Jawa

Dari Tolololpedia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Langsung ke: navigasi, cari

Jawa adalah sebuah bangsa di Indonesia yang terkenal akan tokoh-tokoh legenda dalam kemerdekaan Indonesia, seperti Soekarno, Soeharto, Roy Suryo, Ronaldo, dan Jokowo.

[sunting] Asal-Usul

Konon, Plato menulis bahwa Timatheus pergi ke sebuah negeri yang disebut Atlantis di sebuah wilayah perairan. Menurut sejarahwan gendeng, kemungkinan Atlantis itu adalah Swarnadwipa (Sumatra) dan Jawadwipa (Jawa).

Bangsa Jawa Modern hari ini diduga merupakan keturunan Bangsa Kawingya (Kawi) atau Kakawingya yang berasal dari Bangladesh, bertetangga dengan Bangsa Rohingya. Leluhur Bangsa Jawa pergi ke Jawadwipa dengan menggunakan Perahu Jet F-16 dan mendarat di Banyumas. Kemudian mereka membangun koloni dari Brebes hingga Surabaya untuk melakukan penelitian atas hasil SDA di Pulau Jawa. Buktinya, dapat ditemui laboratorium kuno yang disebut "candi" hampir di setiap wilayah di Pulau Jawa.

Pada abad ke 2 SM, salah satu wangsa ningrat (klan) Jawa, yaitu klan Sanjoyo membangun sebuah negara di Purwokerto yang dinamakan "Kraton Singhosaren" (Kerajaan Singhasari). Kepopuleran Singhasari ditiru klan-klan ningrat Jawa lainnya dengan mendirikan berbagai kerajaan, seperti klan Isyono (Kerajaan Daha), klan Syailendro (Kerajaan Mataram Kuno), klan Rejoso (Kerajaan Majapahit), dll. Dari klan-klan inilah lahir klan-klan modern seperti klan Hamengkubuwono, klan Mangkubuwono, klan Pakubuwono, klan Palubuwono, dan klan Pendowo. Di dunia modern, Jawa memiliki 2 klan yang jahat, yaitu klan Kurowo dan klan Jancukbuwono. Klan ini terkenal gemar berkuasa seperti Soekarno dari klan Jancukbuwono dan Soeharto dari klan Kurowo. Selain itu ada lagi satu klan legendaris yang terkenal jahat pula, yaitu klan Sogobuwono, klan yang gemar dengan sogok-menyogok (korupsi).

[sunting] Stratifikasi Jawa

Bangsa Jawa mengenal sistem kelas sosial (stratifikasi) yang terdiri atas:

[sunting] Klas Ndeso

Ini strata terendah Bangsa Jawa yang terdiri atas orang-orang norak dan tertinggal. Kalau kamu dengan rasis mengira orang-orang Jawa itu kampungan, sebenarnya kamu hanya bertemu dengan orang-orang Jawa yang tergabung dalam kelas ini. Mereka dijuluki "wong-wong ndeso". Namun demikian, mereka adalah orang-orang Jawa yang baik dan santun di depan orang. Karena kebaikan hati mereka, maka Pemerintah menetapkan mereka sebagai "wong-wong cilik" dan harus pro terhadap mereka (pro wong cilik).

[sunting] Klas Wiseso

Strata ini walaupun terendah kedua, namun justru terdiri dari para filsuf dan ilmuwan. Karena kecerdasan dan kepekaan mereka terhadap kehidupan ummat manusia, maka mereka dijuluki "wong-wong bijak". Para tokoh Wiseso ini biasanya memiliki sikap berpikir yang internasionalistis, intensionalistis, optimistis, konstruktifistis, dan rasionalistis tidak seperti kamu yang pesimistis dan kontraproduktifistis.

[sunting] Klas Manduroguno

Di tempat ketiga diduduki strata ini. Mereka terdiri dari orang-orang sakti mandraguno seperti wali, kyai, sapto, dan dukun. Mereka sering mengusung pelestarian kearifan lokal (tradisi "Ke-Jawa-an" atau Kejawen). Oleh karena kesaktian mereka, maka mereka dijuluki "wong-wong gendeng". Merekalah yang membentuk pola pikir mistis dan metafisis kepada masyarakat Jawa klas Ndeso. Para tokoh klas Wiseso sering berargumen dengan tokoh klas Manduroguno.

[sunting] Klas Rejo

Sesuai namanya, strata ini diduduki oleh para raja (atau ratu) dan keturunannya (bangsawan) sehingga disebut juga klas Krajan atau klas Kraton. Mereka dijuluki pula sebagai "wong-wong ningrat" karena mereka adalah berdarah biru. Mereka paling sering menggunakan Bahasa Jawa Kromo Inggíl yang terkenal keribetannya dalam berbasa-basi. Jika anda bertemu dengan orang Jawa yang suka berbasa-basi dan mengumpat (not to the point), bisa jadi mereka keturunan ningrat.

[sunting] Klas Satrio

Inilah strata tertinggi, yang terdiri atas tokoh-tokoh dongeng, seperti Harjuno dan Bimo dari klan Pendowo, Satrio Piningit, Syeh Siti Jenar, Joko Tingkir, Nyi Roro Kidul, Doraemon, dsbnya. Saking tingginya mereka, sampai-sampai kita tidak pernah bertemu mereka. Akhirnya dibuatlah cerita-cerita dongeng tentang mereka agar mereka mau muncul.

[sunting] Musuh

DR SARAH A-ZHARI.jpeg
ASTAGA! Artikel ini mengandung SARA(H) !!!.
Artikel ini sudah terlalu banyak mengandung SARA, melecehkan agama, mengandung pelecehan seksual, kata-kata kasar kaya PAKAK, ada banyak gambar pornonya, dan menyalahgunakan nama artis Rie Kugimiya atau Sarah Azhari.

Awas! Nanti Sarah Azhari akan menengok anda! Jika anda fansnya Sarah Azhari merasa tersinggung oleh artikel ini silakan pukul komputer anda dengan parang.

Bangsa Jawa memiliki musuh, musuh tersebut yaitu:

[sunting] Urang Sunda

Sejak Zaman Baheula hingga Zaman Android, Bangsa Jawa selalu bermusuhan dengan Bangsa Sunda. Pada Awal Baheula, mereka saling berdamai, tolong-menolong Dan minum miras oplosan bersama di depan candi sambil menikmati hiburan Roro Jonggrang. Namun masih diragukan karena Raja Mataram Jawa Kuno, Jayab(u)aya memilih Wong Jowo daripada Urang Priangan sebagai Presiden Republik Indonesia] dalam ramalannya. Raden Wijaya, Raja dari Dinasti Majapahit sebenarnya Putra Mahkota Dinasti Parahyangan. Namun Raden tidak mau Dan lebih memilih menjadi Raja di Majapahit. Pada Akhir Abad 1300, Hayam Wuruk bersama rombongan naik hajitentara majapahit pergi ke Ciamis, Ibukota Pajajaran untuk mempersunting Putri Pasundan, Dyah Pitaloka. Patihnya Hayam yg bernama Gajah Mada ikut bersama Hayam Wuruk, kemudian beberapa detik sebelum penyuntingan, Gajah Mada membuat onar dengan melakukan kegiatan biadab yaitu menggenosida urang sunda Dan menyatakan eksistensi pada Pajajaran, mungkin saat itu dia tidak sengaja menghisap sebiji ganja. Beberapa urang sunda berkata bahwa Gajah Mada namanya harus diganti jadi Ganja Mada (Habis Isap Ganja, Berbuat Onar, Bahasa Minangnya itu Mambuak Mada, sehingga disembut Ganja Mada). Kemudian sekitar ratusan Ribu jiwa menghadap surga. Setelah itu, Para Wanita yang melihat kejadian itu, termasuk Dyah Pitaloka melakukan bunuh diri berjamaah Karena Malu telah menjadi Istri tanpa suami. Kata Janda dimulai dari kata akibat si Jawa, Aing SuNDa kahilangan suaminA. Setelah itu Hayam Wuruk kesal Dan lari sebagai rasa malu, Ganja Mada kemudian disadarkan oleh anak buah hayam Wuruk lainnya Dan Ganja Mada atau Gajah Mada sadar, kemudian melihat apa yang terjadi, setelah itu Ia lari ke Laut Masalembo/Bawean mengubah diri jadi Siluman Lautan. Kepemimpinan Pajajaran dipegang oleh Wastukencana, Kemudian setelah itu Urang Sunda bersumpah bahwa Pria Jawa tidak boleh kawin Sama Wanita Sunda.

Tidak hanya itu Permusuhan Jawa-Sunda. Pada Tahun 1500an Kerajaan Mataram menyerang Kerajaan Sunda. Pada pertengahan abad 1500an, Banten memerdekakan diri dari pelukan Jawa Mataram. Pada 1500an juga, Jakarta menjadi sengketa antara Jawa-Banten-Belanda. Tetapi yang aneh, walau musuhan tapi di Cirebon atau Banten, Orang Jawa akur Sama Sunda, di Cirebon itu ras warganya seperti Zebra, kalau urusan otak ohh tidak, orang cirebon itu pintar, baik hatinya. Di Banten, Bahasa disana plinplan campuran Betawi–Jawa–Sunda. Lanjut urusan tadi, Orang Cirebon jika di Jawa Barat, Ia tidak kelihatan sunda. Di Jawa Tengah-Timur, Ia juga kagak kelihatan Jawa. Lah Kalau di Ambon atau Korea Utara?.

Tolololpedia juga tidak Tahu, Kenapa di NKRI ini presidennya Jawa, tidak ada Sunda. Padahal Sunda/Jawa Barat punya ITB (Institut Terpukul Besi), punya UNPAD (Universitas Paduka), Punya UPI (Universitas Pendustaan Indonesia), wilayahnya dekat Jakarta, Kota Terpadat Terpintar Dan Terkotor Dunia. Tapi Kenapa Urang Sunda teu jadi Presiden? NKRI juga Presidennya Wong Jowo mulu! BLEGUG SIAH.

[sunting] Orang Melayu

Orang Jawa amat tidak suka dengan Orang Melayu

[sunting] Bahasa

Untuk percakapan sehari-hari, orang Jawa menggunakan Bahasa Jawa. Ya iyalah, masak pakai Bahasa Inggris? Itu sih bule Jawa.

Peralatan pribadi