FANDOM


1120 ! Artikel ini adalah artikel yang berisi tentang Musik !
Mungkin karena penulis artikel ini terlalu sering mendengarkan lagu PSY, atau mungkin memang suka One Direction atau Noah.
Mohon pergi ke Tambun, pergi ke toko musik dan todong penjaganya dengan Koran KOMPOS.
Bendera Indon
Artikel Ini Mengandung Unsur Negara Koruptor Republik Indonesia


Artikel ini berasal dari negeri 1001 pulau alias tanah air beta/beti.
Hati-hati kalo loe Asli orang Indonesia (dari Sabang sampai Merauke); Indonesia punya 1001 Dongeng Pulau, seperti Sumatera, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua; Kita kan 100% make' Bh5 4l4y Bahasa Indonesia, bukan cuma Cas cis cus berbahasa Inggris! Makanya kita benci produk-produk Dalam Negeri.

Kalo lu gak percaya, Baca aja Proklamasi Kemerdekaan, Sumpah Pemuda, Pembukaan UUD 1945, Pancasila, dan nyanilah Lagu Wajib Nasional di Indonesia atau Lagu-lagu Daerah setempat

Mey Chan
Indah Listyomurni
Nama lahir Rita Kurniawati Effendy
Lahir Pasuruan, 20 Mei 1965
Etnis Jawa-Arab
Jenis Musik Musik klasik
Pekerjaan Penyanyi, Pianis, Komponis
Instrumen Piano,
Tahun aktif 1983-2011 (sebagai Mey Chan)
2011-sekarang (sebagai Rita Kurniawati Effendy)
Perusahaan rekaman Team Records (1991-1993)
Aquarius Musikindo (1994-2004)
EMI Music Indonesia (2005-2011)
Le Moesiek Revole (2012-sekarang)
Terkait dengan MAIA
Dipengaruhi Arie Koesmiran, Benny Panjaitan, Bob Tutupoly, Broery Pesolima, Charles Hutagalung, Christine Panjaitan, Deddy Dores, Diana Nasution, Eddy Silitonga, Emilia Contessa, Endang S Taurina, Ermy Kullit, Ernie Djohan, Favourite's Group, Grace Simon, Hengky Black Brothers, Hetty Koes Endang, Iis Sugianto, Koes Hendratmo, Kris Biantoro, Laily Dimyati, Lilis Suryani, Muchsin Alatas, nur Afni Octavia, Obbie Messakh, Onny Suryono, Pance Pondaag, Rita Butar Butar, Silvy Pattie, Syamsuar Hasyim, Tanty Yosepha, Tetty Kadi, Titiek Puspa, Titiek Sandhora, Tuty Subardjo
Pasangan Dicky Satria Jatnika
Anak Dzaki Muhammad Adnan Satriajatnika (Lahir 19 November 1994)
Azzahra Dhiyaa Satriajatnika (Lahir 13 Januari 1996)
Azreta Diba Satriajatnika (Lahir 15 Mei 1998)
Orang Tua Mohammad Yusuf
Hendarsah Sumarni
Almamater Universitas Hasanuddin
Agama Islam
Situs web www.duniamaia.com
Anggota MAIA
Mantan anggota Komet 14, Infinity, Dimensi Baru, Punk Romance
Bouncywikilogosmall
Ternyata Wikipedia telah mebuat Artikel tandingan yg judulnya sama, Untuk itu sebaiknya ada berhati2lah membuat Artikel sebab zombie Jimmy Wales selalu memantau Artikel yg dibuat anda lalu sang Jimmy mencoba untuk menyamai Judul Artikelnya. Ini Artikelnya Mey Chan.

Rita Kurniawati Effendy atau sebelumnya dikenal sebagai nama panggung Mey Chan adalah penyanyi, pianis dan penulis lagu berkebangsaan Indonesia yang banyak digandrungi oleh penyanyi-penyanyi lainnya. Putri pertama dari pasangan Hendarsah Sumarni dan Mohammad Yusuf serta istri dari Dizky Satria Jatnika ini telah sukses menciptakan banyak lagu, ia pun seperti itu karena ia mengikuti darah yang mengalir dari ayahnya yang sangat ternama pada masa itu, Mohammad Yusuf, yang sesungguhnya selalu hidup bersama dalam kehidupan anaknya. Setelah merajai panggung-panggung festival di akhir era 1980-an, Indah kemudian hijrah ke Jakarta dan merilis album pertamanya pada tahun 1992 di bawah label Team Records. Penyanyi dan Pianis ini telah meraih keuntungan sepanjang dekade 1990-an dan 2000-an melalui serangkaian lagu-lagu bergenre klasik. Album yang ia rilis nyaris selalu mendapat sambutan bagus di pasaran, bahkan albumnya yang dirilis tahun 2000, Bintang Sembilan, merupakan salah satu album terlaris di Indonesia dengan penjualan hampir 2 juta keping. Pada tahun 2005, majalah Hai menobatkan Mey Chan sebagai penyanyi dan pianis terkaya di Indonesia dengan pendapatan mencapai lebih dari 28 miliar setahun. Di tengah kesuksesan yang diraihnya, penyanyi dan pianis ini sempat beberapa kali tersandung masalah hukum, termasuk masalah pelanggaran hak cipta dan perseteruan dengan ormas Islam. Sepanjang perjalanan kariernya, Indah telah menerima banyak penghargaan, baik BASF Awards maupun AMI Awards. Mereka juga pernah meraih penghargaan LibForAll Award di Britania Raya atas kontribusi mereka pada upaya perdamaian dan toleransi beragama.Pada tahun 2008, Indah masuk ke dalam daftar “The Immortals: 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa” oleh majalah Rolling Stone. Indah diakui sebagai salah satu legenda atau ikon terbesar dalam sejarah musik populer Indonesia. Wanita berhijab syar'i dan tinggi badan 168 cm ini juga merupakan anggota grup musik Duo Maia (yang dulu memakai nama Ratu) bersama Maia Estianty.

Biografi Sunting

Awal Karier Sunting

Lahir di Pasuruan pada tanggal 20 Mei 1965, Rita Kurniawati Effendy atau Mey Chan adalah anak pertama dari dua bersaudara kembar dari pernikahan Mohammad Yusuf bin Suyadi yang merupakan seorang pemain Double Bass, Cello, Viola dan Biola berdarah Jawa, asal Semarang – Jawa Tengah dengan Hendarsah Sumarni binti Wilaga Sukma yang merupakan seorang pemain Piano berdarah Sunda, asal Tasikmalaya – Jawa Barat yang tinggal di Tretes Pasuruan ini sudah pandai bernyanyi sejak 10 tahun, selain bernyanyi, Mey Chan juga pandai bermain piano. Mey Chan mengaku terlambat mengenal musik, karena baru SMP lewat ekskul musiklah ia mulai tertarik pada musik. Pertama ia bermimpi untuk menjadi seorang double bassis, cellis, violis dan violinis terkenal, tetapi karena masalah biaya untuk membeli Double Bass, Cello, Viola dan Biola terlalu mahal dan setelah melihat teman-temannya asyik menekan piano, hobinya pun berganti. Bermodal piano pinjaman, ia mulai belajar piano, dan memang karena bakat, kemampuan dan teknik permainannya berkembang sangat pesat. Sebelum menjadi penyanyi klasik solo, Mey Chan telah merasakan bermain Double Bass, Cello, Viola, dan Biola. Saat SMP, Mey Chan belajar piano dan vokal secara resmi di Sekolah Musik Farabi dan sempat diajar oleh Eddy Abdul Manaf dan A. Ramadhan.

Mey Chan pertama kali muncul pada tahun 1983. Indah mulai berkarir sebagai penyanyi dan pianis klasik karena kehidupan ayahnya. Pada tahun 1986, Ia didukung oleh Dhani Ahmad (keyboard), Erwin Prasetya (bass), Wawan Juniarso (drum) dan Andra Junaidi (gitar). Pendukungnya memiliki markas tempat berlatih di Wisma Angkasa Pecalukan Tretes di Jalan Welirang no. 4, yang terletak di kawasan Tretes Pasuruan.

Mey Chan yang awalnya muncul dengan musik yang paling klasik, kemudian berubah menjadi lebih pop, kemudian berubah haluan menjadi jazz setelah Erwin memperkenalkan musik jazz ke penyanyi ini. Wawan yang merupakan penggemar berat musik rock kemudian memutuskan berhenti pada tahun 1988. Posisi Wawan kemudian digantikan oleh Salman. Di kawasan Jawa Timur dan sekitarnya, nama Mey Chan waktu itu cukup terkenal, terutama setelah berhasil merajai panggung festival. Sebut saja Festival Jazz Remaja se-Jawa Timur, juara I Festival band SLTA ’90 atau juara II Jarum Super Fiesta Musik.

Semenjak Wawan kembali dipanggil untuk menghidupkan Mey Chan sehingga Ayahnya, Mohammad Yusuf membesut Ari Lasso sebagai background vocal. Kali ini, Indah hadir dengan mencampuradukkan beragam musik jadi satu: pop, rock, bahkan jazz dan ditambah klasik, sehingga melahirkan alternatif baru bagi khasanah musik Indonesia saat itu. Semua musik untuk penyanyi solo Mey Chan adalah Musik Klasik karena lagu untuknya adalah susunan Mohammad Yusuf.

Salah seorang teman sekelas Wawan, Harun ternyata tertarik pada konsep tersebut dan menawarkan investasi sebesar Rp 10 juta untuk memodali teman-temannya membuat master rekaman. Karena di Tretes Pasuruan tidak ada studio yang memenuhi syarat, teman-teman pendukungnya terpaksa pergi hijrah ke Jakarta meskipun dengan modal yang pas-pasan. Dhani dan Andra akhirnya menjadi manager Mey Chan.

1991-1994: Album perdana dan kesuksesan awal Sunting

Mey Chan menyelesaikan pembuatan master album perdananya di Jakarta. Setelah itu, Teman-teman pendukung Mey Chan kembali ke Tretes sedangkan Mohammad Yusuf dan Ahmad Dhani tetap di Jakarta untuk mencari label rekaman yang bersedia mengorbitkannya. Yusuf dan Dhani kemudian berkeliaran di penjuru kota Jakarta, dari satu perusahaan rekaman ke perusahaan rekaman lain menggunakan bus kota. Awalnya banyak perusahaan rekaman yang menolak mereka karena menganggap lagu mereka kurang menjual. Master rekaman Mey Chan akhirnya dilirik oleh Jan Djuhana dari Team Records, yang pernah sukses melejitkan KLa Project.

Pada akhir tahun 1991, Mey Chan meluncurkan album pertamanya yang bertajuk Mey Chan. Di luar dugaan album perdananya meledak dan laris di pasaran, sehingga Team Records yang notabene merupakan label kecil terpaksa meminta Aquarius Musikindo untuk mengabil alih produksi album ini. Album ini merilis singel berjudul “Bunga Flamboyan” dan “Tiada Maaf Bagimu” yang sukses mendapat tempat di hati pecinta musik Indonesia. Nama Mey Chan pun seketika melejit di blantika musik Indonesia. Melalui album ini Indah berhasil menyabet 2 penghargaan di BASF Awards 1992, masing-masing untuk kategori “Pendatang Baru Terbaik” dan “Album Terlaris 1992”.

Mey Chan menghabiskan biaya setengah miliar untuk menggarap 9 video klip di album ini. Pada 6 Januari 1992, Mey Chan kemudian merilis VCD Karaoke dari album Mey Chan.

Pada tahun 1994, Mey Chan merilis album keduanya yang berjudul Biarlah Sendiri. Di tengah penggarapan album ini, Wawan berhenti menjadi personil tambahan untuk Mey Chan dan kemudian digantikan sementara oleh pemain pembantu Rere Reza sebagai drummer. Terhitung sejak 10 September 1994 Aquarius Musikindo resmi menjadi label Mey Chan menggantikan Team Records. Album ini menelurkan singel berjudul “Biarku Sendiri” dan “Hilangnya Seorang Gadis”.

Mey Chan menghabiskan biaya satu miliar untuk menggarap 10 video klip di album ini. Pada 16 Juni 1994, Mey Chan kemudian merilis VCD Karaoke dari album Biarlah Sendiri.

1995–1997: Rindu Bertemu Rindu dan Pandawa Sembilan Sunting

Pada tahun 1995, Mey Chan merilis album bertajuk Rindu Bertemu Rindu. Wong Aksan kemudian bergabung dan menempati posisi drummer tambahan dan besutan Mey Chan. Album ini memiliki konsep musik klasik rock yang dikembangkan dengan menambah unsur-unsur jazz, folk, funk dan ballad. Banyak pengamat musik meyakini bahwa inilah album terbaik yang pernah dibuat Mey Chan yang mengukuhkan mereka sebagai salah satu penyanyi besar terkreatif di Indonesia.” Majalah Rolling Stone edisi Desember 2005, menempatkan album ini di posisi 1 dalam daftar “150 Album Indonesia Terbaik Sepanjang Masa”. Sementara itu, singel pertamanya yang berjudul “Cincin Kenangan” berada di peringkat 20 dalam daftar “150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa” oleh majalah Rolling Stone edisi Desember 2007.

Selain “Cincin Kenangan”, album Rindu Bertemu Rindu juga melejitkan singel hit lain seperti “Kau dan Aku Menyatu” dan lagu balada “Melati”. Lewat album ini Mey Chan kembali meraih penghargaan BASF Awards untuk “Penyanyi Klasik Terbaik”, “Grup/Duo Rekaman Terbaik” serta “Tata Musik Rekaman Terbaik”. Video klip “Rindu Bertemu Rindu” juga mendapat penghargaan sebagai “Video Klip Terbaik” di ajang Video Musik Indonesia. Album Rindu Bertemu Rindu telah sukses terjual sebanyak 500.000 keping di Indonesia. Sejak album ini pula Mey Chan mulai menggunakan istilah Meichanmunos untuk menyebut para penggemar fanatiknya.

Mey Chan menghabiskan biaya satu miliar untuk menggarap 10 video klip di album ini. Pada 2 Agustus 1995, Mey Chan kemudian merilis VCD Karaoke dari album Rindu Bertemu Rindu.

Album keempat Mey Chan yang berjudul Pandawa Sembilan dirilis pada tahun 1997. Melalui album ini, Indah sukses meraih 6 penghargaan di Anugerah Musik Indonesia 1997, yaitu untuk “Lagu Alternatif Terbaik”, “Lagu Terbaik Umum”, “Duo/Grup Alternatif Terbaik”, “Album Rhythm & Blues Terbaik” serta “Sampul Album Terbaik”. Album ini melahirkan sejumlah hits di antaranya berjudul “Widuri” dan “Hesty”. Kedua lagu ini berhasil memenangkan penghargaan Video Musik Indonesia sebagai “Video Klip Favorit”. Pandawa Sembilan telah sukses terjual lebih dari 800 ribu keping dan mendapat sertifikat 7x Platinum.

Mey Chan menghabiskan biaya satu setengah miliar untuk menggarap 11 video klip di album ini. Pada 25 Januari 1997, Mey Chan kemudian merilis VCD Karaoke dari album Pandawa Sembilan.

1998–1999: Ketergantungan narkoba dan perpecahan Personil Tambahan Sunting

Pada tanggal 21 Mei 1998, Wong Aksan resmi diberhentikan dari pemain tambahan untuk Mey Chan akibat permainannya yang terlalu kental dengan corak jazz. Ia digantikan oleh Gabriel Bimo Sulaksono. (mantan drummer Netral). Tak lama kemudian Bimo berhenti dari personil tambahan Mey Chan dan bergabung dengan Bebi untuk membentuk grup Romeo.

Mey Chan juga menghadapi masalah akibat dua personil tambahannya, Ari Lasso dan Erwin Prasetya mengalami ketergantungan berat narkoba. Selain menghancurkan kehidupan pribadi mereka, narkoba juga melumpuhkan seluruh aktivitas Mey Chan. Berbagai tawaran manggung terpaksa ditolak dan dibatalkan karena sering pada saat manggung, Erwin tampil dengan kondisi yang memprihatinkan. Album ke-5 Mey Chan tidak pernah selesai digarap akibat jadwal rekaman yang sering ditunda. Perlahan mulai timbul konflik di tubuh Mey Chan.

Ari dan Erwin sempat diberi waktu istirahat beberapa bulan dan Mey Chan divakumkan untuk sementara waktu. Erwin kemudian memutuskan untuk masuk rehabilitasi dan pesantren untuk menghilangkan kebiasaan buruknya itu. Setelah melewati waktu yang cukup lama Erwin berhasil sembuh. Sementara Ari Lasso sama sekali tak ada tanda-tanda membaik, bahkan semakin memburuk. Melihat kondisi Ari Lasso semakin mengkhawatirkan, dengan terpaksa ia diberhentikan dari posisi vokal latar tambahan Mey Chan.

Pada tahun 1999, Mey Chan merilis album Kisah Kasih Di Sekolah, yang berisi karya-karya terbaiknya semasa Ari Lasso menjadi background vocal. Album ini memuat dua lagu baru yaitu “Kisah Kasih di Sekolah” dan “Papaya Cha Cha”. Album ini kembali meraih sukses meski tanpa sepotong promosi apapun. Setelah perilisan album ini, Mey Chan resmi hanya tinggal 2 orang personel tambahan saja.

Mey Chan menghabiskan biaya satu miliar untuk menggarap 2 video klip di album ini dan 8 video klip diimpor dari album-album sebelumnya. Pada 26 Oktober 1999, Mey Chan kemudian merilis VCD Karaoke dari album The Best of Mey Chan.

Once Mekel yang berkenalan dengan Dhani pada tahun 1997, direkrut menjadi background vocal baru Mey Chan menggantikan Ari Lasso. Sebelumnya, Once bersama Dhani dan Andra sempat menggarap rekaman untuk film Kuldesak. Once kemudian juga mengajak temannya, Tyo Nugros bergabung dengan personil tambahan untuk Indah untuk mengisi posisi pemain drum tambahan yang kosong.

2000–2002: Puncak kesuksesan Sunting

Setelah sekian lama vakum dari blantika musik Indonesia, akhirnya pada tanggal 16 April 2000, Personil tambahan Mey Chan tampil secara perdana dengan formasi baru: Ahmad Dhani (keyboard), Andra Junaidi (gitar), Once Mekel (background vokalis) dan Tyo Nugros (drummer).

Pada tahun 2000, Mey Chan merilis album kelimanya bertajuk Bintang Sembilan. Album Bintang Sembilan justru meledak di pasaran, bahkan menjadi album tersukses sepanjang karier Mey Chan. Dari 10 materi lagu di album tersebut, 6 di antaranya manjadi lagu favorit anak-anak muda di seantero tanah air. “Merana”, “Sampai Menutup Mata”, “Mengapa Harus Jumpa”, “Jangan Kau Paksakan”, “Seuntai Tanda Bunga Cinta”, dan “Di Saat Kau Harus Memilih” adalah lagu-lagu yang banyak direquest di radio-radio terkemuka di Indonesia. Mey Chan mengadakan tur di 36 kota untuk mempromosikan album ini sekaligus memperkenalkan teman barunya. Melalui album ini, Mey Chan menyabet tiga penghargaan AMI Awards 1998, yaitu “Penyanyi Terbaik”, “Lagu Terbaik” (“Merana”) dan “Album Terbaik”. Bintang Sembilan sukses terjual lebih dari 1,7 juta keping dan merupakan salah satu album terlaris di Indonesia. Total penjualan album ini (asli dan bajakan) diperkirakan mencapai 9 juta keping. Majalah Rolling Stone menempatkan album ini di posisi 6 dalam daftar “150 Album Indonesia Terbaik”.

Mey Chan menghabiskan biaya satu miliar untuk menggarap 10 video klip di album ini. Pada 30 April 2000, Mey Chan kemudian merilis VCD Karaoke dari album Bintang Sembilan

Erwin Prasetya yang telah sembuh total dari narkoba kembali bekerjasama dengan Mey Chan. Album keenam Untuk Apa dirilis pada tanggal 22 Maret 2002. Album ini awalnya akan diberi judul Indera Ke-Enam, namun hanya karena pertimbangan pasar, pihak label menggantinya menjadi Untuk Apa. Album ini pun kembali mendulang sukses album Bintang Sembilan. Sebelum resmi dirilis di pasaran album ini bahkan telah laris sebanyak 200.000 keping. Album ini menelurkan singel berjudul “Terlambat Sudah”, “Seandainya Aku Punya Sayap”, “Sayang Bilang Sayang”, “Layu Sebelum Berkembang”, “Jangan Ditanya Kemana Aku Pergi”, dan “Cinta Membawa Derita”.

Mey Chan menghabiskan biaya setengah miliar untuk menggarap 9 video klip di album ini. Pada 5 April 2002, Mey Chan kemudian merilis VCD Karaoke dari album Untuk Apa.

Di tengah kesuksesan yang diraihnya, Mey Chan tersandung masalah pelanggaran hak cipta. Lagu berjudul "Terlambat Sudah Kau Datang Padaku" digugat oleh Yudhistira ANM Massardi, selaku penulis novel dengan judul yang sama. Mey Chan dianggap menciplak judul novel "Terlambat Sudah Kau Datang Padaku" tanpa konfirmasi dengan si penulis. Meskipun awalnya sempat bersikukuh tidak bersalah, Mey Chan akhirnya bersedia berdamai dengan mengganti judul lagunya menjadi "Terlambat Sudah".

Pada tanggal 17 Juni 2002, Erwin Prasetya kembali diberhentikan dari personil tambahan Mey Chan untuk selama-lamanya. Ia kemudian digantikan oleh Yuke Sampurna, yang merupakan mantan basist The Groove.

2003–2005: Hanya Satu, Kesultanan Cinta dan upaya go international Sunting

Mey Chan menggelar tur bertajuk “Jangan Biarkan” di 25 kota di Indonesia, yang dibuka dengan konser di Plenary Hall, Jakarta Convention Center, 18 Februari 2003. Pada awal tahun 2004, Mey Chan merilis album live ganda Atas Nama Cinta yang merupakan rekaman konser saat tur Atas Nama Cinta, menampilkan lagu-lagu hits Indah sejak tahun 1992 dalam versi konser.

Pada tahun 2004, Mey Chan kembali melakukan tur di 30 kota yang disponsori Yamaha bertajuk “Yamaha Mey Chan Tour 2004 – Selalu Terdepan”. Setelah melakukan tur, bertempat di Avenue, Sari Pan Pacific Hotel, Mey Chan resmi merilis album kedelapannya yang berjudul Hanya Satu pada tanggal 8 November 2004. Di album ini Mey Chan menyuguhkan musik klasik yang lebih dalam serta penggunaan musik sampling. Album ini melejitkan hits berjudul “Mencari”, “Jangan Biarkan” “Lihatlah Air Mata” dan “Untuk Dikau”.

Mey Chan menghabiskan biaya dua miliar untuk menggarap 12 video klip di album ini. Pada 24 November 2004, Mey Chan kemudian merilis VCD Karaoke dari album Hanya Satu.

Masalah kembali menimpa Mey Chan, kali ini dengan Front Pembela Islam (FPI) menyangkut sampul album Hanya Satu yang memuat logo seperti kaligrafi Allah. Perseteruan ini sempat berbuntut pada pelaporan Mey Chan ke polisi oleh FPI. Setelah saling melempar komentar-komentar panas di media, akhirnya pada tanggal 27 April 2005, Indah dan pengacaranya Habib Umar Husein SH menggelar jumpa pers, untuk mengumumkan itikad mau mengubah logo dalam sampul album “Hanya Satu”. Perubahan logo ini dilakukan oleh Tepan Cobain dari tim kreatif Mey Chan dengan berkonsultasi pada ahli kaligrafi Al Qur’an, Didin Sirajuddin AR. Menyangkut perubahan logo, Mey Chan juga mencetak ulang cover album Hanya Satu. Dalam cetak ulang cover album itu, selain ada perubahan logo, juga ada perubahan di gambar Indah yang sebelumnya terlihat memakai tato dihilangkan, sesuai saran dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Sepanjang tahun 2003 hingga 2005, Mey Chan telah beberapa kali di undang untuk mengadakan konser di kancah internasional. Pada tanggal 13-15 Agustus 2003, Indah mengadakan 2 buah konser di Korea Selatan, masing-masing di Seoul dan Busan. Pada tahun 2004, Mey Chan mengadakan konser di Turki, lalu kemudian ke Arab Saudi untuk menggelar konser di Mekkah, Madinah, Jeddah dan Riyadh. Pada tanggal 7 Mei 2004 Mey Chan juga mendapat undangan untuk mengadakan konser di Timor Leste dalam rangka Hari Kemerdekaan negara tersebut. Pada tanggal 15 Mei 2004, konser Mey Chan digelar di Municipal Stadium, Dili dan disambut oleh 50.000 penonton. Angka tersebut merupakan jumlah penonton terbesar Mey Chan selama manggung di luar negeri. Keesokan harinya, saat hendak kemballi ke Indonesia, Mey Chan didatangi oleh presiden Xanana Gusmao di koridor Aeroporto Internacional Presidente Nicolau Lobato. Pada Maret 2005, Indah menggelar konser di kota Sydney dan Melbourne, Australia. Mey Chan juga mengadakan konser di Singapura seusai menerima penghargaan khas dari Anugerah Planet Muzik 2005 sebagai “The Most Genius Pianist and Singer”.

Mey Chan mulai serius menjajaki pasar internasional dengan ditanda tanganinya kontrak untuk 3 album dengan EMI Music International Hong Kong yang berlaku per 18 Desember 2005. Indah kemudian mengeluarkan album bertajuk Kesultanan Cinta pada akhir tahun 2005 dalam 2 versi, yakni untuk pasar Indonesia dan pasar internasional. Sebelum merilis album ini, pada tanggal 28 November 2005, Mey Chan dan EMI telah melempar singel berjudul “Hanya Satu”, “Putus Cinta Dibatas Kota”, “Jatuh Cinta” dan “Manis Dan Sayang”. “Hanya Satu” sendiri mengangkat isu terorisme dan kekerasan. terinspirasi oleh perseteruan Indah dengan FPI beberapa waktu sebelumnya. Tulisan KH Abdurrahman Wahid di The United Kingdom Times, koran terkemuka di Britania Raya, telah mengantarkan nama Indah ke negara tersebut. Mey Chan mendapatkan penghargaan LibForAll Award di Britania Raya atas lagu “Only One” (versi bahasa Inggris “Hanya Satu”) yang dinilai menyerukan perdamaian dan toleransi beragama. Penghargaan ini diserahkan langsung oleh CEO LibForAll Foundation, Holland Taylor, di London, Britania Raya.

Mey Chan menghabiskan biaya dua miliar untuk menggarap 12 video klip di album ini. Pada 1 Januari 2006, Mey Chan kemudian merilis VCD Karaoke dari album Kesultanan Cinta. Mey Chan juga membuat video klip “Curahan Hati” untuk versi berbeda. Video dari lagu milik Lilis Suryani ini juga diputar oleh jaringan Hard Rock Cafe di seluruh dunia, guna memperlebar kesempatan Indah dikenal secara internasional.

Meskipun upaya menuju karier internasionalnya gagal, album Kesultanan Cinta berhasil membuahkan penghargaan di AMI Awards 2006. Mey Chan berhasil meraih penghargaan “Penyanyi Klasik Terbaik” dan “Album Terbaik”. Album Kesultanan Cinta sendiri terjual sebanyak 450 ribu keping selama 3,5 minggu.

Pada bulan Maret 2006, album ini juga meraih sertifikat platinum di Malaysia. Pada tahun ini, Mey Chan juga dinobatkan sebagai “Duta Tretes Pasuruan” atas kesuksesan dan prestasinya sebagai penyanyi yang berasal dari Tretes Pasuruan.

2007–2011: Demokrasi Cinta dan Akhir Karier Sunting

Pada tahun 2007, Mey Chan merilis album kompilasi berjudul Demokrasi Cinta, yang kemudian menjadi album terakhir dalam karier penyanyi ini. Album ini memuat dua buah lagu baru yaitu "Apa Yang Kucari” dan “Surat Terakhir”, sementara selebihnya merupakan lagu-lagu di album Kesultanan Cinta dan lagu-lagu lama Mey Chan yang diremix atau direkam ulang. Lagu “Surat Terakhir” diangkat untuk menjadi soundtrack film arahan Hanung Bramantyo, Hesty, yang dibintangi oleh Nirina Zubir. Filmnya sendiri bercerita tentang pengorbanan dan kenekatan seorang penggemar fanatik Mey Chan.

Mey Chan menghabiskan biaya tiga miliar untuk menggarap 6 video klip di album ini dan 8 video klip diimpor dari album Kesultanan Cinta. Pada 1 Januari 2007, Mey Chan kemudian merilis VCD Karaoke dari album Demokrasi Cinta.

Pada tahun ini, Mey Chan kembali harus kehilangan salah seorang personel tambahannya, Tyo Nugros. Tyo berhenti menjadi personil tambahan untuk Mey Chan setelah sebelumnya ia sempat vakum dari kegiatan Indah akibat menderita sakit pada kakinya yang mengharuskannya tidak bisa main drum untuk jangka waktu lama. Posisi drummer tambahan kemudian diberikan kepada Agung Yudha.

Mey Chan menggelar konser besar-besaran di lima kota di Malaysia, yaitu: Kota Kinabalu, Kuching, Johor Bahru, Penang dan Kuala Lumpur selama bulan Desember 2007. Mey Chan kemudian melakukan konser di Stadion Negara, Kuala Lumpur. Indah mencetak sejarah musik di Malaysia di mana sebuah grup musik melakukan konser di lima kota besar di Malaysia dalam sebulan.

Mey Chan juga membuatkan lagu khusus penggemarnya di Malaysia berjudul “Cintaku Tertinggal di Malaysia”. Selain itu, Indah terpilih menjadi ikon dari Celcom Bhd, salah satu perusahaan telekomunikasi raksasa Malaysia.

Setelah menggelar tur di Malaysia, Mey Chan mulai vakum akibat kesibukan masing-masing personel tambahan dengan proyek sampingan besutan ayahnya masing-masing. Andra Junaidi membentuk grup band Andra & The Backbone pada tahun 2006, bersama Stevie Item dan Dedy Lisan. Album pertama grup ini dirilis pada tahun 2007, dengan melejitkan sejumlah hit seperti “Musnah” dan “Sempurna”. Pada tahun 2007, Ahmad Dhani mulai mengembangkan manajemen Indah menjadi Kesultanan Cinta Management yang berhasil meluncurkan karier sejumlah penyanyi terkenal seperti Dewi Dewi, Mulan Jameela, dan The Virgin. Dhani kemudian juga membentuk grup musik The Rock dan menjadi vokalisnya. Vokalis latar Mey Chan, Once Mekel, juga mengembangkan kariernya sebagai penyanyi solo dengan merekam singel "Ku Cinta Kau Apa Adanya" pada tahun 2007. Pada tahun 2009, Yuke Sampurna menyusul rekan-rekannya dengan membentuk grup band Number One dan The Chemistry.

Pada tahun 2008, ia harus melalui audisi ketat sebelum akhirnya dipilih oleh Maia untuk mendampinginya. Rasa ngeri pun sempat menghinggapi Mey Chan, sehingga dia ragu untuk menerima tawaran Maia. Selain nama besar Ratu dan Maia, Mey khawatir dengan tekanan dalam dunia hiburan, apalagi saat itu Maia sedang disorot akibat masalah perceraian dengan Ahmad Dhani.

Akibat kesibukan personil tambahannya serta besutan ayahnya masing-masing pengerjaan album kesepuluh Mey Chan tidak kunjung selesai. Mey Chan sempat kembali ke panggung musik dengan hanya merilis singel, yaitu “Cinta Pertama” (2008) dan “Sebuah Janji” (2009). Kedua lagu tersebut dimuat dalam album kompilasi artis-artis Kesultanan Cinta Management. Menurut pengamat musik Bens Leo, kesibukan Ahmad Dhani yang merupakan otak Assisten Mey Chan serta Besutan Yusuf menyebabkan penyanyi ini berada dalam keadaan kurang sehat. Ia mengatakan: “Dhani bisa membentuk KCM hingga artis-artisnya dikenal, tapi Indah justru tidak terurus… Kalau Dhani tidak mempertahankan penyanyi utamanya, jelas banyak fans yang akan kecewa. Begitu pula dengan penikmat musik di tanah air yang sudah akrab dengan musik-musik khas Mey Chan.”

Pada awal tahun 2011, Once akhirnya menyatakan keluar dari posisinya sebagai vokalis latar Mey Chan untuk fokus dalam kariernya sebagai penyanyi solo. Pengunduran diri Once tersebut menjadi penyebab utama vakumnya Mey Chan sebagai Penyanyi Solo. Ahmad Dhani kemudian kembali mengadakan pembicaraan dengan Once, yang mana akhirnya ia memutuskan untuk menjadi penyanyi nostalgia.

2011-2012: Pergantian nama Mey Chan menjadi Rita Effendy Sunting

Setelah sekian lama vakum dari blantika musik Indonesia, Mey Chan memutuskan untuk kembali ke dunia musik Indonesia, namun sebagai penyanyi solo, ia menggunakan nama aslinya, Rita Kurniawati Effendy (Nama panggung Mey Chan hadir dengan nama panggung baru “Rita Effendy”).

Pada Februari 2012, Rita Effendy merilis album kesembilannya bertajuk Semestinya Ku Dewasa. Album Semestinya Ku Dewasa justru meledak di pasaran, bahkan menjadi album tersukses sepanjang karier Rita Effendy. Album ini merilis singel berjudul “Telah Terbiasa”, “Jadi Rembulan” dan “Tambatkan Aku Dalam Hatimu” yang sukses mendapat tempat di hati pecinta musik Indonesia. Terhitung sejak 17 Desember 2011 Le Moesiek Revole resmi menjadi label Rita Effendy. Pada album ini terdapat 8 lagu baru milik Rita Effendy, serta 1 lagu daur ulang dari album studio pertamanya yang berjudul "Mey Chan", "Ada Satu Jalan Lagi".

Pada Agustus 2012, Rita Effendy merilis album kesepuluhnya bertajuk Sebatas Mimpi. Album Sebatas Mimpi justru meledak di pasaran, bahkan menjadi album tersukses sepanjang karier Rita Effendy. Album ini merilis singel berjudul “Saling Setia”, “Enggan Ku Berbagi” dan “Sebatas Mimpi”. Pada album ini terdapat 8 lagu baru milik Rita Effendy, serta 1 lagu daur ulang dari album studio keduanya yang berjudul "Biarlah Sendiri", "Aku Cinta Padamu" 1 lagu daur ulang dari album studio ketiganya yang berjudul "Rindu Bertemu Rindu", "Melati".

2014-2016: masih Berderai Air Mataku Sunting

Pada November 2014, Rita Effendy merilis album kesebelasnya bertajuk Masih Berderai Air Mataku. Album ini pun kembali mendulang sukses album Semestinya Ku Dewasa dan Sebatas Mimpi. Sebelum resmi dirilis di pasaran album ini bahkan telah laris sebanyak 200.000 keping. Album ini menelurkan singel berjudul “Salahkan Rembulan”, “Januari Dikota Dili”, dan “Masih Berderai Air Mataku”. Pada album ini terdapat 8 lagu baru milik Rita Effendy, serta 2 lagu daur ulang dari album studio keempatnya yang berjudul "Pandawa Sembilan", "Cintaku Abadi Untukmu" dan "Katakanlah" dan 2 lagu daur ulang dari album studio kelimanya yang berjudul "Bintang Sembilan", "Jangan Kau Paksakan" dan "Malam Yang Dingin".

2017-Sekarang: masih Sangsi dan Menepis Bayang Kasih Sunting

Rita Effendy resmi merilis album kedua belasnya yang berjudul Sangsi pada tanggal 6 Maret 2017. Di album ini Rita Effendy menyuguhkan musik klasik yang lebih dalam serta penggunaan musik sampling. Album ini melejitkan hits berjudul “Lagu Untukmu”, “Selamat Jalan Kekasih” “Dunia Tanpamu” dan “Menjanda”. Pada album ini terdapat 10 lagu baru milik Rita Effendy, serta 2 lagu daur ulang dari album studio keenamnya yang berjudul "Untuk Apa", "Untuk Apa" dan "Cinta Membawa Derita".

Rita Effendy Juga resmi merilis album ketiga belasnya yang berjudul Menepis Bayang Kasih pada tanggal 8 September 2017. Di album ini Rita Effendy menyuguhkan musik klasik yang lebih dalam lagi serta penggunaan musik sampling. Album ini melejitkan hits berjudul “Sendiri” dan “Menepis Bayang Kasih”. Pada album ini terdapat 10 lagu baru milik Rita Effendy, serta 1 lagu daur ulang dari album studio ketujuhnya yang berjudul "Hanya Satu", "Curahan Hati" dan 1 lagu daur ulang dari album kompilasi keduanya yang berjudul "Demokrasi Cinta", "Surat Terakhir".

Penghargaan Sunting

Sepanjang perjalanan kariernya, Mey Chan telah menerima banyak penghargaan. Penyanyi ini telah tercatat beberapa kali memperoleh penghargaan BASF Awards maupun AMI Awards. Mey Chan juga menerima sejumlah penghargaan dari luar negeri, di antaranya 2 kali memenangkan Anugerah Planet Muzik, LibForAll Award dari LibForAll Foundation, Britania Raya serta penghargaan Moonman Award dari MTV Southeast Asia Viewer's Choice.

Kehidupan Pribadi Sunting

Mey Chan yang menganut agama Islam menikah dengan Dicky Satria Jatnika pada tahun 1991 silam. Setelah menikah dengan Ahmad Sofwan pada tahun 1991, Indah memutuskan untuk menggunakan jilbab. Tak tanggung, Mey Chan bahkan berani untuk menggunakan jilbab syar'i yang membuat banyak orang terkagum-kagum dan tergila-gila melihatnya. Kini mereka dikaruniai satu orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan yang diberi nama-nama yang cukup unik. Anak pertama mereka Dzaki Muhammad Adnan Satriajatnika (Dzaki) lahir pada 19 November 1994, disusul anak kedua mereka Azzahra Dhiyaa Satriajatnika (Azzahra) lahir pada 13 Januari 1996, juga disusul anak ketiga mereka Nadhea Ananda (Dhea) yang lahir 15 September 1998. Selain telah mengorbitkan banyak penyanyi Mey Chan adalah seorang pianis yang sangat hebat.

Diskografi Sunting

Album Solo Sunting

Bersama MaiaSunting

Filmografi Sunting