Hindiantara

Dari Tolololpedia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Langsung ke: navigasi, cari

Hindiantara (Inggris:The Indie of Archipelago China:San fot-si' Jepang:To Indo Arab: Jazair Al Hindi India:Devhipanthara Sanskrit:Nusvanthara Belanda:Veerenidge Oost Indie Compagnie) adalah Negara yang berkuasa di Negara Kami & Kamu yang sekarang menjadi Negeri Padat Dunia yaitu Indonesia. Negara tersebut sering dijuluki WN Asing sebagai Nusantara. Negara ini telah menaklukan 1/3 Dunia. Untuk di Asia-Pasifik, Hindiantara telah menaklukkan Dinasti Sukhothai, Khmer, Champa, Dinasti Jin, Aborigin Taiwan, 1/2 Keshogunan Tokugawa, Kerajaan Cholamandala, Kesultanan Oman, Emirat Jabal Shammar, Himyar. Untuk Di Afrika, Hindiantara menaklukan Axum, Kerajaan Nubia, Kesultanan Misri. Untuk Di Eropa, Hindiantara menaklukan 1/2 Kekaisaran Byzantium, 1/2 Kekaisaran Romawi, 1/2 Frank, Eire, Kerajaan Celtik-Gaelik, Imperium Britania Kerajaan Normandia & Islandia. Untuk Di Benua Amerika, Hindiantara berhasil menaklukan Aztec, Algonquin, Apache, Dan Inca. Nama Hindiantara adalah Nama ciptaan dari Pendiri Negara Hindiantara yaitu Raja Ajisaka. Hindiantara merupakan gabungan Kata Hindah & Kata Antara, Hindah itu yang dimaksud Indah & Antara berarti Antara 2 Benua, Pulau & Samudra. Jadi Hindiantara adalah Keindahan diantara 2 Benua, Pulau & Samudera atau Keindahan diantara 2 Elemen Tanah (Asia & Australia, Sumatera & Bali (Peradaban Hindiantara bermula dari Pulau Jawa)) Dan Elemen Air (Samudera Hindia & Samudera Pasifik). Orang-orang asing suka menyebut Hindiantara sebagai Nusvanthara, Orang Monyong menyebut Hindiantara adalah Nusuwanchuarua. Negara-Negara musuh menyebut Hindia sebagai Hindipantatra (Keindahan lobang antara 2 Bola Pantat) atau Hindifuckantara atau Anuspantatra.

[sunting] Etimologi/Asal Nama

Sudah diceritakan di atas. (:

[sunting] Zaman Ajisaka (3.100 SM - 2.998 SM)

SuryawijayaCool

Ajisaka saat di Anyer

Pada Tahun 3100 SM, Seorang Nelayan Kekaisaran India Kuno, Ajisaka & teman-temannya sedang mencari ikan di Pesisiran Mumbay di Malam Hari. Namun tiba-tiba muncul Badai Ombak ganas, Kemudian mereka terombang-ambing, kemudian mereka terbawa Ombak Samudera Hindia kemudian mereka terdampar di Suatu Pulau. Ajisaka kemudian takjub Dan kemudian Ia melaporkan Hal ini pada Kaisar India, Yudhisthira via menyan komunikasi yang Ia bawa, Ajisaka menjelaskan bahwa Ia terbawa ke tenggara oleh Ombak, menemui Gunung Besar (Krakatau) & terdampar di Suatu Pesisir. Yudhisthira menyatakan bahwa Ajisaka mengada-ngada. Kemudian Pada Tahun 3099, Ajisaka & Kawan-kawannya membangun perkampungan yang bernama Anyer (sekarang Anyer, Banten) di tempat Ajisaka terdampar Dan disaat itupula, Yudhisthira mengutus 50 Kapal untuk pergi ke Tenggara India, tempat Ajisaka tinggal, Sebelah Gunung Besar ditengah laut (Krakatau), Setelah itu awak Kapal menyatakan bahwa Apa yang Ajisaka lihat adalah benar. Pada Tahun 3095 SM, Anyer, Bantam (sekarang Banten) secara resmi menjadi Koloni Kekaisaran India Kuna, dengan Ajisaka sebagai Pemimpinnya atau Gubernur Jenderal di Daerah tersebut. Ohh Iya, Rakyat Jawa atau Sunda sekarang ini kayaknya turunan dari Rombongan Teman Ajisaka yang terdampar di Anyer.

Pada Tahun 3090, Ajisaka amat penasaran dengan Area Utara Anyer, Akhirnya Ajisaka bersama sedikit Rakyat Anyer melakukan Travel ke Utara, hingga ke tempat yang sekarang kita sebut Pelabuhan Merak. Kemudian Ia bertemu seekor Merak, Merak tersebut menyatakan bahwa Di Tempat yang kini kita sebut Pelabuhan Merak harus dibangun Pelabuhan karena ada Suatu Pulau di Area Utara Daerah Gunung Tengah Laut (Krakatau), Di Pulau itu (Sumatera) ada Manusia, & Anyer tempatnya susah untuk didampari Kapal, karena banyak bebatuan di Anyer. Lalu Apa hubungannya antara Suatu Pulau Berpenghuni dengan Anyer yang banyak Batu-batuan besar? Tanya Ajisaka. Merak menjawab bahwa Rakyat di Anyer Suatu saat akan miskin karena tidak ada Perdagangan disana. Lalu hubungannya apa? Tanya Ajisaka. Merak menjawab bahwa Pelabuhan penting untuk Perdagangan, Perdagangan penting untuk Kehidupan. Pelabuhan yang tidak bagus akan menghambat Perdagangan, Pulau yang berpenghuni (Sumatera) pasti akan berjelajah & berdagang untuk memenuhi kebutuhannya. Kesimpulannya Rakyat Pulau Berpenghuni (Sumatera) akan berdagang di Pelabuhan yang seekor Merak sarankan, lalu dengan Perdagangan itu, Rakyat Anyer akan makmur & tercukupi kebutuhannya dengan membeli kebutuhannya kepada Rakyat Pulau Berpenghuni. Begitupula Rakyat Pulau Berpenghuni. Nah, ketika terjadi Perdagangan, Ajisaka bisa memanfaatkan kondisi tsb dengan mengenakan wajib pajak pada pedagang dengan meminta beberapa sandang atau pangan atau emas atau Batu-bata. Dengan Pajak, Kas Provinsi Anyer akan tercukupi, Rakyatnya akan makmur Dan membawa manfaat seterusnya. Akhirnya Ajisaka setuju, beberapa hari, Ia pulang ke Anyer. Tempat Ia mendengarkan wejangan Sang Merak digubah besar-besaran menjadi Pelabuhan dengan Nama Pelabuhan Internasional Merak tuk menghormati Merak tsb. Selain itu, Ia membangun Pasar Besar di sebelahnya. Pada Tahun 3089, Pelabuhan Merak diresmikan. Ia juga meresmikan Pasar & Pasar Alumunium Made in India di samping Pelabuhan Merak, kini mungkin Pasar Alumunium tsb berubah menjadi Krakatau Steel. Pada Tahun 3085 SM, Ajisaka & Yudhisthira berseteru, kemudian menjadi bermusuhan. Yudhisthira yang gondok, melepaskan Provinsi Anyer & menutup pengaliran Dana dari India Kuno. Akhirnya Pembangunan Apapun di Anyer Mangkrak, Ajisaka tidak takut, Ia kemudian mengutus 10 orang untuk menjual Ribuan Sendok Alumunium, Permata, Babi Hidup & Kerajinan Kayu Jati ke Dinasti Xia di China. Akhirnya 10 orang tersebut mendapat 99999999 Emas & 200 Tenaga Kerja dari China. Pada Tahun 3080, Ia bersama 49 orang diangkut dengan 25 Kuda (1 kuda = 2 orang) berangkat untuk mencari tahu Apa yang ada di Timur Pelabuhan Merak. Ia kemudian menempuh Kota-Kota yang sekarang kini kita kenal Serang-Jakarta-Bogor-Cianjur-Bandung-Garut-Malangbong-Majalengka-Cirebon-Pantura-Semarang-Ambarawa-Magelang. Kemudian Ia beristirahat di Suatu Situ & melakukan Yoga. Kemudian Ajisaka menamai Tempat tsb dengan Nama Yoga, yang di Suatu saat diubah namanya menjadi Yogya atau Jogjakarta.Habis itu Ia berjalan lewat Solo-Madiun-Mojokerto-Surabaya-pantura-hingga Ia menemukan Semenanjung, diseberang Semenanjung (Blambangan) ada Pulau lagi (Bali), Ia kemudian menyimpulkan bahwa Daerah yang Ia tempati adalah Pulau, Pada Tahun 3075, Ia Pulang ke Anyer, memberi informasi, menyatakan Pemegangan Pulau Jawa & menobatkan diri sebagai Raja & membuat Negara yang bernama Negara Hindiapantara, Alasannya?, sudah kita jelaskan di Paragraf Pertama Artikel ini!.

Pada Tahun 2998 Ia Wafat tersedak 3 Biji Duren, Ia digantikan Putranya, Ajisama. Ajisama beserta Keturunannya memimpin Pulau Jawa terus menerus.

[sunting] Zaman Pasca Zaman Ajisaka Pra-Zaman Jayakarta (PZAPZJ) (Tahun 2.998 SM - 200 SM)

Di Zaman PZAPZJ, Di Hindiantara, Dibangun Beberapa Kota di Negara Hindia yang berlokasi di Seluruh Pulau Jawa & Madura. Kota-Kota tsb adalah Cibogor, Asemkurang atau Kurangasem, & Bangkalanjaya. Pada Tahun 1500 SM, Mata Uang mulai diperkenalkan oleh Kaisar Ajitapa XXI, Mata Uang dinamakan Rupiah. Pada Setelah Tahun 1000 SM, Hindiantara menjadi Pengekspor Beras terbesar Dunia & Kaisar Ajigarang III, di Tahun 970 SM, Ia melakukan Swadaya Minyak Sawit. Pada Tahun 400 SM, Ilmu Filsafat Plato, Zoroastrian, Buddha, Sindhu masuk ke Hindiantara. Pada Tahun 300 SM, Pelabuhan untuk memperjual Barang Dagangan India & Barat kepada Bangsa Ambon-Ugi-Aborigin-Cina-Jepang dibangun di antara Bangkalan dengan Sidaharja (sekarang Sidoarjo), yaitu Tanjung Berak.

Pada Tahun 202 SM, Kaisar Hindiantara ke-250, Kaisar Ajibudimulya I dinobatkan sebagai Kaisar di Kota Yogakarta, Pada saat itu Kaisar yang baru dilantik ini sedang menjenguk Ayahnya, Kaisar Ajigarang V yang berbaring di tempat tidur Keraton Yogakarta karena Sakit Liver(pool). Sang Kaisar kemudian menyatakan bahwa mulai sehari setelah Penobatan, Ibukota dipindahkan ke Kota Baru yaitu Jayakarta.

[sunting] Zaman Jayakarta (Tahun 202 SM - 159 SM)

Setelah Pemindahan Ibukota Hindiantara dari Anyer ke Jayakarta karena Anyer dikhawatirkan hancur tersapu Tsunami karena Gunung sebelah Anyer (Krakatau) meletus. Kaisar Ajibudimulya I membangun Lokalisasi baru, guna mengantisipasi Perbuatan Zina & penyakit Seks menular ke Rakyat Hindiantara. Lokalisasi itu terletak di Puluhan Km dari Tanjung Berak (kini Dolly). Selain itu Kaisar Ajibudimulya I, membangun Kanal di Jayakarta & Pasar yang berbagai hari, seperti Pasar Wage, Pasar Kliwon, Pasar Pahing, Pasar Pon, Pasar 1 Suro. & membuat Perumahan & Alun-Alun Besar. Ia juga menjadi Penemu Pertama Tambang Batu Akik di Garut, Kemudian Hindiantara diubah menjadi Negara Pengekspor Batu Akik pertama Di Dunia, Pada Tahun 180 SM, Ia meresmikan Pagelaran Swadaya Batu Akik di Kota Bandungan sekaligus mengadakan Pagelaran Musim Panen. Namun karena Ajibudimulya I selalu memperhatikan Batu Akik & Lupa tugasnya, Menjaga Negara. Bahkan saking senangnya dengan Batu Akik, Ia malah memerintahkan Warga Hindiantara untuk menyumbangkan 3 Batu Akiknya. Bagi yang memiliki 2 Batu, maka Ia harus membeli 1 Batu lagi & menyumbangkannya. Yang punya sebiji, diharuskan membeli 2 lagi & menyumbangkannya. Tentu para Rakyat Hindiantara kesal, Akibatnya Terjadi pemberontakan, Ajibudimulya I terlalu sibuk akan Batu & mengutus 5 prajurit saja untuk memadamkan Pemberontakan. Akhirnya Para Pemberontak dengan mudah mendirikan Negara Baru di Pulau Jawa tanpa pertempuran sengit. Setelah Tahun 162 SM, Sudah 5 Negara Muncul di Pulau Jawa, yaitu Kerajaan Tarumajaya yang menempat Daerah yang sekarang ini kita sebut Kabupaten Lebak, Rangkasbitung & Bogor, Kerajaan Mataram yang menempati Jawa Tengah, Kerajaan Pajang di DIY, Dan Kerajaan Singhasari. Ajibudimulya I menyesali Hal ini, Ia segera bersama 5.000 Prajurit Hindiantara melakukan Ekspedisi Besar ke Daerah yang kini bernama Ciamis. Rombongan kemudian bertemu Rombongan Mataram yang dibawah pimpinan Raja Amangkurat I & Raden Saleh. Kemudian terjadi perbincangan antara Amangkurat I & Ajibudimulya I.

“Koweh ngapain disini Jelmaan Batu Akik!”
~ Amangkurat kepada Ajibudimulya
“Aing Tah eta mau melawan Sia', Kerajaan Sia' yang tau2muncul kayak setan”
~ Aj kepada Am
“GENDHENG Ayo kowe Sama inyong ribut disini pake Tai”
~ Am kepada Aj
“*ketawa terqeqeh-qeckeh* maneh elum punya Segepok Tai kan, abdi tunggu tah.. Sejam.. Abdi jabanin”
~ Aj kepada Am

Akhirnya Sang Kaisar menunggui Raja Amangkurat I yang menunggu Pasokan Tai didatangkan. Namun rupanya, Sang Kaisar sudah membawa persiapan Tai, melanggar peraturan & melakukan Serangan Mendadak pada Pos Mataram di Banjar dengan Panah yang dilumuri Tai burung & Api Neraka, Kemudian Pasukan & Raja Amangkurat I ketakutan, tetapi Raja Amangkurat I menghilangkan ketakutan dengan meminum miras. Akhirnya Amangkurat I dengan mabuknya Ia menyatakan perang & mempertaruhkan negaranya + nyawanya kalau Ia kalah. Akhirnya terjadilah Pertempuran Sengit di Daerah 6 km dari Desa Banjar di Malam yang penuh Kabut Pekat. Kemudian 10 orang Prajurit Mataram tewas dilempari Tai 7 Ton, Amangkurat dengan kegilaannya mengencingi tawanan Hindiantara yang berjumlah 12 Jiwa. Tapi Hindiantara tidak takut, Akhirnya Setelah Berhari-hari Perang Tai, Amangkurat melanggar janji & lari ke Utara Tempat Agresi berlangsung. Namun di Utara, Ia beserta Pasukan yang tersisa tertangkap, diseret ke Jayakarta & dipenggal di Alun-Alun Ikada (Iman, KAgeulisan, kaDAmaian (sekarang Taman Monas)). Kemudian Pada Awal Tahun 161 SM, Ia menamai Daerah tempat Ia berperang, Ciamis, ya, karena Tempat tersebut dipenuhi Eek Kubu Mataram-Hindiantara hingga Bau Amis ditambah Bau Bangkai Prajurit. Kemudian tempat Amangkurat ditangkap dinamai Kuningan karena Amangkurat ditangkap saat wajahnya kekuning2an kena Ratusan Tai.

Pada Tahun 159, Ajibudimulya Pergi ke Ibukota Mataram, Khertosuro mengumumkan Seluruh Wilayah Mataram jatuh ke pelukan Hindiantara sesuai Janji Raja Amangkurat I. Namun ketika dalam perjalanan, Tepatnya di Banyumas, Ia wafat & dikremasi. Kemudian Anak Ajibudimulya I, Budimulia I, menemukan sepucuk Surat tertinggal di Lemari Istana Maharddika (sekarang Istana Merdeka). Surat itu menyatakan bahwa Budimulia menjadi Kaisar selanjutnya, Budimulia harus mengumumkan jatuhnya Mataram di Kota Kertosuro & harus menjadi Kaisar murah hati & wicaksono. Pada Akhir Tahun 169, Budimulia yang berada di Kertosuro dinobatkan menjadi Kaisar Hindiantara, Diperkirakan Suku Aborigin mengutus 2 orang untuk hadir dalam penobatan. Penobatan Budimulia membuka Hindiantara zaman baru.

[sunting] Zaman Budimulia (169 SM - 100 SM)

SuryawijayaMuda

Kaisar Budimulia saat menjelang dilantik.

Setelah penobatan Kaisar Budimulia di umur 21, Sang Kaisar kemudian membangun Jalan yang bernama Jalan Pos, Jalan Pos diperkerjakan oleh Budak dari Aborigin. Pada Tahun 168, Ia tertarik menaklukan Kerajaan Singasari, Pada Pertengahan Tahun 169 SM, Ia mengutus 5 Mata-mata yang dipimpin Untunk Surapati untuk meneliti Pergerakan Politik di Singasari. Hasilnya, Di ibukota Singasari, Tumapel, terjadi keributan Raja Singasari Ken Arok & pendukungnya dengan Patihnya, ANUSapati & pendukungnya. Pada Tahun 167, Budimulia membentuk Tentara Negara yang bernama Tentara Kaamanan Hindiantara atau TKH, setelah itu Ken Arok meminta bantuan Kaisar Budimulia untuk membunuh Anusapati, Akhirnya Sang Kaisar menyetujui & mengirimkan 5000 TKH, namun itu hanya kedok saja, setelah itu dibawah pimpinan Surapati, Ken Arok & Anusapati diculik Dan dibawa ke Jayakarta. Kemudian Mereka berdua ditahan di Kebun Pinang sebelah Kota Chandrabagasasi (kini Bekasi), Setelah itu Kaisar Budimulia mengubah Kebun Pinang tsb menjadi Lapas yang bernama Penjara Cipinang, menaklukan Singasari tanpa perlawanan berarti, menjamin kehidupan Keluarga Ken Arok-Anusapati Dan mengangkat Untunk Surapati menjadi Gubernur Jawa Tengah-Jawa Timur. Pada Tahun 160, Ken Arok & Anusapati diberikan Remisi oleh Sang Kaisar asalkan memberitahukan Kelemahan Kerajaan Pajang. Ken Arok setuju & memberi kelemahannya, Anusapati malah memberikan kekuatan. Akhirnya asumsi mereka diterima. Pada Tahun 150, setelah 3 peperangan di Pleret atas pimpinan Ken Arok. Pajang jatuh, Raja Adiwijaya & Patih Rakai Pikatan menyerah. Pada Tahun 149, Yogakarta jatuh ke pelukan Hindiantara, Ken Arok dilantik Jadi Gubernur Yogakarta, Anusapati jadi Bupati Gunungkidul, Adiwijaya jadi Bupati Kulonpraga, Pikatan jadi Bupati Bantuljaya. Pada Tahun 146 SM, Di Pulau Jawa tinggal 2 Negara saja yang menduduki, yaitu Kekaisaran Hindiantara & Kerajaan Tarumajaya. Kemudian Kaisar Budimulia I mengerahkan 500 Pasukan untuk menyerang Pantai Sawarna & membuat Pos Militer Sementara di Sukabhumi (kini Sukabumi). Kemudian Terjadi Perang di Pantai Sawarna antara TKH & Tentara Tarumajaya. Disisi lain, Raja Tarumajaya, Akang Cepot sedang ingin menaklukan Gunung Sebelah Anyer (Krakatau) & Pesisiran Lampung dengan mengirimkan 10 Kapal patroli yang berkeliling dari Pesisir Barat hingga Pulau Bangka. Perbuatan tersebut ditentang Raja Kerajaan Sriwijaya, Putra Rajasa III. Kemudian Kaisar Budimulia I yang melihat itu memanfaatkan situasi dengan meminta bantuan Kerajaan Sriwijaya untuk menaklukan Tarumajaya kepada Hindiantara, sebagai balas budi, nanti Hindiantara mendukung Sriwijaya untuk membuat Konfederasi di Bumi Malayu (sekarang Malaysia) yang terdiri dari Bintan, Batam, Tumasek Johor, Kelantan, Pahang, Kedah & Perlis Dan menyewa Tentara Bangsa Kanekes (Baduy) untuk menyerang Kerajaan Selangor yang ingin membuat Konfederasi dengan Negara-Negara yang dimiliki Konfederasi buatan Sriwijaya. Akhirnya Sriwijaya setuju, Pada Tahun 144 SM, terjadi beberapa peperangan, setelah itu Akang Cepot menyerah, dengan muka merah kerana berlumur darah dari darah Tentaranya, kaki yang ngesot-ngesot & Kesedihan berlarut, Ia menyatakan menyerah sepenuhnya & damai. Kemudian Kaisar Budimulia I tidak tega melihatnya, Sang Kaisar memberikan Ia Jabatan Gubernur Provinsi Bantam, Harta yang banyak & Buku Cerita Lucu mengenai Cepot. Cepot digambarkan tokoh Sunda baik hati. Pada Tahun 142 SM, Budimulia secara resmi menutup Agenda Unifikasi Pulau Jawa dengan Festival Kuliner & Pameran Alutsista di Lapangan Ikada. Pada Tahun 141 SM, Pangkalan Militer TKH dibangun di beberapa kilo Pasar Wage (kini Cilangkap, DKI Jakarta). Pada Tahun 140 SM, Budimulia sadar bahwa Orang Kanekes bukan Petarung sejati, Budimulia bertapa & berdoa pada SangHyangnya. Kemudian Sriwijaya yang berperang dengan Selangor di Selat Malaka dimenangkan Sriwijaya. Seluruh Negara Melayu jatuh ke tangan Sriwijaya. Raja Putra Rajasa membatalkan permintaan Pasukan Kanekes. Akhirnya Kaisar Budimulia sujud syukur di Istana Mahardika.

Pada Tahun 138, Kaisar Budimulia I sedang menikmati Suatu malam di Bar sambil meminum Bir yang Ia beli. Ketika sedang minum, Ia tiba-tiba mendengar omongan seseorang yang sedang di Bar, bahwa di Utara Pulau Jawa sebenarnya ada Pulau, pulaunya Besar, 3 Kali lipat, Ia sudah lama menghuni Pulau tersebut sebagai Abdi dalem Raja Suatu Kerajaan di Pulau tersebut. Nama Kerajaannya Banjar (wilayahnya mencakup Provinsi Kalimantan Tengah & Barat saat ini), Nama Rajanya Raja Dathok Demang Lemang. Para Rakyat disana menyebut Pulaunya adalah Kalimantan, tetapi Rakyat Asing menyebut Borneo. Sebenarnya tidak hanya Banjar yang merupakan Negara/Penguasa di Kalimantan. Di Utara Banjar ada Negara namanya Kerajaan Kutai, Di Utaranya lagi masih ada, Nama negaranya adalah Kerajaan Bersatu Sabah & Sulu, di Timur Kerajaan Kutai, Sabah & Sulu ada lagi, Nama negaranya Kerajaan Sarawak, didalam Kerajaan Sarawak ada Kerajaan lagi, namanya Kerajaan Brunaipura. Diselatan Kerajaan Sarawak & Timur Kutai-Banjar, ada Kerajaan, namanya Kerajaan Pontianak., ada 6 Kerajaan disana. Di Utara Pulau ada Laut juga, begitupula timur & Barat. Pulau itu banyak pohon Jati, Dan sungainya luas. Kemudian Pada Pertengahan Tahun 138 SM, Kaisar Budimulia mengirimkan Ekspedisi 30 Kapal yang masing-masing Kapal diisi 20 orang. Kemudian 30 Kapal tsb terdampar di Kota Sambaskarta (sekarang Sambas). Mereka kemudian ditugaskan Kaisar Budimulia lewat alat komunikasi kemenyan/hirup menyan (dupping) untuk menyamar sebagai petani, nelayan, tabib, pedagang, ahli kesehatan & memata-matai informasi tentang percaturan politik di Kalimantan. Kemudian mereka ditugaskan menyebar ke Seluruh Wilayah 6 Kerajaan Di Kalimantan. Mereka-mereka ini kemudian nantinya menjadi leluhur Bangsa Dayak. Nama Dayak berawal dari Nama salah satu perusahaan Kapal yang mendonorkan Kapalnya untuk Ekspedisi Agung Kekaisaran ke Kalimantan, PT DAYAK JAYA. PT Dayak bermarkas di Anyer. Sebenarnya tidak penting diceritakan, lanjut ke Hal tadi. Tahun 136 SM, Seorang Pengikut Ekspedisi, Cilik Riwut memberitahukan bahwa Saat ini (tahun 136 SM) memberitakan bahwa Raja Brunei, Datho Bolkiah menjalin kekerabatan dengan Kerajaan Sulu-Sabah yang dipimpin Raja Tun Syafik., Tun Syafik saat itu menyetujui Pengganti Raja Kutai, Asmawarman adalah Ratu Noori, Tapi Raja Banjar, Demang Lemang & Raja Daeng Kalla dari Kerajaan Mengkasarak mendukung Putra Mahkota Kutai adalah Raja Alam. Maka terjadilah Peperangan di Kota Tarakanjaya (kini Tarakan) & Pulau Sebatik antara Kubu Noori & Kubu Alam. Kemudian Kaisar Budimulia menyuruh Cilik Riwut untuk menghasut Tun Syafik & Raja Demang Lemang bahwa mereka berdua menantang bertengkar di Ibukota Kutai, Bontangkarta. Kemudian benarlah, terjadilah keributan. Kaisar Budimulia memanfaatkan situasi dengan menyuruh Dukun terkenal di Banyumas, Ki Joko Bodoh untuk melakukan dupping & membuat Gempa Besar 8,7 SR di Bontangkarta dengan Cara apapun. Akhirnya Ki Joko Bodo setuju, Ia melakukan dupping (hirup menyan), memanggil Jin Kolor Ijo untuk menghubungkan kabel sinyal ghoib ke Kota Bontangkarta. Akhirnya terhubunglah Kabel Ghaib, kemudian Ki Joko Bodo menyatakan mantra & meniup arang menyan. Akhirnya Terjadilah Gempa Besar 8,7 SR, 1 jam setelah keributan. Ribuan Rakyat Tewas, Begitupula Raja Sabah & Banjar serta Pihak Pemerintahan Kutai. Asmawarman juga mati, tapi bukan karena gempa, tapi karena tersedak buah mengkudu. Akhirnya Kota Bontang hancur. Ratu Noori & Raja Alam juga mati, tapi mereka mati terhirup miras oplosan. Akhirnya terjadilah kevakuman pemerintahan di Sabah-Sulu, Banjar & Kutai. Kaisar Budimulia kemudian pergi ke Martapura menyatakan bahwa Seluruh Wilayah Banjar ialah milik Kekaisaran Hindiantara. Keluarga Kerajaan menyetujui saja karena Raja Demang Lemang tidak menunjuk Putra Mahkota. Anak Raja Demang Lemang, Raja Demang Lebar Daun diangkat menjadi Gubernur Kalimantan Selatan, Cilik Riwut diangkat jadi Gubernur Kalimantan Barat (tapi sekarang wilayah Provinsi Kalimantan Tengah). Di Wilayah Kutai sendiri, Pemerintahan Kalimantan Selatan mengambilalih Bagian Selatan Kutai. Serawak mengambilalih Wilayah Utara Kerajaan Kutai. Anak Tun Syafik, Tun Najib menjadi Raja Sabah-Sulu.

Pada Tahun 130 SM, Kaisar Budimulia mengamandemen UUD 45 Dan menambah aturan baru, bahwa Sistem Pemerintahan Hindiantara memiliki Perdana Menteri & Penasihat Kekaisaran (Patih). Pemilihan Perdana Menteri dilakukan jika PM wafat, bunuh diri, melakukan tindakan seksual atau withdrew (undur diri). Kemudian Sang Kaisar mengumumkan bahwa Kabupaten Cilegon & Kabupaten Samping Jayakarta (kini Kabupaten Serang, Tangsel & Tangerang) masuk Provinsi Bantam. Pada Tahun 129 SM, Kaisar Budimulia memberi ultimatum pada Raja Pontianak bahwa wilayahnya akan dikuasai, kalau tidak Sang Raja akan dipenjara. Mengetahui Hal itu Raja Pontianak, memperkuat pertahanan di Kota Pinggiran Laut. Akhirnya terjadilah Peperangan yang menentukan di Sampit. Kerajaan Pontianak diperkuat 5.000 Tentara melawan 70.000 TKH yang semuanya adalah Penjumlahan dari 3500 Pribumi Banjar & 3500 TKH kiriman dari Jayakarta. Jadi menurut matematika mistik, 35000 + 3500 = 70.000 totalnya. Kemudian Perang dimenangkan oleh Kubu Hindiantara, lalu terjadi penambahan Pasukan Pontianak di Sampit. Namun lagi-lagi dimenangkan Hindiantara karena Tentara Pontianak kalah banyak dari Tentara Hindiantara. Akhirnya TKH masuk Ibukota di Pontianak, menjarah segalanya & Panglima TKH atas Perang Sampit, Prabu Cengkar mengumumkan bahwa Wilayah Teritorial Kerajaan Pontianak menjadi wilayah Hindiantara seluruhnya. Pada Akhir Tahun 129, Provinsi Kalimantan Barat dibelah menjadi 2, yaitu Kalimantan Barat & Tengah (wilayahnya Sama dengan wilayah kini). Cilik Riwut dilantik jadi Gubernur Kalimantan Tengah & Prabu Cengkar menjadi Gubernur Kalimantan Barat. Pada Tahun 127 SM, Kaisar Budimulia I memberi Ultimatum penyerahan wilayah pada Hindiantara secara damai pada Raja Serawak, Raja Karanyan II, Namun Raja menolaknya & memberi santet kepada Kaisar Budimulia, Namun Sang Kaisar yang melihat itu memerintahkan Ki Joko Bodo & Kolor Ijo untuk membuat Kabel Ghaib dengan meniup menyan Dan ditujukan ke Ibukota Serawak, Sarawakarta dengan tujuan Rakyat Sarawakarta menjadi hewan. Ki Joko Bodo setuju, Kemudian terjadi penyantetan, Kemudian Raja Karanyan yang melihat itu mengubah Nama Kota Sarawakarta menjadi Kota Kuching karena rakyatnya pada berubah menjadi Kucing. Raja Karanyan I depresi, ketakutan & langsung menyerahkan semua wilayahnya ke Hindiantara tanpa syarat!. Setelah itu Kaisar Budimulia I mengumumkan bahwa Ekspedisi di Kalimantan Selesai! Untuk Brunei & Sabah, Penaklukan ditunggu nanti saja. Setelah itu Kaisar Budimulia I mengadakan Pesta Dangdut & Pesta Berburu Babi hutan di Banjarmasin. Wilayah Serawak, secara otonomi dibagi 2, Provinsi Kalimantan Timur & Serawak.

Hingga tahun 100 SM, tidak ada lagi peperangan yang dipelopori Kaisar Budimulia I. Tetapi mulai muncul Penyakit Korupsi. Sang Kaisar pada umur 84 tahun, menikah dengan Damarwulan & menghasilkan anak yang bernama Ki sEntot pada Tahun 103 SM. Ki sEntot diberikaan gelar Khaesar Budirajasa. Atau Kaisar Budirajasa. Pada Tahun 100 SM, Sang Kaisar wafat akibat Stroke, Ia digantikan oleh Kaisar Budirajasa yang baru berumur 3 tahun.

[sunting] Zaman Ugi (100 SM - )

Melihat Kaisar Budirajasa yang masih balita. Pejabat Hindiantara & Patih/Penasihat Kekaisaran, Ki Tapa Gila membuat petisi yang menyatakan bahwa Kaisar yang masih dibawah umur 8 tahun diharuskan tidak menjadi Kaisar Sampai Semua Indah pada Waktunya Hari Dirgantharanya ke-8 tahun. Kemudian Petisi tsb berhasil ditandatangani oleh Sang Kaisar yang tidak mengerti apa-apa selain 'Perasan Susu'. Setelah itu kemudian terjadilah Perebutan Kekuasaan antara Perdana Menteri Hindiantara, Raden Saleh dengan Penasihat Kekaisaran, Ki Tapa Gila. Akhirnya, terjadilah tawuran di Tanjung Berak. Ki Tapa Gila menyewa Buaya Darat Sakti untuk menyerang Pos Kubu Raden Saleh di Sidaharja. Akibatnya, Pos Raden Saleh hancur. Raden Saleh tak mau tinggal diam, ia menyewa Ikan Hiu untuk menyemburkan berak dari Tanjung Berak ke Pos Kubu Ki Tapa Gila. Ki Tapa Gila murka & terjadilah Pertempuran di Perbatasan Tanjung Berak, Sidaharja. Pertempuran dimenangkan Kubu Ki Tapa. Raden Saleh diceburkan ke Tanjung Berak. Namun beberapa sumber menyatakan bahwa Raden Saleh memang tercebur, tetapi ia sedang lagi kencing, kemudian ia melihat dibelakang bahwa ada ratusan Pasukan Ki Tapa Gila. Sehingga ia ketakutan & terpleset masuk kedalam Tanjung Berak. Padahal Ki Tapa Gila ingin memberikan dia penjara VIP. Tapi selang beberapa menit. Ki Tapa Gila rupnya memiliki niat licik, ia akhirnya memimpin Hindiantara, ia kemudian mengasingkan Keluarga Kekaisaran ke Palangkaraya & membuat Dinasti yang bernama Gilarajasa. Sementara itu, Dukun Sakti Yogakarta, Ki Arwana menantang Raja Mangkasarak, Daeng Kalla berjudi sabung ayam. Pertama-tama Ki Arwana menang, Belati Daeng Kalla dirampas. Habis itu, Ki Arwana menang lagi, Kain Sarung Kalla dari Ugis dirampas. Begitupula seterusnya, hingga Daeng Kalla menjadi miskin. Daeng Kalla marah, Dan menampilkan Tantangan Terakhir! Yang Kalah masing-masing Negaranya beserta Protektoratnya akan dipertaruhkan!. Daeng Kalla saat itu memiliki Banyak Protektorat, Yaitu Kerajaan Sasak di Pulau Sumbawa, Kerajaan Bone di Kabupaten Bone sekarang ini, Kerajaan Buton di Sulawesi Tenggara, Kerajaan Manado di Sulawesi Utara-Gorontalo, Dan Kerajaan bersatu Ternate-Tidore di Maluku Raya. Akhirnya! Ki Arwana Kalah!!!. Seluruh Negara Hindiantara masuk ke dalam Kerajaan Mangkasar. Ki Arwana gantung diri malu dihujat warga.

Akhirnya Kekaisaran Hindiantara jatuh ke tangan Kerajaan Mangkasar. Daeng Kalla mengirimkan 10.000 Tentara ke Pusat Hindiantara, Pulau Jawa dibawah Pimpinan Daeng Tanriabeng. Kemudian Kapal Sang Daeng terdampar di Daerah yang berada dari 5 km dari Kota Sumber, Jawa Barat (Sekarang Cirebon). Sang Daeng kemudian menginap di Gunung Ceremai, menyuruh pasukannya untuk mencari informasi & menamakan pantai tempat ia terdampar ialah Nama Pantai yang ada di sebelah Ibukota Kerajaan Mangkasar, Makassar, yaitu Pantai Losari. Sang Daeng untuk mencukupi kebutuhannya, Ia membuka tambak udang & membuat terasi yang dijual mahal sebanyak 60 Emas 1 Ton Terasi, orang-orang sekitar menyatakan bahwa Si Tanriabeng akan makmur & membangun Kota, kotanya sebaiknya dinamai Cirebon, karena Kota dihasilkan dari dari kemakmuran pertambangan Udang Rebon. Sementara, disaat kemakmuran melanda hidupnya, Daeng Tanriabeng mendapat info bahwa Pulau Jawa & Kalimantan dipimpin oleh Seorang Bangsawan, yaitu Ki Tapa Gila. Kemudian beberapa bulan, Terjadilah Pertempuran Sengit antara Kubu Gilarajasa yang berkuasa atas Hindiantara dengan Kubu Daeng Tanriabeng yang didukung keras Kerajaan Mangkasar di Kota-Kota Pantura. Kekayaan Logistik, Tambang & Perahu Pinisi yang Besar membuat Kubu Ki Tapa Gila ketakutan. Ki Tapa Gila kemudian dengan seenaknya menyuruh Rakyat untuk membuat Jalan Besar dari Anyer hingga ke Panarukan demi mempercepat kemenangan. Namun Daeng Tanriabeng bukan Raja yang bodoh. Ia langsung mempengaruhi Rakyat Jawa untuk masuk ke dalam Perkumpulan Ki Tapa Waras (PKTW)

Peralatan pribadi