Negara Hindia

Dari Tolololpedia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Langsung ke: navigasi, cari

Kekaisaran Hindia (Inggris:The Indie Empire Arab:Jaza'irul Hindi China:Ye-Tiao Jepang:Romusha Belanda:Oost Indie) ialah Negara yang berkuasa atas Negara Indonesia Dan menaklukan 1/3 Dunia menurut Hikayat Kamasutra & Beberapa Babad-Babad di Tanah Nusantara. Negara ini muncul mulai dari Tahun 1900 SM hingga 1900 M (3800 tahun lamanya). Negara ini telah menaklukan Beberapa Negera Besar seperti Kutai, Banjar, Mangkasar, Sriwijaya, Kandis, Melayopura, Bruneipura, Tagalog, Sukhothai, Khmer, Champa, Tamil, Dinasti Jin, 1/2 Shogun Tokugawa, Suku-Suku Aborigin bersama Maori, Coromandel, Himyar, Zaidi, Axum, Nubia, Masriq, Zulu, Songhai, Maghrebi, Turki, Kurdi, Sparta, Castille-Aragon, Portugal, Frank, Irlandia, Anglo-Saxon, Normandia, Celtic-Gaelic, Norwegia, Toltek Dan Inca. Kekaisaran ini runtuh pada Tahun 1945 lewat makar kudeta & pemikiran para Filsuf Eropa di Zaman Pencerahan. Nama Hindia sebenarnya merupakan singkatan dari kata HINDah tak hInA (Indah Tak Terhina) yang digabung menjadi Hindia.

[sunting] Etimologi

Udah diceritakan diatas. (;

[sunting] Sejarah

[sunting] Zaman Ajisaka (1947 SM - 1849 SM)

Pada Tahun 1950an SM, Menurut beberapa Kitab-Kitab Sejarah Indonesia. Di Pulau Jawa tidak ada apa-apa. Hanya Hutan Belantara yang luas, Gunung-Gunung, Ribuan Kuntilanak, Kadal Buntung, Kolor Ijo, Komodo, Semut karnivora, Ayam Karnivora, Harimau insektivora, Gajah Predator. Pesisiran Pulau Jawa saat itu memiliki Peradaban kecil yang Bernama Aborigin.

SuryawijayaCool

Ajisaka saat di Kota Sakarta.

Tahun 1948 SM, Nelayan asal Kekaisaran Sansekerta Kuno & Teman-temannya terdampar & menemukan Dwipa atau Pulau di Tenggara Kekaisaran Sanskrit Kuna. Kemudian Sang Nelayan takjub atas kemewahan Daerah baru tersebut, apalagi disebelahnya ada Gunung yang mengapung di Lautan sendirian & melaporkan Hal ini Pada Kaisar Sanskrit Kuna, Yudhisthira lewat komunikasi arang & menyan yang ia bawa. Kemudian Yudhisthira merasa tidak percaya, lalu Tahun 1946 SM, Ajisaka, Nama sang nelayan tersebut membuat Kota tempat ia terdampar yang bernama Sakarta (atau Ajisaka Karta, kini Jakarta) & Yudhisthira mengirimkan Tim Ekspedisi yang berjumlah 3.000 orang yang diangkut 50 Kapal Ekspedisi untuk membuktikan keberadaan dwipa atau Daerah tsb sekaligus mencari informasi & mencarikan Ajisaka untuk dibawa kembali ke Kekaisaran Sanskrit untuk dilantik sebagai Gubernur Jenderal Daerah yang dihampiri Ajisaka. Akhirnya sampailah Tim Ekspedisi di Kota Sakarta. Hari berlalu, minggu berlalu, bulan berlalu. Akhirnya Kaisar Yudhisthira mendapat informasi bahwa Apa yang dinyatakan Ajisaka benar keberadaannya, Daerah tersebut sebenarnya Suatu Pulau, Gunung ditengah Laut (Krakatau) itu benar adanya & Pulau tersebut dihuni oleh Suatu Bangsa Barbar yang berperilaku tidak waras (Aborigin). Kemudian Para Pengikut Ekspedisi ini nantinya menjadi Kakek-Nenek moyang dari Para Leluhur Bangsa Jawa, Sunda & Madura Pada Akhir Tahun 1946 SM, Ajisaka dilantik menjadi Gubernur Jenderal Daerah tersebut & Kaisar Yudhisthira memberi Nama Provinsi yang dipimpin Ajisaka adalah Hindia dengan alasan yang sudah diceritakan di Paragraf Awal Artikel ini. Setelah dilantik, Ajisaka menaruh Ibukota Provinsi di Kota Sakarta. Dan Sakarta, karena namanya terlalu pendek, diubah namanya menjadi Jayakarta yang diartikan menjadi AJisAka berjaYA KARTA (sekarang Jakarta). Pada Awal Tahun 1945, Beberapa Penduduk Jayakarta yang merupakan Pelaku Ekspedisi & Sahabat Ajisaka dibunuh oleh Penghuni Asli yang merupakan Bangsa Aborigin. Kemudian Ajisaka tuk pertama kalinya membuat Tentara Militer untuk menumpas Kejahatan Aborigin. Disisi lain, Ajisaka tuk pertamakalinya membangun Perumahan bagi Warga-warga & membangun Waduk yang bernama Jatiluhur (7 km dari Purwakarta) dengan Teknik Jurus Silat Tapak Brahman (seperti di Film K*ng*u *ustle) serta membuat Ratusan Ribu hektar sawah disekitarnya hingga ke Daerah Jayakarta Timur untuk meningkatkan Pasokan Makanan Warga Jayakarta. Pada Pertengahan Tahun 1945 SM, Ajisaka berseteru dengan Kaisar Yudhisthira, Kaisar kemudian marah & memerdekakan Provinsi Hindia serta mencabut bantuan Pangan + Persenjataan bagi Provinsi Hindia.

Kemudian Ajisaka menyesali Hal ini, namun ia sadar, kemerdekaan bukanlah hak Bangsa & oleh karena itu maka penjajahan di Dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan prikemanusiaanProvinsinya telah menjadikannya sebagai Pemimpin Agung Negara, bukan Pemimpin yang dikendalikan Pemimpin. Ia kemudian sadar bahwa Ia menjadi Penguasa Negara Hindia Mutlak yang wilayahnya kini meliputi Provinsi Banten, Jawa Barat & DKI Jakarta, Dan Kemudian pada Pertengahan Tahun 1945, ia di depan Suatu Lapangan Bola Bekel, menyatakan bahwa Ia adalah Pemimpin mutlak Negara Kekaisaran Hindia & ia menyatakan bahwa Kepala Negara Hindia ialah Kaisar. Kemudian ia menamakan lapangan bola dengan Nama Alun-Alun Ikada. Ikada berarti (AjIsaKa jADi kAisar). Pada Tahun 1944 SM, demi meningkatkan Kas Negara, Dibangun Pasar Impres Internasional pertamakali di area beberapa kilometer dari Lapangan Ikada (kini Tanah Abang). Selain itu Ajisaka menamakan Pulau yang dikuasai Negara Hindia bernama Pulau Jawa. Tahun 1855 SM, Datang Puluhan Kapal yang berisikan 250 awak yang ternyata mereka adalah pendukung Dinasti Xia yang kabur karena Dinastinya dikudeta oleh Dinasti Shang. Kemudian Kapal-Kapal yang dipimpin Kaisar Xia yang lari, An Jing sampailah di Sakarta, meminta suaka & membangun Pecinan yang bernama Glodok di Jalan Penghubung Pelabuhan Sunda Kalapa dengan Lapangan Ikada, ketika itu sedang dibangun Istana Maharddika (sekarang Istana Merdeka) di bagian Utara Lapangan Ikada (sekarang Taman Monas). Kemudian Ajisaka yang mengetahui Hal ini memanfaatkan kesempatan ini dengan mencari wanita cantik didalamnya karena dia masih perjaka. Akhirnya Ajisaka tiba-tiba menyetujui pemberian suaka karena di antara Rombongan, ada cewek cantik yang bernama Bak Mi. Bak Mi akhirnya menikah dengan Ajisaka Dan membuat anak yang bernama Ajibudi. Ajibudi akhirnya lahir, namun baru berumur 6 tahun, Sang Kaisar Ajisaka ditemukan wafat jatuh dari Istana Mahardika. Akhirnya Kekuasaan diwariskan pada Ajibudi yang tidak mengerti apa-apa selain Susu Ibu & Permainan Bergairah.

[sunting] Zaman Belah (1849 SM - 1830 SM)

Akhirnya salah satu Saudara Kaisar Ajisaka, Indrasaka & Rajasaka berebut Tahta. Hingga Akhirnya terjadilah Perang hebat di Selatan Jayakarta. Rumah penduduk banyak dijarah, Pagar Rumah penduduk & Beberapa Rumah Bordil dijarah. Akhirnya, Setahun berperang, Terjadilah Gencatan Senjata. Pulau Jawa/Negara Hindia dibelah 2. Kemudian Inderasaka memimpin Barat, Rajasaka memimpin Timur. Kemudian pembagian ini merupakan cikal-bakal Keberadaaan Bangsa Sunda & Jawa. Akhirnya Hindia terbelah 2, Hindia Barat beribukota di Jayakarta Dan Hindia Timur beribukota di Ayodhyakarta. Tetapi tidak hanya itu isi perjanjian gencatan senjata, Badan & Kepala Putra Mahkota Ajisaka harus dibelah 2!. Namun banyak kalangan yang tidak setuju, bahkan mereka mengancam balik lagi ke India/China & Istana mahardika akan dibakar hangus. Ketakutan, Indrasaka & Rajasaka membatalkan pembelahan bayi & mengubahnya menjadi Perjanjian mengusir Bayi & keluarganya tersebut. Akhirnya bayi tersebut & Bak Mi terusir Dan diberikan Istana baru disebelahnya yaitu Istana Nagara (sekarang Istana Negara). Akhirnya Hindia terbelah 2.

Selama Pembelahan, Hindia Barat yang dipimpin Inderasaka memperluas daerahnya ke Suwarnadwipa (sekarang Pulau Sumatera). Hindia Timur tidak memiliki agenda perluasan Daerah, tetapi membangun Pelabuhan Baru, yaitu Tanjung Berak (sekarang Tanjung Perak), karena banyak ditemukan Tai Disana & membelah Pulau Jawa dengan Suatu Semenanjung disana (kini Madura) dengan Kanal Baru, agar Para Pedagang Dinasti Shang atau Pedagang Assyria. Pada Tahun 1845 SM, Inderasaka wafat., Tahun 1842 SM, Rajasaka wafat. Kemudian Hindia Barat diambil alih oleh seorang Raden yang bernama Raden Bandung Gila, Hindia Timur diambil alih oleh Ki Swara Buaya. Pada Tahun 1835 SM, Di Daerah beberapa kilo dari Danau Jatiluhur, Ajibudi yang tumbuh Besar menobatkan dirinya sebagai Kaisar Hindia kedua, kemudian Ajibudi untuk mengabadikan Penobatan, dibangun Kota Purwakarta yang berarti Mula yang Damai, Purwa berarti mula, Karta berarti Damai. karena Kaisar Ajibudi merasa bahwa Penobatan dirinya merupakan langkah awal dari kembalinya Persatuan yang menimbulkan Kedamaian. Raden Bandung Gila yang tahu hal itu langsung mengirimkan Ribuan Tentara untuk menangkap Ajibudi. Namun Ajibudi telah merekrut Ribuan orang, namun Ajibudi tidak takut, bahkan malah menantang Tawuran di Danau di bagian selatan Purwakarta. Kubu Bandung Gila membuat Bahtera Besar seperti (menandingi) Bahtera Nabi Nuh untuk menampung Ribuan Tentara Hindia Barat & menampung perbekalan yang Besar, Bahtera tersebut nantinya akan melintasi Sungai Taruma (sekarang Sungai Citarum). Namun Ajibudi terdiam, tertawa terqeqeh-qeqeh, ternayata ia telah membayar Dukun ternama, Ki Joko Bodoh untuk menjungkirbalikkan Bahtera tsb. Akhirnya benarlah, Kapal tersebut dijungkir balikkan saat hampir menuju Danau di selatan Purwakarta. Seluruh awaknya mati, termasuk Ki Bandung Gila. Kemudian Ajibudi yang melihat hal ini takjub, membayar mahal Ki Jaka Bodoh & menjadikan Daerah sekitarnya sebagai Kota yang bernama Bandung karena di situ, tempat ia menyaksikan tenggelamnya Bahtera Ki Bandung Gila. Akhirnya Pada beberapa bulan berikutnya, Ajibudi menyatakan diri sebagai Kaisar Hindia Barat.

[sunting] Zaman Ajibudi (Tahun 1830 SM - 1760 SM)

SuryawijayaMuda

Kaisar Ajibudi I saat berkumpul di Istana Maharddika membahas Penaklukan Hindia Timur.

Tinggal Hindia Timur yang belum dihajar & takluk ke pelukan Negara Persatuan Hindia. Pada Tahun 1832 SM, Bahasa Sunda pertama mulai terbentuk di Zaman Ajibudi. Tahun 1831 SM, Basa Jawa Kuna terbentuk di zaman Swara Buaya serta Di Daerah yang kini kita sebut Kabupaten Serang-Cilegon-Tanggerang mulai menjadi daratan luas. Pada Tahun 1830 SM, tidak ada kaitan dengan bahasa-bahasa lagi, Kaisar Ajibudi I yang melihat keberadaan Hindia Timur mengirimkan utusan sebanyak 2 orang untuk pergi ke Ibukota Hindia Timur, Ayodhyakarta. Para Utusan tersebut akhirnya sampai di Keraton Ayodhyakarta & memberikan sepucuk surat undangan. Ki Swara Buaya diundang oleh Kaisar Ajibudi ke Istana Mahardika. Akhirnya beberapa bulan, sampailah Swara Buaya di Jayakarta. Kemudian Swara Buaya dihibur dengan Tari Serimpi & Jaipong serta Tembang Dangdut India + Kesenian Barongsai. Namun ketika sedang melihat Barongsai, tiba-tiba Rombongan Naga Barongsai lari, menanduki dada Ki Swara Buaya & menyeret baju Ki Swara Buaya ke Istana Mahardika yang ternyata penculikan itu memang sudah direncanakan oleh Kaisar Ajibudi. Kaisar Ajibudi yang melihat itu langsung menyuruh ajudannya untuk menahan Ki Swara Buaya di Lahan Pinang antara Desa Chandrabaga dengan Kota Jayakarta (kini LP Cipinang), kemudian Lahan perkebunan pinang itu nantinya menjadi cikal bakal Lapas Cipinang. Akhirnya beberapa hari kemudian, 40 Rombongan taxi kuda/Pedati yang dipimpin Kaisar Ajibudi berangkat dari Jayakarta ke Ayodhyakarta untuk mendeklarasikan pengesahan Hindia Timur menjadi bagian teritori Negara Kesatuan Hindia. Pada Tahun 1829 SM, Semua Wilayah Hindia Timur jatuh ke pelukan Negara Hindia & Ki Swara Buaya gantung diri, tak tega melihatnya, Kaisar Ajibudi kemudian menyesali hal ini karena sebentar lagi, kira-kira 2 dasawarsa lagi, dia dibebaskan. Sebagai rasa kasihan, Kota sebelah Tanjung Berak dibangun Dan diberi Nama Swarabuaya yang nantinya berubah menjadi Surabaya. Pada Tahun 1760 SM, Ajibudi wafat akibat Tabrakan Pedati beruntun. Sebelum kematiannya, Seluruh Pesukuan Aborigin diusir ke Tanah Selatan (Australia) & tahta diberikan kepada anaknya, Ajivharman atau Ajiwarman.

[sunting] Zaman Pasca-Ajibudi (Tahun 1760 SM - 160 SM)

Setelah Peristiwa Tabrakan Pedati & kematian Ajibudi, Para Kaisar Hindia mulai menaruh 2 bodyguard didepan & dibelakang Kereta Kencana Kaisar. Pasca Kekuasaan Ajibudi, Istana Mahardika mulai direnovasi sebagus mungkin., Selain itu untuk pertamakalinya, Pertambangan Dan Pasar Barang berbahan Besi mulai dibangun di Daerah puluhan kilometer dari Kota Jayakarta, Daerah tersebut merupakan cikal bakal Krakatau Steel Area. Setelah Berakhirnya Kekuasaan Ajibudi, Para Dukun mulai menemukan metode ramalan baru yang nantinya efektif bisa meramal kehidupan sang Kaisar & Negara Hindia di keesokan hari, yaitu Ramalan menggunakan Tai & Kentut. Praktiknya, Kalau Sang Kaisar kentutnya amat bau sampai membuat kamar pengap, artinya bahwa Negara & Kaisarnya akan mengalami keberuntungan di keesokan harinya.

Peralatan pribadi