Cerbung/Kisah Kasih di Sekolah 2

Dari Tolololpedia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Langsung ke: navigasi, cari

[sunting] Film kedua

Maxulmeera dan DyTolololpedia (serta JoachimPeiper) kembali dengan sekuel (SEKilas diKUEL-KUEL) cerita Kisah Kasih di Sekolah!
Ehem-hem...Kita saksikan saja...

NB: Anda Pengguna Mobile? SILAKAN KLIK LINK DI BAWAH INI APABILA GAK MUAT!

Mobile version


[sunting] Prologue

Tiga bulan kemudian, 15 Juni 2014...


"Selamat ulang tahun ya, Mi!"
Fahmi baru saja bangun dan dikejutkan oleh Nia, sepupunya yang berkunjung ke rumahnya. "Ah, lo bikin gue kaget aja." ucap Fahmi sambil menepuk bahunya dengan kencang pelan. Nia tertawa melihat sepupunya yang masih acak-acakan dan bau gara-gara belom mandi. "Mandi dulu gih, ntar gak ada yang mau deketin loh!" seru Nia lalu cekikikan. Fahmi mengangguk pelan sambil merapikan sedikit rambutnya yang acak-acakan kayak Fann Mirippapah (loh, ini siapa?).

Fahmi langsung mengguyur tubuhnya dengan bensin air dari bak mandi. Pagi itu adalah terakhir kali dia bertemu dengan teman-teman kelas 9. "Pokoknya kalo acara Pelepasan Siswa kali ini, gue harus gak malu-maluin." janji Fahmi sambil melihat pantulan wajahnya yang ganteng jelek biasa-biasa aja. Tanpa sadar, pasta gigi yang ia gosokkan ke gigi tertelan. "Bweh! Pedesss!" teriaknya sambil nyekek leher terus mati nyari minum. "Wha!!!--" Nia yang melintas langsung shock dan kabur ngeliat Fahmi lari-lari nggak jelas.....dan telanjang.

"Hari terbaik dalam sejarah bisa jadi buruk juga ya..."
Tiba-tiba, Handphonenya bergetar dan meledak!!! ketika ia sedang memakai pakaian batik. "Aheh, Dyaksa" gumam Fahmi sambil tertawa kecil.

Wifi icon.png Signal icon.png 68% 05.32 AM
Dyaksa
Dyaksa 12.png Dyaksa
Wey, Mi! Cepetan ke sekolah!

05.29
Iye, iye!
Read
05.30
Dyaksa 12.png Dyaksa
Cepetan! Gue tunggu di gerbang!

05.31
....
Read
05.32
Dyaksa 12.png Dyaksa
Oke?

05.33


"Njir, ngapain juga dateng jam segini?" desah Fahmi sambil memikirkan apa yang bakal terjadi kalau dia pergi ke sekolah sekarang. "Kurang kerjaan aja!"

Fahmi langsung keluar dari kamarnya, mengenakan celana panjang dan batiknya. Dilihatnya Nia masih tampak shock setelah insiden tadi. "Emm, Nia. Lo nggak kenapa-napa, kan?" tanya Fahmi mengecek keadaannya. Nia hanya tertawa kecil, tapi terdengar gugup. "Emm, gak napa-napa kok." ujarnya pelan. "Eh, lo mau ke mana dah, Raffi Ahmad rapi amat?" tanyanya balik kepada Fahmi. Fahmi kemudian merapikan kerah bajunya dan berkata, "Gue mau ke Pelepasan Murid Kelas 9 angkatan gue. Mau ikut?" Namun, Nia menolak dengan halus. "Gue mau jalan-jalan sama temen." gumamnya sambil berlalu.

Sebuah mobil menunggu di depan rumahnya. "Fahmi, Ibu pergi ke pasar dulu ya!" seru ibunya dari mobil. "Oke, semuanya udah siap. Tinggal melesat ke sekolah." gumam Fahmi. "Bu! Anter aku ke sekolah dulu!"


Sementara itu, di depan gerbang sekolah...

"Ah, lama amat si Fahmi!"
Dyaksa dengan perasaan berkecamuk dan agak kesal menunggu sahabatnya, Fahmi, di depan gerbang sendirian. "Gue jadi ngerasa Jomblo." ucap Dyaksa sedih. "Sendirian gini, mana ujan bechek, gak ada owjhek lagi." keluh Dyaksa sambil mengempaskan diri ke tembok pos satpam. "Yah lagi, kamu ngapain dateng kepagian?" timpal Pak Edo, seorang satpam yang bekerja di sekolah ini. Dyaksa menggerutu dalam bahasa Random sambil mencakar dinding pos. "Iya, Pak. Saya kira acaranya mulai jam enam." ucap Dyaksa pelan. "Lah, wong baru mulai setengah tujuh. Itupun bisa aja belom ngumpul semua." tukas Pak Edo lalu menyeruput kopi yang dihidangkan di atas meja. "Sabar aja, nanti juga pada dateng."

Beberapa menit kemudian, sebuah mobil sampai di depan gerbang dan menurunkan seorang anak. "Fahmi!" seru Dyaksa langsung semangat. Fahmi yang awalnya senyum-senyum langsung melongo seketika. "Dy--kok..." ucap Fahmi terbata-bata. "BELOM ADA ORANG, NJIRR!"

"Yah, makanya gue suruh lo dateng, biar gue ada temennya."
Dyaksa mengajak Fahmi ke kantin yang kebetulan sudah buka. "Tau gini, mending gue tidur buat setengah jam lagi." tukas Fahmi cemberut. "Eit, yang ulang tahun mah, jangan cemberut mulu!" goda Dyaksa sebagaimana biasanya, membuat Fahmi semakin cemberut. "Gue lagi dapet hari yang buruk nih, padahal harusnya ini jadi hari yang baik buat gue." kata Fahmi mengakui. Tiba-tiba, terdengar suara petir yang nyamber seseorang yang nyamber perkataannya, "Ciee yang curhat!"

"Sasko!" seru Fahmi sambil menepuk bahunya, kali ini sekeras mungkin. "Bagus deh lo udah dateng!"
Sasko ikut memesan sarapan pagi untuknya. "Kalian berdua dari kapan di sini?" tanya Sasko. Fahmi dan Dyaksa melirik satu sama lain. "Mm, dari kemaren, Sas." ucap Dyaksa (sok) mengakui. "Kalo gue di sini dari gue semenjak kelas 7." ucap Fahmi. Sasko rupanya nggak nangkep "Joke" di dalam kata-kata mereka. "Seriusan, kocik!" tegasnya kembali. "Dari jam setengah enam, bleh. Lu kagak punya rasa humor dikit apa yak?" timpal Dyaksa. "Eh, ngomong-ngomong pagernya tadi udah buka." ucap Sasko sambil menunjuk ke gerbang yang sudah terbuka lebar. "Yes! Makasih, Sas!" sahut Dyaksa lalu menarik Fahmi ke luar dari kantin. "Lah....gue di...tinggal?"

Beberapa saat kemudian...

"Selamat datang di Pelepasan Siswa Kelas 9 tahun ajaran 2013/2014!"
Ketua OSIS, Rani, kembali menjadi MC pada acara sekolah ini setelah sekian lama nggak bertemu sekolahnya itu. "Jujur, saya sendiri sempet terharu karena sebentar lagi kita bakal meninggalkan gedung sekolah ini, dan juga guru-guru di sini." ucap Rani. "Jadi, kita mulai aja acaranya!" seru Rani menyemangati penonton. Pertama, penyambutan dari berbagai pihak, dari mulai Kepala Sekolah, Ketua Komite, sampai ke Ketua Panitia Pelaksana acara tersebut. "Mi, itu apaan?" tanya Dyaksa melihat tumpukan kertas yang sangat banyak. "Oh, ini....proyek Cerbung kita." jawab Fahmi singkat nggak padat, dan nggak jelas. "Emangnya lo buat dari kapan, Mi?" timpal Sasko sambil menyenggol sikutnya, menghasilkan keelektronegatifan (ini apa?) "BLEH!" Fahmi dan Sasko merasakan sensasi tersetrum. "Eh, hm...Gue buatnya dari tanggal....berapa yak? Terakhir kali aja masa gue mimpi masuk ke dalem cerita itu." gumam Fahmi menenangkan diri. "Itu....aneh juga, masa lo masuk ke cerita. Kebanyakan ngayal sih lo, Mi."

Setelah sesi sambutan yang cukup panjang, acara dilanjutkan dengan pementasan drama musikal. "Weh, yang main lumayan juga yak." Decky, sang Ketua Kelas 9B, mengapresiasi para pemain drama itu. "Musiknya keren." timpal Randy, teman satu gengnya. "Gue setuju sama Randy." ucap Fahmi ikut-ikutan. "Maksud lo lumayan apanya nih, Dek?" tanya Windu, sang Wakil Ketua, dengan nada dering menggoda. "Lumayan...yah, lumayan bagus permainannya. Emangnya lo pikir apaan?" Decky bertanya balik kepada Windu. "Oh, kirain...." jawabnya enteng dan singkat. "Wah, mulai mikir yang nggak-nggak nih!" seru Decky. "Lo jangan gitu, Ndu. Ntar jadi kotor loh pikirannya." ucap Ferdi mengingatkan (istilahnye buat saat ini sih: ceramahin).

"Kini, tibalah saatnya untuk membacakan sepuluh besar yang dapat NEM terbaik di sekolah." ucap Rani. "Yang dipanggil namanya, harap naik ke panggung ini ya."
"Posisi kesepuluh....Muthia Revanita!" seru Rani diiringi tepuk tangan dari penonton. "Eh, Dy! Thia!" komentar Sasko. "Iye, gue tau!" timpal Dyaksa, lalu kembali melihat ke panggung. Berdirilah Thia di belakang Rani sambil melambaikan tangan ke penonton. "Posisi kesembilan....Nabila Ditha!" tepuk tangan lebih ramai lagi dari 9B. "Weh, Ditha! Lo peringkat sembilan!" seru Fatih dan Kina. "Iya, iya!" ucap Ditha lalu bersyukur. "Posisi kedelapan....Vania Diandra!" seru Rani diiringi tepuk tangan dan sorak sorai dari 9B. "Aheh, lo bisa juga ya!" gumam Vicky sambil menepuk punggung Vania. "Posisi ketujuh....Allisha Putri Pramesti!" tepuk tangan beralih ke 9A. "Mi..." panggil Dyaksa, tapi Fahmi tak menyahut. "Mi, lu kenapa?" tanya Dyaksa. "Oh....engg, enggak napa-napa."

Fahmi justru berharap-harap cemas, tapi keinginannya tak terkabul. Dia tak masuk peringkat sepuluh besar.
Posisi keenam adalah Garry (Ketua kelas 9A), Kelima adalah Katherine (atau Kathy), Keempat adalah Ferriz (Anak 9A), Ketiga adalah Devina (Anak 9C), Kedua adalah Herman (Anak 9A), dan pertama adalah Kintan (Anak 9A, lagi...)
"Sial, kenapa gak ada gue sih?" gerutu Fahmi sedikit menyesal. Mungkin selama ini dia kurang serius belajar. "Tenang aja, bro. Gue juga gak dipanggil, kan." tukas Decky. "Iye nih, gue juga gak dipanggil kok." timpal Dyaksa disertai anggukan Sasko.

Setelah itu, berbagai acara lain mewarnai Pelepasan para siswa kelas 9. Mereka sudah secara sah terlepas dari SMP Negeri 1 Tololcity. Fahmi menganggap semua yang lalu di SMP tinggal menjadi kenangan. "Kangen kalian semua yah!" ujar Decky. "Iya, Dek!"
Meski ada perpisahan, tapi masih banyak kenangan, kan?
Dan sekarang, waktunya untuk bergerak...



Seminggu kemudian, 22 Juni 2014


"DYAKSAAA!!" teriak Faldi dari jonggol pintu.
"Et dah Fal, kenapa gak SMS atau apa gitu, daripada teriak, berisik tau! Kenapa?" keluh Dyaksa sambil meneteskan sesuatu dari mulutnya (mungkinkah itu jus buah naga yang semalem dia minum?). Faldi dengan bangganya memperlihatkan sesuatu, "Nih gue nemu sesuatu yang aneh! Gue nemu bebek raksasa!" Dyaksa langsung kebingungan. "Malah bengong. Nih lihat!" Faldi kemudian menunjukkan seekor anak bebek. Tubuhnya sebesar 2 ekor anak bebek pada umumnya. Di dagunya ada setetes kecap yang tidak bisa dihilangkan. "Lumayan nih buat makan!" Dyaksa langsung semangat. "Qwack kwek kweken" bebek tersebut mengowek (?). "Tapi masih kecil, mending dirawat dan dikasih makan (baca:siksa) sampe gemuk, baru dimasak!" seru Dyaksa dengan rasa kasihan yang menunda. "Gue namain bebek ini Daks."

Faldi kemudian menyadari sesuatu, "Emang gue bilang ini buat lo?" sergahnya. Dyaksa langsung menahan malu. "Kasih...ke Fahmi aja." kata Dyaksa tengsin. Faldi pun tertawa hambar lalu berkata, "Canda, et dah! Kaku amet sih. Fahmi gue pengen kasih tadi, tapi setelah itu nyuruh ngasih ini bebek ke lo karena lo paling sintinggendhengmiring ngerti cara merawat (baca: menyiksa) bebek buat dimakan!" jelas Faldi. "Yaudah, gue rawat (baca: siksa) dulu ini Daks." Dyaksa kemudian pergi ke kamarnya dan memasukkan Daks ke akuarium kandang burung.


Sementara itu...


"WHAT?!" teriak Fahmi. "Ketendang dari SMA Negeri 2 Tukulkarta!?"
Fahmi terus sibuk dengan memelototi daftar peserta didik yang diterima di SMA pilihannya. "Aheh, padahal banyak temen di situ..." gerutu Fahmi. Ibunya yang kebetulan lewat kamarnya langsung nyeletuk, "Makanya belajar yang serius." Fahmi mulai merasa terbakar, entah karena kesal nggak diterima di sekolah tujuannya atau kesal karena dia baru aja nolak penawaran dari Faldi. "Bu, tadi temenku nemuin bebek besar." cerita Fahmi, berharap Ibunya bereaksi yang sama di pikirannya, kaget. "Ah, kamu. Kurangin ngayal kamu deh." ucapan Ibunya membuat Fahmi (agak) panas. Selama ini, Fahmi memang seringkali berimajinasi (atau berkhayal) di kamarnya. "Kamu mending cari temen deh, yang pinter sama baik-baik."

"FAHMIII!!!" panggil seseorang dari luar. "Hm, dari suaranya kayaknya gue tau nih..." batin Fahmi sambil mengusap-usap tangannya. Dia langsung berlari menuju pintu dan membukakan pintu untuk tamunya itu. "Silakan ma---" ucapannya terpotong karena kaget melihat Dyaksa membopong bebek itu lagi. "Bebek ini lagi? Kok lo yang bawa sih?" tanya Fahmi keheranan. Dyaksa menggaruk-garuk kepala sambil berkata, "Yah...gue ditawarin sama Faldi juga." Fahmi kemudian menganalisis bebek tersebut, rupanya memang bebek inilah yang tadi dibawa oleh Faldi. "Terus, kenapa lo bawa ke sini?" gumam Fahmi. "Emm....gimana yah, gue sempet taro di kandang burung, tapi ada satu hal..." jawab Dyaksa. "Bebek kan nggak bisa bertengger." Fahmi langsung lemes. "Ya iyalah, mana bisa bebek bertengger."
"Nah, sekarang maunya gimana?" kata Fahmi sambil menatap baik-baik ke bebek itu. "Em, gue kasih namanya Daks....dan gue nitip bebek ini ke elo aja." jelas Dyaksa. "Hadehh...." desah Fahmi sambil menggelengkan kepalanya. "Ya udah, gue yang ngurus dia." Dyaksa lalu menyerobot, "Eh, tapi kalo udah besar....kasih ke gue yak, buat dimakan." Fahmi lantas kaget dan tak terima. "Weh, itu melanggar perikehewanan (?)!" ucap Fahmi lantang. Kemudian, mereka saling berdebat hingga sempet adu jotos selama 0,0032 detik. "Hmmh, ya udah. Lo piarain gih!" seru Dyaksa lalu pamitan pulang. Lalu, Fahmi menatap bebek itu, dan mungkin bebek ini tak lain dari bebek yang lain, hanya ukuran tubuhnya saja yang melebihi rata-rata. Hening, kemudian Fahmi membawanya ke kolam rumahnya. "Mm, Daks...." ucap Fahmi pelan. "Ini adalah awal cerita semuanya."


[sunting] Episode 1

29 Juni 2014


"Tuh, kamu nyantol di SMA Negeri 68 Tololcity." Fahmi menelan ludah ketika Ibunya memberitahu.
Dia mulai mencari beberapa kemungkinan. Kabar baiknya, Dyaksa dan Sasko juga masuk di sekolah yang sama. Kabar buruknya, dia bahkan belum pernah melihat gedung sekolahnya. Selain itu, banyak juga yang belum ia kenal. "Nah, kamu gak usah khawatir. Nanti juga bakal kebiasa." ucap Ibunya, seolah membaca pikirannya. "Lagian juga, pas awal masuk SMP juga banyak yang belom kamu kenal juga, kan?" Fahmi mengangguk pelan.

"Dua minggu....menuju sekolah." gumam Fahmi sambil mengelilingi kolam.
"Qwack?" Daks mulai mengowek lagi. "Ehm, iya...seenggaknya gue bakal ketemu sama Dyaksa sama Sasko lagi." gumam Fahmi. "Tapi, percuma aja sih kalo mereka doang yang gue kenal. Gue juga bisa ketemu sama mereka tiap hari." Fahmi memukul kepalanya, berusaha menjernihkan pikiran. "Quack Quock." Daks bersuara kembali. "Hm? Daks? Apa lo pengen bicara sesuatu?" tanyanya kepada Daks. Dia mulai merasa gila sendiri, bicara kepada bebek (?) "Mulai gila ye?" sahut seseorang dari entah mana. "He? Siapa yang ngomong?"

"QUACK!" kowek Daks lebih keras. Fahmi mulai bingung dan ketakutan. "Daks? Lo kesurupan? Bebek rupanya bisa kesurupan juga." ucap Fahmi ragu-ragu. "Gak, ada gue di sini." Fahmi kemudian menengok ke belakang, dan seorang anak rupanya sudah berdiri di belakangnya. "WAAA! Darimana lo dateng!?" teriak Fahmi kaget. "Ssh, tenang. Gue ini pemilik bebek itu yang asli. Mm, panggil aja gue....yah, apaan aja deh." ucap anak itu. "Emm, lo manusia bukan?" tanya Fahmi. "Emm, gimana yah....YA IYALAH, MASA GUE BEBEK!" seru anak kecil itu. "Nah, jadi lo mau ngambil bebek ini lagi?" tanya Fahmi. Namun, anak itu justru menolak. "Lo aja yang ngerawat. Daks ini bakal bantuin kehidupan lo kok." gumam anak kecil itu. "Hah, ngebantuin gue gimana?" tanya Fahmi keheranan. "Lo bakal tau nanti, tenang aja..." ucap anak itu, "dah, gue mau pergi dulu yak." Anak itu segera melompat lewat pagar dan berlari ke jalan raya hingga luput dari pandangan Fahmi.


Minggu, 13 Juli 2014. Pukul 15.30


"Wanjir, lo kok bisa!?" seru Faldi ketika diceritakan oleh Fahmi tentang anak kecil pemilik bebek itu.
Minggu siang yang panas itu, Fahmi, Sasko, dan Faldi sedang berkumpul di rumah Dyaksa (tentu aja sama pemilik rumahnya). "Maksud gue, darimana tuh anak muncul dari mana?" tanya Faldi masih shock dan merasa bersalah karena udah ngambil bebek milik orang. "Mana gue tau, pas gue ngomong sendiri tiba-tiba dia muncul di belakang." cerita Fahmi sambil berusaha menggambarkan situasi saat itu. "Trus lu panik?" tanya Sasko. "Gak, gue langsung bakar tuh orang, terus gue ceburin ke kolam ikan gue..." ucap Fahmi sembarangan. Tiba-tiba suasana menjadi hening. Semuanya melihat ke Fahmi. "He? Apa?" tanya Fahmi gelisah. "Lu.....mabok, Mi?" kata Sasko pelan, lalu terdengar cekikikan. Tawa mereka akhirnya lepas sampe si Faldi batuk-batuk. "Iyalah, gue panik! Gue kira dia mau maling sendal gue gitu." ucap Fahmi seraya melirik ke Dyaksa dan Sasko. "Ah, jangan bahas yang waktu itu deh. Itu kan udah berbulan-bulan yang lalu." gerutu Dyaksa. Sasko secara spontan berkata, "Oh iya, besok udah sekolah ya..." Dyaksa lalu mulai menggerutu lagi, "LO KOK PAKE NGINGETIN SIH!" Namun, reaksi Fahmi berbeda. "Eh, tunggu deh. Kayaknya kita pernah ngomong kayak gini deh..." ucap Fahmi berusaha mengingat sesuatu. "Ah, tapi kan. Besok kita bisa ketemu temen-temen baru." lanjut Fahmi membuyarkan lamunannya. "Temen apa temen?" goda Dyaksa. "Iye temen lah!"

Setelah pulang ke Rahmatullah rumah masing-masing, Dyaksa berbaring santai sambil mengambil Smartfrenphone-nya. Dia membuka aplikasi chatting & sharing, LAIN! (Ngiklan dulu, bos)

HSDPA icon.png Signal icon.png 32% 17.12
C'Guys
PP.jpg Fahmi Junimax
Wey, besok bawa apaan aja?

17.08
HitlerSemangka.gif Himmler
Gue bawa Nazi goreng!

17.08
Ga nanya gituan njir -_-
Read by 2
17.09
Gue palingan bawa buku catetan kosong doang dan oh....Nametag jangan lupa :v
Read by 1
17.12
PP.jpg Fahmi Junimax
Iye dah! Thanks.

17.12

"Okeh deh....saatnya bikin nametag dan siap-siap buat tawuran besok!" gumam Dyaksa sambil menyiapkan alat dan bahannya. Dyaksa, begitu pula dengan yang lain, mengerjakannya hingga larut malam. "Sebenernya sih nggak rumit..." komentar Dyaksa. "tapi, pada ngajakin ngechat mulu njirr." Dyaksa lalu menggantungnya di depan kalender. "Dan saatnya....tidur."
Lampu pun dimatikan, pertanda liburan telah usai.


Keesokan harinya


"Bujug, Gue bisa telat nih!" ucap Dyaksa panik. Baru hari pertama (secara teknis) ia bersekolah dan sekarang jam menunjukkan Pukul 06:15. Berarti, limabelas menit waktu yang tersisa harus digunakan dengan baik atau tidak akan mengalami hal terburuk sepanjang sejarah SMA. "Woy, Mi! Sas!" teriak Dyaksa memanggil Fahmi dan Sasko yang sudah berada sekitar 100000 meter di depannya. "FAHMI! SASKO!" teriaknya lebih keras sambil berlari terbirit-birit mengejar mereka. "Hm, siapa yang manggil kita, Sas?" tanya Fahmi sambil tersenyum sarkastis. "Mana gue tau, cuman pikiran lo aja kali." ucap Sasko sambil melangkah lebih cepat, lalu Fahmi mengiringinya. Dyaksa pun berlari lebih cepat sedangkan kedua temannya itu mulai berlari. Tersusunlah lomba lari secara spontan. "Yang kalah harus baris di depan!" seru Fahmi. Dyaksa, yang terbiasa berbaris di tengah atau belakang, langsung berteriak, "ANJIR!"

"YESH, GUE MENANG!" sorak Dyaksa penuh kemenangan.
Sementara itu, Fahmi berada di posisi belakang dan ngos-ngosan. "Ahhh, huehh....Mati gue..." desah Fahmi sambil mengatur pernapasannya kembali. "Mi, lo berarti di depan yak!" seru Dyaksa. "Iye iye!"
"Mi, Dy, liat sekolah kita deh..." dengap Sasko takjub. Fahmi langsung melirik ke arah gedung sekolah. Suasananya benar-benar harmonis. Dengan gedung yang dominan bercat hijau dan pepohonan yang rindang membuatnya sangat sejuk. "Wawan...." Fahmi ikut takjub. "Hm, baguslah. Seenggaknya kita dapet sekolah yang--" ucapan Dyaksa terpotong oleh bel yang berbunyi.
Saatnya masuk sekolah!


[sunting] Episode 2

Senin, 14 Juli 2014


"Silakan dipakai nametagnya."
Ketua Pelaksana MOPDB (jiah!) mulai mengumpulkan sumbangan siswa-siswa baru kelas 10. "Mi," panggil Dyaksa. "Kayaknya gue kenal suaranya deh..." Fahmi mengangguk setuju. "Iya, gue kayaknya pernah denger suara ini, tapi....kapan?"
"Ayo, semuanya berbaris!" seruan itu terdengar kembali.
"Tunggu, itu bukannya..." Fahmi menahan suaranya, "Kak Vita?"
Fahmi merasakan dua hal. Baiknya, dia bertemu lagi dengan kenalan kakak kelas. Buruknya, kenalan kakak kelasnya itu adalah kakaknya Flo alias Cherry, cewek yang ia (agak) benci. "Jadi....ada kemungkinan ya..." ucap Dyaksa, merasakan hal yang sama, "...kalo Cherry juga di sini..." Tiba-tiba, Sasko yang daritadi di belakang mereka langsung nyeletuk, "Eh, itu bukannya kakaknya....wait, What!?" Fahmi dan Dyaksa bertukar pandang, lalu menepuk pantat jidat.

"Ahah?! Fahmi!?" tiba-tiba seseorang berseru, dan lagi-lagi suara yang nggak asing.
Fahmi, Dyaksa, dan Sasko mencari sumber suara itu. "Eh, ada Dyaksa sama Sasko juga!" seru suara yang lain. "He? Kok tau nama kita sih? Kalian siapa?" dengap Dyaksa gugup. Tiba-tiba, masing-masing dari mereka ditepuk bahunya dari belakang. "WAA---eh, Kak..." Fahmi menelan ludahnya, antara percaya atau tidak. "KAK MAX!" seru Fahmi. "Yang lain mana?"
"Yang lain? Oh....mereka di--" ucapan Max terpotong ketika kedua sahabatnya, Dyon dan Joe, datang menghampiri mereka. "Kok kebetulan banget yah, kita bisa ketemu di sini." gumam Max sambil menggaet Dyon dan Joe. "Eeh, iya. Bisa begitu ya." komentar Dyon setuju dengannya. "Nggak tau nih, Kak. Tapi...ah, lega deh ketemu Kakak semua di sini." kata Fahmi sedikit lebih tenang.
Ketika semuanya berbaris dengan rapi, Upacara segera dimulai. Namun, ada suatu hal yang mengganggu Fahmi selama ia berdiri di depan. Dia tampak diperhatikan oleh Vita dengan seksama. "Mm, gue jadi gak enak deh, diliatin terus." batin Fahmi merasa waswas. "Vit, lo kenapa deh?" bisik Max kepada Vita yang berbaris menghadap para peserta didik baru. "Hm, nggak...." jawabnya singkat, namun terus memerhatikan Fahmi.

"Silakan, para penanggung jawab kelas biar langsung nganter muridnya." perintah Vita lewat mic. Namun, saat Fahmi ingin mengikuti yang lain, tiba-tiba Vita memanggilnya, "Fahmi, sebentar deh."
"Iya...Ada apa, Kak?" tanya Fahmi gugup. "Fahmi...gue udah diceritain semua tentang lo. Gue bisa aja bilang terima kasih karena masih ngurusin adek gue yang bandel itu. Tapi...gue masih gak percaya kalo elo ternyata yang buat dia dikeluarin dari sekolah." jelas Vita.
"Itu bukan salah gue juga, Kak. Dia udah malsuin identitas, nyebarin fitnah yang bahkan sampe kabar ke sekolah lamanya, dan dia udah mecah belah persahabatan gue sama Dyaksa dan Sasko." sanggah Fahmi. "Tapi, semenjak saat itu, dia jadi sering ngurung diri di kamarnya. Dia bahkan nggak mau diajak ke mana-mana." lirih Vita. "Kak, dia juga kayak gitu karena dia pengen balas dendam ke gue...dia ngerencanain sesuatu." balas Fahmi.
n "Oh, gitu ya?" ucap Vita. "Gue nggak mau tau dan sekarang...gue perlu pembuktian kalo sebenernya adek gue yang salah."
"He! Maksud kakak--"
"Iya, lo...sekelas sama adek gue." potong Vita dan berlalu meninggalkan Fahmi. "Ada apa, Mi?" Max datang menghampiri dirinya. Namun, dia tidak menjawab. "Ayo, Kak. Di mana kelas gue..."

"Hmph, sekelas sama Cherry lagi. Sialan." gerutu Fahmi selama perjalanan ke kelas. "Ngapain juga dia pura-pura merasa kalo gue yang patut disalahin?" gumam Fahmi sambil menendang bokong angin. "Worst." Fahmi menyimpulkan.
Tiba-tiba, seseorang menabrak Fahmi dengan lumayan kencang hingga membuatnya terjatuh. "Wey, minggir dong! Eh--" sahut anak itu, lalu terpotong ketika melihat Fahmi. "ELO LAGI!?" sahutnya kencang. "Iya. Dan harusnya lo minta maaf." tukas Fahmi datar. "Minta maaf? Ngapain juga, gak guna." balas Cherry lalu tertawa hambar. "Eh, lo tuh yang harusnya minta maaf ke gue! NGERTI!?"
"Lah, kenapa gue yang minta maaf!?" tanya Fahmi mulai kesal. "Lo udah bikin hidup gue ancur setelah gue dikeluarin! MINTA MAAF!" teriak Cherry. "HEY, ADA APA INI?!" sahut seorang guru yang sedang melintas. "Cepat kalian ke kelas!" perintahnya. Cherry lalu menjulurkan lidah dan mengeluarkan tatapan mengejek, seolah-olah ingin berkata, "MAMPUS LO, MI!"

Firasat buruknya benar-benar terjadi hari ini. "Yah, apa yang lebih buruk dari ini..." dan rupanya, Dyaksa dan Sasko sekelas....tanpa Fahmi di samping mereka. "Shait!" batin Fahmi berteriak. "Heh, baiklah...10 IPA 2 yah..." Fahmi menyebut nama kelasnya. "Mi," panggil Dyaksa yang sedang izin ke toilet, "lo di kelas 10 IPA 1 atau--" omongan Dyaksa terhenti ketika melihat nama Fahmi berada di kelas yang berbeda. "Emm, seenggaknya kelas kita tetanggaan, kan?"
"Hal itu sih nggak masalah," ucap Fahmi pelan. "tapi yang jadi masalah...Cherry ada di kelas gue."


[sunting] Episode 3

Senin, 14 Juli 2014. Pukul 07.00


"Gue khawatir sama Fahmi dah," gumam Dyaksa pelan.
Dia khawatir karena beberapa hal:

  • Pertama, Fahmi nggak sekelas lagi dengannya,
  • Kedua, Fahmi hanya dekat dengannya atau Sasko,
  • Cherry, yang notabene adalah cewek yang dibenci satu sekolah (atau mungkin, hanya mereka), malah sekelas sama Fahmi.



"Lo kenapa, Dy?" tanya Sasko kepadanya yang mulai berkeringat. "Gak....gak kenapa-napa."
"Gue khawatir sama Fahmi, iye nggak?" kata Sasko sambil menyenggol bahu Dyaksa. "Yep," Dyaksa mengiyakan. "Sangat khawatir..."

Sementara itu, Fahmi masih termenung, memikirkan bagaimana caranya agar bisa melewati hari itu dengan cepat. Mungkinkah dengan mesin waktu? "Aheh, nggak mungkin," gumamnya sangat pelan.
Fahmi (seperti biasa, lagi...) memperhitungkan kabar baik dan buruknya. Kabar baiknya, dia mungkin berada di sebuah kelas yang diam, sangat hening. Kabar buruknya, selain adanya Cherry sebagai teman sekelasnya, sepertinya hanya kelas ini yang belum ada interaksi sama sekali. Sangat hening.

Awalnya, Fahmi sendirian, tapi dia melihat seseorang lagi yang duduk sendiri. "Hey," ucap Fahmi kepadanya sambil mempersilakannya duduk di sebelahnya. Selidik demi selidik, ternyata namanya Rizky. Dia berasal dari SMPN 200 Tukulkarta. Namun, Fahmi masih belum ingin bertanya lebih lanjut mengenai dirinya. Dari nada bicaranya, Fahmi tahu kalau dia adalah tipe orang yang agak kalem....mungkin.
"Eh, Fahmi!" seseorang di depan Fahmi menyapanya. "Oh, hey, umm...Eh, lo Habib Rese kan?" Dia mengangguk, "Udah gak ketemu dua tahun nih." Lalu, teman di sebelahnya menoleh ke belakang dan ikutan nimbrung. "Lo kok bisa kenal Habib, eh?" tanyanya kepada Fahmi.
"Yah, dia temen les gue pas kelas delapan," ucap Fahmi sambil bersidekap. "Emangnya lo satu sekolahan nih?" anak itu mengangguk lalu berkata, "Nama gua Ojan, Fauzan Fadhillah Pratama."
"Fahmi, Muhammad Fahmi Pradana," ucap Fahmi sambil menjabat tangannya.

Setelah anak-anak OSIS berdatangan, mulailah dipindahkan sepasang siswa sebangku yang berasal dari SMP yang sama, termasuk Habib dan Ojan yang satu SMP. Ditukarlah posisi Fahmi dengan Habib, sehingga dia duduk dengan Ojan, sedangkan Habib dengan Rizky. "Jan, lo keren amat rambutnya pas foto," ucap Fahmi saat melihat foto Ojan yang extra-cool di pas fotonya. "Yoi dong, namanya juga gue." Fahmi sekilas teringat pada masa SMP-nya, saat dia masih bersama Faldi, Pakrel, Pudol, dan juga teman-teman yang lain.

"Kak, mau nanya lagi." Rizky mengangkat tangan untuk ketiga kalinya dalam waktu lima menit.
"Apa lagi!?" seru Revi, yang menjadi Sekretaris Umum OSIS, sambil memelototinya. Namun, wajahnya masih tetap manis meskipun matanya terbuka lebar seperti itu. "Kelas ini emang udah tetap apa bisa berubah lagi?" pertanyaan Rizky membuat Fahmi mendapat angin segar. "Kalo gitu, kan, gue masih dapet kesempatan sekelas sama Dyaksa dan Sasko." Namun, Revi menggelengkan kepalanya sampai badge pengenalnya terlihat dengan jelas. "Revita Sanina," gumam Ojan. "Masukin ke daftar nama ah."
Mereka memang mendapat sebuah tugas "pokok" ala anak baru di SMA. Membuat daftar nama dan meminta tanda tangan tiap pengurus OSIS dan MPK. "Udah lama gak kayak gini lagi," gumam Fahmi kepada diri sendiri. Fahmi sendiri baru menyelesaikan beberapa tanda tangan setelah perkenalan tiap pengurus. Yang pasti, ada jadwal khusus untuk pelajaran pra-MOPDB (awal Masa Orientasi Peserta Didik Baru) dan saat-saat istirahat, yang kira-kira 68% digunakan sebagai HUNTING TIME!

Sementara itu...

Dyaksa masih bengong sambil ngeliatin papan tulis penuh dengan nama kakak-kakak kelasnya. Dia harusnya sudah makan bekalnya sedari tadi, tapi sudah dua menit dia tercenung.
"Lu nape, Dy?" tanya Sasko sambil menghampirinya (inget, yang satu SMP dipisah). Dyaksa lantas kaget lalu berkata, "Lu bikin kaget gue aja, Sas. Gue lagi mikir nih..."
"Mikirin siapa?" goda Sasko. "Bukan siapa, pinter. Tapi, apa. Gue lagi mikir gimana gue nanti kalo jadi OSIS atau MPK. Ntar gue banyak fansnya lagi."
Kebetulan, Penanggung Jawab kelasnya adalah Joe dan Revi, yang terlihat kayak pasangan serasi....padahal bukan. "Ya udah, sekarang minta tanda tangan aja. Kita bantuin deh," gumam Joe, tapi disanggah oleh Revi. "Enak aja, mendingan kita ngadem di kantin."
"Yah, kok gitu sih, Kak Rev. Sama pacar sendiri nurut dong," sahut seseorang dari belakang.
Revi menyilangkan tangannya lalu menunjuk ke arahnya. "Biarin, abis ini kena lo sama gue!" seru Revi. Cowok tadi langsung pura-pura memohon maaf, membuat yang lain tertawa. "Ntar kena lo sama Revita Sanina, Si Sekretaris Umum OSIS. Camkan itu, Faza Muhammad!" titah Joe.

Dyaksa menaruh perhatian kepada kakak kelasnya itu--bukan, bukan si Joe, tapi Revi. Lagi-lagi, bukan karena manis wajahnya, tapi apa yang dibawanya, yaitu sebuah surat. "Oh, tidak. Jangan itu lagi..." ucap Dyaksa putus asa. "Kalian harus membuat surat cinta ke kakak OSIS atau MPK, ya!" seru Revi sambil menyunggingkan senyumnya yang manis. "Tuh kan, bener!" seru Dyaksa langsung nutup mulut. "Ups..."
"Bener apanya, Dek?" Revi menghampirinya lalu mengetuk jarinya di meja Dyaksa. "Eh, ngg--nggak, Kak," kata Dyaksa gugup. Jujur, dia agak gugup bertemu dengan cewek, terutama yang cakep (pada dasarnya cowok kan kayak gitu). Tapi, Dyaksa agak lain.
Baru semenjak kelas 7 dia mulai menerima keadaan kalau dia juga butuh cewek sebagai lawan jenisnya. Sebelumnya, dia bahkan tak pernah mau berdekatan dengan cewek. Namun, kelas 9 akhirnya dia juga mendapat incaran. Seenggaknya, itu sebuah kemajuan kan?

Ketika Dyaksa keluar dari kelasnya, dia terdiam melihat Cherry yang begitu mudahnya mendapat tanda tangan pengurus OSIS dan MPK hanya gara-gara sebuah fakta kalau kakaknya adalah Ketua Umum OSIS. "Eh, lo adeknya Vita ya?" seorang kakak kelas yang lewat biasanya akan bertanya seperti itu. "Cherry pasti capek ditanyain itu mulu", batin Dyaksa sambil melihat tugasnya sendiri yang baru dikerjakan sebagian kecil. Baru 4 orang, itu pun hanya Max, Dyon, Joe, dan Revi. Namun, dia tetap mencari bersama teman-teman barunya sampai pulang nanti.


[sunting] Pengurus OSIS dan MPK Tahun Ajaran 2014/2015

Berikut ini adalah struktur kepengurusan OSIS dan MPK kali ini.
NB: Pengurus akan segera diganti kalau sudah dilakukan pemilihan calon pengurus yang baru.

  • OSIS:
    • Ketua Umum OSIS = Vita Kania Verona
    • Wakil Ketua Umum OSIS = Max Ulmeera (!!!???)
    • Sekretaris Umum OSIS = Revita Sanina
    • Sekretaris I OSIS = Savira Adellia
    • Bendahara Umum OSIS = Dyon Sudayus (???)
    • Humas OSIS = Joe Peiper (!?)
    • Ketua Bidang I (Agama) = Farid Hidayatullah
    • Sekretaris Bidang I = Gilang Trulastri Perdana
    • Ketua Bidang II (Paskibra) = Rerereynaldi! Amartiana
    • Sekretaris Bidang II = Destari Sagita
    • Ketua Bidang III (Sosial) = Harun Fatah
    • Sekretaris Bidang III = Syeilla Marsya
    • Ketua Bidang IV (Perencana Program) = Agung Harianto
    • Sekretaris Bidang IV = Dinda Adilla
    • Ketua Bidang V (IPTEK) = Dennis Aprilianto
    • Sekretaris Bidang V = Kania Aliyah
    • Ketua Bidang VI (Majalah Sekolah) = Sevin Lasita
    • Sekretaris Bidang VI = Carollina Esther Pavita
    • Ketua Bidang VII (Olahraga) = Dendy Hadian
    • Sekretaris Bidang VII = Ananda Derryl Kesturi
    • Ketua Bidang VIII (Aspirasi) = Alvino Revi
    • Sekretaris Bidang VIII = Sekar Marunia Delilanda
    • Ketua Bidang IX (Pengelolaan) = Fariz Akmal
    • Sekretaris Bidang IX = Adinda Amalia


  • MPK:
    • Ketua Umum MPK = Muhammad Akbar Ash-Shidiq
    • Wakil Ketua Umum MPK = Thara Nadzifa
    • Sekretaris Umum MPK = Cindy Lafatunnisa
    • Bendahara Umum MPK = Gideon Dipajora
    • Ketua Komisi Aspirasi = Devina Raihandari
    • Ketua Komisi Evaluasi = Budiman Haryodermawan
    • Ketua Komisi Bidang = Muhammad Fachrizal

[sunting] Episode 4

Selasa, 15 Juli 2015. Pukul 08.00, di dalam kelas


"Mati gue." ucap Fahmi sambil menatap suratnya yang diambil oleh Cherry.
Sebelumnya, Fahmi sudah menulis surat itu kepada Vita (karena dia gak boleh kasih ke Savira, yang jadi penanggung jawab kelasnya bareng Max) dengan sepenuh hati, dan bermaksud meminta maaf kepadanya.

"Lo ngapain nulis surat ke kakak gue?" ucap Cherry meremehkan. "Lah, kan itu hak gue," Fahmi berusaha bersikap tenang dan menahan emosinya. "Nih ya, masih banyak kakak kelas OSIS cewek yang lain. Tapi, kenapa harus kakak gue?"

Fahmi terdiam sesaat. "Nih, gue mau minta maaf ke kakak lo. Gue juga sekalian minta maaf ke elo juga lewat surat itu," ucapnya membuka suara. Cherry bukannya mereda, malah justru memanas-manasi. "Eh, elo mau minta maaf? Lewat surat?" tanya Cherry mencibir. "Iya, emangnya kenapa?"
"Elo berarti PENGECUT!" seru Cherry, lalu pergi dengan surat itu.

"Sialan," ucap Fahmi singkat.
Handphone-nya bergetar dan muncul sebuah notifikasi. Rupanya dari grupnya.

Wifi icon.png Signal icon.png 68% 08.22 AM
C'Guys(3)
HitlerSemangka.gif Himmler
Oyyy!

08.10
Wey, sejauh ini udah dapet berapa?
Read by 2
08.11
Dyaksa 12.png Dyaksa
Baru empat, njir -_-

08.13
HitlerSemangka.gif Himmler
Laaah, gue malah cuma enam.

07.14
Dyaksa 12.png Dyaksa
CUMA? Watdepak --"

08.15
Right....
Read by 2
08.22

Fahmi mengembuskan napasnya. "Huh, banyak hal yang terjadi," gumamnya sambil melangkah masuk ke kelas.
Namun, tanpa sengaja Fahmi menabrak seorang cewek di kelasnya. "Eh, maaf, maaf!" serunya sambil berusaha menyeimbangkan tubuhnya. Namun, cewek itu hanya menjawab singkat, "Ye," dan berlalu begitu saja. "Eeh--hah?" Fahmi lantas kebingungan, entah dia benar-benar dimaafkan atau malah kesal dengannya. Hal itu malah membuatnya semakin merasa bersalah.

Fahmi kontan langsung mengejar cewek tersebut, yang tampaknya sedang berjalan menuju ke kantin sendirian. "Hey, tungguin gue," ucap Fahmi kepadanya sambil ngos-ngosan. Cewek tersebut menatapnya keheranan. "Ada apa?" tanyanya. Fahmi mengirup napas dalam-dalam dan mulai angkat bicara, "Jadi tadi lo maafin gue gak?"
"What the hell!?" serunya sambil melontarkan ekspresi keheranan. "You're still not over it, eh?"
"Err...nah, I'm fine. Thanks udah maafin gue," ucap Fahmi sambil melontarkan senyum dan dibalasnya dengan jawaban singkat lagi, "Ye."

"Mi, tadi siapa!?" Dyaksa nepok bahu Fahmi, membuatnya tersentak kaget. "Untung aje gak sampe nyembur, kalo gak, bisa malu gue nih!" gertak Fahmi, lalu berpikir sebentar. "Hmm, dia? Entahlah...gue juga belom kenal."
"Lah, kok gak sekalian kenalan aja sih?" gumam Dyaksa keheranan. Fahmi hanya menatapnya sebentar dengan ekspresi datar. "Err, nevermind," gumam Dyaksa lalu bersiul-siul. "Yah, elo bener juga sih, tapi...ada sesuatu yang lain juga yang bikin gue urungkan niat buat kenalan."

"Eh, ngomong-ngomong, tadi lo ngasih surat ke siapa?" tanya Fahmi ke Dyaksa. "Eh, emm...gue ngasih surat ke Kak Kania. Soalnya dia baek banget, njir! Udah gitu dia katanya juga pinter banget di bidang akademiknya," cerita Dyaksa, lalu melirik ke sahabatnya. "Mi, kalo lo ke siapa?"
"Gue? Harusnya ke Kak Vita..." gumam Fahmi sambil mengela napas. "Tunggu, kakaknya Cherry? Ngapain lo kasih ke dia coba?" gerutu Dyaksa. "Yaah, gue mau minta maaf aja kalo udah ngisengin apalah-segala-macem," jelas Fahmi. Tapi, Dyaksa justru tak menerima. "Eh, harusnya tuh yang minta maaf si Cherry, bukan elo!" serunya. "Terus kok lo bilang "Harusnya"?"
"Hmph, si Cherry keburu ngerebut surat gue," ucap Fahmi, makin membuat Dyaksa panas. "Lo itu terlalu baik, Mi. Jadi orang bisa nindas elo gitu aja."
"Tapi, itu lebih baik, Dy..." gumamnya, "daripada menjadi sok jagoan dan akhirnya bakalan malu sendiri."
Dyaksa langsung berhenti berbicara, terdiam sesaat. "Mi..." gumam Dyaksa pelan, "saatnya kita belajar nunjukkin taring kita."


[sunting] Episode 5

Selasa, 15 Juli 2014. Pukul 15.00, di kantin


"Jadi, mau apa sekarang?" ucap Fahmi selepas pulang sekolah kepada Dyaksa.
Dyaksa menghela napas sambil merangkulnya, "Mi, kayaknya gue liat lo sepanjang kelas 9, lo jarang kesel sama orang, apalagi sampe marah."
"Terus kenapa?" balas Fahmi. Dyaksa tersenyum kecil lalu berujar, "Gue bukannya mau bikin lo marah-marah ato kesel aja sih. Lo terlalu baik...terlalu baik sampe orang-orang bisa aja seenaknya menindas lo." Fahmi menundukkan kepalanya. "Gue ga perlu marah...karena amarah gue bukan sesuatu yang pantas dilihat."
"Tapi, gue ga nyuruh lo marah ke orang kok. Gue butuh ketegasan dari lo aja sih," sahut Dyaksa. "Anyway, goodluck with your problems." Dyaksa pun pergi meninggalkan sahabatnya yang terdiam. "Tegas..." ucap Fahmi pelan. "Andai gue setegas di cerita gue..."
Ia pun mengeluarkan lembaran-lembaran kertas dari tasnya. "Kisah Kasih di Sekolah...hmm, apa lagi yang harus gue tambahin ya..." ucapnya. Namun, rupanya ia tak melihat arah ia melangkah. Baru saja selangkah ia melangkahkan kakinya, keningnya terbentur dinding. Lembaran-lembarannya jatuh dan tercecer di lantai. "Arggh," gerutu Fahmi sambil mengumpulkan lembarannya dan menahan pusingnya.
"Halaman 1...2....3......Njir, mana halaman 68nya!?" sahutnya panik. "Di sini..."
Fahmi menoleh ke belakang dan sontak tercengang. "I--Icha!?"
"Icha?"
Berdirilah seorang gadis tepat di hadapannya. Tubuhnya ramping dan agak lebih tinggi dibanding anak-anak sebayanya. Rambut hitamnya tersibak lurus sepunggung. "E--eh, maaf." ucap Fahmi tergagap. Gadis itu tersenyum kecil, "Cerita lo bagus kok".
"Aduh, gue mulai gugup nih...mana salah nyebut nama lagi..." batinnya lalu teringat pada perkataan Dyaksa. "Maaf...gue kira lo itu, emm---" ucap Fahmi tambah gugup. "Hmm? Lo kira gue setan? Ahahah, dah biasa kok gue dikira gitu," ucap gadis itu lalu tersenyum. "Mm, lebih mirip bidadari daripada setan sih...eh--" ucap Fahmi (agak) ngasal. Gadis itu terdiam, benar benar terpaku. "Eh, m--maaf, gue ga maksud--" Barulah Fahmi menyadari ketika melihat wajah gadis itu. "PIPINYA MERONA!???!" batin Fahmi berteriak. "Ini kertasnya..." gadis itu menyerahkan kertas tersebut kepadanya, lalu buru-buru pergi. "Eh, tunggu...ahh, padahal mau kenalan..."


Keesokan harinya. Rabu, 16 Juli 2014, pukul 09.30 (istirahat)


"Njir! Siape tuh?" seru Dyaksa setelah mendengar cerita dari Fahmi.
"Mana gue tau, dia tiba-tiba muncul gitu. Mana gue salah nyebut jadi Icha lagi," gumam Fahmi, membuat Dyaksa tertawa terbahak-bahak sampe nangis darah. "Ciee Icha," sahut Sasko tiba-tiba nimbrung.
"Sayangnya sih, lo blom sempet kenalan, siapa tau--" gumam Dyaksa menggoda. "Apa dah! Masa tiba-tiba--" ucapan Fahmi terpotong dan ekspresinya berubah menjadi tercengang. "Tiba-tiba napa, Mi? Tiba-tiba jatuh cinta yee!" goda Dyaksa. "Bukan!" sahut Fahmi lalu manggut-manggut ke belakangnya Dyaksa. "Itu kan--"
Fahmi baru sadar kalau gadis itu berdiri di samping tempat duduknya di pojok kiri kelas, dan dia menatap tepat ke arahnya. "Hmm, ada apa?" tanya Dyaksa tak menyadarinya. "Gadis di pojok kelas lo itu....yang gue maksud," bisik Fahmi kepada Dyaksa. "Ooh, namanya Yuventia, panggilannya sih Venty, tapi..." ucap Dyaksa pelan, "Dia itu pendiam, introvert abis, dan...bener-bener ga ngomong semenjak MOS dimulai, padahal yang lain udah bisa berbaur. Makanya, dia di sini dipanggil "Setan"...tapi gue ga ikut-ikutan kok."
"Wait..." gumam Fahmi. "Lo pikir apa yang lagi gue pikirkan gak?"
"Kalo dia itu cantik, eh?" goda Dyaksa (lagi). "Bukan! Kalo lo bilang dia ga pernah ngomong sebelumnya, berarti..." ucap Fahmi sambil mengelus dagunya yang brewokan. "Omongan pertama kalinya itu....bareng lo!!" seru Dyaksa. "CIEEE FAHMI!" teriaknya, tapi langsung dibekap oleh Sasko. "Napa dah, Sas?"
Sasko dengan ekspresi datar langsung berceletuk, "Berisik tau ga."
Namun, 0,0068 detik kemudian, Sasko langsung berteriak, "CIEE FAHMI DAGUNYA BREWOKAN"
Maka, pecahlah tawa mereka bertiga, menutupi waktu istirahat mereka.


BONUS SCENE

“Karena gue return ke sini, gue hadiahkan sebuah bonus scene!”
~ Maxulmeera kepada Tolololpediawan

Later that day, Minggu, 13 Juli 2014. Pukul 19.48


"Hmm...sayang banget dia ga masuk SMAN 8 Tololcity..."
Sebuah jendela masih tampak terbuka lebar di sebuah rumah. Bersandarlah seorang gadis di balik jendela tersebut. Desiran angin malam menerpa rambutnya. "Besok udah mau sekolah pula..."
Di genggaman tangannya terselip sebuah smartphone dengan sebuah chat terbuka di layarnya.

Wifi icon.png Signal icon.png 88% 19.50
F...
PP.jpg F...
Lo beneran di 8? Wedeh, melebihi ekspektasi lo ke 54 dong!

19.40
Iya nih, alhamdulillah
Read
19.41
PP.jpg F...
Alhamdulillah...

19.41
PP.jpg F...
Tapi ntar kita jadi jarang ketemu lagi...

19.42
Makanya...I wanna tell you something...
Read
19.42

Sudah beberapa menit ia tak membalas pesan tersebut. "Hmm...so be it."

Wifi icon.png Signal icon.png 88% 19.50
F...
Makanya...I wanna tell you something...
Read
19.42
PP.jpg F...
What is it?

19.42
PP.jpg F...
???

19.47
Kalo gue...
Read
19.50
PP.jpg F...
Iya???

19.50

Ia mengetik dengan gemetar.
"...suka sama lo." Tertera di layarnya, siap untuk dikirim. "Hayo, ngapain?" intip saudarinya sampai mengagetkan dirinya. Dengan refleks, ia menekan tombol hapus. "Ng--nggak ngapa-ngapain kok!" serunya, "Dah ah, mending tidur yuk!"
Ia pun segera merebahkan dirinya di kasur dan menarik selimutnya. "Hmm..." gumam saudarinya sambil menatapnya. "Tidur yang nyenyak ya, Cha. Besok kita udah sekolah."


[sunting] Episode 6

Rabu, 16 Juli 2014. Pukul 21.00


"Quack!" Daks kembali mengowek keras dari kolam rumah Fahmi.
Malam itu, Fahmi belum pulang ke rumahnya karena sedang melintasi taman SMPnya, tempat ia biasa merenung dan bersenda gurau selama ia masih SMP. Namun, ia bukan merenung apalagi sampe mikir jorok, melainkan sehabis dari diskotik minimarket. "Aduh, makanan lagi, makanan lagi," gerutu Fahmi sambil melihat ke dalam plastik yang penuh dengan makanan dan minuman.
Handphonenya kembali bergetar, tampak sebuah cover Bobokep notifikasi chat.
"EMAAAAK!"

HSDPA icon.png Signal icon.png 32% 21.00
Ibu
Facebook default profile.gif Ibu
Fahmi, udah malem! Pulang!

20.51



"Pulang, pulang! Pulang!" teriak Fahmi kayak orang sintinggendhengmiring sambil berlari kecil, tergopoh-gopoh menenteng belanjaannya. "Woy, brisik lu, CANGKEMMU KOYOK TAEK!" Preman-preman kampung merasa terganggu dan berlari mengejar Fahmi. "Mampus gue!" seru Fahmi sambil berlari lebih kencang.
"ANJINK LOE!!!!!!!!"
Merasa hidupnya benar-benar terancam punah, Fahmi langsung bersembunyi di tong sampah terdekat. "Sialan, tuh orang ke mana perginya," ucap salah satu preman. Mereka pun pergi mencari ke gang yang lain, meninggalkan tong sampah tersebut. "Phew....hampir aja..." ucap Fahmi lega, "wait..."
Tiba-tiba, sebuah kaleng bekas minuman terlontar tepat ke arah kepala Fahmi. "Aw!" erang Fahmi. "Hah, s-siapa itu!?" ucap seseorang dari luar ketakutan. Dari suaranya, Fahmi bisa menebak kalau suara tersebut adalah suara seorang gadis. Fahmi pun mengeluarkan dirinya dari tempat sampah. "Maaf--" gumam Fahmi, namun gadis itu malah makin ketakutan. "Tenang, aku bukan--"
Sejenak ia terdiam dan berpikir. "Mmmm....lo monster sampah ya?" tanya gadis itu, membuat Fahmi kaget dan shock, kena serangan jantung, mati deh.....GAK! dan hampir tertawa. "Bukan, njir...nama gue--" ucapnya sambil membersihkan matanya. Ketika pandangannya jelas kembali, dia baru sadar kalau gadis itu adalah Yuventia alias Venty. "E--eh, elo kan yang waktu itu..."
"Gue yang waktu itu apa?" tanyanya kebingungan, rupanya tak mengenali wajah Fahmi yang tercampur sampah basah (kadarnya sekitar 68%). "Ah..." Fahmi pun mengusapkan wajahnya. "A--ah, elo ya..." ucap Venty mulai mengenali wajahnya, lalu tersenyum kecil. "Maap kalo waktu itu gue ninggalin lo gitu aja..."
Keduanya berjalan menyusuri jalan Suryono dengan obrolan ringan. "Emangnya elo gak ada temen SMP di kelas?" tanya Fahmi, mengingat kalau Venty belum pernah bicara ke temen sekelasnya sebelumnya. "Eh, mm....Sebenernya sih, gue...gak tau berteman dengan siapa...gak ada yang gue kenal," ucap Venty mengakui. Fahmi manggut-manggut lalu berkata, "Tapi sebelumnya kita juga gak saling kenal kan?"
"Oh iya! G--gue....bahkan belom kenal lo siapa..." ucapnya sedikit tersipu. "Eh...hmm, nama gue Fahmi, dari Kelas 10 IPA 2," gumam Fahmi. "Mmm...nama gue Venty, Yuventia Arinda Wulandari." Venty mengulurkan tangannya untuk menjabat tangannya. Fahmi menyambut jabatan tangannya. "Tangannya..." batin Fahmi, "Gemeteran..."
"G--gue....gemeter...tapi..." ucap Venty membatin, "T-tapi....dia juga gemeter.."

"Eh, maap.." Fahmi langsung melepas genggaman tangannya. "Ah, mending kita pulang cepet-cepet deh...udah malem nih." Venty mengangguk pelan. "Tapi...hmm, apa gue anterin lo aja ya?" tawar Fahmi kepadanya, tapi dia tak membalas. "Hmm...ehh--"
Fahmi baru sadar kalau muka Venty memerah. "Ehh--lo kenapa, Ven? Anjir, lo napa!?" ujar Fahmi (agak) panik. "G--gue...g-gueee..." jawabnya sangat gugup. "Lo sakit napa malah ke luar rumah, duh...gue anterin deh," ucap Fahmi khawatir. "G--gue...ga---ga kenapa-napa kok..." ucapnya gemetaran. "Ah, omong kosong!" Fahmi langsung merunduk, dan menggendong Venty. "HUAAA----!!!" Venty sangat shock dan kena serangan jantung dan mati.....GAK! dan semakin merah mukanya. MALU!!!
"Rest easy...lo tunjukkin jalan aja," ucap Fahmi. Venty pun akhirnya menyandarkan kepalanya di punggung Fahmi sambil menahan malunya. "Rumah gue...gak jauh dari sini kok," ujarnya sambil memberitahu jalan ke rumahnya. "Hmm...okay!" seru Fahmi lalu tersenyum riang. Selama perjalanan, Venty terdiam karena menahan malu. "D--dia....padahal gue baru ketemu sehari dengannya..." batinnya, "dan gue....merasa nyaman...entah kenapa..."
"Apa ini yang namanya...."
"Ah gak mungkin!"


Pukul 21.35. Sesampainya di rumah Venty...


"Ah, jadi ini rumah lo," ucap Fahmi lalu berdecak kagum. "Bagus banget!"
Venty masih terdiam dalam lamunan. "Hoi, udah sampe rumah lo nih!" seru Fahmi menyadarkannya. "Ah, i--iya..." ucap Venty sambil perlahan turun dari punggungnya. "Makasih ya, Fahmi..."
"Yaudah nih, gue buru-buru pulang yak," gumam Fahmi. "Titip salam aja deh ke keluarga lo."

HSDPA icon.png Signal icon.png 32% 21.35
Ibu
Facebook default profile.gif Ibu
Fahmi, PULANG!!!

21.32

"ANJIR!" Fahmi langsung buru-buru lari pulang ke rumahnya


[sunting] Episode 7

Rabu, 16 Juli 2014. Pukul 22.00. Di jalan Pulang.


"Aheh, ternyata makan waktu juga ya," ucap Fahmi sambil menggelengkan kepalanya. "Mana perut gue keroncongan lagi. Mudah-mudahan ada makanan di rumah nih."
Selepas dari rumah Venty, Fahmi tidak langsung pulang ke rumahnya karena ia lupa arah jalan pulang. Bahkan, ia harus berputar-putar keliling kompleks Tukulas II--kompleks tempat tinggal Venty--hingga enam koma delapan kali. "Capek lama-lama gue njir!" gerutu Fahmi sambil nendang kaleng bekas minuman yang berserakan di tepi jalan.
Beruntung, di putaran yang selanjutnya, ia menemukan jalan kembali ke taman. "AKHIRNYA!" seru Fahmi kegirangan ngeliat Tante yang girang. Namun, baru saja 0,0032 detik ia bahagia, ia langsung terdiam melihat sosok misterius yang berada di ujung jalan. Sosok itu kemudian bergerak mendekatinya. "Nope! NOPE!" seru Fahmi sambil bergerak mundur perlahan. Ketika sosok tersebut semakin dekat, tiba-tiba sosok tersebut menghilang begitu saja. "Loh, ke mana--"
"QUACK!!!"
"WHAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!! APAAN ITU--" teriak Fahmi, "Eh, Daks...wait...DAKS, LO NGAPAIN KELUAR KOLEM!?"
"Gue kok yang ngeluarin Daks." Munculah anak kecil misterius yang pernah mengunjunginya secara misterius pula dari gang sebelah. "Dia belom dikasih makan, kasian tuh." Fahmi pun keheranan. "Napa lo gak ngasih makan aja?" tanya Fahmi sambil membuka sebungkus kuaci dan memberikannya ke Daks. "Lah, gue aja ga bawa apa-apaan, gimana gue bisa ngasih coba," sanggah anak kecil itu.
"Hmm, oh iya. Kenapa lo gak ngerawat balik Daks aja sih?" tanya Fahmi sambil berjalan bersama piaraannya dan anak kecil yang baru dikenalnya. "Gue gak bisa...ceritanya panjang," gumam anak kecil itu. "Lagipula, gue juga yakin kalo suatu saat, lo akan tau apa alesannya gue ngasih Daks ke orang lain, iya kan, Daks?" Daks pun mengowek, seakan-akan membalas pertanyaannya. "Oh iya, ngomong-ngomong, nama gue Boyani Sukro, panggil aja gue Boy!"
Setelah berjalan cukup lama, Boy pun berpisah dengan Fahmi dan Daks di persimpangan jalan Suryono. "Daks," panggil Fahmi kepadanya, tapi tentu saja bebek itu tak menjawab. "Kok gue jadi kayak orang gila yak, ngomong sama bebek, eheh..."
Fahmi langsung mengangkat Daks lalu berbisik kepadanya, "Mungkin kita akan menghadapi petualangan yang hebat, Daks." Bebek itu pun mengowek. "Yah...tentu..." gumam Fahmi lalu menaruh Daks kembali ke kolam kemudian masuk ke rumahnya.


Pukul 22.25. Di Rumah Venty...


"Ah...gue masih gak percaya! Hari ini, gue dianterin pulang sama cowok! Ga mungkin!"
Venty memegang bantalnya erat-erat sambil mencubit pantat pipinya, berharap ini semua hanya mimpinya saja. Dia masih terbayang betapa malunya ia ketika ia digendong oleh seorang cowok bernama Fahmi, yang rupanya cowok kelas sebelahnya! "Aww!" erangnya karena mencubit terlalu keras hingga berdarah dan akhirnya kurang darah dan mati....GAK!. "Gue ga ngerti sama dia deh, padahal gue udah nahan malu banget, tapi dia malah bikin gue tambah deg-degan..."
Ia kemudian beranjak dari kasurnya dan menatap bayangan dirinya di cermin. "Hmm...anehnya, gue ketemu sama dia pas di saat-saat yang aneh juga..." gumamnya sambil menunjuk-nunjuk ke cermin. Ia kembali teringat pada kata-kata Fahmi ketika pertama kali bertemu dengannya. "Dia bilang....gue bidadari, padahal gue sama dia bahkan belom saling kenal..." kenang Venty lalu mengambil sebuah bingkai foto. Di dalam foto tersebut, terdapat foto dirinya dengan seseorang pada masa kecilnya. Namun, wajah anak tersebut tersobek sehingga sampai saat ini, ia tak ingat siapa yang pernah mengisi harinya dengan penuh canda tawa. "Hmm...kalo aja gue tau siapa orang ini..."
Ia kemudian teringat Fahmi kembali, lalu menatap foto itu dan tertawa. "Ahahah, gak mungkin lah. Gue denger-denger Fahmi aja orang yang agak aneh, beda jauh lah sama anak itu!" bayangnya sambil terus mengimajinasikan siapa anak tersebut.
"Venty! Kamu masih bangun, Nak?" sahut Ibunya dari luar kamar. "Iya, Ma! Aku mau tidur nih, tadi abis beres-beres bentar!" Venty pun segera menaruh foto tersebut di mejanya, lalu kembali ke tempat tidurnya.
"Selamat malam ya," ucapnya pelan sambil menatap ke foto tersebut. "Semoga kita ketemu lagi suatu saat nanti."


Keesokan harinya. Kamis, 17 Juli 2014. Pukul 08.30, di Kelas X IPA 2...


"Hmm..."
Fahmi membuka-buka absen seluruh kelas sepuluh yang ia dapat dari guru piket. "Masih perlu banyak kenalan nih..."


Absen Kelas X 2014/2015

X IPA 1

  • 1. Adrian Harviansyah (L) (Ian)
  • 2. Aldo Prasetyo (L) (Aldo)
  • 3. Andira Apriliansyah (L) (Andi)
  • 4. Daffa Saskoro (L) (Sasko, Himmler)
  • 5. Desiany Larasati (P) (Desi)
  • 6. Dinar Cendana Sari (P) (Dinar)
  • 7. Dinda Amirah (P) (Dinda)
  • 8. Dyaksa Suryonegoro (L) (Dy, Dyaksa, Dyancok)
  • 9. Elvina Regalia Anastasya (P) (Vina)
  • 10. Faza Muhammad (L) (Faza)
  • 11. Ghani Andriansyah (L) (Ghani)
  • 12. Gita Sasya Munawwaroh (P) (Gita)
  • 13. Miftah Syihab (L) (Miftah)
  • 14. Muhammad Fajar Alviansyah (L) (Fajar)
  • 15. Muhammad Ilham Rizqy (L) (Ilham)
  • 16. Muhammad Kautsar (L) (Kautsar, Ucha)
  • 17. Nabila Khairunnisa (P) (Nabila)
  • 18. Omar Raihan Attala (L) (Omar)
  • 19. Reyhan Pradana (L) (Reyhan)
  • 20. Rita Puspa Lestari (P) (Rita)
  • 21. Siduardo Alexander Putra (L) (Sid)
  • 22. Siti Nur Jannah (P) (Nur)
  • 23. Vania Diandra (P) (Vania)
  • 24. Winda Ayu Alisa (P) (Winda)
  • 25. Yuventia Arinda Wulandari (P) (Yuventia, Venty)

X IPA 2

  • 1. Agung Prasetyo (L) (Agung)
  • 2. Alhabib Putra (L) (Habib)
  • 3. Anggi Dwi Putri (P) (Anggi)
  • 4. Cherry Angelina Verona (P) (Cherry, Flo)
  • 5. Cindy Revina Yanuar (P) (Cindy)
  • 6. Dewi Fitria Talitha (P) (Dewi)
  • 7. Difa Rendra Purnawan (L) (Difa)
  • 8. Dina Hanifah (P) (Dina)
  • 9. Fauzan Fadhillah Pratama (L) (Fauzan, Ojan)
  • 10. Ghina Nurul Madaniyah (P) (Ghina)
  • 11. Hendrawan Farmansyah (L) (Hendra)
  • 12. Muhammad Fahmi Pradana (L) (Fahmi)
  • 13. Muhammad Faisal (L) (Faisal)
  • 14. Muhammad Hanif Syarief (L) (Hanif)
  • 15. Muhammad Irfan Akram (L) (Irfan)
  • 16. Muhammad Kevin Albadru (L) (Kevin)
  • 17. Nadia Utami Ningsih (P) (Nadia)
  • 18. Putri Anindita Julianti (P) (Putri)
  • 19. Rizky Hadianto (L) (Rizky)
  • 20. Ryan Angga Nurrahman (L) (Ryan)
  • 21. Sarah Qonita Putri (P) (Sarah)
  • 22. Siska Mawardhani (P) (Siska)
  • 23. Syafira Raihana Nandita (P) (Syafira)
  • 24. Tiara Verina (P) (Tiara)
  • 25. Yusuf Achmad (L) (Yusuf)

X IPA 3

  • 1. Achmad Faiz Nurrahman (L) (Faiz)
  • 2. Aditya Daffa Faisal (L) (Adit)
  • 3. Ari Septian Aprilio (L) (Ari)
  • 4. Atikah Nurul Huda (P) (Tika)
  • 5. Aulia Rahmanida (P) (Aulia)
  • 6. Avicenna Damayanti (P) (Sena)
  • 7. Billy Oktavian Reza (L) (Billy)
  • 8. Chika Andina Septiani (P) (Chika)
  • 9. Edwina Nadia Aprilianti (P) (Wina)
  • 10. Eriko Ardiansyah Putra (L) (Riko)
  • 11. Faldi Anggrasadema (L) (Faldi)
  • 12. Fatih Kemal Rizky (L) (Fatih)
  • 13. Ginanjar Eko Wardhana (L) (Eko)
  • 14. Lailah Nur Ghani (P) (Laila)
  • 15. Leonardo Andy Severo (L) (Leo, Leon)
  • 16. Lita Nurrahmah (P) (Lita)
  • 17. Muhammad Arya Putra (L) (Arya)
  • 18. Muhammad Ghifari Rahman (L) (Ghifa)
  • 19. Muhammad Rama Putransyah (L) (Rama)
  • 20. Muthia Revanita (P) (Thia)
  • 21. Niken Joshua (L) (Joshua, Yos)
  • 22. Novita Febriyanti (P) (Novi)
  • 23. Pratama Putranto (L) (Tama)
  • 24. Rahmadiana Putri (P) (Rahma)
  • 25. Randy Farhan Pratama (L) (Randy)

X IPS 1

  • 1. Ahmad Fattah Rabbani (L) (Bani)
  • 2. Alvarino Damiansyah (L) (Rino)
  • 3. Bella Natiya Dewi (P) (Bella)
  • 4. Christine Anna Pauline (P) (Christine)
  • 5. Farrel Ade Nanda (L) (Farrel, Pakrel)
  • 6. Fikha Anggraeni (P) (Fikha)
  • 7. Harviansyah Ramadanti (P) (Harvi, Avi)
  • 8. Muhammad Damar Farizki (L) (Damar)
  • 9. Muhammad Fachrurozi (L) (Oji)
  • 10. Muhammad Maulana Mustofa (L) (Maulana, Aul)
  • 11. Muhammad Ridho Qomar (L) (Ridho)
  • 12. Nadellano Putra Dolkiah Nadesico (L) (Pudol)
  • 13. Natasya Feriza (P) (Tasya)
  • 14. Nurul Fajri (P) (Fajri)
  • 15. Priska Rizqa Pratiwi (P) (Priska)
  • 16. Puspa Asmaradhani (P) (Puspa)
  • 17. Putra Maulana (L) (Putra)
  • 18. Resti Widya Sari (P) (Resti)
  • 19. Risma Widyawati (P) (Risma)
  • 20. Sabrina Zilvana Dewi (P) (Sabrina)
  • 21. Septian Nugraha (L) (Septian, (A)Sep)
  • 22. Sheila Maharani (P) (Sheila)
  • 23. Steven Hermawan (L) (Steve)
  • 24. Yuniarvita Anindita (P) (Yuniar, Yun)
  • 25. Zagita Zevanya (P) (Vanya)

X IPS 2

  • 1. Alfredo Darmawan (L) (Alfredo, Fred)
  • 2. Amarita Nur Septi (P) (Septi)
  • 3. Andhini Zuliasnidar (P) (Dhini)
  • 4. Bimo Martian Nugroho (L) (Bimo)
  • 5. Citra Dwi Kanya (P) (Citra)
  • 6. Dimas Andrianto (L) (Dimas)
  • 7. Fanny Nur Pitaloka (P) (Fanny)
  • 8. Fira Septiana Dewi (P) (Fira)
  • 9. Firda Auliani (P) (Firda)
  • 10. Galih Setiawan (L) (Galih)
  • 11. Jilan Arviana Budi (P) (Jilan)
  • 12. Jingga Latifa Lailani (P) (Jingga)
  • 13. Kinanti Asmaradini (P) (Kinanti, Kina)
  • 14. Kukuh Andansyah (L) (Andan)
  • 15. Luthfi Rahman Fachri (L) (Luthfi)
  • 16. Muhammad Amrullah (L) (Amru)
  • 17. Muhammad Ihsan Rahmadi (L) (Ihsan)
  • 18. Muhammad Ikrom (L) (Ikrom)
  • 19. Muhammad Restu Anggara (L) (Restu)
  • 20. Mulyani Putri (P) (Yani)
  • 21. Nailah Mutia Sari (P) (Nailah)
  • 22. Raissa Vierra Medina (P) (Medina)
  • 23. Reno Prasetyo (L) (Reno)
  • 24. Reza Anggrian (L) (Reza)
  • 25. Ridwan Novanto (L) (Ridwan)

X IPS 3

  • 1. Ahmad Fathoni (L) (Toni)
  • 2. Andre Javier (L) (Andre)
  • 3. Anton Wardianto (L) (Anton)
  • 4. Ara Puspita Rahmani (P) (Ara)
  • 5. Citta Kanya Dewi (P) (Citta)
  • 6. Devita Dinda Fadhilla (P) (Devi)
  • 7. Fachira Putri A. (P) (Fachira)
  • 8. Fachrizal Putra Abinayya (L) (Rizal)
  • 9. Ferninda Zattalini (P) (Ninda)
  • 10. Kania Wanda Puspita Sari (P) (Kania)
  • 11. Muhammad Alfiansyach (L) (Alfi)
  • 12. Muhammad Daffa Atthar (L) (Atthar)
  • 13. Muhammad Davi Setyawan (L) (Davi)
  • 14. Muhammad Ghaisan Amir (L) (Amir)
  • 15. Muhammad Khairul Gunawan (L) (Khairul, Khair)
  • 16. Muhammad Nabil Apriliansyah (L) (Nabil)
  • 17. Nada Silmi Fathia (P) (Nada)
  • 18. Pratiwi Sri Desiani (P) (Tiwi)
  • 19. Seno Adhi Hidayat (L) (Seno)
  • 20. Seravia Alviana (P) (Via)
  • 21. Shinta Nuraini (P) (Shinta)
  • 22. Sri Nughraeni Aletha (P) (Aletha, Etha)
  • 23. Vivian Shafira (P) (Vivian, Vivi)
  • 24. Windu Arya Putra (L) (Windu)
  • 25. Yoga Aliando Putra (L) (Yoga)


“Buset, banyak amat!”
~ Tolololpediawan kepada Max Ulmeera
“Iye dah!”
~ Max Ulmeera

"Fahmi, ayo cepetan ambil absennya," tegur guru piket. "A-ah, iya, iya!" Fahmi langsung buru-buru mengambil absen kelasnya lalu melangkah kembali ke kelasnya. Sejenak ia melihat sekelilingnya, mengagumi keindahan pemandangan sekolahnya. Selain gedungnya yang cukup besar, rupanya keasrian tamannya masih dijaga dengan baik. "Kalo diliat liat, gue perlu banyak kenalan nih..." gumam Fahmi agak khawatir. Khawatir dengan sifatnya yang agak tertutup dengan yang ia belum kenal.
"Gue harap ga ada yang lebih buruk daripada si Flo..."


"Fahmi..."
Seseorang menatapnya dari kejauhan. "Meski gue tau lo waktu itu yang berhasil nuntun Cherry kembali, tapi..."
"Tapi, apa?"
Orang itu terkaget melihat sosok yang berdiri di belakangnya. "Vita, sudah seharusnya lo maafin Fahmi." Vita, orang yang sedari tadi memperhatikan Fahmi, pun terdiam. "T--tapi, Max, dia..."
Max menempelkan jari telunjuknya ke hidung Vita. "Vita, gue tau lo itu ketua OSIS. Gue tau kalo lo juga punya wewenang yang cukup tinggi. Tapi, jangan bikin lo itu jadi tinggi hati. Liat deh, Cherry pun juga udah sewenang-wenangnya mempermainkan jabatannya. Tapi, napa lo ga nerima kenyataan kalo dia di drop out dari sekolahnya?" ucap Max sambil menatapnya tajam setajam silet.
Vita benar-benar terdiam, tak bisa menjawab pertanyaannya. "Inget janji lo ketika sumpah jabatan OSIS?" ucapan Max kali ini membuatnya tercengang. "S--saya akan mengayomi semua murid tanpa kecuali dan tanpa diskriminasi."
Max pun tersenyum kecil. "Nah, sekarang gimana?" Ia pun langsung pergi meninggalkan Vita yang terdiam seribu bahasa."Gue...." Vita pun langsung geram. "Max, ini bukan soal janji ataupun sumpah jabatan gue..."
Vita pun meremas dadanya tangannya. "Tapi, ini soal balas dendam yang melatarbelakangi sumpah itu.."


[sunting] Episode 8

Peralatan pribadi