam teritori Kekaisaran Nusantara mengakhiri Ekspedisi Asia. Target aneksasi politik selanjutnya adalah Timur Tengah.

Ekspedisi Timur Tengah Sunting

Sejak pertama kali Kekaisaran Nusantara berdiri, agama yang dianut Kaisar-kaisar Nusantara adalah ateisme, kecuali Kaisar Suryanegara yang pindah agama dari kepercayaan ateisme ke agama Sinddhu. Sementara itu, mayoritas rakyat di Timur Tengah menganut agama Jamiliyah. Agama Jamiliyah merupakan agama dari dataran Hijaz yang mendominasi dunia Timur Tengah saat itu. Bahkan hegemoni Jamiliyah semakin kuat pasca Kesultanan Palestina memenangkan Perang Salib. Akan tetapi, Kesultanan Palestina telah dianeksasi oleh Kesultanan Farsiyah (Persia) pada tahun 632. Kekuatan Timur Tengah menjadi target berikutnya kampanye penaklukan Kekaisaran Nusantara, sudah menjadi tantangan tersendiri jika harus menaklukan para barbarian di padang pasir. Misi pertama Kaisar Utina II adalah merebut Kesultanan Farsiyah.

Penaklukan Kesultanan Farsiyah (Persia dan Urdu) Sunting

Nusantara19

Teritorial Kekaisaran Nusantara tahun 811

Seperti yang sudah diceritakan sebelumnya, Kaisar Utina II berniat menduduki Kesultanan Farsiyah di dataran Farsi (Persia) dan Urdu, atau sekarang adalah wilayahnya Iraq, Iran, Afghanistan, Pakistan, dan sebagian Turkmenistan dan Uzbekistan. Kaisar Utina II mengutus Bupati Bei Jing, Mie Xu Shie untuk meng-handle masalah invasi ke Farsiyah. Kapten Mie Xu Shie membawa 300.000 pasukan Nusantara yang terdiri dari 100.000 orang dari Bangsa Cina, 100.000 orang dari Bangsa Melayu, 50.000 orang dari Bangsa Korea, dan sisanya 50.000 dari Bangsa Jepang. Pasukan Nusantara menginap di kota Uzbek. Bupati Uzbek, Usamah Al-Qa'idah menyediakan pasukan keturunan Bangsa Persia sebanyak 150.000. Total keseluruhan pasukan Nusantara yang siap menyerbu Kesultanan Farsiyah ada 450.000. Jumlah segitu dirasa amat sedikit bagi Kaisar Utina II mengingat koloni yang harus siap menduduki berbagai kota di dataran Persia adalah seharusnya sekitar 700.000 pasukan berdasarkan perkiraan demografi kependudukan yang dilakukan dengan metode dupping (menyan). Akhirnya Kaisar Utina II membawa pasukan baru dari Sumatra, sekitar 300.000 pasukan yang di antaranya 150.000 orang dari Bangsa Aceh, 100.000 orang dari Bangsa Minangkabau, dan sisanya 50.000 orang dari Bangsa Sunda. Sedangkan Bangsa Jawa dikoordinir untuk menghimpun kekuatan dari seluruh kepulauan sebagai pasukan jaga-jaga apabila pasukan Nusantara yang ditugaskan ke Persia gagal. Ketika pasukan Nusantara dari Sumatra dikirim, rupanya kapal-kapal yang memuat Bangsa Aceh terombang-ambing di Samudra Hindia dan diselamatkan oleh seorang nelayan Bangsa Arab bernama Abu Jahil. Abu Jahil membawa pasukan Aceh ke kota Mekah dan mereka semua memeluk agama Jamiliyah. Oleh sebab itu, Bangsa Aceh adalah kaum Jamili pertama kali dari kalangan bangsa-bangsa di Nusantara. Bangsa Aceh menetap di Jazirah Hijaz selama 4 tahun.

Kemudian pasukan Nusantara sisanya mendarat di kota Telugu, teritori Kerajaan Gupta. Raja Chandrasekhar menyambut pasukan Nusantara dan diantarkan sampai ke perbatasan. Selanjutnya pasukan ini menyusul ke kota Uzbek. Total pasukan Nusantara yang siap menyerang Persia adalah 600.000 pasukan.

Mendengar kabar rencana invasi Nusantara itu, Shah Rukh Khan, syah yang berkuasa di Kesultanan Farsiyah saat itu mengultimatum Kaisar Utina II agar membatalkan rencana tsb, sebab Sang Shah akan memberi hadiah berupa 450 juta dirham kepada Kaisar jika membatalkannya. Kaisar Utina II menolaknya karena mata uang dirham tidak laku di wilayah Kekaisaran Nusantara. Sang Kaisar meminta Shah Rukh Khan agar menukarkannya dulu dengan emas sebanyak 80 ton. Jumlah segitu tentu saja tidak mampu dipenuhi oleh Sang Shah. Akhirnya tanpa tedeng aling-aling, pasukan Nusantara menyerbu Kesultanan Farsiyah. Pasukan Persia dibantai habis dan sisanya dibuang ke Laut Mati di daerah Palestina. Kota Baghdad yang menjadi ibukota Kesultanan Farsiyah berhasil ditaklukan. Shah Rukh Khan dihukum mati pada tahun 811. Sedangkan Usamah Al-Qa'idah diangkat menjadi Bupati Baghdad. Peristiwa penaklukan Persia dan Urdu beserta sejumlah wilayah di Syam ini mengawali Ekspedisi Timur Tengah Kekaisaran Nusantara.

Penaklukan Kesultanan Arabiyah (Arab) Sunting

Nusantara20

Teritorial Kekaisaran Nusantara tahun 825

Mendengar berita kejatuhan Farsiyah, Sultan Al-Bakhil yang memimpin Kesultanan Arabiyah mengecam Kaisar Utina II. Sang Kaisar khawatir bila pasukannya, Bangsa Aceh, yang sedang bermukim di teritori Arabiyah dijadikan tawanan. Namun, Sultan Al-Bakhil berpendapat bahwa pasukan Nusantara yang berada di wilayahnya adalah saudara karena memeluk agama yang sama, agama Jamiliyah. Sang Kaisar memanfaatkan momentum ini untuk menjinakkan Kesultanan Arabiyah dengan mengutus putranya, Pangeran Utina III sebagai duta besar.

Namun pada tahun 825, Sang Kaisar wafat tiba-tiba akibat komplikasi diabetes. Pangeran Utina III yang sedang melawat ke Kesultanan Arabiyah dilantik menjadi Kaisar di tengah perjalanan. Karena tampuk kepemimpinan kini di tangan Kaisar Utina III, maka Sang Kaisar membatalkan kunjungan diplomatiknya dan memerintahkan untuk langsung saja menyerang Kesultanan Arabiyah. Sementara pasukan Kaisar Utina III sedang dalam perjalanan, pasukan Nusantara yang sudah ada di Arabiyah sebelumnya diminta menyamar menjadi warga Arab dan memprovokasi rakyat Arab untuk mengkudeta Pemerintahan Al-Bakhil. Saat itu, Sultan Al-Bakhil sedang bersiap-siap untuk menjamu tamu negara Nusantara sehingga dia tidak menyadari bahwa di kota Madinah, ibukota Arabiyah, sudah terjadi demonstrasi besar-besaran yang menuntut Sultan Al-Bakhil mundur. Sang Sultan merasa sedang dikudeta, dia merasa sebagian pejabatnya ada yang berkhianat dan berupaya menggulingkannya dari tahta Kesultanan. Sultan Al-Bakhil memanggil semua menterinya untuk dirazia.

Ketika razia diadakan, pasukan Kaisar Utina III sudah mendarat di kota Dubai. Sejumlah pasukan Nusantara bermukim di Dubai dan menunggu sambutan pasukan Arabiyah yang akan menjemputnya ke Madinah. Sebagaimana kita ketahui, Sang Sultan belum mengetahui bahwa Sang Kaisar berniat menduduki Arabiyah. Sang Sultan hanya mengetahui bahwa ini hanya kunjungan diplomatik semata. Sementara itu di Madinah sedang kisruh akibat demo sehingga Sultan Al-Bakhil memerintahkan untuk membentuk Pasukan Istimewa yang ditugaskan mengawal rombongan tamu negara Kekaisaran Nusantara. Pasukan ini dinamakan "Ja'isy Al-Jaradiyan An-Nusantara" (الجيش الجارديان نوسانتارا; Pasukan Wali Nusantara) atau disingkat JAA. Tugas JAA adalah mengamankan rombongan Nusantara ke Istana Sultan di Madinah. Jenderal Abdul Kafir memimpin JAA dan berangkat ke Dubai.

Sesampainya di Dubai, JAA dan Pasukan Nusantara bergegas ke Madinah. Sesampainya di Madinah, Sultan Al-Bakhil menyambut Kaisar Utina III dengan hangat. Setelah saling berjabat tangan, Sultan Al-Bakhil mengajak Kaisar Utina III ke ruang jamuan. Saat itulah Kaisar Utina III langsung menusuk Sultan Al-Bakhil dari belakang. Pertempuran antara pasukan Arabiyah dengan pasukan Nusantara berlangsung seru dan khidmat. Setelah menghabisi seluruh pejabat di Istana Sultan, Kaisar Utina III mengangkat Abdul Kafir sebagai Bupati Madinah. Untuk merayakan kemenangan Nusantara, Kaisar Utina III pindah agama dari atheis menjadi Jamili. Bahkan Sang Kaisar menunaikan ibadah haji dan wafat selama beribadah Dan membawa Gading, Perak, Beras dari Sumedang Dan Ternak Kambing dari Dermayu untuk Zakat serta Membunuh Orang2 Yang Mengajarkan Aliran Sesat Dan Membuat Monumen Pusat Penyebaran Agama ini Di Dunia. Kaisar Utina III dianggap Kaisar Nusantara yang pertama yang menganut agama Jamiliyah dan yang pertama berkuasa sangat pendek, hanya satu tahun saja.

Penaklukan Kesultanan Misriyah (Mesir) Sunting

Kaisar Utina III digantikan oleh adiknya, Pangeran Utina IV. Kaisar Utina IV adalah Kaisar yang tidak terlalu ambisius dalam menaklukan dunia. Dia hanya berfokus menata perekonomian negara. Di antara agenda Kekaisaran yang dilakukan Kaisar Utina IV adalah:

  • Membangun pabrik sembako di kota Wamena, Tidore, Palu, Kudus, Tuban, Bengkulu, Medan, Perlis, Siem Riep, Chiang Mai, Nagasaki, Daeguk, Teheran, Nejd, Yerusalem, dan Abu Dhabi.
  • Membangun jembatan Sumamala (Sumatra-Malaya), Sumajawa (Sumatra-Jawa), Kalisula (Kalimantan-Sulawesi), Sulamalu (Sulawesi-Maluku), Malupapa (Maluku-Papua), Kalisulu (Kalimantan-Sulu), Suluminda (Sulu-Mindanao), Mindaluzon (Mindanao-Luzon), Luzontai (Luzon-Taiwan), Taihon (Taiwan-Honshu), dan Honshi (Honshu-Shikoku). Dengan adanya jembatan ini, semua pulau-pulau di Nusantara terhubung satu sama lain sehingga akses perdagangan menjadi mudah.
  • Memberlakukan mata uang emas sebagai satuan mata uang dunia (dirham, dinar, rupee, ringgit, yen, dan shekel).
  • Memperbaiki sejumlah bangunan infrastruktur penyokong ekonomi rakyat; seperti bank, bulog, money changer, dan rumah makan.
  • Meningkatkan SDM rakyat dengan memberikan beasiswa ke berbagai perguruan tinggi.

Revitalisasi yang dilakukan oleh Kaisar Utina IV mendapat kemajuan positif signifikan. Pada tahun 860, GDP Nominal Kekaisaran Nusantara mencapai angka fantastis, yaitu 389 ton per tahunnya. Sementara GDP per kapitanya mencapai 20 ton. Laju pertumbuhan ekonomi dari tahun 855-860 sudah mencapai 16,3% menurut data yang dikumpulkan tim menyan Sang Kaisar. Akselerasi perekonomian Kekaisaran Nusantara ini mendapat pujian dari Kesultanan Misriyah (sekarang Mesir dan Libya). Sultan Murtaddin VI memuji Kaisar Utina IV dengan sebutan Amirul Hakim (Sang Kaisar yang bijaksana). Bahkan Sultan Murtaddin VI mengirim 5.000 putra-putri Bangsa Arab untuk sekolah di Nusantara. 3.000 di antaranya dikirim ke Universitas Baitul Hikmah di Baghdad.

Pada mulanya, Kaisar Utina IV mempersilahkan siapapun yang ingin belajar ke negaranya. Tapi rupanya Patih Takeshi Maekawa, penasehat kaisar dari Bangsa Jepang, menyarankan agar Sang Kaisar menaklukan Misriyah. Menurut Maekawa, program student exchange tsb hanya strategi Sultan Murtaddin VI untuk memprovokasi rakyatnya dari kalangan Bangsa Arab untuk memberontak. Pendapat Maekawa didasari atas keganjilan program itu, sebab 5.000 pelajar yang dikirim dari Misriyah adalah Bangsa Arab yang terpelajar. Dikhawatirkan mereka akan menyulut rakyat Nusantara yang sesama Bangsa Arab untuk mengkudeta melawan Kekaisaran Nusantara. Sang Kaisar menolak saran Maekawa untuk menaklukan Misriyah, tapi Sang Kaisar memerintahkan untuk membunuh ke-5.000 pelajar Misriyah tsb. Tepat pada tahun baru 861, mereka semua diringkus kepolisian Nusantara di Baghdad dan di Bei Jing. Mereka semua dihukum mati dengan hukuman pancung di Jayakarta.

Nusantara21

Teritorial Kekaisaran Nusantara tahun 863

Mendengar matinya 5.000 pelajar yang dikirim ke Nusantara itu, Sultan Murtaddin VI memutuskan untuk menyerang Kekaisaran Nusantara. Bahkan dalam pernyataan resmi Istana Kesultanan, Sang Sultan bersumpah atas nama Dewa Ifrit untuk memenggal kepala Kaisar Utina IV. Sang Sultan mengutus Jenderal Dajjaluddin Al-Musyriki untuk menyusun strategi penyerangan ke Nusantara. Sementara itu di Jayakarta, Kaisar Utina IV mengangkat Bupati Bei Jing, Mie Xu Shie menjadi Jenderal. Jenderal Mie Xu Shie bersama-sama dengan Bupati Madinah, Ibnu Faraj memberlakukan jam malam di Jazirah Arab. Sementara itu, Jenderal Mie Xu Shie pulang sebentar ke Bei Jing dalam rangka mengawini putrinya, Mie Go Reng dengan bangsawan Hong Kong, yaitu Adipati Lee Kwe Tiau. Pernikahan itu diselenggarakan dengan sesederhana mungkin karena situasi yang amat darurat dan segera kembali ke Madinah. Pada malam jumat, Pasukan Misriyah menyerang Gaza dan Betlehem. Rupanya, target Sang Sultan adalah membebaskan kota Yerusalem dari kekuasaan Nusantara. Peristiwa ini seolah mengingatkan kita dengan Perang Salib Jilid 2. Kaisar Utina IV memanfaatkan serangan Misriyah ke Palestina untuk menyerang Misriyah lewat Sinai. Pasukan Misriyah kewalahan, Jenderal Dajjaluddin bingung dan memutuskan bunuh diri di Gaza. Sultan Murtaddin VI diringkus di Kairo dan dihukum penjara seumur hidup di Tripoli.

Peristiwa penaklukan Misriyah menandai berakhirnya Ekspedisi Timur Tengah Kekaisaran Nusantara. Kaisar Utina IV mengangkat Ibnu Faraj menjadi Bupati Kairo.

Ekspedisi Asia Kecil Sunting

Kaisar Utina IV berkuasa hingga tahun 878. Dia mengundurkan diri pada tahun itu dengan alasan ingin fokus bisnis budidaya udang windu di Riau. Sang Kaisar digantikan putranya, Pangeran Utina V yang gemar mabuk-mabukan dan foya-foya. Selama memerintah, Kaisar Utina V memerintah secara sewenang-wenang. Bahkan Kaisar Utina V menyetubuhi adiknya sendiri, Putri Harita Dara hingga hamil. Sang Putri tidak bisa melawan sebab bila melawan, nanti janin yang ada dalam kandungannya akan digugurkan.

Mendengar berita degenerasi moral Dinasti Utinaraja oleh Kaisarnya sekarang menyulut kemarahan negara-negara tetangga; yaitu Kesultanan Turki di barat laut, Kerajaan Kurdi di utara, dan Kekaisaran Byzantium (Romawi Timur) di barat. Kali ini, Fatih Sultan Möhmet III secara resmi mengecam Kekaisaran Nusantara.

Penaklukan Kesultanan Turki Sunting

Nusantara22

Teritorial Kekaisaran Nusantara tahun 960

Fatih Sultan Möhmet III, sultan yang memimpin Kesultanan Turki Seljuk pada upacara hari kemerdekaan Fatih Sultan, mengecam Kaisar Utina V, kaisar yang memerintah Kekaisaran Nusantara saat itu. Dalam pidato resmi kenegaraannya, Fatih Sultan mengecam tindakan keji Sang Kaisar yang telah menghamili adik kandungnya sendiri, Ratu Harita Dara. Tindakan asusila Sang Kaisar ini juga dikecam oleh mantan patih di masa kepemimpinan Kaisar Utina IV, Abang Thoyib. Kaisar Utina V segera mengeluarkan dekrit agar semua orang yang menistanya dihukum mati. Abang Thoyib ditangkap dan dihukum mati di Bandung. Sementara itu, Bupati Bangkok, Achhrachattoni Sapweedeepie juga dihukum mati karena menista Sang Kaisar. Adipati Tsubasa Ozora juga dihukum mati di Nankatsu karena menista Sang Kaisar. Kemudian Adipati Jian Chu Qi dihukum mati di Hong Kong karena mengatakan Kaisar Utina V adalah Kaisar yang korup. Pokoknya Sang Kaisar dengan semena-mena menghukum mati semua penentangnya. Tapi ada satu orang yang menistanya tapi belum dihukum mati, yaitu Fatih Sultan Möhmet. Dengan gilanya, dalam keadaan mabuk intisari, Kaisar Utina V memerintahkan kepolisian untuk menangkap Fatih Sultan Möhmet. Padahal Fatih Sultan adalah kepala negara lain, sudah barang tentu bukan tugas kepolisian untuk meringkusnya.

Fatih Sultan Möhmet hanya tertawa melihat tingkah laku Kaisar Utina V yang bodoh. Fatih Sultan mengutus Jenderal Emre Gül untuk menyerang Kekaisaran Nusantara. Karena Kaisar Utina V sedang dalam keadaan mabuk berat dan tidak bisa memberi komando, untuk sementara komando ada di tangan Patih Aan Saputra. Patih Aan Saputra membentuk koalisi kekeluargaan klan Saputra (cikal-bakal Dinasti Saputra) yang bertujuan merestrukturisasi kembali birokrasi yang terbengkalai akibat mabuknya Kaisar Utina V. Restrukturisasi ini berjalan mulus, sejumlah menteri Sang Kaisar dicopot dari jabatannya dan dipilih kabinet baru hasil reshuffle setelah lulus serangkaian ujian; di antaranya uji fit and propertest, uji chow, dan uji dupping. Menteri baru ini bertugas menjaga kehormatan Dinasti Utinaraja (termasuk Sang Kaisar). Mabuknya Sang Kaisar dirahasiakan dari publik sehingga rakyat Nusantara hanya mengetahui bahwa Kaisar Utina V sedang berada di luar angkasa dalam rangka misi antariksa. Kemudian, Patih Aan Saputra mengirim 900.000 pasukan ke Antiokhia untuk menyerang Kesultanan Turki.

Sementara itu, pasukan Turki sudah melakukan long march dari kota Izmir, ibukota Turki Seljuk, hingga ke kota Antalya. Kemudian melanjutkan perjalanan hingga ke Antiokhia. Tepat di musim semi tahun 960, perang antara Nusantara melawan Turki berlangsung selama 3 bulan lamanya. Pasukan Nusantara berhasil memukul mundur pasukan Turki hingga ke sebuah desa tanpa nama, yang jaraknya kira-kira hanya 70 km dari Izmir. Di desa itulah, pasukan Nusantara membantai habis semua pasukan Turki. Pasukan Nusantara pada saat itu terlihat amat menyeramkan, penuh angkara murka. Itulah sebabnya, Sang Kaisar menamai desa itu dengan nama desa "Angkara" (5 tahun kemudian, desa itu telah menjadi kota, dan karena Bangsa Turki tidak bisa mengucapkan "-ng", maka mereka mengenal kota itu dengan nama Ankara). Fatih Sultan Möhmet dan Jenderal Emre Gül berhasil diringkus dan dipenjara di Pulau Seribu. Sementara itu, Sami Khedira diangkat menjadi Bupati Izmir, sedangkan Mesut Özil diangkat menjadi Bupati Ankara. Peristiwa ini menandai dimulainya penaklukan ke Dataran Eropa.

Penaklukan Kerajaan Kurdi Sunting

Nusantara23

Teritorial Kekaisaran Nusantara tahun 968

Patih Aan Saputra membentuk Tim Luar Biasa untuk menentukan apakah Kaisar Utina V sebaiknya dipecat dari jabatan Kaisar atau tidak. Hasil voting menunjukkan 99% anggota tim sepakat memakzulkan Kaisar Utina V karena sudah dalam keadaan mabuk parah sehingga tidak dapat menjalankan roda pemerintahan. Pada tahun 965, Putri Harita Dara, satu-satunya anggota keluarga Dinasti Utinaraja yang paling tua diangkat menjadi Kaisar yang baru sekaligus menjadikannya sebagai Kaisar Wanita pertama di Kekaisaran Nusantara. Pada mulanya, Kaisar Harita Dara diberi gelar Utina VI, namun karena Sang Kaisar merasa gelar itu hanya cocok untuk pria, Kaisar Harita Dara mengusulkan menghapus huruf "u" menjadi "Tina". Usul Sang Kaisar diterima Tim Luar Biasa dan resmilah Kaisar Tina menjabat sebagai Kaisar Nusantara yang baru.

Kaisar Tina juga mengusulkan agar putranya yang baru berusia 6 tahun, Pangeran Utina VI, sebagaimana diketahui merupakan anak hasil hubungan sedarah dengan kakaknya, bekas Kaisar Utina V, agar dimahkotai. Namun usul Kaisar Tina ditolak oleh Tim Luar Biasa. Bahkan pada tahun 966, Tim Luar Biasa justru mencabut hak Dinasti Utinaraja untuk berkuasa. Hak tsb diberikan kepada Dinasti Saputraraja dimana Patih Aan Saputra ditahbiskan sebagai putra mahkota, Kaisar penerus yang akan menggantikan Kaisar Tina bila masa jabatannya sudah habis. Kaisar Tina kecewa Dinasti Utinaraja harus berakhir. Sebagai ganti ruginya, Tim Luar Biasa mengukuhkan Kaisar Tina menjabat seumur hidupnya.

Agenda kenegaraan Kaisar Tina adalah:

  • Mereformasi segala tatanan hukum dan birokrasi peninggalan rezim kakaknya (yang juga ayah dari anaknya), Utina V.
  • Menangkap setiap simpatisan Pro-Utina V (kalaupun ada).
  • Menjaga stabilitas harga sembako dunia.

Pada tahun 967, Kaisar Tina dikejutkan dengan keberadaan entitas negara terpencil di dekat Pegunungan Ural, yaitu Kerajaan Kurdi (yang berlokasi di sekitar Armenia dan Georgia). Negara ini memang selama ini bersembunyi di balik hangatnya Laut Kaspia menghindari peradaban dunia demi menjaga keamanan negaranya. Namun sayang sekali, cepat atau lambat, Kekaisaran Nusantara mengendus eksistensi negara ini. Kaisar Tina mengutus Adnan Oktar, Bupati Azer untuk membawa nota penyerahan kedaulatan kepada Raja Yazidet II, raja yang memimpin Kerajaan Kurdi saat itu. Karena selama ini Kerajaan Kurdi selalu bersembunyi, maka mereka minim pengalaman politik luar negeri. Akibatnya, Raja Yazidet II menandatangani nota tsb tanpa mengetahui bahwa nota itu adalah sertifikat legal penyerahan kedaulatan negara. Akibatnya Kerajaan Kurdi diklaim menjadi teritorial Kekaisaran Nusantara yang baru. Raja Yazidet II dicopot dari jabatannya dan hidup menggelandang di Cechnya. Kekaisaran Nusantara berhasil menaklukan Kerajaan Kurdi tanpa pertumpahan darah sama sekali. Kaisar Tina dipuji keberhasilannya oleh anggota dewan Tim Luar Biasa.

Penaklukan Kekaisaran Byzantium Sunting

Pada tahun 987, Kaisar Yustinian Agung, kaisar yang memimpin Kekaisaran Byzantium (Romawi Timur) saat itu melakukan kunjungan kenegaraan ke Kekaisaran Nusantara. Kaisar Yustinian Agung disambut oleh Kaisar Tina di Jayakarta, ibukota Nusantara. Pawai jaipongan dan samurai diadakan selama 7 hari 7 malam sebagai penyambutan Kaisar Yustinian Agung. Sang Kaisar berencana melawat Kerajaan Gupta setelah 2 minggu di Kekaisaran Nusantara. Selama kunjungan itu, Kaisar Yustinian Agung diundang dalam acara peresmian casino pertama kali di Nusantara yang dibangun di kota Tokyo. Kaisar Tina dan Kaisar Yustinian Agung sama-sama menandatangani peresmian casino yang diberinama Kashino Harajuku. Beberapa saat setelah diresmikan casino tsb, Kaisar Yustinian Agung diajak bermain blackjack oleh Kaisar Tina. Kaisar Yustinian Agung menang jackpot 3 putaran.

Kemudian Kaisar Tina menantang Kaisar Yustinian Agung bermain poker dengan nominal taruhan sebesar 56 ton emas. Kaisar Yustinian Agung adalah Kaisar yang juga kaya raya. Dia menyanggupi tawaran judi dengan nominal segitu. Tapi bencana tiba, 5 putaran saja Kaisar Yustinian Agung kalah total dan bangkrut. Kaisar Yustinian Agung merasa harga diri pria tulennya jatuh bila kalah judi dengan wanita. Kali ini, Kaisar Yustinian Agung membuat keputusan yang fatal, dia mempertaruhkan kedaulatan negaranya kepada Kekaisaran Nusantara bila kalah lagi dalam bermain poker. Kaisar Tina memerintahkan agar nota penyerahan kekuasaan ditaruh di atas meja. Permainan pun dimulai dan akhirnya, Kaisar Yustinian Agung kalah. Sesuai kesepakatan sebelumnya, Kaisar Yustinian Agung menandatangani nota penyerahan kekuasaan tsb dari Kekaisaran Byzantium kepada Kekaisaran Nusantara. Upacara serah-terima dilaksanakan di Tokyo.

Keberhasilan Kaisar Tina menaklukan negara adidaya sebesar Kekaisaran Byzantium (Romawi Timur) dipuji kalangan pejabat. Bahkan, prestasi Sang Kaisar menaklukan negara lain tanpa perang merupakan prestasi cemerlang yang baru pertama kali dilakukan Kaisar di Nusantara secara dua kali berturut-turut, yang pertama Kerajaan Kurdi dan yang kedua Kekaisaran Byzantium. Dalam pernyataan persnya, Kaisar Tina mengajak seluruh rakyat untuk mengutamakan perdamaian di atas pertumpahan darah. Kaisar Tina mengangkat Heraclus sebagai Bupati Konstantinopel dan Kojiro Hyuga sebagai Bupati Athena sementara. Sementara, bekas Kaisar Yustinian Agung, diangkat menjadi Dirut Kashino Harajuku.

Ekspedisi Eropa Barat Sunting

Bangsa-bangsa Eropa di masa lampau terkenal ganas. Tapi ada satu negara Eropa yang sangat cerdik dalam berstrategi politik. Alih-alih mengutamakan perdamaian berdasarkan Magna Charta (Piagam HAM pertama kali), justru penaklukan di Eropa dilakukan negara yang memiliki otoritas keagamaan (agama Kamasuthran) yang tinggi, yang berada pada pucuk hirarki tertinggi dan tersentralisasi. Negara itu adalah Imperium Romawi Kudus (Holy Roman Empire) yang sebenarnya kaisar-kaisar yang berkuasa justru bukan orang-orang dari Bangsa Romawi. Negara ini hanya meminjam kata "Romawi" yang menandakan pusat otoritas kenegaraan suci ada di kota Roma. Sebenarnya kedaulatan negara ini hanya bersifat sakral saja, bukan teritorial. Tapi karena kebanyakan negara-negara di Eropa menganut agama Kamashutran, maka kebijakan-kebijakan Imperium Romawi Kudus bersifat universal dan absolut, wajib dipatuhi negara-negara bawahan seperti Kerajaan Normandia di bagian selatan Pulau Britania, Kerajaan Skotlandia di bagian utara Pulau Britania, Kerajaan Francia (sekarang Perancis), Kerajaan Carolingia di bagian selatan Francia (Monaco dan Polandia), "Trio Jerman" (Kerajaan Bavaria, Kerajaan Prussia, dan Kerajaan Bersatu Austria-Hungaria), dan Imperium Iberia (Kerajaan Spanyol dan Kerajaan Portugal).

Sementara, negara-negara musuh yang beragama sama sebenarnya (tapi berbeda mazhab, yaitu mazhab Prostatian bersiap menggulingkan kesewenang-wenangan Imperium Romawi Kudus. Negara-negara tsb adalah Kerajaan Anglisia (Inggris), Kerajaan Denmarkia (Denmark), dan Republik Belanda-Belgia. Sisanya adalah negara-negara (atau bangsa-bangsa) kafir yang menganut agama ateisme; seperti Kerajaan Skandinavia (yang meliputi Bangsa Nordik (Norse atau Norwegia), Bangsa Suedik (Svenska atau Swedia), dan Bangsa Viking), Bangsa Vandal (di tanah Gallia dan Italia, Bangsa Goth Barat (Ostrogothic), Bangsa Goth Timur (Visigothic), Bangsa Skot liar di Pulau Britania (Scottish Gaelic dan Scottish Celtic), dan sisanya bangsa-bangsa barbar imigran seperti Bangsa Arab, Bangsa Turki, dan Bangsa Finesia (Finlandia). Bagi Imperium Romawi Kudus, negara-negara ini cukup merepotkan dan mengancam hegemoni negara, walaupun Imperium Romawi Kudus menggaet negara-negara yang umumnya kuat (Francia, Normandia, Bavaria, Prussia, Austria-Hungaria, dan tentu saja Yunani). Strategi Imperium Romawi Kudus selain menyatukannya dalam iman secara formal, juga menyatukannya dalam persaudaraan mistik Eropa dengan menggunakan satu bahasa universal, Bahasa Latin. Kelak, aksara Latin diadopsi Kekaisaran Nusantara hingga sekarang (Indonesia).

Namun ancaman terbesar Imperium Romawi Kudus sebenarnya adalah Kekaisaran Nusantara di timur, yang wilayahnya sudah mencapai tanah Bulgaria dan Ukraina. Kekaisaran Nusantara sudah menjadi bahan pergunjingan Imperium Romawi Kudus semenjak Kaisar Yustinian Agung, bekas Kaisar Kekaisaran Byzantium melawat ke Nusantara hingga akhirnya dianeksasi oleh Nusantara (sekarang Yustinian mengepalai sebuah casino pertama di dunia yang ada di kota Tokyo di bawah teritori Kekaisaran Nusantara]]. Oleh sebab itu, Kaisar [[Ferrari|Otto II], kaisar yang berkuasa di Imperium Romawi Kudus saat itu, menggelar penelitian terkait entitas Kekaisaran Nusantara. Penelitian yang diadakan selama 3 bulan itu berdasarkan data yang dikumpulkan di lapangan bola membuahkan hasil berupa petunjuk bahwa Kekaisaran Nusantara adalah negara yang paling beringas di Asia, paling getol melakukan penaklukan. Oleh sebab itu, Kaisar Otto II memerintahkan Raja Theodoric V, raja yang memimpin Kerajaan Austrja-Hungaria saat itu, untuk membangun benteng super besar yang disebut Romanum Castillum di wilayah Romania bekerja sama dengan Kekaisaran Tsar (Rusia) dengan dana yang dihimpun dari sejumlah bank di Eropa. Benteng itu sangat bermanfaat untuk menekan kemungkinan invasi yang akan dilakukan oleh Kekaisaran Nusantara, cepat atau lambat.

Kaisar Tina telah menerima kabar dari Bupati Bulgaria, Julius Platonius, tentang pembangunan benteng Romanum Castillum tsb. Patih Saputra I memimpin sidang paripurna di kota Jayakarta bersama Tim Luar Biasa. Hasil sidang paripurna dengan referendum ahli strategi aneksasi, akuisisi, dan mergerisasi, diperoleh sbb:

  • Memulai Ekspedisi Eropa dari Barat (Semenanjung Iberia), dengan misi pertama menaklukan Kerajaan Spanyol dan Kerajaan Portugal.
  • Menghimpun kekuatan menyan dari kuncen-kuncen yang dikumpulkan dari segala penjuru Nusantara, mulai dari Mesir hingga Jepang.
  • Membentuk koloni sementara di tanah Maroko.

Pada tahun 1001, Ekspedisi Eropa Barat dimulai. Kaisar Tina menghadiri upacara pelepasan pasukan Nusantara sebanyak 1.750.600 pasukan ke Maroko. Dalam upacara tsb, Kaisar Tina berdoa kepada Dewa Sang Hyang Karsa agar Sang Dewa memberkati penaklukan suci ini.

Penaklukan Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugis) Sunting

Nusantara24

Teritorial Kekaisaran Nusantara tahun 1009

Pada tahun 1001, Kaisar Tina mengirim 1.750.600 pasukan Nusantara dari berbagai bangsa ke tanah Maroko di Afrika Utara. Kekaisaran Nusantara, sebagaimana diceritakan di atas, berniat menaklukan negara-negara di Semenanjung Iberia, yaitu 2 kerajaan besar (Kerajaan Spanyol dan Kerajaan Portugal; yang mana keduanya adalah negara bawahan Imperium Romawi Kudus) dan 2 kerajaan kecil (Kesultanan Andalusiyah dan Kerajaan Visigothia), juga menaklukan bangsa-bangsa barbar, seperti Bangsa Goth Timur, Bangsa Vandal, dan imigran Bangsa Arab. Bangsa-bangsa barbar diharapkan dapat direkrut menjadi pasukan Nusantara. Jadi, sistem yang dipakai Kaisar Tina adalah sistem top-up dan auto-renewal, pokoknya seru kalau dijadikan game RPG. Semua pasukan Nusantara, karena berasal dari bermacam-macam bangsa yang berjauhan, maka Kaisar Tina mengkomandokan berkumpul dulu di pos checkpoint yang telah ditentukan sampai pos terakhir di kota Kairo.

Perjalanan dilakukan dengan melalui jalur darat Pantura (Pantai Utara Afrika). Setelah melewati desa Karthago, pasukan Nusantara membangun kamp konsentrasi di Maroko dan juga membangun pelabuhan di Selat Gibraltar. Setibanya pasukan Nusantara di Maroko, kapal-kapal sudah dikirim dari Palestina dan Turki dengan menyamar menjadi kapal ferry melintasi Panselo (Pantai Selatan Eropa). Kapal-kapal ini tiba di Selat Gibraltar bulan Agustus 1001. Strategi pertama yang dilancarkan adalah blitzkrieg ke pantai Granada dan menyerbu Kesultanan Andalusiyah dan merekrut pasukan baru dari Bangsa Arab, Bangsa Spanyol, dan Bangsa Vandal. Jenderal Lee Young-Pyo, yang baru saja dilantik menjadi jenderal baru Nusantara di Seoul, langsung mengkomandokan serangan. Pasukan Nusantara dibagi 2 batalion; Batalion Harimau bergerak ke timur Pantai Sevillá dan Batalion Garuda bergerak langsung ke pelabuhan kota Granada. Tujuannya adalah mempersempit gerak laju pasukan Andalusiyah, karena Sevillá adalah sebuah dusun perbatasan antara Kesultanan Andalusiyah dengan Kerajaan Spanyol. Serangan pun dimulai dan dimenangkan pasukan Nusantara. Sultan Ali Al-Qatrash (Ale Alcatráz) dihukum pancung di alun-alun Al-Hamrah (Alhambra). Pasukan Nusantara kini fokus menyerbu Kerajaan Spanyol.

Pasukan Nusantara mendobrak benteng Castillá di kota Cataloñia dan menghancurkan kota Malaga. Raja Alfonso II memerintahkan menutup semua akses masuk kota Madrid. Namun upaya pasukan Spanyol gagal karena pasukan Nusantara sudah lebih dulu tiba sebelum Sang Raja sempat menutupnya. Akhirnya Raja Alfonso II digelandang ke dalam kapal dan dieksekusi di Maroko. Keluarga Sang Raja dipenjara selama 3 bulan sebelum akhirnya diberikan grasi oleh Kaisar Tina karena kemurahan hati Sang Kaisar. Pada tahun 1010, Kaisar Tina berkunjung ke kota Madrid untuk menghibur mantan Ratu Spanyol, Isabella III, karena eksekusi mati terhadap Alfonso II bukanlah atas dasar kehendak Sang Kaisar melainkan atas dasar mandat dari Tim Luar Biasa.

Penaklukan Kerajaan Portugal Sunting

Nusantara25

Teritorial Kekaisaran Nusantara tahun 1012

Pada tahun 1010, Kaisar Tina berkunjung ke kota Madrid. Didampingi oleh Bupati Madrid, Carlos Puyól, Kaisar Tina menemui mantan Ratu Spanyol, Isabella III, yang juga istri bekas Raja Spanyol, Alfonso II, yang dieksekusi mati Kekaisaran Nusantara berdasarkan keputusan aklamasi anggota dewan Tim Luar Biasa di kota Jayakarta. Kaisar Tina menetap di Madrid selama 3 hari, lalu berkunjung ke kota Cataloñia, Granada, Sevillá, Malaga, dan Sociedad. Kota Sociedad merupakan kota perbatasan antara Spanyol yang sudah resmi berada dalam teritori Kekaisaran Nusantara dengan Kerajaan Portugal. Kaisar Tina meninjau beberapa benteng peninggalan Spanyol di sana.

Namun, pada malam hari, Kaisar Tina keluar dari kantor Kabupaten Sociedad untuk melihat indahnya full moon Eropa dari Bukit Alabama. Rupanya Sang Kaisar diculik oleh petugas Portugis yang sedang menyamar menjadi petugas Nusantara. Kaisar Tina digelandang ke kota Lisbon, ibukota Portugal. Keesokan harinya, Ratu Patricía, ratu yang memimpin Kerajaan Portugal saat itu, mengumumkan bahwa nyawa Sang Kaisar ada di tangannya. Dia meminta pasukan Nusantara segera angkat kaki dari Semenanjung Iberia, jika tidak, maka Kaisar Tina akan dibunuh. Permintaan Sang Ratu ditolak oleh Patih Saputra I. Patih Saputra I bahkan mempersilahkan Ratu Patricía bila ingin membunuh Sang Kaisar, sebab menurut peraturan konstitusi Tim Luar Biasa, masa jabatan Kaisar Tina adalah seumur hidup, dan jikalau mati, maka dialah yang akan menjadi Kaisar penerusnya. Mengetahui usaha penculikan Kaisar Tina adalah sia-sia, maka Ratu Patricía membunuh Sang Kaisar dengan cara ditombak memeknya kemaluannya hingga menembus kepalanya. Kaisar Tina, selain Kaisar wanita pertama Kekaisaran Nusantara, juga Kaisar pertama Kekaisaran Nusantara yang wafat dibunuh oleh Pemerintah Negara lain.

Patih Saputra I dilantik oleh Tim Luar Biasa di Jayakarta menjadi Kaisar yang baru. Kaisar Saputra I segera melegalkan status Tim Luar Biasa menjadi Majelis Permusyawaratan Kaisar (MPK). Tugas MPK adalah menyusun konstitusi komplementer yang akan dijalankan oleh Kaisar. MPK memutuskan menyerang Kerajaan Portugal secepatnya. Kaisar Saputra I pun segera mengkomando pasukan Nusantara di Spanyol untuk menyerbu Portugal. Pertempuran demi pertempuran terjadi dan akhirnya Kerajaan Portugal takluk pada tahun 1011. Ratu Patricía menandatangani nota penyerahan kekuasaan kepada Kaisar Saputra I. Peristiwa ini menandai keberhasilan Kekaisaran Nusantara menguasai Semenanjung Iberia. Target selanjutnya adalah Kerajaan Francia atau Franka (Perancis).

Penaklukan Kerajaan Francia (Perancis) Sunting

Jatuhnya Kerajaan Portugal ke dalam teritori Kekaisaran Nusantara menuai perdebatan di kalangan bangsawan dan ilmuwan Eropa. Sementara, Kerajaan Portugal dan Kerajaan Spanyol adalah bekas bawahan Imperium Romawi Kudus. Kaisar Otto II mengucurkan sejumlah dana bantuan sebagai paket stimulus kepada Raja Louis XVI, raja yang memimpin Kerajaan Francia serta sejumlah pasukan untuk membentengi ancaman Nusantara di barat.

Sementara itu, Kaisar Saputra I mengadakan kunjungan kenegaraan ke Kekaisaran Tsar Rusia pada bulan Februari 1012. Kaisar Saputra I menyewa beberapa pasukan Rusia untuk merusak Romanum Castillum. Kaisar Vladimir III menyanggupinya. Strategi yang digunakan Kaisar Saputra I adalah menyerbu Eropa dari 2 front; Front Barat (Francia, Carolings, dan Hollandia) dan Front Timur (Romania, Hungaria, dan Austria). Kaisar Saputra I pulang ke Jayakarta untuk meresmikan Menara Peninsula di Istananya, menara setinggi 500 m itu rencananya akan digunakan menjadi tempat semedi Sang Kaisar yang baru dan menyan sakti diletakkan di menara tsb.

Kaisar Saputra I mengetahui akan rencana Kerajaan Francia merebut wilayahnya di Spanyol. Oleh sebab itu, Sang Kaisar menyantet Kaisar Otto II penguasa Imperium Romawi Kudus sebagai gertakan bahwa Kekaisaran Nusantara tidak pernah main-main bila melakukan invasi. Tentu saja Raja Louis XVI ketakutan dirinya akan disantet sehingga mental Sang Raja mulai depresi, jatuh dalam kekalutan dan paranoia. Sang Raja bahkan membunuh istrinya sendiri, Ratu Maria Antoinette ketika Sang Ratu sedang mandi di Kolam Versailles. Mendengar kabar mengerikan ini, Raja Louis XVI divonis gila oleh Mahkamah Romawi Kudus dan dimakzulkan dari jabatannya. Pada kesempatan inilah, pasukan Nusantara segera menyerang Francia.

Jenderal Charlemagne atau yang dikenal sebagai "Karel Martel" memerintahkan pasukan Francia untuk membendung serangan Nusantara di kota Sourboun. Sang Jenderal meminta tolong kepada seorang pendeta mistik yang bernama Count St. Germain (Comte Santo Jermain) untuk menyihir Kaisar Saputra I. Ternyata ilmu sihir Eropa tidak mempan menyerang ilmu santet Nusantara, sebab menyan milik Sang Kaisar telah diberkati Dewa Sang Hyang Kersa. Justru sihir St. Germain malah menyerang Jenderal Charlemagne hingga tewas akibat muntah darah. Mayat Jenderal Charlemagne ditemukan di pinggir Sungai Rhine dalam keadaan membusuk. Pasukan Nusantara akhirnya berhasil memasuki kota Paris, ibukota Francia. Jenderal Antonio de la Hõya dilantik menjadi Bupati Paris ad interim. Peristiwa ini menandai keberhasilan Kekaisaran Nusantara merebut dataran Eropa Barat. Di masa itu pula, Kekaisaran Nusantara juga berhasil menaklukan Kerajaan Carolings dan Bangsa Hun di Monaco pada tahun 1063, tepat di hari ulang tahun Kaisar Saputra I.

Penaklukan Kerajaan Carolingia (Perancis) Sunting

Sudah diceritakan di atas.

Penaklukan Kerajaan Bavaria (Jerman) Sunting

Pada tahun 1065 di kota München, Raja Otto von Bismarck, raja yang memimpin Kerajaan Bavaria (Bayern) saat itu, menyatakan kesediaan berkoalisi dengan Kekaisaran Nusantara apabila Kaisar Saputra I mengurungkan niatnya menginvasi dataran Gallia (Jerman dan sekitarnya). Kaisar Saputra I mengajukan permasalahan ini ke dalam sidang paripurna Tim Luar Biasa. Hasil sidang paripurna menghasilkan agenda sbb:

  • Mengukuhkan Tim Luar Biasa menjadi Majelis Permusyawaratan Kaisar (MPK).
  • Mengangkat Jenderal Abraham Samad menjadi Ketua MPK dengan titel Samadi I.
  • Memerintahkan Kaisar Saputra I untuk menduduki Bavaria yang deadline-nya jatuh pada tahun 1070.

Kaisar Saputra I merasakan bahwa MPK berniat menggulingkannya dari kekuasaan, padahal MPK sendiri dulu ketika masih dalam formasi Tim Luar Biasa, adalah suatu badan legislatif yang diusungnya sendiri untuk membatasi kesewenang-wenangan bekas Kaisar Utina V. Pada tahun 1069, Kaisar Utina V menghubungi Raja Otto von Bismarck bahwa negaranya berniat berdamai dan menghentikan Ekspedisi Eropa. Sikap Kaisar Saputra I yang ingin berkoalisi ini dikecam oleh MPK sehingga MPK memakzulkan Kaisar Saputra I. MPK menyatakan bahwa Abraham Samad (Samadi I) menjadi Kaisar yang baru.

Kaisar Saputra I marah dan dia melantik putranya, Pangeran Saputra II menjadi Kaisar pada tahun 1070. Namun baru 3 hari setelah pelantikan, Istana Sang Kaisar (Istana Garuda) dikepung pasukan Nusantara atas perintah legislatif MPK. Hal ini membuat Kaisar Saputra II dan bekas Kaisar Saputra I menyerah. Mereka mengembalikan mandat Kekaisaran kepada MPK dan sekaligus menandai berakhirnya kekuasaan Dinasti Saputraraja. Berdasarkan Perpu no. 1/KN.Ia/1067, seorang Kaisar haruslah memiliki Dinasti. Akhirnya, Ketua MPK Abraham Samad membentuk Dinasti yang bernama Samadiraja dan mengukuhkan dirinya sendiri sebagai Kaisar yang baru.

Mendengar kabar huru-hara politik di Nusantara, Raja Otto von Bismarck hanya bisa tertawa. Padahal di Bavaria sendiri, Jenderal Paul von Hindenburg memberontak. Raja Otto von Bismarck berusaha meminta perlindungan kepada Imperium Romawi Kudus, tapi ditolak oleh Kaisar Stefanus IV. Raja Otto von Bismarck meminta perlindungan kepada Kekaisaran Nusantara dan Kaisar Samadi I menyanggupinya. Kaisar Samadi I mengutus Jenderal Lound d'Hewitt untuk menyerang pemberontak di Bavaria. Jenderal Lound d'Hewitt membentuk pasukan di Paris sebanyak 399.900 pasukan Nusantara dan menyerbu München. Rupanya bantuan Nusantara ini strategi Kaisar Samadi I untuk menaklukan Bavaria. Pasukan Nusantara menangkap Jenderal Paul von Hindenburg dan Raja Otto von Bismarck. Mereka berdua digiring ke penjara Bastille di Paris dan Kaisar Samadi I mengangkat Lound d'Hewitt menjadi Bupati München.

Penaklukan Kerajaan Bersatu Austria-Hungaria Sunting

Kaisar Franz III (Franz III of Austria), kaisar yang memimpin Kekaisaran Austria, bersama Raja Charles IV, raja yang memimpin Kerajaan Hungaria, dipaksa menandatangani integrasi negara (statis integrassium) oleh Kaisar Theodorik IX, kaisar yang memimpin Imperium Romawi Kudus, di bawah komando Wangsa Hamlet, wangsa dari Kewangsaan Bohemia (Duke of Bohemian) pada tahun 1071. Penandatanganan ini berdampak pada integrasi dua negara menjadi Kerajaan Bersatu Austria-Hungaria. Tujuannya diberlakukan integrasi ini adalah untuk memperkuat hegemoni Bangsa Jerman di Eropa Timur (bersama-sama dengan Kerajaan Prussia) dari ancaman penaklukan oleh Kaisar Samadi I, kaisar yang memimpin Kekaisaran Nusantara saat itu. Di kota Prague (Praha), ibukota Austria-Hungaria, Raja Ferdinand I dilantik menjadi Raja Austria-Hungaria.

Sementara itu di kota Jayakarta, MPK mengadakan sidang yang membahas RUU Multi-dinasti. Direncanakan paling lambat Desember 1099, akan diselenggarakan Pemilu Kaisar pertama kali di Kekaisaran Nusantara apabila sudah banyak Dinasti yang mendaftar ke MPK. Dalam situasi ini, Kaisar Samadi I mengadakan rapat royal dynasty di kediaman Dinasti Samadiraja di kota Bandung. Dalam rapat itu, Kaisar Samadi I memutuskan untuk menghegemoni politik melalui putra keduanya, Pangeran Samadi III, dengan cara mengirim Sang Pangeran ke München dengan tujuan menaklukan Austria-Hungaria secepatnya, agar MPK membatalkan RUU Pemilu Kaisar sehingga Dinasti Samadiraja dapat langgeng di kursi Kekaisaran. MPK menyadari niat Kaisar Samadi I untuk pencitraan politik. Namun, ketua MPK, Tora Sudiro dari Bangsa Jawa, membiarkan niat Sang Kaisar untuk pencitraan, karena memang agenda penaklukan Eropa masih menjadi agenda utama MPK. Bahkan, Tora Sudiro, dalam pidato sidang RUU Pemilu Kaisar, memuji langkah politik Kaisar Samadi I dan mengatakan bahwa Pangeran Samadi III adalah pemuda bangsa yang berani, seorang ksatria pilihan Dewa Sang Hyang Kersa dan diberkati oleh segenap rakyat Nusantara. Tora Sudiro nampak seorang pro-Dinasti Samadiraja.

Pada tahun 1079, Raja Ferdinand I melakukan kunjungan kenegaraan ke Kerajaan Prussia dan menemui Raja Friedrich V untuk membahas rencana integrasi Austria-Hungaria dengan Prussia, sehingga menjadi trio negara Jerman yang berdaulat, adil, dan makmur, sesuai agenda Imperium Romawi Kudus. Raja Friedrich V menanggapi agenda ini hanya akan sia-sia saja. Bagi Raja Friedrich V, Kekaisaran Nusantara tidak akan bisa dilawan, apalagi ditaklukan. Sang Raja lebih memilih memerintah di Prussia dengan ikhlas sampai akhirnya Nusantara menaklukan negaranya. Raja Ferdinand I menganggap Raja Friedrich V pengecut, belum memulai sudah putus asa. Raja Friedrich V tidak marah dibilang pengecut, baginya pengabdian kepada rakyat dapat dilakukan tidak hanya jika menjadi raja. Justru Raja Friedrich V menilai Raja Ferdinand I dan Kaisar Theodorik IX terlalu berambisi untuk mempertahankan kekuasaan, dibutakan oleh nafsu memerintah, tanpa bisa menyadari kekuatan musuh, Kekaisaran Nusantara, yang tidak pernah kalah dalam menaklukan negara-negara asing kecuali dua negara yang sekarang menjadi sekutu Nusantara, yaitu Kerajaan Gupta dan Kekaisaran Tsar Rusia. Bagi Raja Friedrich V, yang diperlukan Austria-Hungaria dan Imperium Romawi Kudus adalah strategi bertahan (defensif), bukan menyerang (ofensif). Jika menyerang Nusantara pasti kalah. Justru biarkan Nusantara menyerang negaranya lebih dulu dan sebisa mungkin memukul mundur Nusantara dari teritorinya, maka Nusantara akan menjadi sekutu juga.

Tentu saja pendapat Raja Friedrich V dinilai bodoh oleh Raja Ferdinand I dan Kaisar Theodorik IX. Bahkan, Kaisar Theodorik IX memecat Raja Friedrich V dari kursi kerajaan. Raja Friedrich V diminta berbenah dan angkat kaki dari Istana Prueßenstag paling lambat 3 hari setelah pemecatan. Raja Friedrich V masih mengklaim dirinya sebagai raja yang sah Kerajaan Prussia, namun karena petugas di Istana Prüßent memaksanya angkat kaki, Raja Friedrich V akhirnya meminta suaka politik kepada Kaisar Samadi I. Pangeran Samadi III di München mengizinkan Raja Friedrich V membentuk pemerintahan darurat di München asalkan Sang Raja bersedia menyerahkan Kerajaannya kepada Nusantara kelak. Raja Friedrich menandatangani perjanjian yang bernama Nüßienterrich-Preußenveld Reichsvertrag atau Perjanjian Kedatuan Nusantara-Prussia (Royal Treaty of Nusantara-Prussia).

Keputusan nyeleneh Raja Friedrich V yang menyerahkan Kerajaan Prussia begitu saja kepada Kekaisaran Nusantara menuai kecaman dari rakyat Prussia. Raja Adolf III, raja de jure pengganti Raja Friedrich V, mengeluarkan sayembara barangsiapa rakyat Nusantara di dataran Bavaria bersedia menyerahkan Raja Friedrich V kembali ke Kerajaan Prussia, maka akan diberi hadiah sejumlah 30.000 gulden (atau sekitar 8 kg emas). Akibat sayembara ini, kepolisian Nusantara menangkap seorang pemuda Jerman yang bernama Thomas Müller karena berusaha menculik Raja Friedrich V.

Pangeran Samadi III (atas saran Raja Friedrich V) mengirim pasukan ke Prague, sebanyak 550.000 pasukan Nusantara yang siap membumi-hanguskan Kerajaan Bersatu Austria-Hungaria. Pasukan Austria-Hungaria tiba di sebuah dusun kecil, dusun Berlin, dan memaksa warga menggali parit di sekitar Fort von Öberstanderland (Benteng Kejayaan Perbatasan) dimana dusun Berlin merupakan perbatasan antara Prussia dengan Austria-Hungaria. Raja Ferdinand I mengangkat Petr Çéch dari Bangsa Ceska, sebagai komandan benteng untuk menembakkan meriam ke arah selatan, sebab pasukan Nusantara akan datang dari kota Hamburg di selatan. Kaisar Samadi III segera menuju ke kamar suci menyan di Menara Peninsula dan menyantet pasukan Austria-Hungaria. Seketika saja pasukan Austria-Hungaria mati. Setibanya di dusun Berlin, pasukan Nusantara hanya melihat Petr Çéch dan putranya, Manuel Sczéşczny yang sedang berdiri melamun kebingungan melihat pasukannya mati. Pasukan Nusantara langsung bergerak menuju Prague dan menghabisi pasukan Austria-Hungaria. Raja Ferdinand I dibantai tanpa ampun karena terus memberontak ketika pasukan Nusantara meringkusnya, kepalanya dihantam batu giok sebanyak lima belas kali sampai wajahnya tidak dapat dikenali lagi. Raja Friedrich V menyatakan turut berduka cita atas kematian Raja Ferdinand I sekaligus memperingatkan Raja Adolf III jika dia mencoba melawan Nusantara nasibnya akan sama dengan Raja Ferdinand I.

Karena ketakutan, pada tahun 1067, Raja Adolf III mengembalikan posisi raja kepada Raja Friedrich V. Raja Friedrich V kemudian menyerahkan kekuasaannya kepada Kekaisaran Nusantara. Peristiwa jatuhnya Austria-Hungaria dan Prussia ke tangan Kekaisaran Nusantara menandai berakhirnya negara-negara Bangsa Jerman.

Penaklukan Kerajaan Prussia (Jerman) Sunting

Sudah diceritakan di atas.

Penaklukan Tanah Inferiorum (Belanda, Frisia, Flemia, Belgia, dan Alemannia) Sunting

Pada tahun 1081, Bastian Schweinsteiger, Bupati München, mengirimkan surat laporan kepada Kaisar Samadi I yang sedang berada di kota Songkhla meninjau kawasan pub. Schweinsteiger menyatakan bahwa di sebelah barat setelah melewati kota Bordeaux, ada sebuah perkampungan kecil yang dihuni oleh 5 bangsa-bangsa kecil:

Keempat bangsa ini hidup primitif dan damai dalam keterbelakangannya, itulah sebabnya mereka tidak punya negara, dan tanah mereka diklaim oleh Imperium Romawi Kudus. Status mereka adalah bangsa rendahan dan bawahan, sehingga tanah mereka disebut Inferiorum (Low-Countries) atau secara literal disebut "Tanah Budak". Schweinsteiger mengajukan proposal kepada Kaisar Samadi I untuk menaklukkan mereka membebaskan mereka dari kungkungan Imperium Romawi Kudus. Schweinsteiger mengatakan bahwa keuntungan yang dapat diperoleh dari tanah tsb adalah tanahnya dapat diolah menjadi perkebunan bakau. Schweinsteiger berteori kalau kayu bakau dapat diasapi dengan lengkuas dan kembang kol (bloemkool) sehingga menjadi menyan super wangi. Kaisar Samadi I tertarik dengan teori tolol Schweinsteiger dan berharap dapat melakukan eksperimen lanjutan, sebab Eropa perlu dimenyankan. Oleh sebab itu, Kaisar Samadi I mengutus seorang utusan ke tanah Inferiorum tsb untuk mengajak para kepala suku di sana agar mau bergabung ke dalam teritorial Kekaisaran Nusantara dengan iming-iming akan dipekerjakan sebagai buruh bakau dengan upah yang sangat besar. Kebetulan Schweinsteiger mendapat tugas dinas kebupatian ke luar kota, ke kota Lyon. Sang Kaisar memerintahkan Bupati Schweinsteiger untuk mampir ke tanah Inferiorum.

Ketika Bupati Schweinsteiger sampai di sebuah desa kecil tanpa nama di Perancis, Sang Bupati merekrut 2 orang untuk diajak mendampinginya bertemu dengan kepala-kepala suku di tanah Inferiorum. 2 orang sukarelawan dan sukarelawati dengan tulus ikhlas demi Kaisar Samadi I bersedia ikut dengan Bupati Schweinsteiger, mereka adalah kakak-beradik Lillé dan kakaknya, Brucé. Karena keikhlasan mereka yang tulus membantu Kekaisaran Nusantara tanpa upah sedikitpun, Kaisar Samadi I mengeluarkan Dekrit Kaisar no. 34/XVI/1081 yang menyatakan bahwa desa mereka akan diberinama desa Tulus (sekarang Toulouse). Dari desa Tulus ke dusun Amsterdam, dusun milik Bangsa Hollandia, hanya sekitar 45 km ke arah barat daya (sekitar 2,5 mm menurut Dewa Sang Hyang Kersa. Target mereka bertiga adalah menemui kepala-kepala suku bangsa-bangsa di tanah Inferiorum dan memaksa mengajak mereka menandatangani nota penyerahan kedaulatan kepada Kekaisaran Nusantara. Kelima kepala suku yang juga menjabat sebagai kadus (kepala dusun) itu adalah:

Karena dari desa Tulus lebih dekat ke dusun Antswerp, maka target pertama adalah Bangsa Belgia. Kadus Willem Brussels menyambut ketiga utusan Nusantara ini dengan jamuan pesta rakyat voeldenpartije (volkspartij). Setelah berpesta, Bupati Schweinsteiger menyerahkan nota penyerahan kedaulatan untuk ditandatangani Kadus Brussels. Sang Kadus menerima dengan sukacita. Bagi Sang Kadus, Kaisar Theodorick III dan Imperium Romawi Kudus adalah entitas negara penjajah yang otoriter. Selama ini mereka diwajibkan menyetorkan pajak sebanyak 75% dari hasil total panen brambang. Dengan bergabung dengan Nusantara, mereka tidak perlu lagi menyetor hasil panen mereka, tapi diwajibkan bekerja sebagai buruh bakau kelak setelah seluruh tanah Inferiorum jatuh ke dalam kekuasaan Nusantara. Namun sebuah insiden terjadi, pasca penandatanganan nota penyerahan kedaulatan tsb, Kadus Brussels ditemukan tewas di Sungai Bruges. Diduga, Brussels dibunuh oleh seorang suku Flanders, salah satu suku mayoritas Bangsa Flemia yang memang berkonflik dengan Bangsa Belgia. Namun, suku Wallons (yang juga merupakan suku Bangsa Flemia) adalah pro-Bangsa Belgia. Bangsa Belgia dan suku Wallons menyatakan perang dengan suku Flanders. Suku Flanders mengirim 3500 pasukan, sementara Bangsa Belgia dan suku Wallons hanya mengirim 1500 pasukan. Karena kekurangan pasukan itulah, Kaisar Samadi I mengirim 7000 pasukan Bangsa Perancis dan 3000 pasukan Bangsa Bavaria dari kota Dortmund. Peperangan ini dimenangkan pihak pasukan Nusantara. Suku Flanders, atas nama Bangsa Flemia, menyatakan menyerah kepada Kekaisaran Nusantara. Kadus Zack Frister menandatangani nota penyerahan kedaulatan kepada Nusantara. Teritorial Kekaisaran Nusantara bertambah hingga ke utara Belgia. Kaisar Samadi I mengganti nama dusun Antswerp menjadi "Brussels" sebagai tanda jasa atas gugurnya Willem Brussels mempertahankan kedaulatan Nusantara.

Bangsa Hollandia dan Bangsa Frisia membentuk koalisi nasionalisme yang dinamakan "Republik Tanah Bawahan" (Lage Landen Republiek) di bawah kepemimpinan seorang tengkulak yang bernama Willem van Oranje. Van Oranje menyerbu dusun Brussels pada bulan Agustus 1081 dan menewaskan Bupati Schweinsteiger. Kaisar Samadi I akhirnya mengirim pasukan silat dari Bangsa Betawi sebanyak 20.000 pendekar silat aliran menyan yang dipimpin Bang Eep (rakyat Belgia mengenalnya sebagai "Bank Eelfen"). Bang Eep bersama pendekar-pendekar Betawi menyerbu dusun Amsterdam dan dusun Ljouvert-Leeauwarden, pasukan Republik Tanah Bawahan mundur sampai desa Limburg. Bang Eep menghabisi semuanya, termasuk Willem van Oranje. Semenjak itu, seluruh tanah Inferiorum jatuh ke tangan Kaisar Samadi I. Kehebatan abang-abang Betawi ini diakui oleh Bangsa Hollandia (Belanda) dengan nama legendaris: "De Batavische". Semenjak itu pula, banyak orang-orang Betawi yang diutus menjadi centeng-centeng di perkebunan bakau. Bahkan, abang-abang centeng Betawi ini bermukim di sebuah desa kecil yang di kemudian hari dikenal sebagai kota Berabang (sekarang Brabant).

Penaklukan Kerajaan Normandia dan Wangsa-wangsa Angles (Inggris) Sunting

Pulau Britain dihuni oleh 3 bangsa di selatan dan Bangsa Skotles di utara. Yang di selatan adalah:

  • Wangsa Normand, keturunan Bangsa Perancis, mereka memiliki kekuasaan, yaitu Kerajaan Normandia yang beribukota Lœndon (sekarang London) dan telah berkuasa lebih dari 100 tahun.
  • Bangsa-bangsa Angles atau yang lebih dikenal sebagai "Inggris" (English), keturunan suku Sachens (Saxon), salah satu suku Bangsa Jerman yang bermigrasi ke Pulau Britania dan menjadi warga negara Normandia.
  • Bangsa Wales (Welsh), bangsa pribumi di Britania Selatan.

Sementara di utara dikuasai oleh Bangsa Skotles dan mendirikan kerajaan kecil, Kerajaan Skotlandia. Bangsa Skotles memiliki 2 suku mayoritas:

  • Suku Gael (Gaelic/Gaelician), yang terdiri atas para negarawan dan orang bijak.
  • Suku Kelt (Celtic/Celtician), yang terdiri atas para narapidanawan dan orang kuat.

Sebelum kedatangan Kekaisaran Nusantara, Kerajaan Normandia sedang dalam kudeta yang dilakukan oleh 20 wangsa-wangsa Angles; yang terkenal adalah Wangsa Windsor, Wangsa Hannover, dan Wangsa Normand (ketiganya kelak menjadi Dinasti-dinasti Kerajaan Inggris pasca merdeka dari penjajahan Nusantara). Seorang pahlawan dari Wangsa Tudor, Henry VI of Tudor berhasil menguasai kota Lœndon sebelah timur pada tahun 987. Pemberontakan Angles melawan Normandia masih berlangsung hingga kedatangan pasukan Nusantara pada tahun 1088.

Pada tahun 1087, Kaisar Samadi I memerintahkan pembajakan terhadap semua kapal-kapal nelayan Normandia yang berlabuh di Pulau Amiland di wilayah Friesland. Hal itu disebabkan para nelayan Normandia mendarat di wilayahnya tanpa izin (tidak bayar bea masuk). Akhirnya, Raja John IV yang berkuasa atas Kerajaan Normandia mengirim 100 kapal-kapal perang ke Belanda. Namun, mereka dicegat dan dilucuti oleh pasukan Nusantara pada tahun 1088. Kapal-kapal rampasan Normandia ini dibajak oleh pasukan Nusantara dan berangkat ke Pulau Britania. Setibanya di Pelabuhan Porzəmøuþ (sekarang Portsmouth), pasukan Nusantara segera menyerbu Kastil Rökcæster (Rockchaster). Pasukan Nusantara berhasil menawan seorang bangsawan Cambridz (sekarang Cambridge), yaitu Welesley II (2nd Duke of Cambridge) dan memperkosa putrinya, Hellena of Cambridge. Raja John IV bergegas menurunkan 5000 pasukan Normandia ke Cambridz. Namun, baru saja keluar dari gerbang kota Lœndon, pasukan Nusantara sudah mengepung ibukota Normandia tsb. Raja John IV dibunuh dengan cara dicongkel bijinya. Anggota keluarga Wangsa Normand juga dibantai habis. Berita tewasnya Raja John IV disambut sukacita oleh Bangsa Angles. Di Cantæstūwn (Kantish Town), seluruh rakyat Angles mengadakan pawai meriah di jalan-jalan menuju alun-alun Lœndon pada pukul 09.00 malam. Namun di alun-alun Lœndon, mereka dihadang pasukan Nusantara. Bentrokan antara warga Cantæstūwn dengan pasukan Nusantara menewaskan lebih dari 58 warga sipil. Edward "The Longshank" (Edward si Jangkung) dari Wangsa Wessex mengesahkan dirinya sendiri sebagai raja pengganti Wangsa Normand, dan mengklaim berdirinya Kerajaan Inggris dengan "hak-hak kelayakan" (worth rights) sebagai penguasa Inggris adalah Wangsa Wessex, Wangsa Tudor, dan Wangsa Windsor. Sementara Wangsa Hannover melarikan diri ke tanah Denmark dan mentahbiskan wangsa mereka sebagai penguasa Kerajaan Denmark. Pengaruh politik Kerajaan Inggris semakin kuat ketika Wales memberi dukungan penuh atas Kerajaan Inggris.

Sikap Raja Edward The Longshank membuat muak Kaisar Samadi I. Sang Kaisar kemudian ke Kampung Inggris di kota Kediri untuk mempelajari Bahasa Inggris Kuno (Ænglisc Sprāk). Dalam waktu 3 bulan, Sang Kaisar sudah mahir berbahasa Inggris. Kemudian Kaisar Samadi I berangkat ke Pulau Britania untuk mengadakan pertemuan bilateral antara Kekaisaran Nusantara dengan Kerajaan Inggris. Bersama ketua MPK, Tora Sudiro, delegasi Nusantara yang dipimpin langsung oleh Kaisar Samadi I disambut di Istana Bāckənhæm (sekarang Buckingham Palace) bertemu dengan delegasi Inggris yang dipimpin Raja Edward The Longshank pada bulan Maret 1089. Agenda yang dibahas adalah:

  • Mengupayakan perdamaian dengan Kerajaan Inggris, sebagai bentuk solidaritas terhadap musuh bersama (common enemy), yaitu Wangsa Normand.
  • Mengupayakan agar Kerajaan Inggris menjadi satu-satunya negara sekutu Kekaisaran Nusantara di Eropa dengan status yang sama dengan Kekaisaran Tsar Rusia dan Kerajaan Gupta.
  • Mencapai kesetaraan dan pengertian antara Bangsa Angles dengan bangsa-bangsa Nusantara.

Kaisar Samadi I memang tidak berniat menaklukan Pulau Britania, karena musuh utama Kekaisaran Nusantara adalah Imperium Romawi Kudus yang masih bercokol di Eropa Timur. Sementara, baik Kerajaan Normandia maupun Kerajaan Inggris, keduanya bukan negara protektorat Imperium Romawi Kudus, karena berbeda agama (mazhab). Akan tetapi, Raja Edward The Longshank menilai bahwa Kaisar Samadi I adalah perusak persaudaraan antar ras Jermania, karena telah menaklukan Bangsa Bavaria, Bangsa Prussia, dan Bangsa Austria, juga Bangsa Belanda, Bangsa Perancis, Bangsa Frisia, Bangsa Flemia, dan Bangsa Belgia yang masih satu rumpun sesama Jermanik dengan Bangsa Angles. Seperti dijelaskan di atas, Bangsa Angles asal mulanya adalah suku Sachen, salah satu suku bangsa-bangsa Jerman. Namun Kaisar Samadi I sudah menyadari akan hal itu dan berusaha meyakinkan bahwa bangsa-bangsa Jerman hidup aman di dalam teritorial Nusantara.

Berikut adalah dialog antara Kaisar Samadi I dan Raja Edward The Longshank sebagaimana dikutip dalam serat kuno "Epic of Nusantara's Fellas" (1089) dengan menggunakan Bahasa Inggris Kuno:

S (Kaisar Samadi I)
E (Raja Edward The Longshank)

S: "Hū gǣþ?" (How are you?)
E: "ƿel, þancie" (Fine, thank you)
S: "Ic hātte Īmprēr Samadi I uic Nusantara" (I am Emperor Samadi I of Nusantara)
E: "Hū hātest asģ þūr fægēre nama? Wē adgærrēn nā þū!" (Who has asked your fucking name? We already know you!)
S: "Āmm gēcēa... œh kæģ. ƿel..." (Umm yeah... OK. Well...)
E: "Ēadig, þec tō de pœwānc! Wāc þūre þū wænniēt sprāken āvoc?" (Alright, let's to the point! What do you want to talk about?)
S: "Ēadig cō līcē.. ōþfensīcliģ æmē... Ic mœctē ūvercāse ūnscēren imperrœim land §u dīscātēre..." (Alright so like... obviously I'm.... I would like to discuss on our sharing empire's lands...)
E: "Bidde?" (Please?)<bt> S: "Hāþn sie ē'twæse māin if Ic dcīēse ōfsetlīt Lœndon þūre uc bēdē?" (Would you mind if I split this London for both of us?)
E: "Nætūrlīce gēcē, Ic wū! Lœndon is ūnsēre hēimland uc wīcæ sœnē sīt wærtēn þō sō lōnge uc tæce īt vōnō færm bēsc'hīce zūrūcþ Nōmāncē!!" (Of course yes, I would! London is my homeland of which we've been to wait so long to take it back from those shitty Normands!!)
S: "Dasar munyuk! Dikasih hati malah nolak!"
E: "Wæ??" (What??)
S: "Dasar munyuk mēnīcē þoū āp! Þoū māncēģ! Blæcēģ lic fægēre þū, Lōngesænce!!" (Dasar munyuk means you ape! You monkey! Simply like fuck you, Longshank!!)
E: "Wæ!! Hū dæren þū!"
S: "Bodo amat"

Lalu Kaisar Samadi I meninggalkan ruang pertemuan level kepala negara itu dan bersiap mendeklarasikan perang. Sore harinya, Sang Kaisar mengumumkan darurat militer menghabisi seluruh pasukan Inggris. Pasukan Nusantara bergerak cepat hingga esok harinya, Raja Edward The Longshank diringkus dan dipenjara di penjara bawah tanah. Sejumlah wangsa Angles menandatangani nota penyerahan kedaulatan kepada Kekaisaran Nusantara. Wangsa-wangsa Angles kemudian ditahbiskan menjadi dinasti-dinasti yang memiliki hak ikut serta dalam Pemilu Kaisar 1099.

Pembentukan Multi-Dinasti dan Dewan Kedinastian Sunting

Pada tahun 1091, MPK mengesahkan RUU Pemilu Kaisar (UU No. 12/VII/N.MPK/1091 tentang Pemilihan Umum Kaisar). Dalam UU tsb, tercantum konstitusi legislatif sbb:

  • Pemilu Kaisar adalah pemilihan umum nasional yang berlaku di seluruh wilayah Kekaisaran Nusantara untuk memilih Kaisar yang baru sebagai suksesor Kaisar incumbent.
  • Pemilu Kaisar diadakan selama 10 tahun sekali.
  • Hak memilih diberikan secara resmi dan utuh kepada seluruh warga negara Nusantara tanpa memandang suku, bangsa, ras, maupun benua.
  • Kandidat Kaisar haruslah dari Dinasti yang tercatat dalam "Disdincawan" (Dinas Kedinastian dan Pencatatan Bangsawan) yang telah terdaftar sebagai Anggota DK (Dewan Kedinastian).
  • Pendaftaran Dinasti dapat dilakukan selambat-lambatnya 10 hari sebelum Pemilu Kaisar diadakan.
  • Dinasti-dinasti yang berasal dari kepulauan Nusantara, dari Pulau Sumatra hingga Papua, diwajibkan menyandangkan titel "rajasa" di akhir nama Dinasti. Selain dari kepulauan Nusantara diizinkan menggunakan nama dari bahasa masing-masing.

Setelah UU Pemilu Kaisar ini disahkan, dalam kurun waktu 6 tahun (1091-1097) telah terdaftar Dinasti sbb (diurutkan berdasarkan wilayah yang ditaklukan pertama kali):

Penaklukan Bangsa Skotles Sunting

Bangsa Angles (Bahasa Inggris Kuno: Þē Ængliscēsē; Bahasa Inggris: The Englishman; Bahasa Indonesia: "Orang Inggris") di selatan Pulau Britania sejak dahulu sering berkonflik dengan Bangsa Skotles (Bahasa Skot: Skoaters; Bahasa Wales: Cu Skwyt; Bahasa Kelt: Brædmys; Bahasa Inggris: The Scots; Bahasa Indonesia: Orang Skot) di utara, bangsa pribumi Pulau Britania. Konflik tsb semakin memanas ketika Kerajaan Normandia berkuasa. Bangsa Skotles mendirikan kerajaan kecil yang disebut Kerajaan Skotlandia. Kerajaan ini dihegemoni oleh suku Gael (Gaelic) dan berbentuk kedusunan (dusun, atau disebut baile). Wangsa atau klan mayoritas Bangsa Skotles adalah:

Sementara suku Kelt (Celtic) dan suku Norn (Nornic) lebih suka menjadi pasukan daripada menjadi negarawan. Bangsa Skotles terkenal akan keragaman budaya dan keprimitifannya. Mereka juga memiliki 6 bahasa pribumi, padahal mereka tinggal di wilayah yang kecil di utara Pulau Britania. Keenam bahasa pribumi Bangsa Skotles adalah:

Ketika Bangsa Angles ditaklukan oleh Kekaisaran Nusantara, Bangsa Skotles menyambutnya dengan sukacita. Sejumlah bangsawan berkumpul di Baile Glaschu (Glasgow), yang merupakan ibudusun Kerajaan Skotlandia, dan berencana mengadakan pertemuan ningrat bersama Bangsa Inggris untuk berdamai, sementara itu Bangsa Irles dari Pulau Irlandia, menjadi moderator. Pertemuan ningrat pertama diadakan di kota Eabhraig (York) dan di kota An Caestheal Nuadh (Newcastle). Pertemuan pertama diadakan pada bulan Januari 1092 dan dihadiri oleh:

  • Delegasi Nusantara.
  • Delegasi Skotlandia.
    • Bangsa Skot: Wangsa MacDonmelt, Wangsa Fernchattan, dan Wangsa Huathoèe (Galloway).
  • Delegasi Irlandia selaku moderator.

Pertemuan ningrat pertama ini menghasilkan wacana perdamaian Skotles dan Angles di bawah kekuasaan Nusantara, bahwa Bangsa Skotles diupayakan untuk menyerahkan teritorial Kerajaan Skotlandia di utara milik mereka kepada Kekaisaran Nusantara. Proposal tsb sudah ditandatangani oleh Kaisar Samadi I dan sedang ditembuskan kepada Raja Alexander III (III Alasdair'), penguasa Skotlandia. Ketika membaca proposal tsb, Raja Alexander III menolak tunduk di bawah kekuasaan Nusantara. Pada pertemuan ningrat kedua yang diadakan di kota An Caestheal Nuadh, wangsa Skotles yang hadir hanyalah Wangsa Fernchattan. Sementara wangsa-wangsa yang lain telah menghimpun pasukan di kota Eabraigh. Kaisar Samadi I segera memerintahkan semua wangsa Inggris untuk menyerang kota Eabraigh karena secara de facto, kota itu di bawah teritori Nusantara yang dikuasai Wangsa Wessex, salah satu klan Inggris di sana. Bupati Māmecæstēr (Manchester), Sir Raleigh Lennon of Manchester diangkat menjadi Jenderal dan segera menghimpun pasukan Nusantara sebanyak 20.000 orang dari Bangsa Inggris, 15.000 sisanya dari Bangsa Wales. Sementara, Sir Uilliam Uallas (William Wallace of Aberdeen) dari Wangsa Chattan menghimpun pasukan Skotlandia sebanyak 30.000 dari suku Celtic dan 20.000 dari Bangsa Irlandia. Pertempuran terjadi di kota Eabraigh dan dimenangkan oleh Kerajaan Skotlandia.

Pasukan Skotlandia bergerak menuju kota Līþerpœdl (Liverpool) untuk menyerang Wangsa Wendall. Namun pasukan Nusantara di bawah kepemimpinan Jenderal Sir Raleigh Lennon menusuk pertahanan Skotlandia di jembatan Suirighlea untuk membantai Wangsa MacKenzie. Ketika dusun Suirighlea berhasil diambil alih oleh Nusantara, pasukan Skotlandia mundur ke dusun An Eaglais Bhreac untuk mempertahankan dusun Obar Dheathain yang merupakan markas Wangsa Chattan. Tujuan mereka adalah menangkap Jenderal Uilliam Uallas. Upaya tsb berhasil, Uilliam Uallas ditangkap dan dibawa ke kota Lœndon (London). Raja Alexander III menyerah dan menandatangani nota penyerahan kedaulatan Skotlandia kepada Nusantara di dusun Glaschu. Bangsa Skotles diasingkan di Danau Ness (Loch Ness) dan Kaisar Samadi I memerintahkan peng-"inggris"-an nama-nama dusun di Skotlandia. Dengan ini, lengkaplah sudah Eropa Barat jatuh ke dalam kekuasaan Nusantara.

Penyerahan Kedaulatan Imperium Romawi Kudus Sunting

Kaisar Samadi I mengultimatum Kaisar Theodoric IV, kaisar yang menguasai Imperium Romawi Kudus untuk menyerah, karena semua negara jajahannya sudah ditaklukan Kekaisaran Nusantara. Kaisar Samadi I berupaya mengambil jalan diplomatik karena sebentar lagi akan diadakan Pemilu Kaisar 1099 sehingga Sang Kaisar tidak mau ada wangsa-wangsa Eropa yang melakukan pencitraan politik untuk berkontribusi merebut Imperium Romawi Kudus. Kaisar Theodoric IV pun juga menyadari lemahnya kekuasaan negaranya, bahkan di kota Roma, ibukota Imperium Romawi Kudus, terjadi demonstrasi menuntut Kaisar Theodoric IV untuk menandatangani nota penyerahan kedaulatan kepada Nusantara. Jenderal Alessandro Rossoneri memaksa Kaisar Theodoric IV mengakui kedaulatan Nusantara atas tanah Italia dan Gallia. Karena desakan dari pejabat-pejabat Romawi Kudus, akhirnya Kaisar Theodoric IV terpaksa menandatangani nota penyerahan kedaulatan tsb pada tahun 1097. Namun selang 3 hari kemudian, bekas Kaisar Theodoric IV ditemukan tewas di kamar istananya sesaat setelah menenggak racun upas. Rupanya Theodoric IV bunuh diri sebagai bentuk penyesalan telah menyerahkan kedaulatan Imperium Romawi Kudus kepada Kekaisaran Nusantara. Kaisar Samadi I menyesalkan peristiwa ini dan meminta pejabat terkait untuk memakamkannya secara layak di kota Sainsbury, di Propinsi Bavaria. Peristiwa ini mengakhiri Ekspedisi Eropa.

Ekspedisi Skandinavia Sunting

Pada tahun 1098, Kekaisaran Nusantara sedang mempersiapkan Pemilu Kaisar 1099. Sejumlah Dinasti sudah mendaftarkan calon-calon Kaisar yang baru menggantikan Kaisar Samadi I. Namun di masa sibuk seperti itu, di Eropa Barat terjadi aksi-aksi begal yang meresahkan warga Skotlandia. Pembegalan tsb dilakukan oleh perompak-perompak Bangsa Viking, salah satu bangsa dari ras Norse atau Nordik, yang merupakan rumpun Bangsa Skandinavia. Untuk meredakan kekacauan, pasukan Nusantara melakukan penjagaan di sekitar Selat Norwegia untuk merazia setiap kapal yang lewat.

Penaklukan Viking di Denmark Sunting

Dalam razia yang dilakukan sebagai antisipasi pembegalan kapal di wilayah Eropa Utara, pasukan Nusantara menangkap sejumlah kapal yang diduga kapal milik Bangsa Viking. Mendengar aksi penangkapan ini, Raja Hrothgar, raja yang berkuasa di Kerajaan Skandinavia, mengirim surat kepada Kaisar Samadi I untuk melepaskan kapal-kapal Viking yang ditangkap. Pimpinan Viking, Beowulf juga mengirim surat yang sama kepada Kaisar Samadi I. Namun, Beowulf mengancam Kaisar Samadi I apabila Sang Kaisar tidak mau melepaskan kapal-kapal Viking, maka Bangsa Viking akan menyerbu kota-kota yang dikuasai Nusantara. Ancaman Beowulf bukan ancaman sembarangan mengingat Bangsa Viking adalah bangsa barbar penguasa maritim Eropa. Kaisar Samadi I memerintahkan sejumlah bupati dan wangsa-wangsa Eropa untuk menyusun strategi mengantisipasi serbuan Viking. Sementara itu, Kaisar Samadi I sibuk berkampanye ke sejumlah wilayah, seperti ke Cina, ke Mesir, dan ke Turki sebagai persiapan Pemilu Kaisar 1099. Karena sikap Kaisar Samadi I yang lebih mementingkan pengukuhan politik menjelang Pemilu Kaisar 1099, MPK memutuskan untuk melarang Dinasti Samadirajasa untuk ikut-serta dalam Pemilu Kaisar 1099. Kaisar Samadi I kecewa dan mengadakan mogok kerja sebagai Kaisar. Sikap kekanak-kanakan Kaisar Samadi I ini dikecam oleh seorang bangsawan yang juga merupakan salah satu calon Kaisar dari Dinasti Cakrarajasa perwakilan dari Bangsa Jawa, yaitu Adipati Cakraningrat Ismailsyah V. Kebetulan Adipati Cakraningrat V sedang melawat ke kota Berlin dalam rangka kampanye politiknya dan langsung menyusun kekuatan dari simpatisannya untuk menyerang Bangsa Viking yang rencananya akan menyerbu kota Warsawa.

Dalam pertempuran di Selat Norwegia, pasukan Cakraningrat V berhasil menangkap gembong Viking, Beowulf. Beowulf dibawa ke kota Jayakarta dan diserahkan kepada MPK. Kemudian Beowulf dipenjara di kamp Nusakambangan di Jawa Selatan. Adipati Cakraningrat V memperoleh medali bintang kejora sebagai jasa menumpas pengacau Bangsa Viking. Akhirnya, pada Pemilu Kaisar 1099, Adipati Cakraningrat V memperoleh kemenangan dengan persentase suara sebanyak 13%. Suara terbanyak kedua adalah Adipati Nainggolan III dari Dinasti Nainggolanrajasa perwakilan Bangsa Batak dengan persentase suara sebanyak 11%. Dan sisanya rata-rata memperoleh persentase suara sebanyak 1% saja.

Penaklukan Nördmen Sunting

Pada tahun 1100, Kaisar Samadi I masih bersikukuh melakukan mogok kerja sebagai Kaisar lantaran Dinasti Samadirajasa dilarang ikut-serta oleh MPK dalam Pemilu Kaisar 1099. Sementara Adipati Cakraningrat V, pemenang Pemilu Kaisar 1099, diberi mandat kepemerintahan sampai pelantikan dirinya nanti pada tahun 1100. Selama 1 tahun itu, mandat kepemerintahan diemban Adipati Cakraningrat V dan agenda Sang Adipati adalah menaklukan Bangsa Nördmen yang bercokol di tanah Denmark.

Namun, rupanya Beowulf, mantan pemimpin Bangsa Viking kabur dari Nusakambangan dan bersembunyi di kawasan Timor. Bupati Dili, Agustin Timaeus, segera memerintahkan penangkapan Beowulf. Sementara itu, Laufey, pemimpin Bangsa Nördmen, menyerang Bulgaria dengan alasan bahwa Bangsa Bulgar adalah salah satu ras Bangsa Skandinavia yang harus dibebaskan dari cengkraman Nusantara. Sayangnya, Bangsa Bulgar merupakan loyalis Nusantara. Mereka berhasil menangkap Laufey. Bangsa Timor juga berhasil menangkap Beowulf. Atas jasa kedua bangsa ini, Adipati Cakraningrat V menganugerahi Siþurgssøn dari Bangsa Bulgar dan Agustin Timaeus dari Bangsa Timor berupa lencana perunggu.

Penaklukan Viking di Swedia Sunting

Pada tahun 1100, Adipati Cakraningrat V dari Dinasti Cakrarajasa dilantik menjadi Kaisar yang baru. Kaisar Samadi I menolak menandatangani nota penyerahan mandat Kekaisaran tsb. Sebagai akibatnya, bekas Kaisar Samadi I dipenjara di kamp Cibubur. Sementara itu, Kaisar Cakraningrat V menghapus Dinasti Samadirajasa dari daftar kandidat Pemilu Kaisar 1011 mendatang.

Kaisar Cakraningrat V mendapat surat dari Leowulf, putra dari Beowulf, bekas pemimpin Bangsa Viking, berupa surat ancaman bahwa seorang bangsawati dari Dinasti Hannover, Putri Edessa of Copenhagen diculik. Leowulf meminta tebusan berupa 300 kg emas dan pembebasan ayahnya, Beowulf. Pada mulanya, Kaisar Cakraningrat V tidak peduli, dia menyerahkan urusan ini kepada Bupati København, Adipati Maurice von Heßling, untuk menyelesaikan masalah ini, tanpa perlu membebaskan Beowulf. Namun, pasukan Nusantara di Denmark diserang 150.000 Bangsa Viking dan kota København diambil alih oleh Bangsa Viking. Bahkan, Adipati Maurice von Heßling dipenggal oleh mereka dan kepalanya dijadikan sepakbola. Mendengar berita ini, Kaisar Cakraningrat V memerintahkan Jenderal Sir John Lennon dari Līþerpœdl (Liverpool) untuk melakukan mobilisasi umum membantai habis Bangsa Viking. Genosida Bangsa Viking dilakukan di setiap daerah di daerah Swedia dan Leowulf pun berhasil ditangkap. Leowulf dibawa ke Nusakambangan dan bertemu dengan ayahnya, Beowulf, di sana.

Penaklukan Kerajaan Skandinavia Sunting

Mendengar aksi-aksi mobilisasi brutal Kekaisaran Nusantara kepada Bangsa Viking dan Nördmen, atas nama Bangsa-bangsa Nordik, Raja Hrothgar, raja yang berkuasa di Kerajaan Skandinavia, mendeklarasikan perang terhadap Kekaisaran Nusantara. Sebanyak 500.000 pasukan Skandinavia dan 80.000 kapal disiapkan di perairan Norwegia dan Swedia. Raja Hrothgar mengancam akan menghabisi seluruh ras Eropa dan memurnikan ras Skandinavia di Eropa. Kegilaan Raja Hrothgar ini membuat Kaisar Cakraningrat V gusar. Sang Kaisar mengutus putranya, Pangeran Cakraningrat VI, yang sedang kuliah di Oxford, untuk membentuk pasukan aliansi persaudaraan Bangsa-Bangsa Eropa. Aliansi ini kemudian dinamakan Nusantara of European Union (NEU). NEU mengadakan sidang luar biasa di kota Brussels dan mengeluarkan fatwa sbb:

  • Bangsa-bangsa Eropa diharamkan berperang satu sama lain.
  • Bangsa-bangsa Eropa diharamkan bersekutu dengan Raja Hrothgar.
  • Raja Hrothgar dihalalkan darahnya.

Fatwa NEU ini membuat Raja Hrothgar semakin marah. Pada tahun 1118, pasukan Skandinavia sudah mendarat di Denmark, Jerman, Belanda, dan Inggris. NEU mengirim pasukan-pasukan defensif ke pesisir barat pantai Eropa. Pertempuran besar terjadi selama 8 bulan. Dalam pertempuran itu, rata-rata dimenangkan oleh pasukan Skandinavia. Rupanya, kekuatan mereka berasal dari Dewa Thor dan Dewa Odin yang menjadi sesembahan bangsa-bangsa Skandinavia. Akhirnya, atas nama Dewa Sang Hyang Kersa, Kaisar Cakraningrat V berhasil menyantet Dewa Thor dan Dewa Odin dengan kesaktian menyan Kaisar di Menara Peninsula, Jayakarta. Tak lama setelah penyantetan kedua Dewa tsb, pasukan Skandinavia berhasil dilumpuhkan di setiap daerah. Kota Oslo di Norwegia, kota Helsinki di Finlandia, dan kota Stockholm di Swedia berhasil ditaklukan. Raja Hrothgar ditangkap oleh pasukan Rusia setelah kabur selama 3 bulan menjadi imigran gelap ke Kekaisaran Tsar Rusia. Peristiwa ini menandai berakhirnya ekspedisi-ekspedisi penaklukan Kekaisaran Nusantara yang berlangsung berabad-abad dari tahun 310 sampai 1119. Kaisar/Sultan Cakraningrat V mengangkat Asbjörn sebagai Bupati Oslo, Grim sebagai Bupati Sogn, Hjørr sebagai Bupati Helsinki, dan Gunnar (Heimdall) sebagai Bupati Stockholm.

Kegagalan Penaklukan Amerika Sunting

Pada Tahun 1240, Kaisar Cakraningrat V melanjutkan ekspedisinya ke Aztec, yang berada di Meksiko. Raja Aztec, Tezcatlipoca & Pangeran Montezuma sudah mengetahui Hal itu dari Pendeta-Pendetanya. Kemudian Tezcatlipoca menyatakan bahwa Cakraningrat harus dikorbankan didepan Piramid Aztek. Kemudian Kaisar Samadi II, memanfaatkan Hal ini dengan baik-baik & mengutus 5000 Kapal yang berisi Suku Dayak, Sunda, Batak, Arab, Cina & Viking dari Pelabuhan Jayakarta ke India lalu mengarungi Distrik Misri, Mediterania & Langsung melakukan serangan tak terbatas, agar Samadi I mendapat pujian & melenggang menjadi Kaisar tanpa pemilihan. Kemudian Rupanya, Tezcatlipoca telah menyediakan Ranjau Anti-Menyan Dan Penghisap di Atlantik. Akhirnya 5000 Kapal itu terhisap & jatuh dari awan ke tanah yang bernama Mexico City. Akhirnya terjadilah Tawuran, 5000000 orang Nusantara tewas, & diculik, dibawa ke Piramid & dikurbankan kepada Dewa Matahari. Kaisar Cakraningrat V yang mengetahui itu menghukum Samadi I & menutup berita itu rapat-rapat.

Demografi Sunting

Wilayah Administratif Sunting

Jayakarta3

Ibukota Jayakarta (Propinsi Utama Jayakarta Raya), direkonstruksi oleh Fakultas Arkeologi dan Imajinasi, Universitas Gendeng Indonesia (FAI-UGI).

Mangkasarak

Kota Mangkasarak (Propinsi Bugisa).

Songkhla

Reruntuhan kota Songkhla (Propinsi Bugisa).

Pasig

Reruntuhan kota Pasig (Propinsi Kampangpasan).

Hongkong

Kota Hong Kong (Propinsi Hong Kong).

Izmir

Kota Izmir (Propinsi Turki Raya).

Madrid

Bekas Istana Bassilica di kota Madrid (Propinsi Spanyol).

London

Pengepungan Istana Buckingham oleh pasukan Nusantara di kota London (Propinsi Angles).

Distrik Jawa

Distrik Nusa Tenggara

Distrik Irian

Distrik Maluku

Distrik Sulawesi

Distrik Kalimantan

Distrik Sumatra

Distrik Malaya

Distrik Thai

Distrik Kamboja

Distrik Champa

Distrik Luzon

Distrik Mindanao

Distrik Myan Mar

Distrik Niang Wu

Distrik Man Chu

Distrik Joseon

Distrik Nippon

Distrik Persia

Distrik Arabia

Distrik Syria

Distrik Mesria

Distrik Kaspia

Distrik Iberia

Distrik Francia

Distrik Hollandia

Distrik Britania

Distrik Gallia

Distrik Italia

Distrik Skandinavia

Ibukota Jayakarta Sunting

Jayakarta1

Pembangunan jembatan Gapura Surya di Jayakarta yang melintasi Sungai Ciliwung di masa pemerintahan Kaisar Utina II (788-824).

Jayakarta2

Kota Jayakarta tahun 1363 di masa pemerintahan Kaisar Dhani I (1350-1399), difoto dari Istana Garuda.

Setelah jatuhnya kekuasaan Kerajaan Pajajaran pada tahun 310, kota Sunda Kelapa menjadi ibukota Kekaisaran Nusantara dan berganti nama menjadi Jayakarta (kelak menjadi Jakarta, ibukota Indonesia. Kota Jayakarta pada mulanya hanya pemukiman pasar pedagang buah, ikan, dan sayuran. Di bawah kekuasaan Kaisar Suryawarman (442-590), kota Jayakarta berkembang pesat yang diawali di bagian barat, yaitu Tangerang dan Jonggol. Sebuah permukiman yang dikenal dengan nama Majupura berkembang di pusat (sekarang Menteng. Di lokasi ini, beragam suku-bangsa mendiami pesisir Sungai Ciliwung pada abad ke-5, seperti Bangsa Jawa, Sunda, Batak, Maluku, Viet, dan Filipina. Jayakata berulang kali menjadi target penyerangan berbagai negara di masa lampau, namun semua gagal karena Kaisar Suryajaya (590-671) membangun menara tertinggi di Jayakarta, yaitu Menara Peninsula yang berbentuk segitiga fraktal yang simetris sebanyak 8 cabang. Lambat laun kota Jayakarta menjadi semakin maju dan megah, menjadikannya kota terbesar di Asia. Setelah penaklukan Eropa di abad belasan, Jayakarta menjadi kota terbesar dan pusat perdagangan terpenting di Dunia Gendeng. Hingga pada abad ke 15, Bangsa Jerman membangun kota Berlin yang arsitektur kotanya meniru kota Jayakarta.

Jayakarta3

Pemandangan ibukota Jayakarta pada tahun 1315, Istana Garuda berdiri megah di tengah kota dengan latar belakang Pegunungan Salak.

Pada abad ke-5, Kaisar Utina II (788-824) membangun Istana Kaisar yang disebut Istana Garuda di distrik Baturaya (sekarang Tanah Abang). Sebuah kawasan kediaman Kaisar yang terletak tidak jauh ke hulu Sungai Cisadane dari Bekasi di timur Jayakarta, Kaisar Utina II juga membangun jembatan langsung menuju Pelabuhan Tanjung Priok, pelabuhan militer terbesar di dunia masa lampau dalam fantasiku. Jembatan ini disebut Gapura Surya yang menjadi gerbang masuk kota Jayakarta. Selama Periode Dewan Kedinastian, gelombang reformasi yang terjadi di berbagai wilayah jajahan Nusantara menyebabkan ketidakstabilan perpolitikan Kekaisaran Nusantara. Sebagian besar perusahaan di Jayakarta yang sebelumnya milik negara diperjual-belikan sejumlah cukong dari Filipina sehingga pada tahun 1129, sejumlah harga saham turun drastis. Kaisar Matulessi I (1122-1138) membuka jalur teleportasi dari Jayakarta ke setiap wilayah jajahannya di Asia, Timur Tengah, dan Eropa.
Jayakarta4

Reruntuhan kota Jayakarta pasca meledaknya bom atom milik pasukan pemberontak Republik Indonesia dan menewaskan Kaisar Lunggana III (1944-1945), pasukan Indonesia sedang menyisir sisa-sisa pejabat Nusantara yang masih hidup. Pasca pengeboman Jayakarta, Presiden Sukarno (1945-1969) mengganti nama Jayakarta menjadi Jakarta.

Hal ini menyebabkan banyaknya imigran Eropa yang bertransmigrasi ke Jayakarta, seperti Bangsa Inggris, Bangsa Denmark, dan Bangsa Belanda. Untuk menanggulangi ledakan penduduk, Adipati Charlotte II memutuskan untuk menahan laju telemigrasi bangsanya, Bangsa Inggris, dengan menutup akses jalur teleportasi. Berkat jasanya itu, Adipati Charlotte II menjadi Kaisar Nusantara pertama yang berdarah Eropa. Di abad ke-17, jembatan Gapura Surya rusak akibat terjangan tsunami akibat Pemberontakan Skandinavia (Ragnarök) pada tahun 1700an ketika Bangsa Viking berhasil mereplikasi menyan milik Kaisar Irama VII (1678-1718). Semenjak itu, Jayakarta berangsur-angsur rusak dan semakin terpuruk akibat Pemberontakan Nasionalis Indonesia pada tahun 1945 yang dipimpin oleh Sukarno dan Mohammad Hatta (Hatta V) yang merupakan mantan Kaisar Nusantara yang menjabat selama 1,5 bulan saja pada tahun 1923.
Penyusunan Teks Proklamasi

Soekarno, Mohammad Hatta, Sultan Syahrir IV sedang merancang Teks Proklamasi Revolusi Merdeka Melawan Nusantara. Teruskan Bung Karno!! ALLAHU AKBAR! RABBANA ATIINA FIDUNYA HASANAH WAFILL AL AKHIROTI HASANAH WAKIINA AZABAANAR- Doa di uang 5000 tahun 1980. Gambar ini besar karena kami para pengedit diperintah lewat amanat BUNG KARNO untuk memperbesar gambar ini.

Pada tanggal 10 November 1945, kota Jayakarta diserbu oleh pasukan Sukarno-Hatta yang menyebut diri mereka "Tentara Rakyat Indonesia" (TRI). Pertempuran yang disebut Perang Lima Hari itu berlangsung di berbagai kawasan di Jayakarta. Pasukan Indonesia mendapat bantuan dari Amerika Serikat berupa bom atom 4 buah. Sejumlah awak pesawat Indonesia mengepung Istana Garuda selama 30 menit. Dalam pengepungan itu, Adam Malik memaksa Kaisar Lunggana III (1944-1945) untuk mundur sesuai perintah pimpinan nasionalis Republik Indonesia, Presiden Sukarno (1945-1969). Kaisar Lunggana III menolak mundur, bahkan Sang Kaisar menembakkan menyan pemusnah massal ke arah pesawat Jet F-20 yang dipiloti Amir Syarifuddin. Rupanya, pesawat itulah yang membawa bom atom dari Amerika Serikat sehingga setelah ditembakkan ke arah pesawat tsb, pesawat tsb jatuh tepat di halaman Istana Garuda dan meledak. Ledakannya menghancurkan kota Jayakarta sepanjang radius 300 km, kota Jayakarta hancur seketika. Kaisar Lunggana III tewas di tempat. Pasca penghancuran kota Jayakarta, Presiden Sukarno memerintahkan pembangunan Monumen Nasional (Monas) di atas bekas komplek Istana Garuda. Pada tanggal 1 Januari 1946, Presiden Sukarno menyatakan dalam Dekrit Presiden No. 2/1946 bahwa kota Jayakarta diganti namanya menjadi Jakarta namun statusnya tetap sama seperti Jayakarta, yaitu sebagai ibukota negara Republik Indonesia.

Nusantara di Nusantara Sunting

Kebangkitan Nusantara telah diramalkan dalam beberapa babad dan serat, di antaranya di Jawa, Nusantara telah diramalkan dalam Serat Pararaton dan Babad Tanah Jawi. Di Bali, kedatangan Nusantara mempersatukan seluruh pulau diramalkan dalam Kitab Tantra Bali. Orang Minangkabau dan Batak telah meramalkan bersatunya Nusantara dalam Sastra Saruwasa dan Sastra Parmalim. Di Ambon, Raja Pattimura dari Maluku telah meramalkan menyatunya Kepulauan Maluku dengan Nusantara dalam Sabda Wetter Luang. Sementara itu, orang Melayu Kalimantan bersama orang Dayak memiliki tugu bernama Dwipantara dimana tugu itu memiliki relief pahatan pulau-pulau Swarnadwipa (Sumatra) sampai dengan Papuadwipa (Papua). Jadi, bersatunya Nusantara telah dinubuatkan oleh seluruh leluhur masyarakat Nusantara dan merupakan keagungan puncak bagi masyarakat Nusantara.

Semenjak Kaisar Utina II mendeklarasikan hari persatuan tanggal 22 Oktober 975, seluruh masyarakat Nusantara bersatu padu membangun dunia gendeng. Beribu-ribu warga bermigrasi antar pulau tiap tahunnya sehingga meningkatkan populasi tahun 1065. Meskipun jumlah penduduk Nusantara berdarah Jawa adalah yang paling banyak (mayoritas), namun jika digabung seluruh bangsa Nusantara (kecuali Jawa), maka populasi mereka jauh lebih banyak daripada Jawa. Terdapat beberapa konflik internal yang melibatkan SARA terjadi selama kurun waktu 1111-1222 akibat keinginan bangsa yang satu memperbudak bangsa yang lain. Namun berkat kedatangan orang Belanda dan Jerman tahun 1223, konflik itu berbuah damai karena masyarakat Nusantara tahu bahwa mereka seharusnya memperbudak bangsa Eropa. Sejak tahun 1223 sampai dengan 1945, orang Belanda sudah terbiasa menjadi babu, jongos, dan centeng bagi tuan-tuan tanah Nusantara.

Pada tanggal 30 September 1930, Sukarno yang baru lulus kuliah di Universitas Leiden, Belanda, pulang ke Jawa. Karena di Eropa sedang berkecamuk politik aliran sesat nasionalisme, maka Sukarno terkena wabah aliran sesat tsb dan mempropagandakan kemerdekaan. Bahkan Sukarno mengganti ejaan namanya yang murni Jawa menjadi ejaan Belanda, yaitu Soekarno dan menggunakan gelar Belanda Ingineur yang artinya teknisi (insinyur). Sukarno bersama bekas Kaisar Hatta IX memproklamasikan berdirinya Indonesia menggantikan Nusantara tanggal 17 Agustus 1945 dan memulai kudeta terhadap Dinasti Lungganarajasa.

Nusantara di Asia Tenggara Sunting

Nusantara di Asia Sunting

Nusantara di Timur Tengah Sunting

Nusantara di Eropa Barat Sunting

Nusantara di Eropa Utara Sunting

Politik Sunting

Kekaisaran Nusantara menggunakan sistem pemerintahan monarki komplementer yang termasuk bagian dari semi-demokrasi dimana jabatan seorang Kaisar dipilih oleh rakyat tanpa diskriminasi. Namun sistem ini baru secara de jure diadopsi tahun 1099 yang ditandai Pemilu Kaisar I meskipun sebelumnya pada tahun 964, Patih Saputra I sudah membentuk semacam dewan legislatif yang dinamakan Tim Luar Biasa (cikal-bakal Majelis Permusyawaratan Kaisar) di bawah pemerintahan Kaisar Utina V. Pada mulanya tim ini dibentuk karena sejumlah pejabat Nusantara gusar karena kezaliman dan kelaliman Kaisar Utina V. Namun ternyata Tim Luar Biasa keterusan mengintervensi Pemerintahan sehingga mau tidak mau akhirnya sistem ini disahkan oleh Kaisar Samadi I.

Pemilu Kaisar Sunting

Setidaknya ada Pemilu Kaisar yang dilaksanakan selama Kekaisaran Nusantara eksis. Berikut adalah daftar Pemilu Kaisar dan hasil quick count yang dilakukan oleh Majelis Permusyaratan Kaisar (MPK) sbb:

Pemilu Dinasti (hanya Dinasti dari tanah air saja (Sumatra hingga Papua) yang boleh berpartisipasi dalam Pemilu berdasarkan keputusan MPK, UU no. 234/VII/1199). Mulai tahun 1200, dibuat Sistem kepemerintahan Perdana Menteri. Ini saran dari seorang filsuf inggris, John Lucke. Perdana Menteri/Wazir pertama yang dipilih adalah Muhammad Ali Al-Mamaliki, tapi di Tahun 1205, dia meninggal dan digantikan Patar Siregar dari Batak. Pada Tahun 1205, MPK mengesahkan jabatan wakil perdana menteri. Wakil PM pertama adalah Nowela Nawipa dari Papua.

Sistem Pemilu dihapus berdasarkan keputusan MPK, UU no. 666/XIX/1759; Dinasti Obamarajasa dan Dinasti Hattarajasa ditahbiskan MPK sebagai dua dinasti yang sah.

Sistem Kadinastian (Earldom) Sunting

Sistem Kadinastian (Earldom) sebenarnya sudah dipakai sejak Kaisar Suryawijaya (310-412), Kaisar Pertama Nusantara berkuasa. Kaisar Suryawijaya sendirilah yang mendirikan Dinasti Suryarajasa, Dinasti yang menyokong dirinya. Intrik-intrik politik dalam negeri menyebabkan munculnya dinasti-dinasti lain yang berkuasa. Untuk menjaga stabilitas nasional, Majelis Permusyawaratan Kaisar (MPK) mengeluarkan kebijakan konstitusional yang mengatur dinasti-dinasti di Nusantara. Sejumlah klan atau wangsa asing (seperti di Eropa) disederajatkan dengan dinasti. Wangsa-wangsa Eropa yang sudah resmi menjadi dinasti diberi hak multinasional sehingga dapat berkuasa lintas propinsi/daerah, seperti Dinasti Habsburg of Bavaria dari Bangsa Bavaria mendapat hak multinasional atas Spanyol. Sedangkan dinasti-dinasti pribumi Nusantara diwajibkan memakai gelar bawaan "rajasa" yang secara literal artinya: "raja-raja" atau "para raja". Berikut ini adalah daftar dinasti-dinasti yang pernah eksis dalam percaturan politik Kekaisaran Nusantara dari berbagai bangsa di berbagai belahan dunia gendeng:

Sistem Kadipatenan (Dukedom) Sunting

Majelis Permusyawaratan Kaisar Sunting

Daftar Kaisar-kaisar Nusantara Sunting

Dinasti Suryarajasa Sunting

No Potret Nama Asli
(Masa Jabatan)
Dinasti
(Bangsa)
Ratu
(Putra Mahkota)
Gelar Patih
1 Suryawijaya
Suryawijaya
Ki Surya Tapa
(310-442)
Suryarajasa
(Nusantara)
Ratu Seruni
(Pangeran Suryawarman)
Sri Baginda Maharaja Kaisar Suryawijaya Sang Rakai Pamangkutahta Jagad Semesta Raya Belum ada
2 Suryawarman Kencana
Suryawarman
Ki Ageng Surya
(442-590)
Suryarajasa
(Nusantara)
Ratu Srikandi
(Pangeran Suryajaya)
Sri Baginda Maharaja Kaisar Suryawarman Sang Rakai Pamangkunegara Nusantara Raya Belum ada
3 Prabu Siliwangi Portrait
Suryajaya
Ki Bagus Ageng
(590-671)
Suryarajasa
(Nusantara)
Ratu Dewi Kunti
(Pangeran Suryabhumi)
Sri Baginda Maharaja Kaisar Suryajaya Sang Rakyan Pamangkubhumi Nusantara Raya Teja Atmajaya dari Sunda
4 Suryanegara
Suryanegara
Ki Sambung Bagus
(671-701)
Suryarajasa
(Nusantara)
Ratu Dewi Setyawati
(Pangeran Suryakusuma)
Sri Baginda Maharaja Kaisar Suryanegara Sang Rakyan Pamangkunegara Nusantara Raya jabatan dihapus

Dinasti Utinarajasa Sunting

No Potret Nama Asli
(Masa Jabatan)
Dinasti
(Bangsa)
Ratu
(Putra Mahkota)
Gelar Patih
5 Utina 1
Utina I
Gesang Rajawali
(701-788)
Utinarajasa
(Palembang)
Ratu Sari Ratu
(Pangeran Utina II)
Sri Baginda Maharaja Kaisar Eka Utina (Utina I) Belum ada
6 Utina 2
Utina II
Garda Garuda
(788-824)
Utinarajasa
(Palembang)
Ratu Suhita Wardhani
(Pangeran Utina III)
Sri Baginda Maharaja Kaisar Dwi Utina (Utina II) Belum ada
7 Utina 4
Utina III
Kaban Elang
(824-825)
Utinarajasa
(Palembang)
Tidak ada Sri Baginda Maharaja Kaisar Tri Utina (Utina III) Belum ada
8 Utina 3
Utina IV
Kabayan Elang
(825-878)
Utinarajasa
(Palembang)
Ratu Rima Dwitunggadewi
(Pangeran Utina V)
Sri Baginda Maharaja Kaisar Catur Utina (Utina IV) Belum ada
9 Utina5
Utina V
Hajir Kenari
(878-965)
Utinarajasa
(Palembang)
Ratu Harita Dara
(Tidak ada)
Sri Baginda Maharaja Kaisar Panca Utina (Utina V) Belum ada
10 Suhita
Tina
Harita Dara
(965-1010)
Utinarajasa
(Palembang)
Pangeran Utina V
(Tidak ada)
Sri Baginda Maharatu Kaisar Tina Ratu Pratiwi Belum ada

Dinasti Saputrarajasa Sunting

No Potret Nama Asli
(Masa Jabatan)
Dinasti
(Bangsa)
Ratu
(Putra Mahkota)
Gelar Patih
11 Saputra
Saputra I
Aan Saputra
(1010-1050)
Saputrarajasa
(Betawi)
Ratu Ulfa Rohayah
(Permaisuri Saputri I)
Sri Baginda Maharaja Kaisar Hyang Saputra Atu
(Saputra I)
Belum ada
12 Saputri
Saputri I
Ulfa Rohayah
(1050-1060)
Saputrarajasa
(Betawi)
eks Kaisar Saputra I
(Pangeran Saputra II)
Sri Baginda Maharaja Kaisar Nyai Saputri Atu
(Saputri I)
Belum ada
13 Saputra
Saputra II
Maman Saputra
(1060-1070)
Saputrarajasa
(Betawi)
Ratu Nyai Dasimah
(Pangeran Saputra III)
Sri Baginda Maharaja Kaisar Hyang Saputra Due
(Saputra II)
Belum ada

Dewan Kadinastian (Jilid I) Sunting

No Potret Nama Asli
(Masa Jabatan)
Dinasti
(Bangsa)
Ratu
(Putra Mahkota)
Gelar Patih
14 Samadi
Samadi I
Abraham Samad
(1070-1101)
Samadirajasa
(Betawi)
Ratu Mpu Lelah
(Tidak ada)
Sri Baginda Maharaja Kaisar Hyang Samadi Atu (Samadi I) Belum ada
15 Cakraningrat
Cakraningrat V
Raden Mas Harya
(1101-1122)
Cakrarajasa
(Jawa)
Ratu Ayu Dyah Nawangsari
(Pangeran Amangkurat I)
Sri Baginda Maharaja Panembahan Senopati Cokroningrat (Cakraningrat V) Belum ada
16 Samyukta
Putri Milea
Milea Br. Sihombing
(1122-1123)
Non-Dinasti
(Batak)
Mangara Sirajagukguk
(Tidak ada)
Sri Baginda Maharatu Milea Boru Sihombing (Putri Milea) Belum ada
17 Matulessi
Matulessi II
Thomas Matius Matulessi
(1123-1138)
Maturajasa
(Maluku)
Ratu Sarah Ardhelia Toar
(Si Kembar Pangeran Matulessi III dan IV)
Sri Baginda Maharaja Pattimura Matulessi (Matulessi II) Belum ada
18 Charles
Charles VII
Charles Brandon Pilkington Windsor
(1138-1143)
Windsor
(Inggris)
Ratu Anne II
(Pangeran Charles VIII)
Sri Baginda Maharaja Seventh Charles "The Bule" of Windsor (Charles VII) Patih Bujana IV dari Bali (1140-1142)
Patih Sahilatua I dari Maluku (1143)
19 Willem
Willem III
Willem Frederik Daendels van Oranje
(1143-1173)
Oranje
(Belanda)
Ratu Marianne
(Pangeran Willem IV)
Sri Baginda Maharaja Derde Willem
"de Nassau" Van Oranje (Willem III)
Patih Arjen Robben dari Belanda (1143-1163)
Patih Rafael van der Vaart dari Belanda (1163-1172)
Patih Frederik I dari Denmark (1172-1173)
20 Frederick
Frederik I
Søren Frederik Kierkegaard
(1173-1175)
Oldenburg
(Denmark)
Ratu Eleonora
(Pangeran Ulrik Christien Gyldenløve)
Sri Baginda Maharaja Først Frederik af fra Oudenbergh
(Frederik I)
Patih Murad IV dari Turki (1173-1175)
21 Arab
Al-Bakhil II
Dajjaluddin Al-Bakhil
(1175-1188)
Bakhiliyah
(Arab)
Ratu Siddi Ayesha
(Pangeran Al-Bakhil III)
Sri Baginda Maharaja Khalifah Dajjaluddin Sultan Al-Bakhil Al-Itsnaini Al-Jahimi
(Al-Bakhil II)
Patih Arwana I dari Jawa (1175-1188)
22 Arwana
Arwana I
Raden Mas Tukul Arwana
(1188-1201)
Arwanarajasa
(Jawa)
Ratu Ayu Vega Darwanti
(Pangeran Arwana II)
Sri Baginda Maharaja Kaisar Susuhunan Agung Arwana Amangkubhumi Patih Xu dari Cina (1188-1201)

Dinasti Arwanarajasa Sunting

No Potret Nama Asli
(Masa Jabatan)
Dinasti
(Bangsa)
Ratu
(Putra Mahkota)
Gelar Patih
23 Arwanah
Arwana II
Raden Mas Wiji Arwana
(1201-1202)
Arwanarajasa
(Jawa)
Ratu Elizabeth II
(Pangeran Arwana III)
Sri Baginda Maharaja Kaisar Susuhunan Arwana Amangkubhuwana (Arwana II) Patih Arwana III dari Jawa (1201-1202)
23 Arwanat
Arwana III
Raden Mas Ragil Arwana
(1202-1234)
Arwanarajasa
(Jawa)
Ratu Miyabi Ozawa
(Pangeran Arwana IV)
Sri Baginda Maharaja Kaisar Sang Hyang Arwana Amangkujagad (Arwana III) Tidak ada

Dewan Kadinastian (Jilid II) Sunting

No Potret Nama Asli
(Masa Jabatan)
Dinasti
(Bangsa)
Ratu
(Putra Mahkota)
Gelar Patih
24 Motau
Nyawang Wulan
Motau Nyawang Wulan
(1234-1294)
Kaburanganrajasa
(Dayak Nganju)
Pangeran Charles IX
(Putri Rima Anyelir Wulandari)
Sri Baginda Mahararatu Kaisar Motau Nyawang Wulan Sari (Ratu Nyawang Wulan) Patih Kublai Khan dari Yuan (1234-1242)
Patih Shigeo Tokuda dari Jepang (1242-1268)
Patih Shri Ashoka Harshavardana dari Punjab (1268-1279)
Patih Sutan Alamsyah dari Minangkabau (1279-1294)
25 Raden aria
Wiranatakusumah
Raden Aria Wiranata
(1294-1345)
Parahyanganrajasa
(Sunda)
Ratu Maria Sharapova
(Pangeran Raden Ageng Tirtayasa)
Sri Baginda Maharaja Kaisar Susunan Sepuh Aria Wiranata Kusumah
(Wiranatakusumah)
Patih Malikus Saleh dari Aceh (1294-1345)
26 Tangkal alam
Sutan Perpatih
Datuk Tumajo Nan Tuo St. Perpatih
(1345-1350)
Chaniagorajasa
(Minangkabau)
Ratu Marie Antoinette
(Pangeran Sutan Bagindo)
Sri Baginda Maharaja Kaisar Sutan Perpatih Bagagar Syah Alam (Sutan Perpatih) Patih Kublai Khan dari Yuan (1345-1348)
Patih Shigeo Tokuda dari Jepang (1348-1350)
27 Marie anto
Marie Antoinette
Maria Maimuna Josepha Antoina
(1350)
Capetian
(Perancis)
eks Kaisar Sutan Perpatih
(Pangeran Sutan Bagindo)
Sri Baginda Maharani Ratu Maimunah Marie Antoinette Sutan Perpatih
(Marie Antoinette)
Patih Shigeo Tokuda dari Jepang (1350)
28 DMaNnfSVoAAHXPH
Limpele III
Flandy Minto Limpele
(1350-1399)
Limpelerajasa
(Minahasa)
Ratu Nyi Roro Kidul
(Pangeran Limpele IV)
Sri Baginda Maharaja Kaisar Limpele Tedu Wawo Waya
(Limpele III)
Patih Sangkuriang dari Sunda (1350-1399)
29 Buwono
Pamengkubuwono V
Raden Arya Penangsang
(1399-1412)
Buwanarajasa
(Jawa)
Ratu Malala
(Pangeran Pamengkubuwono VI)
Sri Baginda Maharaja Panembahan Kaisar Sinuwun Pamangkubuwono Ingkang Pangestu Kelimo
(Pamangkubuwono V)
Patih Müller I dari Prussia (1399-1412)
30 Eriksson
Magnus IV
Franz Magnus Eriksson
(1412-1413)
Magnolian
(Swedia)
Ratu Nyi Blorong
(Pangeran Magnus V)
Sri Baginda Maharaja Kaisar Regnal Koning Magnus Eriksson Pentus Ethelwuff du Svenska
(Magnus IV)
Patih Pol Pot dari Khmer (1412-1413)
31 Muller
Müller I
Mahmud Gerd Thomas Müller
(1413-1421)
Bayern
(Bavaria/Jerman)
Ratu Sayyidah Aminah Az-Zarrah
(Pangeran Müller II)
Sri Baginda Maharaja Kaisar Müller von Bayern der Große
(Magnus IV)
Patih Pontius Pilatus dari Yunani (1413-1421)
32 Putu
Ratu Arnita
Ni Putu Arnita Setyawati
(1421-1489)
Puturajasa
(Bali)
Pangeran Iskandar Muda
(Putri Ananta)
Sri Baginda Maharatu Ni Putu Arnita Satya Wati Wasa
(Ratu Arnita)
Patih Tetty Br. Barus dari Batak (1421-1489)
33 C34eec0c3dd84865ffe32444df157ae2
Ratu Lembayung
Nyi Mas Ageng Lembayung
(1489-1533)
Buwonorajasa
(Jawa)
Pangeran Pamengkubuwono VIII
(Pangeran Pamengkubuwono IX)
Sri Baginda Maharatu Panembahan Ajeng Mangkubuwono Rahayu Ning Buwono
Mangkubuwono III (Ratu Lembayung)
Patih Aru Pancana dari Bugis (1489-1521)
Patih Hinirang II dari Bulaga (1521-1533)
34 Dfee7ec2fb2b32a14204847b4f2f9a3f
Ratu Carlita
Nona Dulce Maria Carlita de Ángel
(1533-1567)
Castilla
(Spanyol)
Pangeran Abdulmecid II
(Pangeran Abdulmecid III)
Sri Baginda Maharatu La Gran Reina Carlita de Ángel Castilla
(Ratu Carlita)
Patih Syarif Kasim dari Siak (1533-1567)
                                          Pemberontakan oleh Gerombolan Baron Wayang "Punakawan"(1567)

Masa-masa Penjajahan Punakawan (1567-1798) Sunting

No Potret Nama Asli
(Masa Jabatan)
Geng Kebangsaan Jabatan
(Gelar)
Wakil Ketua Geng
̶ Semar
Semar
Semar
(1567-1607)
Punakawan Jawa Ketua Geng
Semar Mesem
Gareng
̶ Cepot
Cepot
Cepot
(1678-1718)
Punakawan Sunda Ketua Geng
Cepot Gelo
Dawala
̶ Petruk
Petruk
Petruk
(1718-1798)
Punakawan Jawa Ketua Geng
Petruk Gemblung
Bagong
̶ Bagong
Bagong
Bagong
(1798)
Punakawan Jawa Ketua Geng
Bagong Goblog
̶
                    Perebutan Kembali Kekuasaan dan Kedaulatan Nusantara oleh Dinasti Witularajasa

Pemerintahan Darurat Wilayah Nusantara Sementara (Pardawinusa) Selama Penjajahan Punakawan Sunting

No Potret Nama / Gelar Mandat Kaisar Wilayah Darurat Dinasti
(Kebangsaan)
Patih Masa Jabatan
̶ Jepun
Meiji
Akira Meiji Toriyama
Meiji
Majelis Permusyawaratan Kaisar di Jayakarta Nusantara Asia Toriyama
(Jepang)
Patih Agung Gumelar dari Sunda 1567-1798
̶ 485px-JeanChrétienBaud
Beckenbauer
Franz Beckenbauer
Beckenbauer
Majelis Permusyawaratan Kaisar di Jayakarta Nusantara Eropa Non-Dinasti
(Bavaria)
Patih Anak Agung Gde Agung Balawan Putra dari Bali 1567-1798

Dewan Kadinastian (Jilid III) Sunting

No Potret Nama Asli
(Masa Jabatan)
Dinasti
(Bangsa)
Ratu
(Putra Mahkota)
Gelar Patih
35 Daeng
Daeng Witular
Daeng Elfonda Witular
(1798-1805)
Witularajasa
(Bugis)
Ratu Ameri Ichinose
(Pangeran Daeng Luwu Palaka)
Sri Baginda Maharaja Daeng Witular Pikatan Esa (Witular I) Patih Daeng Batisah Panangkar dari Bugis (1798-1799)
Patih Benny Wenda dari Papua (1799-1804)
Patih Mahmoud Ahmadinejad dari Persia (1804-1805)
36 Jamal
Hamengkuwidodo I
Raden Mas Joko Widodo
(1805-1832)
Widadarajasa
(Jawa)
Ratu Cut Nyak Meuria
(Pangeran Hamengkuwidodo II)
Sri Baginda Maharaja Sinuwun Kanjeng Hamengkuwidodo Tunggal (Hamengkuwidodo I) Patih Kim Il-Sung dari Korea (1805-1829)
Patih Mehmet II dari Turki (1829-1832)
37 Panembahan Mpw
Showa II
Tadashi Showa Maeda
(1832-1856)
Showa
(Jepang)
Ratu Raden Ajeng Kartinah
(Pangeran Showa III)
Sri Baginda Maharaja Shogun Showa Dokuritsu Junbi Nobita Banzai
(Showa II)
Patih Andre Demika Sondakh dari Minahasa (1832-1856)
38 Sultanih
Ming II
Tao Ming Tse
(1856-1861)
Showa
(Jepang)
Ratu Raden Ajeng Kartinah
(Pangeran Showa III)
Sri Baginda Maharaja Kaisar Ming Tse Saojin Chi Nusantarajaya
(Ming II)
Patih Abu Lahab Jahiluddin Al-Maghribi dari Arab (1856-1861)
39 Bule kampung
James III
James Daniel Radcliffe Windsor
(1861-1875)
Windsor
(Inggris)
Ratu Marsinah
(Pangeran James IV)
Sri Baginda Maharaja Third James "The Cowardest Tall" of Windsor
(James III)
Patih Bang Pitung dari Betawi (1861-1875)
40 Bulendeso
Rijkaard V
Jaap Stam Frank Rijkaard
(1875-1878)
Rijkaard
(Belanda)
Ratu Elizabeth IV
(Pangeran Rijkaard VI)
Sri Baginda Maharaja Vijfde Rijkaard van Hollandië op Noesantara
(Rijkaard V)
Patih Dhani I dari Yahudi Jawa (1875-1878)
41 Bulegila
Elizabeth IV
Emma Watson Elizabeth Windsor
(1878)
Windsor
(Inggris)
eks Kaisar Rijkaard V
(Pangeran Rijkaard VI)
Sri Baginda Maharatu Fourth Elizabeth Hermione "The Muggle" Granger of Windsor
(Elizabeth IV)
Patih Dhani I dari Yahudi Jawa (1878)
42 Sultan jowo
Dhani I
Ahmad Dhani Permana
(1878)
Dhanirajasa
(Yahudi Jawa)
Ratu Maya Estianti
(Pangeran Dhani II)
Sri Baginda Maharaja Kaisar Panembahan Ahmad ben Yitzhak Gurion Ha-Aretz Dhani Pamangkualam
(Dhani I)
Patih Dhani II dari Yahudi Jawa (1878)

Sistem Dewan Kadinastian Secara Resmi Dihapus Berdasarkan Ketetapan Kaisar Dhani I No. 09/TAP.KaiNusa/IX/1878 tentang Pembatalan Sistem Dewan Kadinastian

Dinasti Dhanirajasa Sunting

No Potret Nama Asli
(Masa Jabatan)
Dinasti
(Bangsa)
Ratu
(Putra Mahkota)
Gelar Patih
42 Sultan jowo
Dhani I
(Kaisar Ahmad)
Ahmad Dhani Permana
(1878-1888)
Dhanirajasa
(Yahudi Jawa)
Ratu Maya Estianti
(Pangeran Dhani II)
Sri Baginda Maharaja Kaisar Panembahan Ahmad ben Yitzhak Gurion Ha-Aretz Dhani Pamangkualam
(Dhani I)
Patih Dhani II dari Yahudi Jawa (1878-1888)
43 Jowo
Dhani II
(Kaisar El)
El Dhani Permana
(1888-1889)
Dhanirajasa
(Yahudi Jawa)
Ratu Vanessa Angel
(Pangeran Dhani III)
Sri Baginda Maharaja Kaisar Panembahan El ben Ahmad Gurion Ha-Shamayim Dhani Pamangkualam
(Dhani II)
Patih Dhani III dari Yahudi Jawa (1888-1889)
44 Dul
Dhani III
(Kaisar Dul)
Dul Dhani Permana
(1889)
Dhanirajasa
(Yahudi Jawa)
Tidak ada Sri Baginda Maharaja Kaisar Panembahan Dul ben Ahmad Gurion Ha-Aretz Dhani Pamangkualam
(Dhani II)
Tidak ada
                           Dinasti Dhanirajasa dikudeta oleh Duo Dinasti (Obamarajasa dan Hattarajasa)

Duo Dinasti (Obamarajasa dan Hattarajasa) Sunting

No Potret Nama Asli
(Masa Jabatan)
Dinasti
(Bangsa)
Ratu
(Putra Mahkota)
Gelar Perdana Menteri
45 Sumukil
Obama IV
Barak Obama
(1889-1903)
Obamarajasa
(Sasak)
Ratu Saori Hara
(Pangeran Obama V)
Sri Baginda Maharaja Kaisar Obama Radèn Kaempat Baleq Tetu
(Obama IV)
Adipati Edward III dari Inggris (1889-1901)
Alimin Prawirodirjo (1901-1903)
46 Tokoh
Hatta VII
Nuruddin Hatta
(1903-1906)
Hattarajasa
(Minangkabau)
Ratu Samyang
(Pangeran Hatta VIII)
Sri Baginda Maharaja Kaisar Hatta Sutan Nuruddin Rajo Baso
(Hatta VII)
Daud Beureuh (1901-1906)
47 Aasdcxzc
Obama V
Bakri Obama
(1906-1911)
Obamarajasa
(Sasak)
Ratu Beatrix
(Pangeran Obama VI)
Sri Baginda Maharaja Kaisar Obama Radèn Kalime Baleq Tetu
(Obama V)
Dipa Nusantara Aidit (1906-1911)
48 Dsfs
Hatta VIII
Fatih Hatta
(1911-1916)
Hattarajasa
(Minangkabau)
Ratu Lilis Suryani
(Pangeran Hatta IX)
Sri Baginda Maharaja Kaisar Hatta Sutan Perpatih Rajo Ameh
(Hatta VIII)
Daud Beureuh (1911-1916)
49 Bahar
Obama VI
Bahar Obama
(1916-1921)
Obamarajasa
(Sasak)
Ratu Beatrix
(Pangeran Obama VII)
Sri Baginda Maharaja Kaisar Obama Radèn Kaenem Baleq Tetu
(Obama VI)
C.R.S. Soumokil (1916-1921)
50 Mohammad Hatta 1950
Hatta IX
Mohammad Hatta
(1921-1923)
Hattarajasa
(Minangkabau)
Ratu Fatmawati
(Pangeran Hatta X)
Sri Baginda Maharaja Kaisar Hatta Sutan Mohammad Rajo Alam
(Hatta IX)
Sukarno (1921-1923)
                                       Kaisar Hatta IX dikudeta oleh Dinasti Lungganarajasa)

Dinasti Lungganarajasa Sunting

No Potret Nama Asli
(Masa Jabatan)
Dinasti
(Bangsa)
Ratu
(Putra Mahkota)
Gelar Perdana Menteri
51 Lungganas
Lunggana I
Drs. Sulung Lunggana
(1923-1939)
Lungganarajasa
(Betawi)
Ratu Mak Nyak Salekah
(Pangeran Lunggana II)
Sri Baginda Maharaja Sang Kaisar Agung Lunggana Utama Mulia Nan Jaya (Lunggana I) Mao Tse Tung (1923-1931)
Sutan Malaka (1931-1939)
52 Bxasd
Lunggana II
Dr. Ir. Mulung Lunggana
(1939-1944)
Lungganarajasa
(Betawi)
Ratu Raden Ajeng Kartini
(Pangeran Lunggana III)
Sri Baginda Maharaja Sang Kaisar Lunggana Kadua Mulia Nan Jaya (Lunggana II) Lunggana III dari Betawi (1939-1944)
53 Lungga
Lunggana III
Ir. Lutung Lunggana
(1944-1945)
Lungganarajasa
(Betawi)
Ratu Wilhelmina
(Pangeran Lunggana IV)
Sri Baginda Maharaja Sang Kaisar Lunggana Katiga Mulia Jaya (Lunggana III)

jabatan Perdana Menteri dihapus

Berdirinya Republik Indonesia oleh Sukarno (bekas Perdana Menteri Nusantara) dan Hatta IX (bekas Kaisar Nusantara ke-50). Kekaisaran Nusantara dibubarkan dan dinyatakan terlarang oleh Pemerintah Indonesia. Kekaisaran Nusantara dibentuk secara sembunyi-sembunyi sampai saat ini

"Gerakan Kebangkitan Kekaisaran Nusantara" (Gerbang Ke Nusantara) Sunting

Pada tahun 1945, bekas Perdana Menteri Nusantara, Sukarno bersama teman seperjuangannya, Hatta IX (bekas Kaisar Nusantara ke-50) mendirikan negara nasionalis, yaitu Republik Indonesia. Kekaisaran Nusantara kalah dalam peperangan melawan pemberontakan nasionalis. Kaisar Lunggana III ditangkap di kediamannya, Istana Surya. Keluarga Dinasti Lungganarajasa diasingkan ke Pulau Buru sebelum akhirnya berhasil melarikan diri ke Belanda dan mendirikan Kekaisaran Nusantara kembali di Amsterdam, namun Kekaisaran Nusantara tidak diakui oleh PBB sehingga pemerintahan dijalankan secara sembunyi-sembunyi (klandestin). Untuk memudahkan sosialisasi agar meraih dukungan internasional, Pangeran Lunggana IV membentuk sebuah gerakan yang dinamai Gerakan Kebangkitan Kekaisaran Nusantara (Gerbang Ke Nusantara). Gerbang Ke Nusantara dibentuk pada tanggal 17 Agustus 1946 di Pulau Buru. Setahun kemudian, pada tanggal 17 Agustus 1947, Pangeran Lunggana IV bersama Pangeran Hans IV dari Denmark mendeklarasikan negara separatis "Kemaharajaan Nusantara" di Amsterdam. Dalam wawancara dengan BBC News di London, Pangeran Lunggana IV dan Pangeran Hans IV menyebut bahwa jabatan "Kaisar" hanya pantas jika Nusantara kembali merebut wilayah kedaulatannya yang saat ini secara resmi dikuasai oleh Indonesia. Berikut adalah daftar "Maharaja/Maharatu Gerbang Ke Nusantara" selama persembunyian:

No Potret Nama Asli
 
Dinasti Jabatan Masa Jabatan Delegasi Nusantara di PBB
Pasca kejatuhan Kekaisaran Nusantara, Dinasti Lungganarajasa bersama staf kekaisaran dan para abdi dalem diasingkan di Pulau Buru, Maluku tahun 1945 dan berhasil kabur pada tahun 1946 ke Belanda
1 Reza
Lunggana IV
Gulung Lunggana
(Lunggana IV)
Lungganarajasa
dari Betawi
Maharaja 1945-1949 Pangeran Hans IV dari Denmark
2 Copek
Hamengkuwongso I
Raden Mas Kentir Wongsodiharjo
(Hamengkuwongso I)
Wangsarajasa
dari Jawa
Maharaja 1949-1955 Sir Winston Churchill
3 Ratu sinuwun
Putri Reisa
Bandara Ayu Reisa Broto Asmoro Wongsodiharjo
(Reisa)
Wangsarajasa
dari Jawa
Maharatu Putri 1955-1975 Richard Dawkins
4 Bule jawa
Putri Hermione
Emma Hermione Granger Watson
(Hermione)
Watson
dari Inggris
Maharatu Putri 1975-1982 Mahmoud Abbas
5 Di tiro
Hasan Tiro
Teuku Hasan Cik di Tiro
(Hasan Tiro)
Tirorajasa
dari Aceh
Maharaja 1982-1989 Tsubasa Ozora
6 Bulekk
Leonardo
Leonardo di Caprio
(Leonardo)
Caprio Corleone
dari Italia
Maharaja 1989-1998 Sir David Beckham
7 Gilah
Putri Juliana
Juliana Cynthia Edelweiss Van Oranje
(Juliana)
Oranje
dari Belanda
Maharatu Putri 1998-2002 Wahyu Suparno
8 Buleh
Willem XIX
Johanes Willem Mark Rutte Van Oranje
(Leonardo)
Oranje
dari Belanda
Maharaja 2002-2003 Stephen Hawkings
9 Ming
Putri San Chai
"Barbie" Hsu Xi San Chai
(San Chai)
Xi
dari Wu (Cina)
Maharatu Putri 2003-2006 Imam Samudra
10 093ae39afdd8955d0a23bc5bb9a9e88a
Putri Mano
Manohara Lonte (M.L.) Palar
(Mano)
Palarajasa
dari Minahasa
Maharatu Putri 2006-2010 Abu Bakar Al-Baghdadi
11 Cabul
Putri Ririn
Nyi Mas Ayu Ririn Ekawati Wongsodiharjo
(Ririn)
Wangsarajasa
dari Jawa
Maharatu Putri 2010-2014 Emmanuel Adebayor
12 Bubu
Putri Ayana
Ayana Jihye-Moon
(Ayana)
Moon
dari Korea
Maharatu Putri 2014-2017 Hanung Brahmanatyo
13 Kadek
Putri Kadek
Ni Kadek Devi Andara Dewata
(Kadek)
Dewatarajasa
dari Bali
Maharatu Putri 2017 (mengundurkan diri) Pangeran Lunggana VII dari Betawi
14 Haji-Lulung
Lunggana VII
Lulung Lunggana
(Lunggana VII)
Lungganarajasa
dari Betawi
Maharaja 2017-2018 Roy Suryo
Maharaja Lunggana VII ditangkap oleh Intelijen Amerika Serikat saat sedang diam-diam berlibur ke Bali dengan identitas palsu sebagai "Pak Eko" untuk memasuki wilayah Indonesia, Maharaja Lunggana VII dibawa ke Jakarta dan divonis hukuman pancung oleh Pengadilan pada tanggal 1 Januari 2019. Penangkapan Maharaja Lunggana VII sekaligus mengakhiri petualangan Gerbang Ke Nusantara agar Kekaisaran Nusantara mendapat dukungan internasional.
Dinasti Suryarajasa sebagai dinasti pendiri Kekaisaran Nusantara telah lama tidak aktif di dunia perpolitikan Nusantara dan menghilang sejak Kaisar Suryanegara (671-701) turun tahta tahun 701 dan digantikan oleh Kaisar Utina I (701-788). Dan pada tahun 2020, Putri Suryavanessa, putri mahkota dari Pangeran Suryaevans Dinasti Suryarajasa yang merupakan keturunan ke-666 Dinasti Suryarajasa membangun kembali Gerbang Ke Nusantara dan melakukan deklarasi kemerdekaan Kekaisaran Nusantara di Depok tanggal 17 Agustus 2020. Sejak deklarasi, Putri Suryavanessa belum menunjuk seorangpun menjadi "maharaja" atau "kaisar". Untuk sementara, aktifitas kantor Gerbang Ke Nusantara dilakukan di kamar kosnya di belakang Mall Margonda Depok
15 21371701-1894466150580394-4131613635145367552-n-3d127e19e2e97042febe56a599280dd9
Putri Suryavanessa
Vanessa Angel Suryani
(Suryavanessa)
Suryarajasa
dari Nusantara
Mahaputri Mahkota 2020-sekarang Ian Antono

Daftar Patih dan Perdana Menteri Nusantara Sunting

No Potret Nama
(Masa Jabatan)
Dinasti
(Bangsa)
Jabatan Gelar Kaisar
1 Bujana
Bujana IV
I Gusti Ketut Dewa Bujana
(1140-1142)
Bujanarajasa
(Bali)
Patih Sri Baginda Mahapatih Gusti Ketut Bujanadewa (Bujana IV) Charles VII
2 Sahilatua
Sahilatua I
Franky Sahilatua
(1143)
Sahilarajasa
(Maluku)
Patih Sri Baginda Mahapatih Sahilatua Hatu (Sahilatua I) Charles VII
3 Carel Arjen Robben
(1143-1163)
Non-Dinasti
(Belanda)
Patih Sri Baginda Mahapatih Mas Arya Robin Willem III
4 Ray Lawson Rafael van der Vaart
(1163-1172)
Non-Dinasti
(Belanda)
Patih Sri Baginda Mahapatih Mas Depat Willem III
5 Frederick
Frederik I
Søren Frederik Kierkegaard
(1172-1173)
Oldenburg
(Denmark)
Patih Sri Baginda Mahapatih Frederik En (Frederik I) Willem III
6 401px-Murad IV
Murad IV
Mehmet Kösem Murad
(1173-1175)
Murad
(Turki)
Patih Sri Baginda Mahapatih Mehmet Murad e-Rütbe Ileri (Murad IV) Frederik I
7 Arwana
Arwana I
Raden Mas Tukul Arwana
(1175-1188)
Arwanarajasa
(Jawa)
Patih Sri Baginda Mahapatih Arwana Utomo (Arwana I) Al-Bakhil II
8 Yudhistira
Yudhistira
Bṛaṭa Yudhiṣṭiṛā
(1188-1201)
Pandava
(India)
Patih Sri Baginda Mahapatih Śri Bṛaṭa Yudhiṣṭiṛā Pandava (Yudhistira) Arwana I

Ekonomi Sunting

Lahirnya Mata Uang Dunia Sunting

Hasil Produksi Sunting

Militer Sunting

Kekaisaran Nusantara memiliki 3 badan pertahanan militer, yaitu Prasetya Nusantara (Prajurit Setya Nusantara), Kekang Nusantara (Kepolisian Keamanan Anggota Nusantara), dan Candra Nusantara (Cenayang Dharma Raya Nusantara).

Prasetya Nusantara (Prajurit Setya Nusantara) Sunting

Prasetya Nusantara (Prajurit Setya Nusantara) adalah badan pertanahan dan tentara resmi Kekaisaran Nusantara berdasarkan TAP MPK No. 10/VI/658. Sejak pembentukan sampai pembubaran, Prasetya Nusantara memiliki kekuatan militer sbb:

Jumlah prajurit aktif: 556.369.389[1] personel
Prasetya Nusantara Bhumi (Angkatan Darat)Prasetya Nusantara Bahari (Angkatan Laut)Prasetya Nusantara Garuda (Angkatan Udara)
Jumlah prajurit aktif: 112.273.693[1]Jumlah prajurit aktif: 221.068.180[1]Jumlah prajurit aktif: 98.827.590[1]
Kekuatan Terpusat


* Kesatuan Komando Elit Bhumi (Kekeb):






Kekuatan Kewilayahan






Kekuatan Badan Pemusatan

  • Resimen Gedrik Nusantara: 101
  • Skadron Garuda Prasetya Nusantara: 666
  • Lima batalion lain
Kesatuan Senjata Armada Raya Nusantara (Kasmaran)


* Perahu Nusantara (Perantara): 92.666.136






Kekuatan Kewilayahan

  • Armada I
  • Armada II
  • Armada III
  • Pangkalan Utama Bahari:
    • Kelas A: 1.443
    • Kelas B: 2.474
    • Kelas C: 1.589
    • Kelas khusus: 333
Skadron Udara


* Jumlah pesawat tempur: 180 (target 2024)[2]

  • Skadron bantai: 22.218
  • Skadron cyduk: 5.244
  • Skadron stalking: 231.181
  • Skadron terbang: 66.413
  • Skadron latihan: 13






Kekuatan Kewilayahan

  • Armada I
  • Armada II
  • Armada III




Pangkalan Utama Garuda

  • Pangkalan Garuda (Panguard): 41
  • Detasemen Garuda (Degar): 8
  • Pos Udara: 80






Pasukan Khas

  • 311 wing operasional, 2.231 Satuan anti teror, dan 91 Pusat Pendidikan Anggota Kilat (Puspa Alat)






Satuan Radar

  • 17 satuan radar pertahanan udara

Adapun Pangkat Militer Prasetya Nusantara dari tertinggi sampai terendah adalah sbb:

  • Pangpanca Agung (Hanya dijabat oleh Kaisar)
  • Pangpanca (Setara dengan Jenderal)
  • Pangcatur (Setara dengan Letnan Jenderal)
  • Pangtri (Setara dengan Mayor Jenderal)
  • Pangdwi (Setara dengan Brigadir Jenderal)
  • Pangeka (Setara dengan Kolonel)
  • Ksatria (Setara dengan Letnan Kolonel)
  • Wira (Setara dengan Mayor)
  • Saga (Setara dengan Kapten)
  • Kejora (Setara dengan Letnan)
  • Sukma (Setara dengan Sersan)
  • Bintara (Setara dengan Kopral)
  • Jurit (Setara dengan Privat)
  • Prajurit (Setara dengan Sukarelawan)

Kekang Nusantara (Kepolisian Keamanan Anggota Nusantara) Sunting

Kekang Nusantara (Kepolisian Keamanan Anggota Nusantara) adalah badan kepolisian resmi Kekaisaran Nusantara yang bertanggungjawab kepada Kaisar. Sebagai abdi masyarakat, Kekang Nusantara memiliki tugas mengekang seluruh anggota masyarakat Nusantara sehingga tidak ada yang melanggar keamanan dan kedaulatan Nusantara. Keanggotaan Kekang Nusantara biasanya didapat dari perekrutan paksa rakyat-rakyat Nusantara menjadi sukarelawan. Tugas pokok Kekang Nusantara adalah:

  1. menjaga keamanan masyarakat (ME);
  2. menegakkan kedaulatan hukum (NGE);
  3. memberikan perlindungan kepada rakyat (KANG).

Kepangkatan Kekang Nusantara sama dengan Prasetya Nusantara, namun memiliki sedikitnya 3 jenis bagian kepangkatan:

  1. Perwira: dari Pangpanca sampai Pangeka.
  2. Pencyduk: dari Ksatria sampai Saga.
  3. Pemungli: dari Kejora sampai Bintara.
  4. Pangrusak: Jurit dan Prajurit.

Cendra Nusantara (Cenayang Dharma Raya Nusantara) Sunting

Cendra Nusantara (Cenayang Dharma Raya Nusantara) atau yang sering disingkat Cendranusa adalah badan pertahanan mistik dalam kemiliteran Nusantara yang terdiri atas para cenayang/dukun (shaman) asli Nusantara yang maha sakti. Kesaktian leluhur Nusantara tidak dapat diragukan sehingga Pemerintah perlu membentuk sebuah badan khusus mistik yang dapat melindungi dan menjaga keamanan dan kedaulatan Nusantara. Kesaktian menyan (kemenyan) dari Nusantara telah terbukti melumpuhkan pertahanan negara lain seperti Brunei, Sarawak, Korea, Jepang, Arab, hingga Eropa. Para cendranusa ini memiliki 7 badan (Sapta Kasta) dengan tugas masing-masing meliputi sbb (dari tertinggi sampai terendah):

  • Cekgung (Cenayang Kawula Agung), terdiri atas dukun-dukun nomor satu Nusantara yang dapat membuat menyan, memanggil arwah leluhur, menyantet pejabat dan pemimpin negara lain, serta memikat hati rakyat.
  • Cekgu (Cenayang Kawula Guru), terdiri atas dukun-dukun bekas Cekgung yang beralih profesi menjadi guru mistik yang mengajar para calon dukun (candu).
  • Cembung (Cenayang Megabuwana Agung), terdiri atas dukun-dukun nomor dua Nusantara yang dapat memperkaya pejabat negara, menambah anggaran negara, serta mengurus kesuburan dan panen sawah rakyat.
  • Celup (Cenayang Lebur Urip), terdiri atas dukun-dukun semi profesional laki-laki yang dapat menganugerahi perempuan seorang manusia baru.
  • Cempaka (Cenayang Perempuan Pusaka Kanuragan), terdiri atas dukun-dukun cantik yang memiliki pusaka kanuragan di kelaminnya.
  • Centeng (Cenayang Terlalu Enteng), terdiri atas jongos tetap para dukun.
  • Celeng (Cenayang Lepas Enteng), terdiri atas jongos freelance para dukun.
  • Candu (Calon Dukun) atau Bayang (Bakti Cenayang), terdiri atas pelajar/cantrik (santri) dukun.

Peristiwa-peristiwa Bersejarah Selama Nusantara Berkuasa Sunting

Erupsi Dahsyat Gunung Krakatau Sunting

Pada hari Senin, 27 Agustus 1883, tepat pukul 10.20, terjadi ledakan pada gunung Krakatau di Selat Sunda, wilayah kekuasaan Kekaisaran Nusantara. Menurut Bob Marley, ahli geologi lulusan Universitas Al-Azhar yang juga penulis buku "Tragic Krakatoa of Nusantara Eruption" (1902) mengatakan bahwa ledakan itu adalah ledakan yang maha dahsyat, suara paling keras dan terdengar sampai Amerika, serta peristiwa vulkanik yang paling meluluhlantakkan Dunia Gendeng dalam sejarah manusia beneran. Suara letusannya terdengar sampai 134.600 km dari pusat letusan dan bahkan dapat didengar oleh 1/8 penduduk Planet Mars saat itu.

Menurut para peneliti di Pondok Pesantren Al-Zaytun di Pennyslvania, ledakan gunung Krakatau dibanding ledakan gunung Vesuvius (1445) di Pompei dan ledakan gunung Tiberias (1687) di Sodom mencatat nilai Volcaspermanic Eruption Index (VEI) terbesar dalam sejarah modern. The Guiness Doraemon's Book of Records mencatat ledakan Krakatau sebagai ledakan yang dapat didengar oleh para dewa di Tata Surya. Ledakan Krakatau telah melemparkan batu-batu akik dan berlian vulkanik dengan volume 18 kilometer kubik. Semburan lahar vulkanisnya mencapai 80 km. Benda-benda keras yang berhamburan ke udara itu jatuh di dataran pulau Jawa, pulau Ceylon, pulau Australia, dan pulau Honshu.

Menteri Kebencanaan Prabu Silitwangi (Prof. Dr. Arya Penangsang) melaporkan jumlah korban yang tewas kepada Kaisar Hatta VIII (Ir. Ahmad Hatta) mencapai 1.363.336.417 jiwa serta membawa dampak pada kekalahan pemberontakan Napoleon Bonaparte pada Pertempuran Waterloo melawan Nusantara di Perancis. Sedangkan di Ujungkulon, penduduk pedalaman tidak lagi melihat matahari. Gelombang Tsunami yang ditimbulkan bahkan merambat hingga ke pantai Hawaii, pantai barat Amerika Tengah, Semenanjung Arab, dan Planet Mars.

Pengangkatan Adipati Edward VIII sebagai Perdana Menteri Sunting

Bulejowo

Pangeran George V (kedua dari kanan) sedang memberikan arahan kepada Adipati Edward VIII (kedua dari kiri) dari Dinasti Windsor setelah upacara pelantikan Perdana Menteri Nusantara. Tampak pula tamu undangan Pangeran Lodewijk II dari Belanda (paling kiri) dan Pangeran Napoleon IV (cucu Napoleon Bonaparte, eks pemberontak nasionalis dari Perancis).

Pada tanggal 32 Juni 1924, MPK mengesahkan UU No. 13/MPK/VI/1924 tentang Pembentukan Perdana Menteri menggantikan sistem kepatihan. Di hari yang sama, Kaisar Lunggana I (Prof. Dr. H. Sulung Lunggana, M.Ag) menemui Pangeran George V (George Edward Cullen Windsor) dari Dinasti Windsor di London untuk meminta pangeran memilih salah satu putra mahkota terbaik Dinasti Windsor menjadi Perdana Menteri pertama menggantikan Patih Syahrir II. Alasan Kaisar Lunggana I memilih putra mahkota dari Dinasti Windsor menjadi Perdana Menteri Nusantara adalah untuk mengembalikan kepercayaan rakyat Inggris kepada Nusantara yang saat itu sedang berkecamuk pemberontakan British Revolt. Keesokan harinya diadakan rapat internal Dinasti Windsor yang dihadiri para pangeran dan adipati (dukes and earls) Windsor untuk memilih putra mahkotanya dicalonkan menjadi Perdana Menteri.

Rapat internal Dinasti Windsor itu memutuskan Adipati Edward VIII (Edward Rowan Atkinson Windsor) sebagai calon Perdana Menteri. Adipati Edward VIII saat itu menjabat sebagai Bupati Manchester langsung melejit karirnya menjadi Perdana Menteri. Pangeran George V percaya Adipati Edward VIII adalah orang yang tepat memimpin Nusantara bersama Kaisar Lunggana I karena Adipati Edward VIII adalah lulusan terbaik Fakultas Politik Universitas Shri Nalanda Mercu Buana di Srilanka. Pada tanggal 1 Agustus 1924, Adipati Edward VIII dilantik menjadi Perdana Menteri Nusantara di Jayakarta dan langsung menyusun kabinetnya. Upacara pelantikan Edward VIII berlangsung khidmat dan dihadiri oleh 10.000 hadirin dari Manado, Manila, dan Mesir.

Kemunduran Nusantara Sunting

Kemunduran Kekaisaran Nusantara terjadi mulai pada Abad 17. Kemunduran Nusantara disebabkan banyaknya bangsa-bangsa jajahan yang memberontak. Pemberontakan demi pemberontakan di Nusantara terjadi akibat:

  • Rasa iri hati dan dengki sejumlah bangsa karena tidak bisa menduduki jabatan Kaisar, akibat UU no. 142/XXI/1477 MPK atas nama Kaisar Dhani III bahwa kursi Kekaisaran hanya bisa dijabat oleh bangsa-bangsa asli Nusantara dari Pulau Sumatra hingga Pulau Papua.
  • Ketidakpuasan rakyat terhadap Pemerintahan Kekaisaran Nusantara diiringi oleh lahirnya paham nasionalisme sebagai akibat banyaknya ide-ide filsafat Eropa.
  • Korupsi yang merajalela di tataran pejabat tinggi Kekaisaran.

Pemberontakan dimulai di Inggris tahun 1756, ketika Bangsa Inggris dan Bangsa Skotles menandatangani deklarasi persatuan menjadi kerajaan baru yang memisahkan diri dari Nusantara, yaitu Kerajaan Bersatu Britania Raya (United Kingdowm of the Great Britain and Scotland). Masa-masa kemunduran Nusantara terjadi sampai tahun 1945 ketika pemberontak nasionalis memproklamasikan berdirinya Republik Indonesia.

The British Revolt (Pemberontakan di Inggris) Sunting

Bangsa Inggris (Angles) dan Bangsa Skotles adalah dua bangsa pertama yang memberontak melawan Kekaisaran Nusantara. Pada tahun 1756, Dinasti Stuart atas nama Bangsa Inggris bersama Dinasti Chattan atas nama Bangsa Skotles menandatangani Akta Persatuan (Act of Union) di Kabupaten Buckingham di kota London. Wangsa-wangsa di Pulau Britania bersatu membentuk negara baru yang masih bertahan hingga sekarang, yaitu Kerajaan Bersatu Britania Raya dan Skotlandia (United Kingdom of Great Britain and Scotland), atau disingkat UK. Pada saat penandatanganan itu, Jenderal James Fort Lancaster, komandan militer Nusantara yang bertugas di Inggris, mengumumkan agar pertemuan di Kantor Bupati Buckingham. Namun, Bupati London, Sir Thomas Stamford Raffles, menolak pengumuman Jenderal Lancaster. Rupanya, Raffles telah menjadi loyalis Wangsa Stuart. Akhirnya pada tahun 1759-1831 meletuslah perang pemberontakan yang sekarang dikenang sebagai The British Guard. Adiwati Anne of Stuart dilantik oleh Raffles sebagai Ratu Britania Raya pertama. Sang Ratu menitahkan mobilisasi umum memberantas pasukan Nusantara dan menyebutnya sebagai The British Revolt (Revolusi Britania). Sejumlah wangsa loyalis Nusantara dibubarkan, pejabat-pejabat Nusantara di kota-kota di Pulau Britania Raya dihukum pancung, termasuk Jenderal Lancaster. Kematian Jenderal Lancaster menandai berakhirnya The British Guard yang dimenangkan UK. Kaisar Obama VII mengangkat James Lancaster sebagai pahlawan nasional Nusantara. Selama bertahun-tahun, Nusantara tidak mengakui kedaulatan UK. Akhirnya, pada tahun 1901, Kaisar Hatta VII mengadakan Act of Seven di Jayakarta yang dihadiri delegasi UK, termasuk Raja Edward VII. Akta tsb menghasilkan keputusan mengakui kedaulatan UK. Untuk mengenang Akta tsb, maka Akta tsb dinamakan Act of Seven, karena pemimpin yang memerintah saat itu sama-sama generasi ketujuh (Kaisar Hatta VII dan Raja Edward VII). Akibat diadakannya akta ini, MPK memakzulkan Kaisar Hatta VII dan melantik Obama IX sebagai suksesornya.

L'arc-en-c'iel c'est France (Pemberontakan di Perancis) Sunting

The British Revolt adalah revolusi pemicu di Eropa. Keberhasilan Inggris untuk merdeka dari Nusantara terdengar sampai ke Perancis. Tiga dinasti utama Perancis, yaitu Dinasti Borbón (Borbounian), Dinasti Capet (Capetian), dan Dinasti Valois (Valoisian) mengadakan rapat rahasia dengan tokoh nasionalis Napoleon Bonaparte. Rapat rahasia itu memutuskan membebaskan semua narapidana penjara Bastille di Paris yang umumnya merupakan napi-napi berbadan kuat yang dulu tertangkap dalam upaya pemberontakan melawan Nusantara. Napoleon membentuk commoner yang terdiri dari elemen masyarakat umum untuk memancing kerusuhan di Paris. Joan Le Femme, yang merupakan adipati wanita dari Marseille Dinasti Capet turut membantu Napoleon dengan menawarkan diri untuk disetubuhi oleh para sipir penjara Bastille. Di saat para sipir asyik menikmati tubuh Joan, pasukan nasionalis Burgundy berkumpul di sungai Rhine dan bergerak menyerbu Lapas Bastille. Penyerbuan yang dipimpin oleh Baron Fromage berhasil membuat huru-hara di Paris dan lapas pun jebol. Para napi nasionalis segera bergabung dengan commoner dan merusak segala infrastruktur negara. Peristiwa huru-hara itu terjadi di seluruh wilayah Perancis selama 5 bulan dan dikenang sebagai L'arc-en-c'iel c'est France (Masa-masa Kelam di Perancis). Pasukan Nusantara yang dikirim dari Belanda, Denmark, Turki, dan Jawa gagal menanggulangi pemberontakan itu dan Napoleon mendeklarasikan berdirinya Republik Perancis. Saat itu, hanya kota Toulouse saja yang belum mau bergabung dengan Perancis dan masih setia dengan Nusantara.

Übermenschen (Pemberontakan di Jerman Timur dan Polandia) Sunting

Sementara itu pada tahun 1886, Bupati Adolf Hitler penguasa Kabupaten Berlin mengultimatum rakyatnya agar tidak terpancing dengan huru-hara di Perancis dan Inggris. Namun Hitler tidak tahu bahwa Karl Marx dan Friedrich Nietzsche, kedua tokoh komunis dan nasionalis Jerman telah berhasil membentuk organisasi yang bernama Übermenschen (Manusia-manusia Unggul). Organisasi Übermenschen menyelundupkan 1.300 pucuk tank dan artileri dari Amerika Serikat serta 250 meriam dari Bangladesh melalui hulu sungai Danube. Penyelundupan itu diketahui oleh seorang perwira asal Italia bernama Benito Mussolini. Mussolini hendak mengadukan kepada Bupati Adolf Hitler dan Walikota Jürgen Klinsmann penguasa Frankfurt, namun dia dibunuh secara tidak wajar oleh simpatisan Übermenschen. Mayatnya tergenang di muara sungai Danube keesokan harinya. Kematian perwira Mussolini menjadi heboh setelah pada mayatnya terukir lambang swastika. Karl Marx membentuk pasukan darat bernama Schutzstaffel (SS) dan Nietzsche membentuk pasukan udara bernama Luftwaffe (LW) yang kesemuanya direkrut dari Übermenschen. Sementara simpatisan Übermenschen sisanya membentuk koalisi paramiliter sendiri bernama Sturmabteilung (SA). Gerakan Übermenschen ini dilaksanakan secara diam-diam dan membentuk sebuah partai bernama Nazi (Partai Nasional Sosialis Jerman).

Pada bulan Agustus 1889, Partai Nazi mengirim surat kepada Kaisar Hatta VIII (Dr. Ahmad Hatta) tentang berdirinya Negara Nazi Jerman (Der Deutsches Reich). Kaisar Hatta VIII yang saat itu sedang berkunjung ke pabrik lingerie di Amsterdam segera bertolak ke Berlin menemui Bupati Adolf Hitler. Sang Kaisar memanggil Hitler ke Istana Reich di Berlin dan menanyakan surat tsb. Hitler yang tidak tahu-menahu pun kaget sebab selama ini tidak ada sedikitpun kerusuhan dan pemberontakan baik di Berlin maupun di seluruh wilayah Propinsi Jerman. Namun Kaisar VIII menuduh Hitler sebagai dalang berdirinya Negara Nazi Jerman. Tuduhan ini membuat Hitler segera kabur untuk mengantisipasi penangkapan dirinya oleh polisi Nusantara. Selama pelarian 3 hari, Hitler pun bergabung dengan Nazi dan segera menyerbu Berlin dengan pasukan SS. Pasukan LW yang dipimpin Nietzsche dan Erwin Rommel menyerang kota München dari udara. Kaisar Hatta VIII bersama ajudannya, Tio Pakusadewo segera melarikan diri melalui perbatasan Propinsi Jerman dengan Denmark. Sementara itu, kepala polisi Jerman, Franz Beckenbauer, melakukan serangan balik terhadap Nazi. Namun, Beckenbauer tewas dibunuh oleh Hitler sendiri dengan menggunakan pacul. Kematian Beckenbauer memukul mundur polisi Nusantara di Jerman dan mengakui kedaulatan Nazi Jerman.

Godverdomme-tijd van Nederlanders (Pemberontakan di Belanda) Sunting

Pada bulan Juni 1902, Michael Ballack, bekas bupati Dortmund yang selamat dari pemberontakan Nazi di Jerman, melakukan sumpah setia kepada Nusantara bersama pengikut loyalnya di Amsterdam yang sama-sama berdarah Jerman yang mengungsi ke Belanda. Namun, upacara sumpah setia itu dihentikan sementara ketika di antara barisan pengungsi Ballack itu ada seorang warga Belanda bernama Jan van Louiszhen yang ikut menjadi peserta upacara sumpah setia. Masyarakat Belanda yang ikut menonton upacara tsb marah dengan Ballack karena mengikutsertakan seorang warga Belanda dalam barisan pengungsi Jerman. Ballack yang tidak tahu-menahu membela diri. Kerusuhan antara Jerman-Belanda terjadi di Amsterdam. Huru-hara melebar ke berbagai kota di Belanda, termasuk Raden Hak (sekarang Den Haag) yang merupakan kota yang dihuni oleh imigran Jawa. Orang Jawa bersama pengungsi Jerman menangkapi orang-orang Belanda. Selama kerusuhan tsb, orang-orang Belanda sering mengucapkan "godverdomme!" yang artinya "bangsat!". Beberapa media massa menyebutkan peristiwa kerusuhan tsb dengan sebutan "Godverdomme-tijd" yang artinya "Zaman Bangsat".

Karena kerusuhan tidak dapat dihentikan, akhirnya tentara Nusantara mengadakan perundingan dengan perwakilan Belanda bernama Jan Pieterszoon Coen. Dalam perundingan yang diadakan di atas kapal SS. Renville itu, Nusantara menyetujui melepaskan Belanda, Belgia, dan Luxemburg. Belanda segera membentuk Kerajaan Belanda. Kaisar Obama IX (Dr. Berry Sutoro) mendengar kabar kekalahan delegasi Nusantara dalam perundingan yang disebut Perjanjian Renville itu sontak terkena stroke. Demi supaya tidak ada lagi pemberontakan, maka Kaisar Obama IX memaklumatkan UU No. 13/IX/V/1901 tentang Politik Etis pada tanggal 2 Mei 1901 yang isinya di antaranya:

  1. Mengizinkan warga Belanda dan seluruh masyarakat Nusantara kuliah di Belanda.
  2. Menjadikan Kerajaan Belanda sebagai negara persemakmuran Nusantara.
  3. Mengirim duta-duta perdamaian ke Belanda.

Viva El Niño (Pemberontakan di Portugal) Sunting

Liga El Clasico (Pemberontakan di Spanyol) Sunting

Ragnarök (Pemberontakan Bangsa Skandinavia) Sunting

Manhaj Al-Inthifadhah (Pemberontakan Bangsa Arab) Sunting

Zhōngguó Mao (Pemberontakan Komunis Tiongkok) Sunting

Meijiishin (Pemberontakan Samurai Meiji di Jepang) Sunting

Triplet Allianz (Pemberontakan di Jerman Barat dan Austria) Sunting

Triplet Etenté (Pemberontakan di Hungaria, Romania, Yunani, Italia, dan Turki) Sunting

Khmer Kror-Horm (Pemberontakan di Champa/Kamboja) Sunting

Thaị Kyū̀ Nāng (Pemberontakan di Muangthai) Sunting

Guardia José Rizal (Pemberontakan di Filipina) Sunting

Keruntuhan Nusantara Sunting

Persatuan Indonesia (Pemberontakan Nasionalis Indonesia) Sunting

Pada tanggal 2 Mei 1901, Kaisar Obama IX (yang bernama asli Dr. Berry Soetoro) memaklumatkan UU No. 13/IX/V/1901 tentang Politik Etis yang isinya mengizinkan mata kuliah di berbagai kampus mengajarkan filsafat politik secara bebas untuk tujuan edukasi. Sejak itu, di setiap kampus telah dibuka secara resmi jurusan komunisme, liberalisme, dan nasionalisme. Namun beberapa kampus telah disusupi agen-agen politik komunis, liberal, dan nasionalis yang berseberangan dengan cita-cita Nusantara. Para agen tersebut menjadi dosen dan mengajarkan aliran-aliran politik tsb.

Pada tahun 1913, Drs. Mohammad Hatta yang merupakan putra mahkota dari Dinasti Hattarajasa lulus dari Universitas Leiden di Belanda dan pulang ke Jayakarta. Sepulangnya Mohammad dari Belanda, dia diberi gelar oleh Dinasti Hattarajasa dengan gelar Hatta IX. Pemberian gelar itu dianggap melanggar perjanjian antara Dinasti Obamarajasa dengan Hattarajasa yang mengharuskan pemberian gelar apabila telah dinobatkan menjadi kaisar. Kaisar Obama IX menangkap Mohammad dan memenjarakannya di Digul. Selama dipenjara, Mohammad menulis memoar tentang kezaliman Dinasti Obamarajasa terhadap Nusantara. Dalam memoarnya, dia juga menganjurkan pemberontakan nasionalisme.

Pada bulan April 1923, teman sebangku Mohammad di Leiden bernama Sukarno menghimpun massa dan membentuk Partai Pemberontak Nasionalis Indonesia (PNI) dan melakukan orasi anti Kaisar Obama IX. Sejumlah pemuda dari berbagai bangsa Nusantara di wilayah Kekaisaran Nusantara berkumpul di kota Jayakarta. Mereka berkumpul untuk melakukan makar melawan kedaulatan Kekaisaran Nusantara. Soekarno mengumpulkan berbagai tokoh pemuda dari berbagai etnis untuk membahas masalah penting yang menyangkut masa depan politik rakyat. Hasil perkumpulan mereka menghasilkan kesepakatan sbb:

  • Mengupayakan penggulingan terhadap Dinasti Lungganarajasa.
  • Mencopot Kaisar Lunggana I dari kursi Kekaisaran.
  • Membubarkan Majelis Permusyawaratan Kaisar (MPK) dan diganti menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Bangsa (PPKB).
  • Membentuk Dewan Revolusi yang akan menjadi cikal-bakal Dewan Presidium dan Dewan Legislatif yang baru.
  • Memproklamasikan negara baru dengan nama "Indonesia" yang berbentuk Republik.

MPK dalam hal ini menawarkan damai dengan PNI. MPK mengeluarkan dekrit pembebasan Mohammad Hatta dan menobatkannya menjadi Kaisar Hatta IX serta memakzulkan Kaisar Obama IX. Sang kaisar baru pulang dari Digul ke Jayakarta dan dilantik segera di Istana Garuda. Sehari setelah dilantik, Kaisar Hatta IX dituntut oleh PNI untuk mengubah konstitusi negara menjadi republik. Tuntutan lain juga datang dari PKI yang menuntut berdirinya Negara Soviet Nusantara (NSN). Kaisar Hatta IX ditangkap oleh Kepolisian Nusantara saat sedang mengadakan pertemuan rahasia dengan PNI yang hendak mengubah bentuk negara dari kekaisaran menjadi republik. Kepolisian Nusantara menganggap pertemuan rahasia Kaisar dengan PNI sebagai makar. Akibatnya, Kaisar Hatta IX harus mundur selang tiga hari setelah dirinya diangkat menjadi Kaisar. Mohammad Hatta bersama Soekarno dipenjara di Bengkulu.

Kepala Kepolisian Nusantara, Prof. Dr. Sulung Lunggana dinobatkan oleh MPK sebagai Kaisar Lunggana I dan meresmikan Dinasti Lungganarajasa menjadi dinasti baru. Dinasti Lungganarajasa berkuasa selama 1923-1945 dan turun tahta akibat pemberontakan nasional di Jayakarta. Soekarno dan Mohammad Hatta yang bebas dari penjara Bengkulu segera memproklamasikan berdirinya Republik Indonesia. Drs. Lulung Lunggana yang menjadi kaisar saat itu (Kaisar Lunggana III) melancarkan operasi militer yang disebut Operasi Brawijaya yang oleh Pemerintah Republik Indonesia disebut "Perang Kemerdekaan Indonesia". Perang tsb selesai setelah Pasukan TNI (Tentara Nasional Indonesia) merebut Benteng Banteng Nusa di Mangga Besar / Mabes (sekarang menjadi Mabes TNI) dan melancarkan bom atom ke Istana Garuda. Pasentara (Pasukan Setia Nusantara) menyerah dan menyerahkan Kaisar Lunggana III kepada TNI dan Kaisar Lunggana III dihukum pancung di alun-alun Bekasi.

Pembebasan Belanda Sunting

Pembebasan Asia Tenggara Sunting

Federasi Malaysia Sunting


Kesalahan pengutipan: Tag <ref> ditemukan, tapi tag <references/> tidak ditemukan