Kisah Kasih di Sekolah/Part 17

Dari Tolololpedia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Langsung ke: navigasi, cari

[sunting] Part 17

Episode 83-91. Baca juga:

[sunting] Episode 83 = The Bonds part 1

Rabu, 24 Februari 2005. Pukul 12.00


Fahmi baru saja membeli makanan di kantin ketika Aji menyapanya.

“Mi!”
~ Aji

Namun, Fahmi hanya diam. Dia seperti murung dan lesu.

“Lo kenapa, Mi?”
~ Aji
“Entahlah...gue jadi gak ngerasa enak...”
“Gak enak kenapa?”
~ Aji

Fahmi duduk dan mulai menceritakan kejadian tadi pagi.

“Gara-gara Dyaksa nuduh Sasko, mereka jadi saling menjauh. Ujung-ujungnya, gue juga yang kena...”
“Hm, mungkin lo harus cari tau siapa yang udah ngefitnah Dyaksa pacaran sama Thia.”
~ Aji
“Jangan gue doang, lo juga ikut dong!”
“Wat? Gue...gue kan gak ada urusannya sama masalah ini. Nanti gue yang kena.”
~ Aji

Aji hendak kabur ketika Fahmi berdiri.

“Sudahlah u ini, kenapa malah ingin kabur?”
~ Fahmi dengan sekilas menyebut dengan aksen Ambon-Manado-Papua-New Yorkarta

Aji yang tercengang dengan bahasanya lalu duduk kembali di atas pangkuan Fahmi bangku.

“Lo harus secepetnya nyari siapa pemfitnah itu sebelum Dyaksa sama Sasko jadi bener-bener musuhan.”
~ Aji

Fahmi mengangguk lesu lalu kembali memakan makanannya dengan rakus lemas.

“Hey, Fahmi, Aji!”
~ Thia baru saja membeli makanan langsung duduk di samping mereka berdua.
“Thia, tadi ulangannya gimana? Susah gak?”
~ Aji
“Yah, lumayan sih. Tapi gue bisa kok.”
~ Thia

Thia terdiam sebentar sambil memandangi Fahmi.

“Lo kenape, Mi? Kok mukanya ditekuk kayak gitu?”
~ Thia
“Gak...gue lagi sedih aja...”
“Sedih napa? Gak bisa ketemu Icha yang lagi jenguk ibunya di rumah sakit?”
~ Thia menggoda Fahmi
“Bukan, lebih parah dari itu...”
“Nape sih?”
~ Thia sambil berpangku tangan

Fahmi diam sebentar lalu menghela napasnya.

“Gosip tentang lo kesebar...”
~ Fahmi sambil menunduk
“Gosip? Gosip...gosip apaan?”
~ Thia
“Ada yang bocorin kejadian kemaren...”
“Kemaren...yang mana?”
~ Thia
“Salah pahamnya ibunya Dyaksa yang berujung sama pertanyaan itu...hmph, ada yang ngefitnah kalo lo itu resmi pacaran sama dia...”
“Tunggu, ap--siapa yang ngebocorin?”
~ Thia
“Nggak tau, tapi gue harus selidikin sebelum gue juga ikut disalahin...”
“Kenapa jadi elo yang disalahin?”
~ Thia
“Karena saksi kejadian itu adalah gue sama Sasko. Sasko udah dituduh sama Dyaksa dan sekarang mereka jadi saling menjauh...”
“...gak lama lagi Dyaksa juga akan ngejauhin gue...”
“Tentu, gue gak terima juga. Gue berusaha bantuin lo supaya masalah ini cepet selesai”
~ Thia
“Thanks...”
~ Fahmi langsung beranjak dari bangkunya dan pergi dari kantin
“Kayaknya gue juga akan terlibat deh...”
~ Aji
“Hah? Maksud lo--”
~ Thia
“Maksud gue, gue juga harus ngebantuin Fahmi nyelesain masalah ini.”
~ Aji
“Bagus deh, lo juga mau dukung Fahmi buat jadi Presiden tahun 2050 nyelesain masalah.”
~ Thia meninggalkan bangkunya dan pergi ke kelas


Sesaat sebelum Fahmi sampai di kelas, Max menghampirinya.

“Hey, Fahmi! Ada apa? Kok kayaknya bengong seharian ini.”
~ Max
“Gue lagi ada masalah, Kak. Dyaksa sama Sasko jadi menjauh gara-gara...”
“Hampfft, gak mungkin Sasko ngebocorin hal itu!”
~ Joe teriak sambil menghampirinya.
“Tapi dia bisa aja kan?”
~ Dyon juga ikut menghampiri.
“Tunggu, sebenernya ada apa sih?”
~ Max
“Dyaksa nuduh Sasko yang ngefitnah dia pacaran sama Thia”
“Ape!!!???”
~ Max
“Gak usah teriak-teriak kali, Max.”
~ Joe
“T--tapi, masa iya Dyaksa nuduh sembarangan ke Sasko.”
~ Max
“Betul tuh. Kok Dyaksa bisa-bisanya kayak begitu?”
~ Joe
“Udahlah, gue gak mau ada yang saling nyalahin, Kak.”
~ Fahmi lalu pergi ke kelasnya
“Kau tau, Max. Aku mulai curiga dengan teman kecilmu, Max.”
~ Joe
“Ya, dia selalu bertindak aneh.”
~ Dyon
“Gak, dia emang selalu aneh setiap saat. Tapi, keanehan yang biasanya udah pudar. Ada sesuatu yang janggal...”
~ Max
“Lebih baik kita awasin mereka semua...”
~ Max

Kedua temannya mengangguk dan mereka kembali berjalan di koridor.

“Hm, tampaknya Sasko sama Dyaksa udah mulai berjauhan nih...”
~ bisik Flo kepada kedua temannya
“Saatnya menjauhkan mereka lebih jauh dari yang dibayangkan...”
~ Flo sambil tersenyum licik

Kedua temannya mengangguk seakan setuju dengan rencana jahatnya.

“Hei, Sas! Kok sendirian aja?”
~ Tasya menghampiri Sasko
“Eh, engg--gak kok. Gue...emang lagi pengen ngademin suasana hati gue dulu.”
~ Sasko
“Emangnya kenapa, gak duduk sama Dyaksa sama Fahmi lagi?”
~ Tasya
“Gak, gue lagi pengen di sini dulu. Di tempat kosong yang tenang.”
~ Sasko
“Tapi hati lo gak bakal tenang. Dyaksa selama ini udah ngerendahin elo. Dia bahkan bisa-bisanya nuduh elo sampe segitunya.”
~ Tasya
“Emang iya sih...”
~ Sasko
“...tapi dia masih temen gue kok...”
~ Sasko
“Hah? Temen? Temen kok bisanya nuduh. Gue ke sini buat ngebantu lo nyelesain masalah.”
~ Tasya
“Gimana?”
~ Sasko

Tasya langsung memegang tangan Sasko seerat mungkin.

“Gue...gue masih suka sama elo...”
~ Tasya dengan penuh harapan

Sasko jelas terkaget dengan aksinya yang mengundang perhatian itu dan membuat seisi kelas jadi gaduh.

“Terima! Terima! Terima!”
~ anak 9B

Dyaksa yang masih di tempat duduknya hanya melihatnya dari kejauhan.

“Tasya, gue...”
~ Sasko dengan raut yang kecewa
“Lo gak terima gue?”
~ Tasya
“Gue...gue terima kok. Gue pengen balikan sama elo...”
~ Sasko

Suasana semakin gaduh di kelas, segaduh hati Dyaksa yang berkecamuk. Dia hanya melihat segerombolan anak yang menyoraki 'pasangan' lama yang baru saja merajut cintanya kembali dan kurang lebihnya, Flo dan Amel dengan tatapan sinisnya.

“Dyaksa, gue rasa tadi itu tindakan yang bener. Nuduh sahabat lo yang enggak-enggak, bagus untuk mengakhiri persahabatan...”
~ Flo sambil menghampiri Dyaksa, tersenyum licik
“Gue gak akan terpancing oleh elo! Pantes aja Atthar pengen pindah. Dia pernah difitnah oleh lo, dia difitnah yang ngelempar granat pot bunga ke kepala sekolah!”
“Gue nggak ngefitnah Atthar, asal lo tau ya. Dia sendiri yang pernah berani-beraninya ngejelekin gue di depan temen-temen gue waktu itu.”
~ Flo
“Lalu lo bales dengan fitnah. Apa itu setimpal? Dia sampe dikeluarin dari sekolah lamanya, sekolah lama lo juga.”
“Ya, dan gue rasa ini juga balasan kepada elo yang setimpal. Lo liat sendiri kan, sekarang sahabat lo lebih milih pacaran ketimbang temenan sama ELO!”
~ Flo
“Dia nggak--”
“Gue tau lo juga pengen banget jadian sama Thia, cewek yang lo idam-idamin sejak pertama lo ketemu.”
~ Flo
“Eh, gue nggak--”
“Nggak usah basa-basi deh.”
~ Sasko menghampiri mereka
“Flo bener, gue kira dengan nganterin Thia ke rumah lo aja itu cukup. Ternyata, lo nuduh gue yang enggak-enggak.”
~ Sasko
“Tap, Sas--”
“DIEM! Lo hanya mikirin Thia terus, Thia terus. Kapan lo mikirin sahabat lo ini!?”
~ Sasko
“Tapi gue tetep peduliin elo kok.”
“Peduli apa? Lo gak peduli sama persahabatan kita sama sekali. Gue kira persahabatan kita akan terus dari SD, ke SMP, ke SMA, Kuliah, bahkan kerja sekali pun. Tapi kapan lo peduli? Dulu pas masih kelas tujuh kita juga hadapin masalah kayak begini, tapi gue mengalah. Gue biarin jadi bahan ejekan. Sekarang lo nuduh gue ngebocorin rahasia terbesar lo, gue udah muak. Emangnya lo yakin kalo gue yang bilang?”
~ Sasko

Dyaksa mengangguk tapi sangat ragu-ragu.

“Cheh, gue juga bisa dari dulu kali.”
~ Sasko
“Tunggu, jadi elo yang beneran ngasi tau?”
“Ya enggaklah, Tolol!”
~ Sasko

Semuanya langsung tercengang, apalagi Fahmi yang baru saja datang di kelas.

“WHAT THE--”
“Kok lo jadi nyolot sih!”
“Lo yang mulai!”
~ Sasko langsung mulai adu kekuatan kentut dengan Dyaksa
“WOY!”
~ Fahmi berusaha melerai keduanya

Setelah pertarungan yang cukup sengit, mereka bisa dileraikan olehnya.

“Kenapa jadi pada berantem sih!?”
“Mi, sekarang, lo harus milih...”
“Milih presiden? Itu udah tahun lalu, Dyaksa!”
“Bukan itu, Fahmi!”
~ Dyaksa sambil menggunakan kamehameha!
Canda Deng!
“Milih apaan?”
“Lo milih untuk percaya sama gue kalo dia yang fitnah gue...”
“...atau percaya sama bualan orang sintinggendhengmiring itu?”
“Gue...gue...”

TO BE CONTINUED

[sunting] Episode 84 = The Bonds part 2

Masih Dunia lain hari Rabu


“Gue...gak bisa mihak ke siapapun...”
“Cepetan jawab...lo percaya sama gue atau gak?”
“I...tapi...”
“JAWAB!”
~ Sasko
“Hey, ada apa sih, kok pada ribut?”
~ Max tiba-tiba datang
“Kak...”

Max melihat kedua anak yang berada di sebelahnya, saling bertatapan dengan tajam.

“Dyaksa...Sasko...ada apa dengan kalian?”
~ Max
“Wah, udah kejadian nih...”
~ Max membatin
“Kak Max nggak usah ikut campur...”
~ Sasko
“Ya, tapi--apa masalahnya!?”
~ Max
“Kak, mereka lagi--”
~ Windu
“Sst, jangan dulu...”
~ Decky


“Kenapa pada jadi gini sih?”
~ Ditha
“Gak tau nih.”
~ Kina
“Mereka nggak biasanya kaya gini.”
~ Saskia
“Eh, diem dulu aja deh...”
~ Fatih


“Eh, kok jadi serius amat sih?”
~ Dika
“Yah, elo sih. Nggak pernah serius!”
~ Fira
“Apaan sih? Emangnye gue becanda mulu apa?”
~ Dika
“Yup, that's right. Lo gak pernah bisa serius.”
~ Hani
“Hey, udah itu...Dyaksa sama Sasko malah jadi tatap-tatapan gitu kan.”
~ Fanny


“Kenapa mereka kayak gitu sih?”
~ Vania
“Eh, Van. Gue yakin abis ini Fahmi bakal mihak sama Dyaksa deh!”
~ Vicky
“Nggak, gak mungkin dia mihak ke salah satu sahabatnya.”
~ Vania
“Tapi, kan, Sasko udah mihak ke cewek-cewek gak jelas itu.”
~ Vicky
“Nggak...aku yakin Fahmi bisa kok.”
~ Vania


“Mendingan, sekarang semuanya bubar deh. Baru abis Try Out kok malah kayak gini...”
~ Max
“Gak usah ikut campur deh Kak”
~ Flo
“Nggak, pokoknya kalian bubar...”
~ Max
“Kak, ini tuh permasalahan mereka. Kakak nggak ngerti apa-apa.”
~ Tasya
“Mending Kakak aja yang pergi, biarin mereka nyelesain masalahnya sendiri.”
~ Amel
“GUE BILANG BUBAR!!!”
~ Max berteriak

Mereka berangsur-angsur meninggalkan mereka dan kembali ke tempat duduk mereka.

“Kenapa sih...kalian berdua sampe kayak begini?”
~ Max

Dyaksa dan Sasko bertukar pandangan lalu kembali duduk di tempat duduk yang terpisah.

“Gue kagak bakal pernah maafin lo lagi, Sas.”
~ Dyaksa dalam hati
“Cih, gue gak sudi lagi bertemen sama lo.”
~ Sasko dalam hati

Fahmi masih terdiam di depan kelas. Dia sangat terpukul melihat kejadian yang menimpa persahabatan mereka, jelas di depan matanya.

“Mi...ikut Kakak...”
~ Max

Fahmi mengangguk sambil berjalan mengikuti Max keluar kelas.

“Mi, jadi...Dyaksa sama Sasko...”
~ Max
“Iya, Kak. Mereka sekarang bener-bener musuhan deh...”
~ Fahmi

Max menatap Fahmi dengan iba.

“Jangan nyerah, Mi. Lo pasti bisa mempersatukan mereka kembali.”
~ Max
“Tapi gimana caranya, Kak...”
~ Fahmi mulai putus asa
“Inget...”
~ Max
“Selama persahabatan itu ada, pasti ada tali pengekang yang mempererat persahabatan itu.”
~ Max
“Tapi...”
~ Fahmi
“Fahmi...gue dulu juga pernah punya masalah kayak gini sama Dyon dan Joe...”
~ Max
“Tapi akhirnya kalian bersatu kembali?”
~ Fahmi
“Yah, begitulah...”
~ Max sambil tersenyum

Max merangkul Fahmi layaknya adik sendiri. Namun, kenyataannya dia merangkul dirinya sendiri dari masa lalu.

“Sudahlah, lo balik aja ke kelas.”
~ Max
“Fahmi, Kak Max.”
~ Seseorang memanggil mereka, rupanya dia itu Vania
“Oh, hey...”
~ Fahmi
“Ada apa, Van?”
~ Max
“Ada apa sama Fahmi?”
~ Vania
“Oh, enggak. Fahmi baik-baik aja kok.”
~ Max
“Yep...”
~ Fahmi
“Ya udah deh, ke kelas yuk!”
~ Vania

Fahmi menatap ke arah Max. Max hanya manggut-manggut seakan ingin berkata, "Ya udah, kau sama dia aja ke kelas."

“Mm-hm...”
~ Fahmi ikut dengannya ke kelas kembali



Setelah situasi agak membaik, Fahmi dan Vania masuk ke kelas.

“Eh, Fahmi. Aku boleh nanya sesuatu gak?”
~ Vania
“Apaan?”
~ Fahmi
“Sebenernya, Kak Max itu siapa sih? Kok kalian kayaknya deket banget deh.”
~ Vania
“Yah, gue juga ketemu sama dia secara gak sengaja. Waktu SD, dia pernah ngeliput di sekolah gue. Dia itu reporter Kaskus.”
~ Fahmi
“Mm, jadi kamu bukan...kakak-adek?”
~ Vania
“Bukan sih, tapi gue ngerasa deket aja sama dia. Dia itu bener-bener baik...ke gue, ke Dyaksa, ke Sasko, ke semuanya...”
~ Fahmi
“Tapi...kamu gak pernah marah kan sama mereka berdua?”
~ Vania
“Nggak, gue nggak marah sekalipun sama mereka. Mereka berdua itu sahabat gue sejak SD.”
~ Fahmi
“Hm, aku berharap kalian bisa bersatu lagi ya!”
~ Vania
“Thanks!”
~ Fahmi



“Hm, rupanya ada udang di balik batu ya...”
~ Flo
“Ya, gue tau ada maksud tertentu dari itu...”
~ Tasya
“Kayaknya bisa jadi bahan nih...”
~ Amel
“Tentu aja. Selama kita ada di sini, nggak ada yang lepas dari pengaruh kita!”
~ Flo

TO BE CONTINUED

[sunting] Episode 85 = The Bonds part 3

Saat jam istirahat...

“Eh, ngapain sendirian, galau ya? Ciee yang galau..”
~ Faldi kepada Dyaksa
“Kalo iya emang kenapa?”
~ Dyaksa kepada Faldi
“Gara-gara Sasko atau Thia?”
~ Faldi kepada Dyaksa

Dyaksa berpikir sejenak... DAN GOLL!!

“Bukan dua- duanya...”
~ Dyaksa kepada Faldi

Sementara itu, di bagian lain dari sekolah...

“Eh, ngapain sendirian, galau ya? Ciee yang galau..”
~ Pakrel kepada Sasko
“Kalo iya emang kenapa?”
~ Sasko kepada Pakrel
“Gara- gara Dyaksa? Tuh, duduk di sebelahnya aja, lagi sendiri tuh”
~ Pakrel kepada Sasko
“Dia gak bakal mau deket sama orang yang lagi dia sebelin. Lagian ngapain juga duduk di sebelahnya.”
~ Sasko kepada Pakrel

Beberapa menit kemudian...

“Iya, emang si Dyaksa sebenarnya emang begini..”
~ Amel kepada Flo
“Lah, itu Dyaksa sama Faldi!”
~ Flo kepada Amel

Dyaksa hanya jalan dengan menunduk dan tidak peduli (Hj.Bolot mode: On)

“Lo yakin gak kabur nih?”
~ Faldi kepada Dyaksa
“Gue yakin, ini resep rahasia yang bikin gue dihajar Pudol dulu”
~ Dyaksa kepada Faldi

Lalu...

“Ahem, ada Dyaksa yang lagi pacaran sama berantem nih..”
~ Flo kepada Dyaksa
“Selamat ya Dyaksa!”
~ Amel kepada Dyaksa
“Apa rencana lo? Emang lo gak bosen diginiin terus?”
~ Faldi kepada Dyaksa
“Liat dan perhatikan baik-baik.”
~ Dyaksa kepada Faldi


Dyaksa berbalik badan, menghadapi kedua cewek itu.

“Gue akuin kalian hampir berhasil merenggangkan persahabatan gue.”
~ Dyaksa kepada Flo dan Amel
“Lalu, lo mau nyerah?”
~ Flo kepada Dyaksa

Dyaksa mengacungkan jempolnya kepada mereka.

“Heh, akhirnya lo nyerah juga.”
~ Flo kepada Dyaksa sambil tersenyum sinis.
“Tunggu, apa?”
~ Faldi
“Ups, salah arah!”
~ Dyaksa memutar jempolnya ke arah bawah.
“EH, JADI LO--”
~ Amel hendak menggertaknya, tapi Flo menahannya.
“Dyaksa, Dyaksa. Sekuat apapun lo berusaha...kita nggak akan mundur.”
~ Flo sambil menjulurkan lidahnya

Mereka berdua langsung pergi meninggalkan Dyaksa.

“Kenapa kita nggak lari aja sih?”
~ Faldi
“Tenang, itu baru sebagian kecil dari rencana gue. Liat aja nanti, mereka akhirnya bakal nyerah juga.”
~ Dyaksa


Sementara itu, di perpustakaan sekolah. Fahmi, Aji, dan Vania tampak sedang membaca buku.

“Mm, hey, Mi. Gimana dengan kasus lo kemaren?”
~ Aji kepada Fahmi
“Tambah rumit...”
~ Fahmi sambil menunduk.
“Mi, tenang sedikit ya. Aku mau ambil buku yang baru lagi.”
~ Vania


Saat Vania hendak mengambil buku, tanpa sengaja dia menyenggol seorang cewek.

“Eh, maaf ya. Eh, Icha!”
~ Vania
“Gak apa-apa kok.”
~ Icha

Vania segera mengambil buku Icha yang terjatuh.

“Makasih, tapi...”
~ Icha
“Kenapa, Cha?”
~ Vania kepada Icha
“Fahmi...ada apa?”
~ Icha
“Dia...dia lagi ada masalah sama Dyaksa dan Sasko.”
~ Vania kepada Icha
“Kenapa? Kok bisa sih?”
~ Icha
“Dyaksa nggak sengaja nuduh Sasko nyebarin gosip nggak bener gara-gara belum ada saksi yang jelas.”
~ Vania

Icha manggut-manggut lalu menaruh bukunya kembali di rak.

“Aku ke meja dulu ya.”
~ Vania sambil mengambil buku yang lain.


“Ngambil buku aja kok lama amat?”
~ Aji
“Eh, iya. Maap, gue tadi abis ketemu sama--”
~ Vania sambil duduk kembali di dekat Fahmi
“Hey, uh...semuanya.”
~ Icha menghampiri mereka lalu duduk di antara Vania dan Aji.
“Hey!”
~ Vania dan Aji
“Oh, hey...Cha. Apa kabar?”
~ Fahmi
“Baik kok.”
~ Icha sambil tersenyum
“Lalu, Ibu lo baik-baik aja kan?”
~ Fahmi

Icha mengangguk lesu.

“Tapi yang pantes lo khawatirin adalah persahabatan lo sama Dyaksa dan Sasko yang makin merenggang.”
~ Icha
“Yeah...”
~ Fahmi
“Tapi kali ini masalahnya sangat berat...”
~ Fahmi
“Mi, seandainya lo tau apa yang terjadi, pasti nggak akan jadi begini kan.”
~ Icha
“Hm, iya.”
~ Fahmi
“Seandainya lo tau...”
~ Icha membatin

TO BE CONTINUED

[sunting] Episode 86 = The Bonds part 4

Jumat, 26 Februari 2005. Pukul 19.00


Fahmi menyalakan kembali komputernya untuk menjelajahi TololBook.

“Eh, kebetulan nih, Dyaksa sama Sasko lagi Online.”
~ Fahmi
“Tapi kok, gak ada yang negur gue atau satu sama lain gitu?”
~ Fahmi
“Coba sama Dyaksa deh...”
~ Fahmi mulai membuka obrolan dengan Dyaksa


FBchat1.gif Dyaksa
PP.jpg Fahmi
Hey Dyaksa!




Dyaksa 12.png Dyaksa
Apaan?




PP.jpg Fahmi
Napa sih, kok kayaknya hari gini lo gak bersemangat banget?




Dyaksa 12.png Dyaksa
Gak, gak kenapa-napa kok. Tapi ngomong-ngomong, gue harus tidur cepet nih, Bye!



19.12

“Yah, nih anak malah tidur duluan...”
~ Fahmi
“Mending sekarang negur Sasko dulu...wait...”
~ Fahmi
“Sasko pun juga offline.”
~ Fahmi

Merasa sendirian, Fahmi hendak menutup TololBook-nya. Namun, ada sebuah hal yang membuatnya terkejut.

Far.jpg Florence Alyna
Satu lagi berita besar akan menanti! Orang ini pasti akan nyerah juga.
Suka · Komentari · satu abad menit yang lalu
Frozen.jpg Natasya Feriza Kemaren Sasko difitnah, sekarang lo mau siapa lagi coba?
53 detik yang lalu · Suka
Far.jpg Florence Alyna Kenapa? Gak suka Sasko difitnah?
Gini ya, Berita yang satu ini adalah bumbu pelengkap terakhir untuk kehancuran persahabatan mereka. Kita bukannya udah bicarain ini sebelumnya?
40 detik yang lalu · Suka
Frozen.jpg Natasya Feriza Iya, gue tau. Tapi apa lo yakin bakal berhasil ngeyakinin Fahmi sama Dyaksa?
28 detik yang lalu · Suka
Rose.jpg Amellia Dynda Eh, liat deh. www.tololbook.com/post/2651356251631.
13 detik yang lalu · Suka


“Kira-kira apaan ya?”
~ Fahmi penasaran lalu mengeklik di link tersebut
“Untung Flo asal nge-add FB orang. Gue dapet deh...”
~ Fahmi


Setelah beberapa menit, Fahmi melihat web yang dituju. Link itu menuju ke sebuah postingan seseorang yang aneh dan Flo beserta kawanannya ikut mengomentari.

Kitty.jpg Ms. Kitty
Yes, satu langkah lagi untuk menghancurkan mereka!
Suka · Komentari · 10 menit yang lalu
Rose.jpg Amellia Dynda Betul tuh, Miss!
8 menit yang lalu · Suka
Far.jpg Florence Alyna Eh, tapi gue yang bener-bener berjasa di sini. Sedangkan elo...Cih!
7 menit yang lalu · Suka
Kitty.jpg Ms. Kitty Apaan sih! Justru gue yang paling berjasa!
6 menit yang lalu · Suka
Frozen.jpg Natasya Feriza Flo, hormat dikit napa sama Miss Kitty!
6 menit yang lalu · Suka
Far.jpg Florence Alyna Emangnya elo udah ngelakuin apa sih?
5 menit yang lalu · Suka
Kitty.jpg Ms. Kitty Banyak!
5 menit yang lalu · Suka
Far.jpg Florence Alyna Banyak apaan!? Lo selama ini bahkan gagal terus buat mereka saling benci! Dan harusnya gue yang dapet gelar Miss KITTY!
3 menit yang lalu · Suka
Kitty.jpg Ms. Kitty Apaan emang yang pernah lo lakuin?
3 menit yang lalu · Suka
Far.jpg Florence Alyna Nih ya, semenjak kita pisahan setelah berhasil ngancurin hubungan R sama V, gue udah ngelakoni banyak hal, termasuk si anak bandel dari Uncy.
2 menit yang lalu · Suka
Kitty.jpg Ms. Kitty Si anak bandel? Maksud lo?
2 menit yang lalu · Suka
Far.jpg Florence Alyna Maksud gue, gue yang mendalangi pertukaran pelajar antara SMP TololCity 1 sama SMPN Uncyland 3. Gue yang maksa si anak bandel untuk tetep bungkem mulutnya sampe gue nyuruh dia untuk ngomong. Saat itu juga, gue udah tau siapa sasaran yang harus difitnah, dan besok akan jadi puncaknya.
1 menit yang lalu · Suka
Far.jpg Florence Alyna Dan selama ini gue udah berhasil nyembunyiin identitas asli gue dan penyebar fitnah itu, bahkan aib lo selama ini gue masih simpen. TAPI, gue gak bakal jamin kalo akhirnya lo ketauan juga.
1 menit yang lalu · Suka
Frozen.jpg Natasya Feriza What?!
48 detik yang lalu · Suka
Rose.jpg Amellia Dynda Apa?!
47 detik yang lalu · Suka


“What!? Apa...Apa yang terjadi?”
~ Fahmi
“Tunggu, tunggu, tunggu...Flo itu bukan Flo?”
~ Fahmi
“Terus dia siapa?”
~ Fahmi


Tiba-tiba ia dikejutkan kembali dengan sebuah pesan di TololChat yang berasal dari Flo!

FBchat1.gif Florence Alyna
Far.jpg Florence Alyna
Heh, kaget ya sama pengakuan gue!? Gue sih bisa dibilang punya bom waktu untuk menghancurkan persahabatan kalian, dan besok adalah waktu meledaknya. Tapi, gue dari hati yang dalam masih ada rasa kasian...Jadi, gue kasih lo kesempatan sampe besok tepat tengah hari jam duabelas, anak-anak kelas delapan sama sembilan bakal dateng ke taman buat acara amal bareng sama anak-anak dari Uncy. Dan yang paling penting adalah setelah lewat jam duabelas, gue akan memainkan semua rahasia kalian dan juga rahasia seseorang. Deal?



19.54


“Hm, ini aneh. Dia beri kesempatan gue untuk membuka semua misterinya. Apa dia sengaja?”
~ Fahmi
“Gue terima aja deh...”
~ Fahmi


FBchat1.gif Florence Alyna
PP.jpg Fahmi
Deal...



19.56

Fahmi mematikan komputernya lalu berbaring di atas kasurnya.

“Besok adalah hari pembuktian gue kalo gue itu harus mengembalikan persahabatan ini.”
~ Fahmi
“Gue yakin pasti penyebar fitnah itu bakalan ketauan.”
~ Fahmi

TO BE CONTINUED

[sunting] Episode 87 = Break the Mystery! part 1

Sabtu, 27 Februari 2005. Pukul 06.30


Fahmi baru saja bangun dan teringat dengan tantangan yang diberikan oleh Flo.

“Tapi, langkah apa dulu yang harus gue lakuin?”
~ Fahmi
“Ah, mungkin gue harus ngajak Dyaksa, Sasko, sama yang lain.”
~ Fahmi

Fahmi mengganti bajunya dengan setelan terkerennya. Baju hitam-putih bergaris mejikuhibiniu (?) dengan celana jeans gombrong...ya enggaklah!

“Baiklah, cepat-cepat!”
~ Fahmi


Fahmi menyambangi rumah Faldi untuk pertama kalinya. Dia tau kalo Faldi ini adalah teman terdekat ketiga Dyaksa setelah Sasko dan dirinya.

“Faldi!”
~ Fahmi sambil mengetuk pintu.
“Iya, iya.”
~ Suara dari balik pintu
“Oh, hey Fahmi!”
~ Faldi
“Gak ada waktu buat ngobrol sekarang, nanti baru kita ngobrol.”
~ Fahmi
“Ngobrol apaan?”
~ Faldi
“Sesuatu yang penting, tapi sudahlah. Sekarang kau pergi ke rumah Dyaksa dan ajak dia ke depan taman sekolah, Oke?”
~ Fahmi
“Oke, Sip!”
~ Faldi


“Sekarang, ke rumah Pudol.”
~ Fahmi membatin


Rumah kedua yang ia sambangi adalah rumah Pudol. Niatnya juga sekalian ke rumah Pakrel yang bersebelahan dengan rumah Pudol.

“Pudol! Pakrel!”
~ Fahmi teriak dari depan kedua rumah itu.
“Apaan, Mi!? Gue lagi jemur baju gue nih!”
~ Pakrel
“Eh, Rel. Pudol ke mane?”
~ Fahmi
“Main ke rumah Sasko.”
~ Pakrel
“Bagus deh, kalo gitu kita ke rumah Sasko yok!”
~ Fahmi

Segera Pakrel menjemur pakaiannya dan ikut pergi bersama Fahmi.
Sementara itu, di rumah Sasko....

“Sasko, nanti lo ikut gak ke taman?”
~ Pudol
“Acara apaan? Kapan?”
~ Sasko
“Acara konser amal. Jam sepuluh anak-anak udah pada ngumpul.”
~ Pudol
“Males ah.”
~ Sasko


“Sasko!”
~ sebuah panggilan dari luar rumah

Sasko langsung berlari ke pintu dan membukanya. Dia mendapati Fahmi dan Pakrel sedang berdiri di depannya.

“Lo ngapain ke sini, Mi...”
~ Sasko dengan nada kurang suka
“Oke, maap sebelumnya kalo emang gue pernah nyalahin elo, emang gue gak pantes ke sini...”
~ Fahmi
“Nah, tuh tau.”
~ Sasko
“Tapi, ada hal yang lebih penting. Ini menyangkut tuduhan elo yang akan terbukti bukan elo yang ngelakuin.”
~ Fahmi
“Emangnye lo tau siapa yang nyebar fitnah?”
~ Sasko
“Itu dia, gue butuh elo buat nyari tau siapa penyebar fitnah itu, sekarang kita harus pergi ke taman sebelum bener-bener rame.”
~ Fahmi
“Oke, gue ikut. Tapi kalo emang gak ada perkembangan sama sekali, jangan harap lo dapet maaf dari gue.”
~ Sasko

Fahmi menelan ludah lalu melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 07.00, berarti tiga jam untuk pencarian ini.
Mereka bertiga berlari menuju ke taman. Di sana Dyaksa dan Faldi sedang menunggu mereka.

“Eit, stop deh.”
~ Sasko

Fahmi langsung menyetop langkahnya.

“Ada apa, Sas?”
~ Fahmi
“Lo tadi nggak bilang kalo kita harus kerjasama sama orang itu kan?”
~ Sasko

Fahmi tau apa maksudnya. Orang itu mengarah kepada Dyaksa.

“Mending ke sana dulu aja deh.”
~ Fahmi sambil menarik lengan Sasko


Mereka semua akhirnya berkumpul, tapi masih ada rasa-rasa canggung.

“Dyaksa, Sasko, gue pengen kalian bersatu kembali dan gak bermusuhan kayak kemaren lagi.”
~ Fahmi
“Apa? Apa semudah itu?”
~ Dyaksa
“Tentu aja nggak.”
~ Sasko
“Denger, gue pengen kita semua bekerja sebagai satu tim. Inget pas lo nawarin gue masuk ke dalem tim buat mata-matain si A--heh?”
~ Fahmi
“Iye, tapi itu udah lama banget.”
~ Dyaksa
“Tapi, kita kan bisa bersama lagi kan!”
~ Pudol
“Iye tuh!”
~ Pakrel
“Udah lama kite enggak ngelaksanain misi rahasia.”
~ Faldi
“Eh, kok jadi pada kekanak-kanakan sih?”
~ Sasko
“Emang kite masih anak-anak, Sas.”
~ Faldi sambil bersidekap
“Setuju.”
~ Pakrel
“Gue ikut dengan Fahmi dan idenya mempersatukan kelompok kita lagi.”
~ Pudol

Fahmi bertukar pandang dengan Sasko, lalu ke Dyaksa.

“Gue ikut dengan lo, Mi.”
~ Dyaksa
“Dengan atau tanpa Sasko...”
~ Dyaksa

Sasko jadi merasa tak punya pilihan lain.

“Baik, baik. Gue juga ikut dengan kalian.”
~ Sasko
“Eit, tapi kalian harus bermaafan dulu.”
~ Fahmi
“Nggak!”
~ Dyaksa dan Sasko serempak
“Kalo gitu kalian melanggar janji kelompok kite, "Tak ada pertengkaran yang tak berujung, Ujungnya adalah saling bermaafan."”
~ Fahmi

Dyaksa dan Sasko bertukar pandang penuh arti.

“Gue....minta maaf, Sas.”
~ Dyaksa
“Nggak, harusnya gue yang minta maaf...maafin gue ya.”
~ Sasko

Lalu mereka akhirnya berjabat tangan.

“Gue yakin kita pasti bisa nemuin siapa dibalik semua fitnah dan gosip itu.”
~ Dyaksa
“Pasti!”
~ Sasko
“Yah, baiklah, tapi Flo nggak akan menunggu lama sebelum akhirnya--”
~ Fahmi
“Tunggu, Flo?”
~ Dyaksa
“Ada apa dengan cinta Flo?”
~ Sasko
“Dia yang tau siapa penyebar gosip itu pertama kali sebelum dirinya sendiri. Bahkan katanya gosip itu bocor duluan di SMPN Uncy sebelum di sekolah kita.”
~ Fahmi
“J--jadi, banyak yang tau soal itu?”
~ Dyaksa

Fahmi mengangguk pelan.
TO BE CONTINUED

[sunting] Episode 88 = Break the Mystery! part 2

Sabtu, 27 Februari 2005. Pukul 07.15


“Sekarang gimana?”
~ Dyaksa
“Mending gue cek TololBook dulu deh.”
~ Fahmi
“Heh? Mau pake apaan?”
~ Dyaksa
“Pake Leptop si Unyil gue lah!”
~ Fahmi sambil mengeluarkan laptopnya


Fahmi mencolok modem dan mengaktifkan browsernya. Dia mulai menjelajahi TololBook-nya.

“Eh liat deh! Flo lagi Online!”
~ Dyaksa
“Dan dia ngirim sesuatu di beranda elo!”
~ Sasko


Far.jpg Florence Alyna
Ahahah, gak usah terburu-buru, Fahmi. Gue masih bisa nungguin elo....
asal elo temuin gue di air taman. Sekarang juga, tanpa temen atau siapapun.
Suka · Komentari · tiga menit yang lalu


“Ah, jadi gimana nih?”
~ Fahmi
“Gini deh, mendingan elo sekarang temuin dia aja.”
~ Sasko
“Tapi bisa jadi itu jebakan dia doang, Sas.”
~ Pakrel
“Kayaknya kita juga ada yang harus ngawasin.”
~ Pudol
“Elo aja, Dol. Lo kan jago menyamar.”
~ Dyaksa
“Nah, iye. Gue setuju tuh!”
~ Faldi
“T--tapi kan...”
~ Fahmi
“Jangan mudah percaya sama penggosip kayak Flo deh!”
~ Dyaksa
“Ya udah, Pudol yang ngawasin gue deket air mancur.”
~ Fahmi
“Jangan sampe ketauan ye, Dol!”
~ Sasko sambil menepuk bahu Pudol
“Terus yang lain?”
~ Faldi
“Dyaksa sama Faldi, lo yang ngurus "Si anak Bandel Uncy"”
~ Fahmi
“Tapi...siapa dia?”
~ Dyaksa
“Yang gue ketahuin, Flo yang telah mendalangi pertukaran yang waktu itu.”
~ Fahmi
“Yang mana? Yang--oh itu ya.”
~ Sasko
“Nah, pas kita ketemu sama "Anak Bandel" ini keliatannya baik-baik aja, tapi...”
~ Fahmi
“Eh, iye. Gue denger juga waktu itu pas pertama kali Flo bergabung sama Tasya dan Amel. Dia bilang troublemaker SMP-nya.”
~ Sasko
“Nah, itu dia!”
~ Fahmi
“Eh, emangnye siapa sih? Gue kok kagak pernah dikasitau soal itu.”
~ Dyaksa
“Siapa lagi...”
~ Sasko
“Kalo bukan Atthar....”
~ Fahmi


Dyaksa mengetuk-ngetuk jarinya tiga kali.

“Hm, kalo gitu gue sama Faldi...”
~ Dyaksa
“Yep, menginterogasi Atthar, dialah salah satu pemegang kunci dari permasalahan ini.”
~ Fahmi
“Dan dia pasti juga tau siapa Flo sebenernya.”
~ Fahmi
“Lalu gue sama Pakrel gimana?”
~ Sasko
“Oh ya, emm...”
~ Fahmi berpikir keras
“Lo...em, ah ya. Lo undang orang-orang terdekat sebanyak mungkin ke sini, sebelum acaranya bener-bener dimulai.”
~ Fahmi
“Buat apaan? Masangin tenda?”
~ Sasko
“Ya bukanlah! Maksudnya, biar mereka bisa segera ngebantu kita dan nggak terpengaruh sama Flo dkk.”
~ Fahmi
“Tunggu deh, kenapa acara ini kayak Flo yang ngebuat? Kita kayak dibayang-bayangin tau!”
~ Faldi

Fahmi mengembuskan napasnya pelan.

“Sayangnya, emang Flo yang rencanain ini semua.”
~ Fahmi
“Kok bisa?”
~ Dyaksa
“Flo itu bener-bener dikenal selain kelicikannya, tapi dia dari awal terkenal juga sama kepinterannya. Dia anak yang brilian di Uncy, dan itulah alesan kenapa guru-guru di sekolah kita pada "diracuni" olehnya. Toh, gue juga baru tau kalo dia masih terikat sama OSIS Uncy 3.”
~ Fahmi
“Widih, kok kayaknya lo tau bener soal Flo deh.”
~ Sasko
“Gue bener-bener udah dilatih untuk itu, kawan!”
~ Fahmi

Mereka semua tertawa lalu senyum-senyum, seolah ingin berseru "Let's do this!"

“Eh, cepetan Mi! Nanti keburu telat loh!”
~ Dyaksa

TO BE CONTINUED

[sunting] Episode 89 = Break the Mystery! part 3

Sabtu, 27 Februari 2005. Pukul 08.30


Fahmi dan Pudol berjalan ke pusat dari taman sekolah ini, air mancur taman.

“Eh, Dol. Lo tunggu di kios baju itu deh, pantau dari sana. Oke?”
~ Fahmi
“Sip deh!”
~ Pudol sambil mengacungkan jempol


Fahmi melihat sekeliling taman yang sudah dipasangi tenda untuk konser amal. Banyak sekali kru yang berasal dari keanggotaan OSIS Tololcity 1 dan Uncy 3 berkeliling dan menyiapkan segala sesuatunya.

“Fahmi.”
~ Flo sambil menatapnya dengan licik

Fahmi melihat ke arah Flo yang ditemani oleh Tasya dan Amel.

“Biarin gue bicara empat mata sama dia.”
~ Flo

Tasya dan Amel mengiyakan dan kembali berbaur dengan kru yang lain.

“Fahmi, lo liat panggung ini kan. Oh, maksud gue. Panggung GUE ini kan?”
~ Flo
“Ya, terus?”
~ Fahmi
“Lo masih punya waktu satu setengah jam sebelum acara dimulai dan tiga setengah jam lagi sebelum gue memberi kejutan yang nggak terduga.”
~ Flo
“Kejutan apa? Gue tau kok kalo lo hanya ngancem gue, kan?”
~ Fahmi
“Cih, liat aja nanti. Elo, temen-temen elo, dan juga CEWEK elo pasti bakal kaget.”
~ Flo

Flo langsung pergi meninggalkan Fahmi.

“Mi, lo tadi nggak--”
~ Pudol
“Gue gak kenapa-napa...”
~ Fahmi
“Tapi waktu kita semakin berkurang. Pembicaraan yang sia-sia lagi rupanya.”
~ Fahmi

Pudol hanya mengangguk dan mengikuti Fahmi pergi.
Sementara itu di sisi taman yang lain...

“Eh, bukannya sekarang kite harus bawa nih kotak?”
~ Atthar
“Ya, elonya malah sibuk sendiri sih.”
~ Kru dari Uncy 3
“Yah, pokoknya gue gak tau ye kalo penanggung jawab acaranye bakal marah.”
~ Kru Uncy 3
“Yeh, kok malah jadi salahin gue sih!”
~ Atthar
“Cepet--”
~ Kru Uncy 3
“Eits!”
~ Tiba-tiba terdengar sebuah teriakan

Rupanya Dyaksa dan Faldi sudah berada di belakang mereka.

“Eh--gue...cari kerjaan yang lain ye!”
~ Kru dari Uncy 3 langsung kabur
“Eh, Dyaksa, Faldi! Kenapa ngagetin sih?”
~ Atthar
“Oh, enggak. Penasaran doang kok.”
~ Faldi
“Yep, penasaran. Apa sih isi kotak itu?”
~ Dyaksa
“Em...isinya...mic sama speaker..”
~ Atthar
“Bisa kita pindah dari sini?”
~ Dyaksa
“Eh, gak...gue harus--”
~ Atthar
“Kita harus ngomong!”
~ Dyaksa

Dyaksa langsung menarik lengan Atthar dan membawanya ke sudut taman yang sepi.

“A--ada apaan sih!?”
~ Atthar panik
“Hm, kita butuh penjelasan dari semuanya, kawan!”
~ Dyaksa
“A--apa?”
~ Atthar makin panik
“Cara lembut atau cara kasar, kawan?”
~ Faldi
“A--apa-apaan sih!?”
~ Atthar
“Cara kasar?”
~ Faldi
“Woy, to--”
~ Atthar

Satu pukulan maut mendarat di perutnya.

“Masih mau?”
~ Faldi
“Ngg--Wo---”
~ Atthar

Satu pukulan maut mendarat kembali di perutnya.

“Oke...nyerah...”
~ Atthar
“Jadi sekarang, beritau kami apa yang elo tau.”
~ Dyaksa



Sementara itu di wilayah luar taman...

“Sas, kite mulai dari siape dulu?”
~ Pakrel
“Itu dia...”
~ Sasko

Mereka sepintas melihat tiga orang cowok seperti kakak kelas.

“Ah, Three Mas Ketir!”
~ Sasko
“Weiss, ada Sasko sama Na--eh, Pakrel loh!”
~ Joe
“Apa kabar nih, sob!?”
~ Max
“Baik, tapi Fahmi lagi ada urusan penting.”
~ Sasko
“Dan ini menyangkut tuduhan kemaren.”
~ Pakrel
“Oh, kalo gitu gue dukung pesepakbola Indonesia kalian deh.”
~ Dyon
“Iya, kalo butuh bantuan, panggil nih sang master ramal!”
~ Max sambil menepuk-nepuk Joe
“Iye dah, terserah lo Max.”
~ Joe


“Eh, ada yang dateng ke mari.”
~ Joe
“Siap--”
~ Sasko

Muncul tiga orang cewek, tapi bukan sang pembawa masalah, melainkan Icha, Thia, dan Vania.

“Hai, semuanya. Kenapa pada ribut-ribut?”
~ Thia
“Denger ya, jangan percaya sama semua bualan yang bakal diberikan sama Flo, oke!?”
~ Sasko
“Yah, gue juga udah tau apa yang harus gue lakuin kali!”
~ Thia
“Gue juga tau kok!”
~ Icha
“Emangnya Fahmi sama Dyaksa ke mana?”
~ Vania
“Berpencar...tapi, udahlah. Gue udah minta maaf sama Dyaksa.”
~ Sasko

Semuanya langsung bernapas lega.

“Tapi sekarang mending kita ikut bantu biar sebagian anak-anak gak percaya.”
~ Icha
“Ide bagus tuh!”
~ Thia
“Pastinya kita harus butuh dukungan dari Uncy juga.”
~ Sasko
“Biar aku yang ngurusin anak-anak dari Uncy, aku kan kenal mereka juga.”
~ Vania
“Bagus deh!”
~ Sasko

TO BE CONTINUED

[sunting] Episode 90 = Break the Mystery! part 4

Sabtu, 27 Februari 2005. Pukul 09.00


Fahmi melihat ke jam tangannya. Waktu mereka kurang lebih satu jam lagi sebelum taman ini rame pengunjung.

“Oh ayolah, kalo rame nanti kita nggak bakal tau siapa orangnya.”
~ Fahmi
“Dyaksa sama Sasko kira-kira udah ngelaksanain tugas belom ye?”
~ Pudol
“Tenang aje. Gue tau kalo mereka pasti ngelakuin tugasnya.”
~ Fahmi


“Siapa yang berani ngefitnah gue pacaran? Apa motifnya?”
~ Dyaksa
“Gue nggak tau bener siapa orang yang ngefitnah. Tapi, dia emang berasal dari Uncy.”
~ Atthar
“Terus apaan lagi?”
~ Faldi
“Gini, gue sempet ngerekam beberapa detik pas mereka ngerekam dari jendela luar elo.”
~ Atthar
“Terus rekamannye ke mana?”
~ Dyaksa
“Nih bro, sayangnye pas lagi mau ngerekam lebih banyak, batrenya keburu abis.”
~ Atthar

Atthar menunjukkan sebuah rekaman di hp-nya. Terlihat dua orang sedang berpegangan tangan merekam kesalahpahaman di rumah Dyaksa.

“Tunggu, itu kan Flo, tapi dia sama siapa?”
~ Faldi
“Itu dia, Flo sengaja nyembunyiin mukanye.”
~ Atthar
“Tapi yang gue bingung adalah, kenapa Flo masih make baju seragam Uncy, padahal dia udah keluar.”
~ Dyaksa
“Eh, bener juga ye. Hari itu kan, Flo kagak masuk, tapi kenapa dia make seragam Uncy?”
~ Faldi

Ketiganya bertukar pandang.

“Wah, ada yang gak beres nih...”
~ Dyaksa lalu mengajak kedua temannya pergi.


Sementara itu, di belahan lain taman sekolah...

“Sasko, tungguin nape!”
~ Pakrel
“Iye, kenapa? Kita harus buru-buru.”
~ Sasko
“Tunggu dulu, liat itu si Tasya.”
~ Pakrel


Sasko melihat Tasya masih mengobrol dengan Amel, tapi raut wajahnya tampak khawatir.

“Tasya!”
~ Sasko
“Eh--Kenapa, Sas?”
~ Tasya
“Gue harap lo nggak terlibat sama semua rencana Flo itu.”
~ Sasko
“Maap, tapi gue harus...”
~ Tasya
“Lo kok gitu sih, mau bantuin ngerusak persahabatan gue sama Dyaksa dan Fahmi?”
~ Sasko
“Gue rasa, ini yang gue mau, Sas. Gue pengen banget ketemu sama Miss Kitty lagi.”
~ Tasya
“Miss Kitty siapa?”
~ Pakrel
“Mau nggak mau gue harus ngebantuin rencananya, maaf...”
~ Tasya

Tasya dan Amel lalu pergi meninggalkan mereka berdua.

“Oh god, why!?”
~ Sasko
“Sok english lu tong.”
~ Pakrel
“Ah, gak ada waktu buat becanda, Rel. Gue stres.”
~ Sasko
“Emang elo stres.”
~ Pakrel

Walhasil, Pakrel dikejar sama Sasko yang mengamuk.

“Ah, capek. Mending...balik lagi ke tempat Fahmi.”
~ Sasko


Setelah semuanya berkumpul di air mancur...

“Jadi, apa hasilnya?”
~ Fahmi
“Kite berhasil buka mulutnye si Atthar, nih orangnye.”
~ Dyaksa
“Gue ngeliat Flo sama seseorang murid dari Uncy di tempat kejadian.”
~ Atthar
“Lalu, Sasko dan Pakrel?”
~ Fahmi
“Kita berhasil ngeyakinin Three Mas Ketir sama Icha, Vania, dan Thia.”
~ Pakrel
“Dan Tasya...”
~ Sasko
“Kenapa? Ada apa sama Tasya?”
~ Fahmi
“Dia pengen banget ketemu lagi sama Miss Kitty. Siapa sih dia?”
~ Sasko
“Kemungkinan besar, Miss Kitty ini juga berhubungan sama kejadian itu.”
~ Fahmi
“Dan kemungkinan besar, Miss Kitty ini adalah temen penggosip lama Tasya dan Amel....”
~ Fahmi

TO BE CONTINUED.

[sunting] Episode 91 = Break The Mystery! part 5

Sabtu, 27 Februari 2005. Pukul 10.00


“Selamat Datang di Konser Amal TololCity!”
~ Rani


Sorak-sorai penonton terdengar di seluruh taman yang sudah ramai dengan penonton.

“Tinggal dua jam sebelum akhirnya terbongkar semuanya.”
~ Fahmi
“Tapi kita harus gimana, kita kurang petunjuk.”
~ Dyaksa
“Dyaksa benar, kita bener-bener kurang petunjuk dan pendukung.”
~ Sasko
“Ke mana Three Mas Ketir?”
~ Pudol
“Mereka pergi ke sekolah, entah apa yang mereka lakuin.”
~ Thia
“Oh, baiklah. Sekarang kita bener-bener keabisan waktu.”
~ Pakrel
“Nggak.”
~ Icha

Semuanya beralih ke Icha.

“Kita masih punya waktu kok. Gue yakin kita bisa mencegah Flo ngelakuin hal itu.”
~ Icha
“Hm...Gue setuju.”
~ Fahmi
“Iya, bener. Kita harus bisa!”
~ Thia


“Apa ada kata-kata "bantuan" di kalimatmu, kawan?”
~ Tiba-tiba suara seseorang terdengar
“Hah--eh, Randy!”
~ Fahmi
“Kira-kira kita juga bisa bantu apa?”
~ Decky dan kawanannya ikut muncul
“Semua masalah, kawan.”
~ Dyaksa
“Yang bersumber dari Flo.”
~ Sasko
“Ah, harusnya gue tau itu dari lama. Gue harusnya menghajar Flo waktu itu.”
~ Randy
“Udahlah, itu nggak akan membantu. Sekarang, kita harus menghentikan Flo sebelum--dia melakukan sesuatu di panggung.”
~ Fahmi


Mereka kembali berpencar sambil mencari hasil untuk satu jam ke depan. Saat Fahmi hendak melangkah, tiba-tiba ia melihat dua orang sedang berlari tergesa-gesa ke arahnya, Fatih dan Kina.

“Fahmi!”
~ teriak Fatih sambil berlari
“Ada apa, Tih?”
~ Fahmi
“Ada....sesuatu....yang--”
~ Fatih
“Kelamaan lo. Mi, si Flo--”
~ Kina
“He, kenapa?”
~ Fahmi
“Dia...barusan ngomong sama seseorang. Mereka bicarain soal kejutan, soal pertengkaran waktu--”
~ Fatah
“Tunggu, apa? Maksud gue, siapa yang ngomong sama dia?”
~ Fahmi
“Entahlah, seorang cowok pokoknya. Dan cowoknya itu nggak manggil dia dengan nama Flo, tapi--”
~ Kina
“Siapa?!”
~ Fahmi
“Ih, jangan buru-buru napa. Gue jadi lupa kan siapa namanya.”
~ Kina
“Hmffft, ya udahlah. Makasih udah ngasih tau soal ini.”
~ Fahmi
“Eh, Mi. Jangan pergi dulu...gue punya bukti rekaman suara rencana mereka buat ngabisin kalian.”
~ Fatah
“Beneran, Tih?”
~ Fahmi
“Ini, Mi.”
~ Fatih


Dia langsung memutar rekaman tersebut dari Hp-nya. Terdengar suara khas milik Flo dan suara berat seorang cowok.

“--Gue gak bakal ngikutin saran bodoh lo itu--”
~ Flo
“--Tapi, Ri--”
~ Si Cowok


“Tunggu, Ri?”
~ Fahmi
“Iye, Mi. Dia dipanggil "Ri"”
~ Kina


“--Nggak ada tapi-tapian, Ko. Nggak sampe gue berhasil membuat kejutan itu--”
~ Flo
“--Kejutan apa? Lo udah keterlaluan banget, Ri. Lo sengaja ngegunain acara sekolah untuk menghancurkan persahabatan seseorang--”
~ Si Cowok
“--Emangnya kenapa? Apa ada masalah?--”
~ Flo
“--Gue nggak mau aja sampe lo mengaruhin orang-orang untuk ngebuka rahasia Fahmi, Dyaksa, Sasko, bahkan temen-temennya yang lain--”
~ Si Cowok
“--Sayangnya, temen-temen elo, termasuk pacar elo udah setuju dengan rencana gue--”
~ Flo
“--Gak, gue gak setuju elo yang ngatur acara ini--”
~ Si Cowok
“--Oh, begitu ya. Yah, nanti gue akan kasih tau rahasia terbesar pacar lo itu nanti siang--”
~ Flo
“--Lo jangan kayak gitu dong, Ri! Pokoknya gue gak akan biarin lo nyakitin-----”
~ Si Cowok


“Ah, kenapa? Kok mati?”
~ Fahmi
“Yah, abis batre nih!”
~ Fatih
“Yaudah, cepetan dicas. Kita harus ada bukti kuat.”
~ Fahmi

Fatih dan Kina lalu pergi mencari stop kontak terdekat untuk mengecas Hapenya.

“Kira-kira siapa "Ko" di rekaman itu ye?”
~ Fahmi
“Ko siapa?”
~ Tiba-tiba Atthar mengagetkannya
“Tar, lo tau gak siapapun yang sering dipanggil Ko?”
~ Fahmi
“Banyak, Mi. Bisa aja sih...Sasko.”
~ Atthar
“Gak mungkin si Sasko. Sasko daritadi pagi gak ketemu sama Flo. Lagian juga, pasti Fatih sama Kina tau.”
~ Fahmi
“Oh, iye. Si Cowok ini nyebut nama Flo dengan "Ri", dan dia rupanya punya pacar juga.”
~ Fahmi
“Ko...kayaknya sih ada anak Uncy yang punya panggilan Ko, dan dia punya pacar...”
~ Atthar
“Hey, kalian lagi bicarain apa--eh...”
~ Vania datang menghampiri mereka
“Van, Mi....”
~ Atthar
“Kita bicara soal Riko, ketua OSIS Uncy 3, dengan pacarnya...sigh”
~ Atthar
“Emm, boleh tau siapa?”
~ Fahmi
“Mi...pacarnya itu Miss Kitty, Fachira.”
~ Vania


Fahmi kemudiann berpikir keras.

“Fachira ya...”
~ Fahmi
“Ternyata selama ini dugaan gue bener...”
~ Fahmi
“...Kalo Miss Kitty adalah...”
~ Fahmi


Tiba-tiba sebuah panggilan yang kencang tertuju padanya.

“Fahmi!”
~ Seseorang dari kejauhan

Cewek itu tampak familier baginya. Dari kejauhan, wajahnya seperti...orang yang ia kenal, entah siapa itu.

“Eh, umm....”
~ Fahmi
“Mi, please tolongin gue dong. Gue kagak mau rahasia gue kebongkar, Mi. Tolong!”
~ Ucap si gadis itu
“T--tunggu, apa?”
~ Fahmi
“Lo--lo masih inget gue kan?”
~ Gadis itu
“Eh, lo--”
~ Fahmi
“Maafin gue atas semua gosip-gosip yang telah gue berikan ke elo, Dyaksa, Sasko, semuanya deh.”
~ Gadis itu

Fahmi tau dia berseragam Uncy, dan juga dia pasti murid yang ditukar ke Uncy waktu itu. Lalu Fahmi membaca nama yang tertera di bajunya. "Fachira Putri A."

“Hmmmf, kalo aja gue masih inget...”
~ Fahmi
“Please, Mi!”
~ Fachira
“Gue akan bantuin elo, soalnya ini menyangkut kejutan dari Flo.”
~ Fahmi
“Flo? Dia bukan Flo...”
~ Fachira
“Lalu?”
~ Fahmi
“Dia itu adalah cewek yang pernah gue gosipin. Udah lama banget sebelum akhirnya dia pindah dan malsuin identitasnya sebagai "Florence Alyna Renata".”
~ Fachira

TO BE CONTINUED

[sunting] To Be Continued

Klik di sini untuk melanjutkan

Peralatan pribadi